Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Sakit


__ADS_3

Pagi hari menjelang, Sinta bangun dari tidur. Merasakan badannya terasa remuk, Sinta mencoba duduk, Sinta menurunkan kakinya dari ranjang dan berdiri, tapi kepala yang pusing memaksanya untuk duduk kembali. Sinta merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimut.


Pagi ini seharusnya Sinta masuk kelas, tapi karena badannya terasa lemas Sinta kembali memejamkan matanya, berharap setelah bangun kepalanya tidak pusing lagi. Sinta terlelap.


Jarum jam menunjuk ke angka 8 ketika Sinta kembali bangun. Kepalanya masih sedikit pusing tapi masih bisa dipaksakan untuk berjalan. Sedikit terseok Sinta ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi, Sinta ke dapur. Sinta menggoreng telor mata sapi kemudian mengambil nasi dari rice cooker dan membawanya ke meja makan. Walaupun tidak selera dengan bantuan air putih sepiring nasi dan sebutir telor akhirnya masuk juga ke perut Sinta.


Di kampus para sahabat Sinta merasa heran. Karena Sinta tidak masuk kelas mulai tadi pagi. Biasanya Sinta jarang bolos kuliah. Vina sudah berkali kali mengirim pesan melalui wa, tapi tak satu pun dibalas, bahkan pesannya masih centang abu abu. Apalagi hari ini mereka ada kuis.


Tepat jam 10.30Wib. Vina dan mahasiswa lainnya sudah di kelas dan Pak Andre juga sudah duduk di mejanya. Tanpa mengabsen pak Andre membagikan kertas soal. Hari ini mereka kuis, dan Pak Andre sudah memberitahukannya Minggu lalu. Dari tempatnya duduk, pak Andre mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tetapi tidak ada Sinta di sana. Pak Andre mengirimkan pesan ke Sinta untuk segera ke kampus tetapi tetap aja pesan Pak Andre tidak dibaca. Berkali kali pak Andre melihat ponsel berharap ada balasan pesan dari Sinta. Di awal jam pelajaran, pak Andre juga selalu melihat ke arah pintu berharap Sinta datang. Andre khawatir.


Jam kelas telah usai, setelah menyimpan kertas lembaran jawaban mahasiswa ke ruangannya, Andre melajukan mobilnya ke rumah Sinta. Menyadari sikapnya tadi malam yang kasar sedikit membuat Andre takut Sinta pergi.


Andre memutar kenop pintu, tetapi pintu tidak terbuka. Andre tahu bahwa pintu dikunci dari dalam rumah. Andre sedikit panik takut Sinta nekat melukai diri sendiri, Andre ingin mendobrak pintu tetapi dia teringat ada pintu di garasi yang terhubung ke dapur. Andre mengambil kunci dari mobilnya dan segera membuka pintu tersebut.


Andre langsung masuk ke kamar, dilihatnya Sinta masih di bawah selimut. Andre menghela nafas lega dan menyingkap selimut Sinta. Sinta terbangun dengan mata yang sayu, sembab di matanya masih terlihat. Melihat Andre di depannya, Sinta biasa saja dan kembali memejamkan matanya. Badannya masih terasa remuk dan kepalanya masih sedikit pusing.


Melihat sembab di mata Sinta, sejujurnya Andre merasa kasihan. Andre juga merasa bersalah. Andre memandangi wajah Sinta, kemudian dia mengelus wajah Sinta. Andre terkejut merasakan wajah itu yang terasa panas.


"Kamu sakit, ayo aku antar ke dokter." Dengan lembut Andre berkata dan mengecup kening Sinta. Sinta menggeleng.


Kamu sudah makan?. Sinta masih diam tetapi Andre langsung berlalu dari kamar dan membuatkan Sinta bubur.


"Sinta, makan dulu ya!" kata Andre sambil membawa nampan. Andre membantu Sinta duduk dan mau menyuapi nya.


"Biar aku sendiri mas," kata Sinta sambil mengambil nampan dari tangan Andre. Sinta makan beberapa sendok kemudian meletakkan nampan di atas meja. Sinta kemudian berbaring.

