Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Rindu yang Tak Tertahankan


__ADS_3

"Duduk di sini sayang," kata Andre sambil menepuk sofa di sebelahnya. Sinta baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengantar Tini sampai halaman rumah. Sinta menurut, Sinta memegang perutnya ketika hendak duduk. Dan Andre memegang tangan Sinta.


Radit memperhatikan gerak gerik Andre memperlakukan Sinta. Senyum tulus selalu tersungging di bibir sang dosen. Terkadang tangannya terulur mengelus perut Sinta. Terkadang juga menarik tubuh Sinta ke dalam pelukannya. Sedangkan Sinta, tidak pernah protes atas sentuhan Andre di sekitar tubuhnya yang masih tahap wajar bisa dilihat orang lain. Sinta juga terlihat bahagia dengan perlakuan suaminya.


Sungguh, Radit ingin juga mempunyai keluarga kecil harmonis seperti keluarga Andre dan Sinta. Radit berdoa dalam hati, semoga Vina bisa menerima dirinya kembali. Terpaksa pun tidak apa apa yang penting, mereka bisa hidup bersama dan menjadi orang tua yang utuh untuk si kembar. Jika kesempatan itu ada, Radit berjanji dalam hati akan menjadikan Vina satu satunya ratu di hati dan di rumahnya. Dan akan menebus semua kesalahannya di masa lalu dengan membahagiakan Vina.


"Mas, aku ke kamar dulu. Ngantuk," kata Sinta sambil menatap wajah suaminya. Andre mengangguk sambil membelai rambut Sinta. Andre kemudian memegang tangan Sinta yang hendak berdiri.


"Mau kemana?" tanya Radit yang melihat Andre juga ikut berdiri.


"Ke kamar. Kelonin istri dulu. Kamu tunggu sebentar ya!" jawab Andre merasa tidak berdosa. Sinta menggerutu dan memukul tangan Andre. Andre sebenarnya hanya berniat mengerjai Radit.


"Bucin banget sih. Bikin ngiri saja," cibir Radit kesal. Radit juga beranjak hendak pulang.


"Canda, canda. Duduk lagi bro," kata Andre sambil terkekeh. Dia sengaja bercanda untuk membuat Radit iri. Radit pun akhirnya duduk kembali.


"Kapan Sinta lahiran bro," tanya Radit setalah Sinta tidak terlihat lagi.


"Bulan depan,"


"Laki laki atau perempuan. Aku ingin menjodohkan salah satu anakku dengan anak mu kelak bro," kata Radit serius. Andre tertegun. Putrinya masih kecil dan bahkan belum lahir, Radit sudah berencana untuk menjodohkan anak anak mereka. Sungguh tidak masuk akal baginya. Lagipula Andre tidak suka dengan pernikahan yang dijodohkan.


"Jaman sudah modern, tapi pemikiran kamu masih kolot. Kamu menikah karena dijodohkan. Harusnya kamu tidak mengulang apa yang kamu alami kepada anakmu kelak," kata Andre tajam. Dia tidak menyukai apa yang dikatakan Radit.


"Aku serius bro bukan bercanda. Aku yakin anak anak kamu pasti tumbuh menjadi anak anak yang baik kelak. Karena ibunya juga wanita yang baik. Begitu juga dengan putra putri ku. Mereka pasti tumbuh dengan akhlak yang baik. Aku percaya Vina pasti mendidik mereka dengan baik."


"Amin. Tapi tetap saja aku tidak setuju dengan perjodohan yang kami sebutkan tadi. Kuno," jawab Andre serius.


"Kita bersahabat. Sudah mengetahui karakter masing masing. Dan istri istri kita juga bersahabat. Kenapa kamu tidak setuju?" tanya Radit lagi.


"Karena kita berdua sama sama brengsek bro. Lain hal kalau mereka kelak saling jatuh cinta dan menikahi. Kalau itu aku tidak bisa melarang," jawab Andre serius. Radit tidak bisa berkata apa apa lagi.


"Untuk saat ini, harusnya kamu fokus merebut hati Vina dan bekerja. Bukan langsung memikirkan jodoh anak anak yang masih lama bahkan puluhan tahun lagi," kata Andre kesal. Tidak masuk akal baginya menjodohkan anak anaknya yang masih anak anak.


"Payah kamu Andre, aku pulang," kata Radit kesal. Niatnya tulusnya tidak ditanggapi oleh Andre membuat Radit malas. Radit menyambar kasar kunci mobilnya dari atas meja dan melangkah keluar rumah tanpa berkata kata lagi.


"Kalau sikap kamu masih seperti ini. Tidak bisa dibantah. Aku jamin Vina tidak akan mau membuka hatinya kepadamu," teriak Andre kesal. Walau Radit tidak menoleh, Andre yakin si banci kaleng itu masih mendengar perkataannya. Dan benar saja, Mendengar nama Vina, Radit merindukan wanita itu. Padahal dari tadi pagi ke siang ini. Masih hitungan jam mereka berpisah. Entah bagaimana nantinya, jika Radit sudah di luar kota.


"Dasar banci kaleng, belum berubah," gerutu Andre sambil masuk ke dalam kamar. Sinta yang belum tidur siang terkejut mendengar suaminya menggerutu.


"Ada apa mas?" tanya Sinta heran.


"Si Radit ingin menjodohkan salah satu anaknya dengan anak kita," jawab Andre kesal. Sinta terkekeh.

