Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Tukang Gas


__ADS_3

Penyesalan selalu datang terlambat dan lebih bagus terlambat daripada sama sekali tidak menyesal. Hal itulah yang direnungkan Andre sepanjang perjalanannya pulang ke rumah. Melihat wajah putrinya, rasa penyesalan yang dalam menyergap hatinya. Berkali kali dia mengusap wajahnya frustasi dan memaklumi penolakan Sinta atas dirinya.


Tidak ada sedikitpun rasa tersinggung atau marah atas penolakan Sinta. Yang ada Andre semakin kagum dengan wanita muda itu. Di saat tersakiti dan marah, Sinta masih bisa mengatur kata katanya dengan kata yang wajar. Di setiap penolakannya, tidak ada satu katapun kata kasar atau kata kotor yang didengar Andre hanya nada bicaranya yang sinis dan dingin.


Didalam hatinya, Andre bersyukur. Karena Sinta menolak menggugurkan dan malah mempertahankan bayinya. Di luar sana, banyak wanita muda yang salah langkah dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Termasuk dirinya yang sempat menolak kehamilan Sinta. Tapi itu tidak bagi Sinta, dia mempertanggung jawabkan perbuatannya yang mau jadi istri simpanan.


Mengingat bayinya, senyum terlukis di wajah Andre. Sungguh, Andre terpesona dengan bayinya. Bayi yang mirip dengan adik perempuannya Agnes. Adik perempuan satu satunya yang paling disayanginya. Andre mengambil ponselnya dan menghubungi Agnes. Andre tidak sabaran memberitahu kabar gembira ini ke Agnes. Panggilan terhubung dan terdengar suara Agnes.


"Iya kak,"


"Dek, aku mau memberitahu tentang kabar gembira ini,"


"Kabar gembira apa kak?".


"Putriku, dia sangat mirip denganmu,"


"Mirip darimana?, ini baru lihat foto Alexa di status mbak Cindy, masih mirip mbak cindi kok," jawab Agnes dan membuat Andre terdiam. Alexa putrinya memang mewarisi wajah Cindy. Saking bahagianya, Andre lupa bahwa putrinya terlahir dari istri simpanan yang memang sengaja Andre sembunyikan. Tanpa berkata lagi Andre menutup telepon. Mimik wajahnya kini berubah.


Andre melajukan mobilnya lebih kencang. Tiba di rumah, Andre langsung menuju kamar Alexa putrinya. Melihat Alexa yang hanya dijaga baby sitter , Andre menggendong Alexa sebentar kemudian menyerahkannya kembali ke baby sitter dan masuk ke kamarnya. Cindy yang melihatnya masuk, menatap Andre tajam. Cindy kesal, Andre yang katanya cuma sebentar tapi pulangnya sore.


"Darimana mas?, dihubungi tidak diangkat. Katanya tadi cuma sebentar, ini sudah sore baru pulang," tanya Cindy kesal.


"Ada urusan tadi," jawab Andre singkat dan tenang. Andre langsung masuk ke kamar mandi. Cindy semakin kesal, dia berharap Andre menjelaskan kepulangannya yang terlambat tetapi hanya jawaban singkat yang didapatnya. Di kamar mandi, Andre masih memikirkan Sinta dan putrinya.


"Mau kemana lagi," tanya Cindy marah melihat Andre mengambil kunci mobil.


"Ada urusan sama Radit sayang, mungkin besok baru pulang," jawab Andre.


"Alexa demam mas, jangan pergi!"


"Itu hanya pengaruh imunisasi. Kasih obatnya sebentar lagi sudah reda."


Andre menghampiri Cindy yang duduk bersandar di ranjang. Mengecup keningnya kemudian keluar dari kamar. Saking kesalnya Cindy melemparkan bantal ke Andre. Andre tidak perduli dan terus berjalan keluar rumah.


Besok harinya, di rumah sakit. Karena melahirkan normal Sinta sudah diperbolehkan pulang. Setelah makan siang dari rumah sakit, rencananya Sinta akan pulang ke rumah.


Mendengar saran dari dokter, Sinta sedikit takut. Takut hanya berdua di rumah bersama bayinya sementara dia belum diperbolehkan untuk bergerak bebas dan mengangkat beban. Belum lagi harus mengganti popok atau memandikannya bayinya. Sedangkan para sahabatnya baru sore nanti bisa pulang ke kota itu artinya besok mereka bisa ke rumah Sinta.


"Sudah siap untuk pulang?" tanya Andre yang entah kapan masuk ke ruangan Sinta. Sinta terkejut. Melihat Andre semalam keluar dari ruangannya membuat hatinya lega. Kini sang mantan kembali di hadapannya. Sinta hanya diam saja. Sinta tidak tahu bahwa andre menjaganya tadi malam tetapi tidak tidur di ruangan Sinta. Andre mengambil putrinya dari tangan Sinta. Menggendongnya dan mengecup pipi putrinya.


