Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Meminta Restu


__ADS_3

"Mama tidak perlu repot-repot untuk memasak. Tadi aku sudah beli ikan dan sayur masak. Aku ambil dulu di mobil," kata Sinta kepada mama Ria. Mama Ria hendak mempersiapkan makan malam untuk mereka. Tetapi Sinta cepat melarangnya. Mama Ria kembali duduk.


Sinta berjalan ke luar rumah. Andre mengikuti dari belakang. Sedangkan Airia sudah berpindah tangan ke Lina. Entah mantra apa yang dibacakan Lina sehingga Airia cepat akrab dengannya.


"Kita harus segera membawa papa mertua berobat," kata Andre sambil mengambil beberapa oleh oleh dari dalam mobil dan memberikannya ke Sinta.


"Baik lah tuan. Aku setuju dengan pendapat tuan," jawab Sinta pelan. Andre spontan berhenti mengambil oleh oleh yang lain dan menatap Sinta.


"Kok, panggil tuan sayang?"


"Kan, sekarang kamu majikan aku. Tunggu mereka mengetahui kebenarannya baru aku memanggil kamu dengan sebutan mas lagi"


"Tidak. Tidak boleh. Cari sebutan lain. Panggil dengan papinya Airia saja."


"Baiklah,"


"Sayang. Aku nanti tidur dimana?" tanya Andre cemas. Tadi waktu duduk di ruang tamu. Dia sudah menghitung pintu kamar hanya tiga pintu. Tanpa bertanya Andre bisa menebak kamar itu kamar untuk siapa saja.


"Mas, bisa menginap di penginapan terdekat saja,"


"Jangan mas saja. Kita bertiga sama sama tidur penginapan. Penginapan milik papa tidak jauh dari sini. Kita bisa tidur di sana malam ini,"


"Ya. Tidak boleh gitu mas. Aku hanya sekali sekali pulang kampung masa harus tidur di penginapan."


"Jadi gimana donk. Mereka harus tahu secepatnya tentang pernikahan kita sayang. Berpisah tidur dengan kamu, itu menyakitkan bagiku,"


"Kamu tidak ngerti ya mas. Papa aku darah tinggi. Kamu gak lihat salon pas yang di keningnya?"


"Itu sebabnya kita harus membawa papa mertua secepatnya berobat,"


"Iya. iya. Kita bawa dulu masuk ini semua," jawab Sinta ketus.


Sinta dan Andre membawa oleh oleh itu masuk ke rumah. Bermacam aneka kue dari toko kuenya sendiri dan beberapa pakaian untuk keluarga besar Vina. Mama Ria sampai melongo melihat oleh oleh itu semua. Apalagi Sinta membawa pakaian bekasnya untuk Lina.


"Sinta, ini kok banyak sekali nak," tanya mama Ria ketika Sinta menata berbagai macam lauk pauk di meja makan. Sinta hanya tersenyum.

__ADS_1


"Apa majikan kamu membelikan ini semua?" tanya mama Ria lagi.


"Iya ma. Majikan aku yang membelikan,"


"Tetapi kenapa majikan kamu harus ikut kemari?. Bahkan membawa putrinya lagi," tanya mama Ria pelan. Dia menatap Sinta yang tidak berani menoleh ke arahnya.


"Kita makan saja dulu mama. Aku panggil mereka dulu," jawab Sinta. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dari harus mencari jawaban yang jelas itu adalah kebohongan.


Sinta dan Andre makan dalam diam, begitu juga dengan kedua orang tua Sinta. Hanya Dion yang terus memuji makanan enak itu sedangkan Lina. Dia masih menjaga Airia sambil memberi bayi itu makan. Dia akan makan setelah yang lainnya selesai makan.


Lina, kamu makan sana. Airia sama aku saja. Sini nak sama bunda," kata Sinta tenang. Dia tidak menyadari bahwa perkataan tadi di dengar oleh papa Panji. Mereka kini sudah duduk berkumpul kembali di ruang tamu.


"Sinta, duduk di sini," kata papa Panji tegas. Sinta duduk di bangku yang ditunjukkan oleh papanya. Mendengar suara tegas ayahnya. Sinta sudah mulai gugup.


"Katakan maksud kedatangan mu dengan membawa majikan kamu ke rumah ini," tanya papa Panji tegas. Sinta sudah merasa jantungnya berdetak kencang. Apalagi dia baru menyadari bahwa dirinya menyebut bunda tadi. Andre juga demikian. Dia menoleh anggota keluarga itu secara bergantian kemudian Andre menunduk.


"Pak sebelumnya kami minta maaf. Kedatangan kami sebenarnya untuk membe...,"


"Aku hanya ingin penjelasan dari Sinta," potong papa Panji ketika Andre ingin melanjutkan perkataannya. Andre terdiam dan melirik ke Sinta yang sudah menunduk. Melihat istrinya itu ketakutan dan gugup, ingin rasanya dia memeluk dan menenangkan Sinta.


