
Pagi hari, Vina bangun cepat seperti biasanya. Vina masih betah di kamar dan bergelung dengan selimut. Vina berencana keluar kamar setelah Radit pergi bekerja. Segelas jus yang tadi malam masuk ke perutnya ternyata tidak bisa bertahan sampai pagi ini.
Vina duduk dan menuang air minum ke dalam gelas. Suatu kebiasaan bagi Vina. Membawa air minum ke kamar bila malam hari. Vina berusaha mengganjal perutnya dengan air putih tersebut. Menahan lapar selama satu jam lebih baik daripada harus berhadapan dengan Radit. Berhadapan dengan pria yang tidak bisa dibantah itu. Hanya membuat kepala Vina semakin pening.
Enam bulan ke depan, Vina berencana setiap hari keluar kamar setelah Radit pergi bekerja dan masuk kamar setelah Radit pulang bekerja. Vina tersenyum sendiri, membayangkan rencananya. Membayangkan terasa gampang.
Baru terlintas rencana itu di kepalanya, Radit sudah berdiri di depan pintu. Vina bahkan belum sempat masuk ke dalam selimut untuk berpura pura tidur. Kepalang basah, Vina akhirnya tetap duduk. Dia kembali meraih gelas yang sudah sempat diletakkan. Radit semakin dekat dan sudah berdiri di hadapan Vina.
"Habiskan," kata Radit dingin sambil mengulurkan tangan memberi segelas susu untuk Vina. Vina meraih gelas tersebut dan meminum sedikit. Demi kenyamanan bersama, lagi lagi Vina menurut. Radit masih berdiri sambil mengawasi Vina meminum susu. Vina yang diawasi seperti itu, tentu saja gugup. Tetapi Vina berusaha tenang dan meminum susu itu sedikit demi sedikit.
"Kamu harus sarapan satu jam lagi," kata Radit setelah gelas kosong itu berpindah ke tangannya. Tanpa mendengar jawaban Vina. Radit sudah melangkah keluar dari kamar. Vina menarik nafas lega, pria menakutkan itu sudah pergi.
Satu jam kemudian, Vina keluar dari kamar. Vina menduga Radit sudah berangkat kerja. Vina melangkah pasti menuju meja makan. Perut laparnya sudah meronta untuk diisi. Susu hamil pemberian Radit tadi hanya mampu mengganjal perut Vina beberapa menit. Sambil mengelus perutnya. Vina berjalan mendekat ke meja makan. Rasa lapar dan tidak adanya Radit di rumah itu, membuat Vina bersemangat untuk sarapan. Nasi goreng dan roti bakar tersedia di meja itu. Vina memilih nasi goreng.
Seperti tadi malam, Vina kembali tidak berselera setelah beberapa sendok nasi goreng masuk ke perutnya. Perutnya masih lapar harus di isi tapi mulut dan lidahnya menolak. Vina hendak meletakkan piring tersebut ke wastafel, tetapi urung karena Radit sudah duduk di depannya. Vina sedikit heran melihat tampilan Radit hari ini, biasanya jam segini. Radit sudah berangkat ke kantor. Hari ini, pria itu bahkan masih mengenakan pakaian rumah.
Vina menarik nafas panjang. Dia tidak ingin Radit marah. Vina pun memasukkan sedikit demi sedikit nasi goreng tersebut ke mulutnya. Vina merasa lega, akhirnya nasi goreng itu habis juga dan Vina tidak merasakan mual.
"Satu jam atau dua jam dari sekarang. Kamu harus makan buah. Buah yang ini," kata Radit ketika Vina hendak meninggalkan meja makan, Vina menoleh bersamaan dengan Radit yang sudah mengeluarkan berbagai macam buah dari kulkas. Dia menempatkan buah itu ke keranjang buah dan meletakkannya di atas meja makan.