__ADS_1


"Sinta, kamu harus berobat. Mari ku antar ke dokter!.


"Tidak perlu mas, istirahat aja, bentar lagi juga sembuh."


"Kamu demam tinggi, jangan keras kepala. Ayo kita ke dokter!" kata Andre sambil menyingkapkan selimut.


"Udahlah Mas, ga usah sok perduli. Pulanglah!. Ini masih siang. Istrimu yang lebih membutuhkanmu," sahut Sinta sambil menarik kembali selimutnya.


"Jangan keras kepala Sinta, bagaimana pun kamu juga istriku. Aku tidak mau terjadi apa apa samamu."


"Ralat mas, yang benar itu simpanan."


"Sinta, ternyata kamu sangat menyebalkan." Dengan kesal Andre berkata.


"Mas, simpanan itu ya disimpan, Mas tidak takut ada orang yang mas kenal melihat kita di rumah sakit. Kalau ditanya aku itu siapanya mas, Mas mau jawab apa?, apa mas berani mengatakan aku itu istri mas?. Aku hanya memposisikan diriku sebagai simpanan mu. Apakah itu menyebalkan?. Aku sakit kepala mas, mau tidur dulu. Tolong jangan diganggu!" kata Sinta dengan suara yang sedikit tinggi. Sinta membungkus tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala.


"Sinta, makan obat dulu, ini parasetamol. supaya demammu cepat turun." Sinta duduk mengambil obat dan air putih dari tangan Andre kemudian meminumnya. Andre membantu Sinta untuk berbaring kemudian keluar dari kamar.


Walaupun Sinta bertekad untuk tidak menangis lagi, nyatanya Sinta kembali menangis. Kata maaf yang ditunggunya dari Andre sama sekali tidak ada. Sinta bisa melihat kekhawatiran dan rasa perduli Andre, tapi entah kenapa justru itulah membuatnya semakin menangis.


Setelah tidur beberapa jam, Sinta terbangun. Kepalanya sudah mulai sembuh. Sinta melirik jam dinding, ternyata sudah jam 16.00Wib. Keluar dari kamar dilihatnya Andre tertidur di sofa. Sinta langsung ke dapur dan memasak mie instan untuk mereka berdua.


"Mas,, bangun!. Andre menggeliat dan ketika di lihatnya Sinta, Andre langsung menempelkan telapak tangannya ke kening Sinta.


"Demam mu sudah turun. Apa kamu lapar?.

__ADS_1


"Iya mas, aku sudah masak mas, ayo makan."


"Harusnya kamu membangunkan aku, jangan dulu terlalu lelah. Kamu masak apa?. Mas juga lapar."


"Masak mie instan mas." Kata Sinta sambil berjalan dan Andre mengekor di belakangnya.


"Kenapa mie instan? Orang sakit makanannya harus yang bergizi biar lekas sembuh."


"Pengen aja mas." Kata Sinta sambil menarik bangku untuk duduk.


" Duduk sini!" kata Andre sambil menepuk pahanya. Sinta menggeleng. Kalau dulu Sinta mau bermanja dengan Andre. Kali ini dan seterusnya Sinta akan membatasinya dan akan bersikap biasa saja. Andre sedikit kecewa dengan penolakan Sinta.


"Disini aja mas," jawab Sinta cuek. Belum habis mie instan yang di piring Andre, Ponsel berdering. Melihat layar ponsel Andre tersenyum, tanpa berpindah tempat Andre menjawab panggilan dari Cindy.


"Halo sayang."


" Nanti kita bahas di rumah. "


"Ini mau otw."


"Oke."


Andre menutup teleponnya. Semua gerak gerik Andre ketika menerima panggilan tadi tidak luput dari pengamatan Sinta. Andre yang terlihat mesra dan bahagia membuat Sinta menunduk dan tersenyum kecut. Cemburu itu masih ada di hatinya.


"Nanti malam, aku tidak pulang. Jaga dirimu dan tetap makan obat."

__ADS_1


"Iya mas, Terima kasih."


Setelah makan mie instan, tanpa mandi Andre langsung ke luar dari rumah Sinta. Sinta kembali merasa sedih.


__ADS_2