Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pertanyaan Agnes


__ADS_3

Andre masih di taman belakang. Memandang punggung Andi yang semakin menjauh darinya. Kata kata Andi sedikit membuat Andre syok, sesuatu yang dipikirkannya ketika pertama kali mengetahui Cindy hamil.


Sementara Andi merasa lega dan berharap Andre melaksanakan sarannya. Bukan tanpa sebab Andi menyarankan Andre untuk tes DNA. Sedikit tentang Cindy, Andi mengetahuinya.


Masuk ke dalam rumah, Andre melihat keluarganya masih berkumpul di ruang tamu. Andre kembali duduk di sebelah Agnes. Membujuk Agnes untuk tidak ikut ke rumah Sinta. Tapi Agnes ngotot harus ikut.


Akhirnya dengan lesu Andre meninggalkan rumah orang tuanya.


Besoknya Bella, Sinta dan Rey benar benar berkunjung ke rumah Sinta. Rey sangat senang sekali. Rey bahkan terus duduk di ranjang Sinta menemani baby Airia. Rey terlihat sangat menyayangi Airia, mengelus pipi Airia bahkan mengecupnya.


"Ma, aku mau ngasih adik Airia mainan yang banyak," kata Rey kepada Bella, Bella tersenyum begitu juga Sinta


"Adik bayinya belum bisa main. Adik bayinya hanya boleh minum susu sama bobok," jawab Bella.


"Tante, adik bayi kenapa tidak punya tempat tidur sendiri?, adik Alexa punya tempat tidur sendiri loh, kamarnya bagus. Banyak boneka lagi," kata Rey polos. Sinta hanya tersenyum kikuk. Bella merasa tidak enak dengan pertanyaan Rey. Bella pun sebenarnya merasa kasihan dengan Sinta. Apalagi Sinta benar benar mempergunakan pakaian bayi bekas Rey untuk baby Airia.


Mendengar Rey membandingkan kamar Alexa dan Airia tidak membuat Sinta sedih. Sinta sudah berterima dan ikhlas dengan keadaannya yang seperti ini. Bisa melahirkan normal dan sehat juga merupakan anugerah baginya.


"Tidak apa apa Rey, adik Airia masih terlalu kecil untuk punya kamar sendiri. Nanti juga udah besar, adik Airia pasti punya kamar sendiri kok, iya kan Tante?" jawab Bella, Sinta hanya mengangguk sambil mengelus kepala Rey.


"Ayahnya adik Airia mana Tante?" tanya Rey lagi. Sudah hampir dua jam dia di rumah Sinta. Anak kecil itu tidak melihat laki laki dewasa seperti ayahnya. Membuat Rey penasaran. Sinta melihat ke Bella, berharap Bella yang menjawab pertanyaan Rey.


"Ayahnya dipatok ayam, jadi masih di rumah sakit berobat," jawab Agnes yang sudah berdiri di depan pintu kamar. Semenjak menginjakkan kakinya di rumah Sinta, dia terlihat terdiam dan berpikir di ruang tamu. Mendengar pertanyaan Rey, entah kenapa hatinya sangat kesal.


"Hus, tidak boleh berkata seperti itu. Nanti Sinta tersinggung," kata Bella. Agnes tidak menghiraukan perkataan Bella, Agnes mendekat ke ranjang dan mengangkat tubuh Rey dari samping baby Airia. Rey meronta membuat baby Airia terbangun dan menangis.


"Gantian, Tante juga mau lihat baby Airia," kata Agnes mendudukkan Rey di bangku kayu di ruangan itu. Rey terus merengek. Agnes mendekat dan duduk di tengah ranjang dekat baby Airia. Agnes mencium pipi Airia dengan gemas entah kenapa dia merasakan hal lain di hatinya.


"Siapa yang menemanimu bersalin Sinta?" tanya Agnes masih memandang wajah baby. Airia yang kadang tersenyum ketika tidur membuat Agnes merasa gemas.


"Pak An... maksud aku mantan suami aku," jawab Sinta tergagap hampir kelepasan dia menyebut nama Andre. Agnes hanya mengangguk.

__ADS_1


"Berarti mantan suamimu itu masih punya sedkit hati nurani Sinta. Sudah lama tinggal di sini?" tanya Agnes.


"Lebih kurang satu tahun," jawab Sinta. Agnes kembali mengangguk tapi matanya masih menatap wajah baby Airia dan tangannya mengelus tangan Airia.


"Kamu menyewa atau punya sendiri?" tanya Agnes. Bella jadi mengerutkan kening yang mendengar Agnes terus bertanya.


"Punya sendiri Agnes," jawab Sinta lagi


"Boleh aku tahu nama mantan suamimu?" tanya Agnes lagi. Tapi tetap seperti tadi. Pandangannya tetap ke Airia. Sinta tergagap. Tidak mungkin dia menyebut nama Andre. Dia masih ingat jelas perjanjiannya dengan Andre. Apalagi yang bertanya adik kandung Andre sendiri.