"Jangan makan buah yang dingin,"
"Ya," jawab Vina singkat. Vina sudah merasa seperti robot. Berbicara dengan Radit hanya mengucapkan iya. Vina berharap,? pria itu cepat berangkat ke kantor. Banyak hal yang akan ditanyakan Vina ke bibi Ina.
Menurut akan lebih baik. Vina selalu mengulang kata kata itu dalam hatinya. Biarlah dia seperti manusia bodoh karena Vina memang merasa dirinya bodoh. Wanita mana yang mau kembali setelah diperkosa dua kali oleh suaminya. Hanya Vina yang melakukan itu. Bahkan orang tua dan Sahabatnya tidak mampu menahan Vina supaya tidak kembali ke Radit. Vina hanya berharap. Enam bulan lagi penderitaannya berakhir.
Vina kembali keluar kamar. Menuruti perkataan Radit untuk memakan buah. Pria itu sama sekali tidak berangkat ke kantor. Vina melihat Radit duduk di ruang tamu dengan laptop di depannya. Seperti Vina, Radit juga menoleh sebentar ke Vina kemudian kembali fokus ke laptopnya.
"Vina."
Suara itu membuat Vina berhenti menggigit buah apel. Dia mengenali suara itu adalah suara Sinta sahabatnya. Vina bergegas menuju ruang tamu. Dan benar saja. Sinta dan Andre sudah duduk di sana bersama Radit. Sinta dan Vina saling memeluk. Kedua sahabat itu saling menitikkan air mata. Kedua sahabat itu juga mengusap air mata masing masing sebelum para suami mereka menyadarinya.
"Boleh aku menggendong putri mu bro?" tanya Radit sambil menutup laptopnya. Tangannya kemudian terulur untuk meraih Airia. Airia menolak dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Andre.
"Dia tidak mau Radit. Jangankan kamu. Aku saja harus menunggu waktu lama untuk bisa menggendong Airia seperti ini," kata Andre sambil memeluk Airia erat. Radit tersenyum dan mencubit pelan pipi Airia. Melihat Airia seperti ini, Radit merasa tidak sabar menunggu enam bulan lagi. Dia sekilas melirik perut Vina yang masih rata.
"Tidak apa apa. Anak kecil biasa seperti itu,"
"Sebentar lagi juga kamu akan menjadi ayah Radit, enam bulan lagi tidak akan terasa," kata Radit tersenyum. Perkataan Andre membuat hatinya berbahagia. Melebihi kebahagiaan yang pernah dirasakannya. Menjadi ayah. Status baru yang akan disandangnya enam bulan kemudian.
"Semoga saja bro. Aku berharap kandungan Vina baik baik saja sampai hari H,"
"Aku dan Sinta juga berharap seperti itu. Kami sengaja singgah kemari untuk melihat keadaan Vina. Vina kamu harus semangat. Lelah mu akan terbayar setelah melihat bayi kamu kelak," kata Andre sambil menoleh ke Vina. Vina tersenyum dan mengangguk. Andre dan Sinta merasa lega ketika Tini memberi kabar tentang Vina tetapi juga merasa khawatir karena Vina kembali ke rumah Radit.
"Kalian mau bepergian?" tanya Vina ke Sinta.
"Iya Vina. Kami mau ke kampung halaman aku."
__ADS_1
"Kak Andre jumpa mertua donk," kata Vina tersenyum. Hatinya senang karena hubungan sahabatnya makin lama makin harmonis. Vina bisa melihat, Andre sangat mencintai Sinta.
"Iya Vin, tapi kamu tidak tahu bagaimana detak jantung kakak sekarang. Kalah prajurit yang mau berperang," jawab Andre tertawa. Sinta dan Vina juga tertawa.
"Sampai segitunya kak," kata Vina. Andre mengangguk. Karena memang seperti itu kenyataannya sekarang. Membayangkan menghadapi orang tua Sinta, hatinya dag dig dug.
"Semangat mas, Kamu pasti bisa menyakinkan orang tua aku," kata Sinta menyemangati suaminya.