"Siapa nama putriku?" tanya Andre lagi.


"Airia Maharani," jawab Sinta singkat. Nama yang sudah dipersiapkan sejak Airia di kandungan.

__ADS_1


"Nama yang bagus," kata Andre lagi. Walau dia sedih karena nama belakang Sinta yang tersemat di belakang nama putrinya. Andre mengakui bahwa nama pilihan Sinta nama yang sangat bagus.


"Aku akan mengantar kalian berdua pulang," kata Andre lagi.


"Tidak perlu pak Andre, kami bisa naik taksi untuk pulang."


"Untuk yang satu ini, aku mohon jangan menolak Sinta. Kamu belum pulih untuk membawa putri kita pulang sendirian ke rumah. Bagaimana kalau kamu tiba tiba pening atau yang lainnya ketika kamu menggendong Airia. Aku tahu kamu sangat marah dan bahkan tidak ingin melihat aku. Demi kebaikan kalian berdua, aku mohon! jangan menolak," kata Andre membujuk Sinta. Sinta hanya diam. Andre meletakkan Airia di box bayi yang ada di ruangan itu.


"Makanlah dulu, kita akan pulang setelah ini dan administrasi sudah aku urus," kata Andre lagi setelah mengambil nampan berisi nasi dan lauk dari atas meja.


"Aku bisa sendiri." Sinta mengambil sendok dari tangan Andre. Andre mengalah dan membiarkan Sinta makan sendiri. Tidak grogi atau gugup ketika Andre mengamatinya sedang makan. Sinta benar benar menganggap Andre orang lain.


Andre mendorong kursi Sinta keluar dari ruangan menuju parkiran, sedangkan perawat menggendong baby Airia. Tas perlengkapan bayi berada di pangkuan Sinta. Sinta masuk ke dalam mobil dibantu Andre, kemudian perawat meletakkan baby Airia di pangkuan Sinta. Andre masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.


Sekilas terlihat mereka seperti keluarga yang sesungguhnya.


Di mobil, Sinta hanya diam. Begitu juga Andre. Sinta sebenarnya malas harus duduk kembali di mobil Andre, apalagi Andre harus ikut ke rumahnya. Mengingat saran dokter, Sinta harus merelakan dirinya dibantu Andre. Karena tidak ada yang bisa membantu dia saat ini. Sinta sudah meminta bantuan Bella, karena Rey sakit. Bella tidak bisa membantunya. Terbersit di pikirannya untuk meminta bantuan Sean, Sinta sadar, kedatangan Sean ke rumahnya bisa menimbulkan fitnah. Sinta pasrah kalau harus Andre yang membantunya.


Lain halnya dengan Andre, Sinta yang mau di antar olehnya membuatnya merasa senang. Tak jarang dia melirik ke samping kirinya. Tapi yang di lirik fokus melihat ke wajah bayinya.


"Mana kuncinya?" tanya Andre ketika mereka sampai di depan gerbang rumah Sinta. Sinta menunjukkan tas perlengkapan bayinya yang berada di bangku penumpang. Sinta terkejut pampres dengan kemasan yang besar dan beberapa kaleng susu berjejer rapi di bangku penumpang. Andre membuka gerbang kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


"Biar aku yang menggendong baby Airia," kata Andre ketika Sinta hendak turun dari mobil.


"Pak Andre," panggil Sinta setelah keluar dari mobil. Tangan kirinya menahan baby Airia sedangkan tangan kanannya masih memegang pintu mobil. Sinta tiba tiba merasakan pusing. Andre segera mendekat dan memegang Sinta. Dengan perlahan kemudian mendudukkan Sinta di mobil. Andre membawa baby air ke dalam rumah terlebih dahulu.


Andre membuka kamar Sinta, kamar yang masih seperti dulu ketika terakhir kali dia ke kamar ini. Tidak ada box bayi atau perlengkapan bayi lainnya. Andre akhirnya meletakkan baby air di tengah ranjang.


"Maafkan ayah nak," kata Andre pada putrinya. Dia sangat merasa bersalah. Tidak ada penyambutan khusus untuk kelahiran Airia berbeda dengan kelahiran Alexa putrinya bersama Cindy, segala sesuatunya dilengkapi. Bahkan hal yang tidak penting seperti Barbie dan mainan lainnya bertengger indah di kamar Alexa.


Andre keluar dari kamar Sinta, berjalan ke arah kamar di sebelah kamar Sinta dan membukanya. Andre berharap, kamar itu dihias untuk Airia. Tetapi sama saja kamar itu masih seperti dulu.


Setelah membantu Sinta berbaring di kamarnya. Andre kini sibuk membersihkan rumah dan membuat makanan sehat untuk Sinta. Andre juga berbelanja dan mengisi kulkas dengan makanan.