Bukannya menjawab. Sinta malah terisak. Rasa bersalah dan kebohongan yang selama ini dia ucapkan ke keluarganya membuat Sinta menangis. Dia menatap sekilas ke papa Panji dan mama Ria. Entah mengapa Sinta bisa melihat kekecewaan di mata kedua orang tuanya. Sinta kembali menunduk. Sinta merasa tidak mampu untuk memberitahukan tentang kebenaran dirinya dan pernikahannya dengan Andre.


Untuk berbohong pun, Sinta merasa tidak mampu lagi. Hanya menangis yang dapat Sinta lakukan. Andre juga demikian. Melihat Sinta seperti itu. Rasa sesak itu semakin menjadi jadi di hati Andre. Bukan menyesal karena sudah menikah dengan Sinta. Tetapi Andre menyesali jiwa pengecutnya yang hanya menjadikan Sinta sebagai simpanan di pernikahan pertama mereka. Selain itu, Andre juga menyesal karena menikah untuk yang kedua kalinya dengan Sinta tanpa restu kedua orang tua Sinta. Andre menyesali sikap itu semua. Melihat Sinta terisak seperti ini, hatinya juga ikut sesak.


"Sinta. Apa kamu tidak mendengar apa yang papa katakan," kata papa Panji dengan suara yang tinggi. Sinta terkejut dan semakin terisak.


"Papa, jangan terlalu keras ke Sinta. Lihatlah cucu kita. Dia bahkan langsung akrab ke Lina dan aku," kata mama Ria lembut. Sinta dan Andre spontan melihat ke mama Ria. Mereka terkejut karena mengatakan Airia cucu mereka sedangkan mereka belum memberitahu kebenarannya. Dari perkataan mama Ria, Andre dan Sinta sama sama menduga bahwa kedua orang tuanya merasa curiga karena sebelumnya Sinta menyebut kata bunda untuk Airia.


"Papa, mama. Aku benar benar minta maaf. Aku dan Sinta memang sudah menikah. Dan Airia adalah putri kami, cucu kalian. Dan saat ini. Sinta juga sedang mengandung," kata Andre akhirnya. Andre langsung menyebut kedua mertuanya dengan sebutan papa dan mama. Bagi Andre tidak ada gunanya untuk menutupi status mereka berdua lagi. Tidak ada keterkejutan di wajah papa Panji dan mama Ria. Mereka hanya menarik nafas panjang dan terdiam.


Andre dengan cemas menatap papa mertuanya. Satu menit, dua menit, lima menit hingga sepuluh menit. Kedua mertuanya masih terdiam. Andre merasa lega dalam hatinya. Papa mertuanya tidak ada menunjukkan gejala stroke seperti yang ditakutkan Sinta tadi.


"Papa, mama. Aku minta maaf," kata Sinta sambil berdiri dari duduknya. Dia mendekat ke papa Panji dan bersujud. Andre juga melakukan hal yang sama. Ketika Sinta berpindah bersujud ke mama Ria, Andre juga bersujud di kaki papa mertuanya.


"Papa benar benar kecewa Sinta. Kamu berangkat kuliah ke kota hendak menuntut ilmu. Sebelum sarjana kamu pulang membawa anak dan suami. Pergi satu pulang hampir empat orang," kata papa Panji setelah lebih dari sepuluh menit terdiam.

__ADS_1


"Maaf papa," jawab Sinta sambil menunduk. Andre juga menunduk. Mereka sudah duduk di bangku masing masing.


"Apa karena orang tua kamu miskin, kamu malu untuk mengundang kami ke pernikahan kamu. Kami bisa datang seperti orang lain ke pernikahan kamu, kalau kamu malu mempunyai orag tua miskin seperti kami. Kamu putri pertama kami Sinta. Tetapi kamu sudah memberi contoh yang tidak bagus untuk ke dua adik kamu. Asal kamu tahu selain melihat ingin melihat kamu sukses. Kami juga ingin melihat kamu menikah," kata papa Panji lagi. Walau suaranya pelan. Bisa dipastikan jika papa Panji sangat kecewa dan merasa tidak di hargai karena pernikahan Sinta yang tidak melibatkan mereka. Sinta masih terisak. Mendengar perkataan papanya Sinta sangat merasa bersalah. Keputusan sepihak yang diputuskannya sendiri ternyata hanya memberi kekecewaan yang sangat dalam kepada kedua orangtuanya.