"Kamu Agnes seperti detektif saja," kata Bella kesal dan merasa malu dengan semua pertanyaan Agnes yang ingin mengetahui pribadi Sinta.


"Aku hanya ingin tahu mbak, apa salah?" tanya Agnes. Suaranya sedikit meninggi.


"Sebenarnya tidak salah dek, cuma tidak semua hal pribadi orang lain harus kita tahu," jawab Bella melunak.


"Maaf Agnes, aku tidak dapat memberitahukan nama mantan suamiku," jawab Sinta pelan.


"Tapi kenapa?, hanya nama kok. Apa kamu takut aku atau mbak Bella mengenalnya?. Tenang aja kalaupun kami tahu kami akan tetap diam jika itu mau mu," kata Agnes lembut. Agnes berusaha membujuk supaya Sinta mau terbuka. Sinta hanya menggelengkan kepala tanda tidak mau memberitahukan mantan suaminya.


"Maaf Agnes, aku tidak bisa,"


"Apa mantan suamimu seorang dosen?" tanya Agnes membuat Sinta terkejut dan memalingkan muka. Jawaban pertanyaan Agnes hanya dua. Iya atau tidak. Agnes memperhatikan wajah Sinta kemudian tersenyum sinis.


"Agnes, jangan seperti itu dek. Mbak tidak suka," kata Bella merasa tidak enak ke Sinta.


"Terserah mbak suka atau tidak suka. Aku hanya bertanya," jawab Agnes ketus. Bella merasa kesal dengan Agnes. Bella memilih diam. Sedangkan Sinta, dia juga merasa kesal. Semua pertanyaan Agnes seakan memaksanya untuk terbuka tentang mantan suaminya. Ingin rasanya dia mengusir Agnes, tapi Sinta tidak melakukan itu. Sinta masih menghormati Bella.


Agnes menghela nafasnya kasar. Membujuk Sinta ternyata tidak mudah. Wanita cantik itu tetap pada pendiriannya, tidak mau terbuka tentang mantannya. Agnes juga berharap Sinta keceplosan untuk menjawab pertanyaannya. Tapi Sinta dengan hati hati menjawab pertanyaan Agnes.


"Jadi beberapa hari ini, siapa yang menemani di sini Sinta?" tanya Bella mengalihkan pertanyaan Agnes.

__ADS_1


"Vina dan Tini sahabatku mbak, untuk malam ini Cici, Elsa dan indah. Mungkin bentar lagi mereka datang," jawab Sinta.


"Ma, kita nginap di sini saja ya?" kata Rey. Kini Rey sudah duduk kembali di sebelah baby Airia karena Agnes ke luar dari kamar.


"Ga boleh sayang. Kalau kita tidur di sini, siapa teman ayah tidur di rumah?. Ayah bisa marah loh kalau kita tidak pulang," jawab Bella lembut.


"Atau adik bayi kita bawa ke rumah ma, gimana?" tanya Rey lagi. Rey merasa berat harus berpisah dari baby Airia.


"Tidak bisa juga sayang, Tante Sinta akan sedih kalau kita bawa adik Airia ke rumah kita,"


"Ikut saja tantenya ma," jawab Rey membuat Bella berpikir.


"Iya Sinta, bagaimana kalau kamu ikut mbak ke rumah. Aku bisa mengurus mu dek," kata Bella lembut. Dia berharap Sinta mau. Bella merasa sangat kasihan dengan keadaan Sinta.


"Terima kasih mbak atas tawarannya. Tapi biarlah aku di sini. Lagian, Vina dan yang lainnya mengurus aku dengan baik," jawab Sinta pelan. Dia tidak mau membebani keluarga dari mantan suaminya.


Mbak, pulang yuk!" ajak Agnes dari depan pintu kamar Sinta.


"Tidak mau," teriak Rey. Dia belum mau pulang.


"Bentar Agnes, kita tunggu sahabatnya Sinta datang, baru kita pulang," jawab Bella sambil mengganti popok baby Airia. Agnes mendekat lagi ke ranjang dan mencium baby Airia.


"Cantiknya ponakan Tante ini, cepat besar ya biar kita piknik keliling dunia. Kita habiskan bersama uang kakek," kata Agnes membuat Sinta terkejut. Bella yang mendengarnya biasa saja.


"Ikut Rey ya Tante!" kata Rey girang.


"Iya, Kenzo juga ikut," jawab Agnes santai. Bella menyuruh Sinta untuk mandi. Karena untuk ibu yang baru bersalin jam lima sudah terlalu sore untuk mandi. Sinta menurut. Bella membantu Sinta berjalan ke kamar mandi. Setelah Sinta di kamar mandi, Agnes mencari sesuatu di laci meja.


"Apa yang kamu lakukan Agnes?" tanya Bella"


"Untuk disimpan sebagai kenang kenangan mbak," jawab Agnes. Bella hanya menggeleng kan kepala melihat kelakuan adik iparnya itu.

__ADS_1


__ADS_2