"Pak Andre pulang saja," kata Sinta melihat jam yang sudah menunjukkan angka delapan. Andre membuat susu untuk Airia. Meletakkan bayi itu di pangkuannya dan memberinya susu formula.


"Aku akan menginap di sini, aku tidak mau seperti kejadian tadi siang. Putriku hampir jatuh dari tanganmu," jawab Andre tenang dan fokus memberi bayinya susu. Sinta menatapnya malas.


"Aku bisa sendiri dan terbiasa sendiri. Jadi pergilah. Istrimu pasti mengkhawatirkan mu," jawab Sinta malas. Berduaan dengan mantan di atap yang sama sungguh hal yang memalukan buat Sinta.


"Aku juga mengkhawatirkan kalian berdua. Andaikan kamu punya teman di rumah ini. Aku akan menuruti kata katamu,"


Vina dan yang lainnya akan datang besok pagi, jadi kamu tidak perlu khawatir,"

__ADS_1


"Ya sudah, karena Vina datang besok pagi. Maka aku juga pulang besok pagi," jawab Andre. Kemudian keluar dari kamar. Sinta merasa sangat kesal. Dia tidak tersentuh sedikitpun dengan apa yang sudah dilakukan Andre dua hari ini kepadanya.


Besok paginya, Andre bangun cepat. Setelah membuat sarapan untuk Sinta. Andre mencuci semua pakaian kotor, satu hal yang tidak pernah dilakukannya.


Sementara Sinta. Bangun pagi dia mengabari sahabatnya.


"Kapan lahiran?, jam berapa?,"


"Siapa yang bawa ke rumah sakit,"


"Cowok atau cewek adik bayinya?"


"Sekarang sudah di mana?"


"Oke, sebentar lagi otw,"


Pesan itu kini memenuhi grup wa ke tujuh sahabat itu. Sinta tersenyum membaca semua pesan para sahabatnya.


"Sebentar lagi, para sahabatku akan datang," kata Sinta ketika Andre membawa sarapannya ke kamar.


"Makanlah dulu!" setelah itu aku akan pulang," jawab Andre menyodorkan sarapan untuk Sinta. Andre melihat bayinya kemudian mengelus pipinya. Kemudian Andre meletakkan Airia di pangkuannya. Mengambil ponsel dan berfoto.


Melihat keras kepala Sinta, Andre sadar. Tidak ada lagi alasan bagi dia untuk menjumpai Airia. Belum selesai Sinta makan, Vina sudah memanggilnya dari gerbang. Sinta gelagapan begitu juga dengan Andre. Andre segera meletakkan Airia di ranjang dan pergi ke dapur.


"Di sini Vin, di kamar," sahut Sinta ketika Vina memanggilnya dari depan pintu rumah. Ternyata bukan hanya Vina. Tini dan Cece juga sudah datang.


"Ketiga gadis itu bersorak senang ketika melihat Airia, mengelus bahkan memuji Airia.


"Aku kira kalian datang setelah siap kuliah," kata Sinta sedikit gelisah. Matanya terus mengawasi pintu kamar. Andre belum keluar dari dapur. Sinta berharap selagi sahabatnya fokus ke Airia, Andre keluar dari rumahnya.


"Demi ponakan yang cantik jelita ini, hari ini kami akan bolos dan merawat mu. Untuk malam ini Vina dan Tini yang akan menginap di sini. Selanjutnya aku dan Elsa juga indah. Begitu seterusnya sampai kamu benar benar pulih."


Sinta terharu dengan perhatian sahabatnya, dia merentangkan tangannya memeluk Vina duduk di sebelahnya.


"Terima kasih friends ," kata Sinta terisak. Saking bahagianya Sinta sampai menitikkan air matanya.


"Sinta, itu siapa?" tanya Cece ketika melihat bayangan laki laki lewat.


"Oh itu. Itu tukang Gas. Tadi aku panggil untuk mengganti gas yang kosong," jawab Sinta gugup. Dia takut mereka mengetahui Andre di rumahnya. Tini yang tidak langsung percaya, langsung keluar dari kamar. Tini sampai di depan pintu tepat ketika Andre sudah keluar dari gerbang. Beruntung semalam waktu berbelanja, dia mengganti mobilnya dengan sepeda motor.


"Sinta jangan bohong kamu, itu suamimu kan? masa tukang gas naik motor gede yang keren. Penampilannya juga oke. Tapi kalau kulihat dari belakang, laki laki itu sepertinya sering kulihat. Tapi di mana ya," kata Tini setelah kembali masuk ke kamar.


"Benar tin, dia hanya tukang gas," jawab Sinta lega. Setidaknya Tini tidak sempat melihat Andre.

__ADS_1


__ADS_2