"Dan kamu Andre, kalau seandainya kedua orang tua kamu tidak datang kemari untuk memberitahukan pernikahan kalian. Bisa aku pastikan, bahwa kedatangan kalian kemari hari ini membuat aku mati mendadak," kata papa Panji sambil melepaskan salon pas dari keningnya. Andre dan Sinta sama sama mendongak menatap papa Panji. Mereka tidak menyangka bahwa kedua orang tua Andre datang ke rumah ini dan memberi tahukan semuanya. Mereka juga tidak tahu. Bahwa kedatangan mereka hari ini juga sudah mendapat bocoran dari papa Rahmat.


"Papa, kedua mertua aku kemari?" tanya Sinta tidak percaya. Dalam hati dia bersyukur, mempunyai mertua yang bijaksana. Mendengar mertuanya datang ke rumah orangtuanya, membuat Sinta merasa berharga dan dihargai.


"Ya Sinta. Sebulan setelah pernikahan kedua kalian. Kedua mertua kamu datang kemari dan menceritakan semua tentang dirimu. Tidak ada yang tertinggal. Aku tidak menyangka bahwa kamu menghadapi kenyataan hidup yang pahit di kota nak," jawab mama Ria serak. Dia merasa sedih mendengar kisah Sinta yang pernah bercerai dari Andre. Andre semakin bersalah. Perbuatannya dulu bukan hanya melukai Sinta tetapi melukai seluruh keluarga Sinta. Andre tidak bisa membayangkan jika seandainya mereka tidak rujuk. Dan Sinta membawa Airia dengan status janda. Membayangkan itu Andre menggelengkan kepalanya.


"Papa, mama. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Itu adalah kesalahan aku bukan kesalahan Sinta," kata Andre lagi. Permintaan maafnya terdengar bersungguh-sungguh. Papa Panji hanya terdiam. Papa Panji sebenarnya merasa kecewa dengan Andre. Setelah hampir empat bulan rujuk kembali, baru hari ini datang menjumpai mereka.


"Katakan dengan jelas maksud kedatangan kalian," kata papa Panji dingin. Dia belum menjawab permintaan maaf dari Sinta dan Andre.


"Kami meminta restu papa dan mama untuk pernikahan kami ini pa," jawab Andre sambil menunduk.


"Apa restu itu perlu untuk kalian?. Kalian sudah menikah. Jadi restu apa lagi yang akan aku berikan untuk kalian,"


"Papa, mama. Aku mohon beri restu untuk kami pa," kata Andre lagi. Sinta membiarkan Andre memohon maaf dan meminta restu kepada kedua orangtuanya. Sinta ingin melihat keseriusan Andre untuk memperjuangkan dirinya. Bagi Sinta itu tidak seberapa jika dibandingkan penderitaan yang pernah dialaminya.


"Apa jaminannya kalau aku memberi restu kepada kalian?" tanya papa Panji sengit. Mengingat Andre pernah menyakiti Sinta. Ingin rasanya papa Panji menghajar Andre. Tapi itu tidak mungkin lagi dilakukan. Walau kecewa papa Panji juga ingin melihat Sinta bahagia.


"Aku hanya manusia Papa. Ada tidaknya restu dari papa dan mama. Aku akan berusaha keras untuk membahagiakan Sinta. Aku pernah menyakitinya sangat dalam. Dan aku akan berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama. Aku mencintai putrimu papa, mama. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak membuat kesalahan tapi aku akan berusaha untuk mengurangi berbuat kesalahan," jawab Andre tulus. Dia menoleh ke Sinta yang juga menoleh kepadanya.


"Baiklah Andre. Aku hanya meminta satu hal kepada kamu. Jangan menyakiti hati putri ku lagi. Jika kamu tidak mencintainya, tolong antar dia kemari. Setidaknya ketika dia terluka ada kami yang bisa menghiburnya di sini," jawab papa Panji setelah menarik nafas panjang.


"Percayalah papa, Aku akan berusaha membahagiakan Sinta. Aku juga tidak ingin lagi menyia-nyiakan istri sebaik dan setulus Sinta. Terima kasih kepada papa dan mama yang sudah mendidik Sinta dengan baik. Entah bagaimana aku harus membalas semua kebaikan kalian itu,"


"Dia putri kami Andre, dan sepantasnya kami mengajarkan hal yang baik untuk dirinya. Tapi kamu lihat. Dia sanggup mengambil keputusan besar dalam hidupnya," sindir papa Panji.


"Salahkan aku dalam hal ini papa," jawab Andre pelan. Bagi Andre semua hal yang sudah dilakukan Sinta terkait pernikahan mereka. Itu semua karena dirinya.


"Pernikahan kami memang karena alasan tertentu. Tapi makin kesini aku menyebut itu adalah takdir. Dan Sinta adalah penyelamat ku," kata Andre lagi. Papa Panji Tidak menjawab, Papa Panji hanya mengangguk kepalanya.


Pembicaraan itu pun akhirnya berakhir tanpa ada kejelasan restu dari keduanya orang tua Sinta. Andre tidak kecewa dengan hal itu. Andre maklum akan kekecewaan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2