"Pasti sayang. Demi restu mertua. Apapun pasti aku lakukan," jawab Andre tersenyum.
"Kalau disuruh panjat kelapa, mau?" tanya Vina menantang Andre. Andre seketika teringat dirinya yang pernah jatuh dari pohon mangga demi mangga muda untuk memenuhi permintaan Cindy. Tak adil menurut Andre jika dia tidak bersedia seandainya dia disuruh memanjat kelapa demi meminta restu orang tua Sinta. Sedangkan untuk Cindy, si wanita licik dirinya rela sampai terjatuh. Akhirnya Andre mengangguk pasti.
"Jangankan memanjat pohon kelapa, memanjat ilalang pun. Aku mampu," kata Andre sambil tertawa. Sinta dan Vina juga ikut tertawa.
"Ilalang bukan dipanjat kak, diinjak baru bisa," jawab Vina sambil tertawa. Andre dan Sinta juga tertawa.
Radit menatap tiga orang yang duduk bersamanya. Tiga orang itu masih saja bercanda dan tertawa. Apalagi Vina. Dia merasa terhibur dengan kedatangan Andre dan Sinta. Radit bisa melihat perubahan dalam diri Andre sejak rujuk dengan Sinta. Jauh di lubuk hatinya. Radit juga ingin mempunyai keluarga harmonis seperti keluarga Andre. Saling mendukung dan saling menyemangati.
Vina tiba tiba berhenti tertawa. Tatapan tajam dari Radit membuat Vina seketika terdiam. Dia merasa tidak berbuat salah, tetapi tatapan Radit seperti mengintimidasi dirinya. Hingga akhirnya, Sinta dan Andre pamit. Vina tidak berani lagi untuk bercanda.
"Boleh aku mengantar mereka ke depan Radit," tanya Vina takut. Sinta dan Andre beserta Airia sudah hampir mencapai pintu. Radit mengangguk.
"Kak Andre, Sinta," panggil Vina. Andre dan Sinta menghentikan langkahnya. Mereka sudah hendak membuka pintu mobil.
"Kak, aku minta nomor rekening kakak. Aku sudah tinggal di sini dan tanggung jawab Radit. Aku akan mengembalikan uang seratus juta itu kak. Kakak aja yang transfer balik ke nomor rekening Radit ya!"
"Loh kok bisa kak,"
"Radit sudah meminta uang itu kembali. Tentang uang yang sudah di rekening kamu. Aku dan Sinta sudah ikhlas. Kamu boleh mempergunakan uang itu untuk kebutuhan kamu dan janin kamu," kata Andre serius. Pantang bagi Andre untuk meminta uang itu kembali. Karena sejak Radit meminta uangnya kembali. Andre dan Sinta sudah mengikhlaskan uang itu untuk Vina.
"Uang apa maksud kamu Andre?" tanya Radit tiba tiba.
Vina berbalik menoleh ke arah pintu. Radit sudah berjalan mendekat ke mereka. Baik Vina atau Andre bingung untuk mejelaskan ke Radit tentang uang yang seratus juta itu.
"Uang?. Kami tidak berbicara uang," jawab Andre pura pura.
"Jangan bohong kamu Andre. Aku sudah mendengar semuanya. Terima kasih bro. Aku tidak menyangka bahwa uang yang kamu pinjam kemarin itu untuk Vina. Kamu memang sahabat aku yang terbaik," kata Radit sambil menepuk lengan Andre. Andre menarik nafas lega. Radit ternyata tidak marah dengan uang yang seratus juta itu.
"Saat itu aku hanya ingin membantu Vina, Radit. Karena Vina hamil, aku tidak ingin kamu lepas tanggung jawab. Itulah sebabnya aku meminjam duit kamu,"
"Sekali lagi terimakasih bro. Lihat ponsel kamu. Aku sudah mengirimkan uang seratus juta itu kembali ke rekening kamu."
Andre melihat ponselnya. Benar saja. Notifikasi itu sudah muncul di ponselnya.
"Seharusnya tidak seperti ini Radit, kami sudah ikhlas,"
"Hanya aku yang berhak bertanggungjawab ke Vina dan calon anakku Andre,"
__ADS_1
Vina tersenyum kecut mendengar perkataan Radit. Entah bertanggungjawab seperti apa yang dimaksud Andre. Semalam bahkan Radit menyuruh Vina untuk menuliskan semua kebutuhannya. Dan Bibi Ina yang akan membelanjakan.
Vina masuk ke dalam rumah setelah Sinta dan Andre pergi. Wajah ceria tadi tidak lagi terlihat. Kembali berduaan dengan Radit dalam satu atap, bisa dipastikan hanya membuat Vina semakin kesal.
"Vina," panggil Radit setelah keduanya sudah sama sama di ruang tamu. Vina hendak masuk ke kamar. Mendengar namanya dipanggil. Vina menoleh.
"Minum susumu,"perintah Radit tegas.
"Ya,"
"Kenapa kalau berbicara dengan aku, yang keluar dari mulut kamu hanya kata iya. Sedangkan ke Andre kamu bisa bercanda dan tertawa,"
"Karena kamu itu setan yang sangat menakutkan dan keras kepala," batin Vina dalam hati.
"Kenapa diam?"
"Radit, mana nomor rekening kamu. Aku akan mentransfer uang itu." Selagi dikasih kesempatan untuk berbicara, Vina meminta nomor rekening Radit. Dia akan mengembalikan uang seratus juta tersebut.
"Tidak perlu ditransfer. Biar saja di rekening kamu,"
"Tapi Radit,"
"Anggap saja itu sebagai kompensasi perceraian kita nanti. Kamu tidak perlu Khawatir. Aku akan menambahkan lebih banyak dari jumlah itu setelah kamu melahirkan anakku," jawab Radit cuek. Dia sudah duduk di sofa dan menatap Vina.
"Maksud kamu apa Radit?"
"Setelah kita bercerai, aku menginginkan hak asuh anak itu," kata Radit sambil menunjuk perut Vina.
"Kamu tega Radit, aku ibunya. Tapi kamu tega akan memisahkan kami?" tanya Vina sedih.
"Kamu tenang saja. Aku pasti bisa mencari ibu yang baik untuk anak aku kelak. Tugas kamu hanya menjaga di kandungan dan melahirkannya dengan selamat,"
"Radit, aku tidak menginginkan uang kamu sepeserpun. Tapi jangan pisahkan aku dari anakku,"
"Tidak bisa seperti itu Vina, bagaimanapun kita akan bercerai setelah anak itu lahir. Aku tidak mungkin tidak menghargai jasa kamu. Orang tua kamu pasti senang mendapat uang kompensasi perceraian yang banyak dari aku,"
Vina tidak tahu lagi mau berkata apa. Matanya sudah tergenang. Berkedip sekali saja. Air mata itu akan tumpah. Vina melihat Radit yang sudah membuka laptopnya. Vina berbalik. Dan masuk ke dalam kamar. Vina tidak ingin, Radit melihatnya menangis.
Vina merasakan dadanya semakin sesak. Menahan untuk tidak menangis ternyata lebih menyesakkan dada daripada menangis kencang.
"Vina," panggil Radit kencang. Vina keluar dari kamar setelah memastikan air matanya sudah mengering.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang kau bilang tadi?" tanya Radit marah. Melihat Vina masuk ke kamar tanpa membuat susu hamil membuka Radit semakin marah.
"Iya. Aku akan segera membuat susunya,"
"Duduk disini," kata Radit sambil menunjuk sofa. Dengan menunduk Vina berjalan dan duduk di sofa itu. Vina tidak ubahnya seperti anak kecil yang akan mendapat hukuman.
__ADS_1
"Aku akan membuatkan kamu susu," kata Radit lagi. Vina kembali mengangguk.