__ADS_1


"Ada ada saja,"


"Kenapa belum tidur siang?"


"Tadi mama dan papa video call mas. Mereka cerita kalau mas mengirimkan uang untuk mereka," jawab Sinta. Dia senang, Andre memberi perhatian kepada orangtuanya. Sejak kepulangan mereka ke kampung beberapa bulan yang lalu. Andre jadi rutin mengirimkan uang bulanan untuk sang mertua.


"Itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai anak sayang,"


"Makasih mas,


"Tidak perlu berterimakasih sayang, aku yang seharusnya berterima kasih kepada mereka. Mereka sudah mendidik seorang wanita yang baik dan tangguh untuk menjadi istriku."


Andre memeluk istrinya yang sedang duduk di ranjang. Sinta membalas pelukan itu dan mencium pipi Andre berkali kali. Andre tersenyum kemudian tertawa. Sungguh Andre merasakan kebahagiaan yang mendekati sempurna.


"I love you mas," bisik Sinta. Andre merasakan dadanya berdebar. Mereka sudah berumah tangga dan menghadapi berbagai tantangan. Tetapi bisikan Sinta, membuat Andre merasa lebih muda dari usia yang sebenarnya.


"Ucapkan sekali lagi sayang," kata Andre lagi. Sinta malu, bukannya menurut apa yang diucapkan Andre. Sinta memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Andre. Andre tersenyum.


"Aku juga sangat mencintai kamu istriku," bisik Andre tulus sambil membelai rambut Sinta.


"Semoga Radit dan Vina juga bisa saling mencintai ya mas," kata Sinta yang masih menyandarkan kepalanya di dada Andre. Andre hanya mengangguk. Melihat sikap Radit yang belum bisa mengontrol emosi, Andre setuju jika Vina menutup hatinya untuk sementara terhadap Radit.


Kebahagian yang dialami keluarga Andre dan Sinta berbanding terbalik dengan apa yang dialami Radit hari ini. Di dalam mobil Radit berusaha membunuh kerinduan kepada Vina dan ketiga putra putrinya. Radit sudah berusaha menepis rindu itu dengan mendengar musik. Tapi tetap saja. Keinginan untuk bertemu semakin kuat dan menuntut. Radit juga memikirkan kata kata Andre tadi. di


Radit menurunkan kedua kakinya turun dari mobil. Hari ini ada yang berbeda dengan detak jantungnya. Jika selama tiga bulan ini Radit bisa melangkah dengan ringan masuk ke rumah itu. Hari ini Radit seakan takut untuk masuk, Radit takut Vina akan memberikan surat gugatan cerai. Atau mengusirnya.


Tetapi demi kerinduan akan keluarga kecilnya, Radit akhirnya melangkah pasti masuk ke dalam rumah. Radit masuk tanpa mengetuk dan mengucapkan salam. Ruang tamu kosong tidak berpenghuni membuat Radit langsung masuk ke kamar Vina.


"Vin,"


"Berisik," kata Vina kesal setelah melihat Radit sudah berdiri dekat pintu. Dia tidak menyangka Radit akan kembali pulang ke rumah hari ini. Caranya berpamitan kepada si kembar tadi pagi, seakan akan tidak pulang lagi ke rumah ini dalam waktu yang lama. Vina sebenarnya lega mendengar Radit akan ke luar kota. Inilah salah satu sikap yang tidak di sukai Vina. Plin plan dan tidak konsisten dengan apa yang sudah diucapkannya.


Radit tidak menghiraukan kekesalan Vina. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi Radit duduk di ranjang di sebelah Vina.


"Mandilah, sudah sore," kata Radit sambil mendorong tubuh Vina pelan. Vina tidak menjawab. Dia malas dengan sikap Radit yang sok akrab. Vina berpindah duduk ke bangku meja rias.


"Tadi aku ke rumah Andre. Aku kagum dengan keluarga kecil mereka yang bahagia dan romantis," kata Radit lagi sengaja bercerita. Radit melirik ke Vina tapi Vina memandangnya sinis. Di awal pernikahan dirinya sudah mengajak Radit untuk membina rumah tangga seperti pada umumnya. Radit yang tidak mau dan tidak menganggap dirinya. Jika Radit mendengar kata katanya dulu. Mungkin saja mereka juga sekarang menjadi keluarga bahagia.


"Terus, hubungannya sama aku apa?" tanya Vina ketus. Vina memalingkan wajahnya ke arah boks bayi yang berjejer.


"Tidak ada hubungannya dengan dirimu. Hanya saja aku ingin seperti mereka. Di saat lelah bekerja ada istri dan anak yang menunggu di rumah. Vina, tidak bisakah kamu seperti Sinta. Memaafkan semua kesalahan suami dan memulai hidup baru," kata Radit memohon.


"Jangan menyamakan wanita itu sama semua Radit. Kesalahan kamu dengan kesalahan kak Andre berbeda. Sinta mencintai kak Andre dari awal. Sedangkan aku, tidak mencintai kamu. Bagaimana kita membangun rumah tangga jika tidak ada cinta. Aku sarankan, sebaiknya kamu tanda tangani surat gugatan perceraian kita. Aku sudah buatkan yang baru." Radit mengacak rambutnya frustasi karena kembali mendengar surat gugatan cerai.

__ADS_1


"Vina, begini saja. Kasih aku waktu untuk berpikir. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan aku akan berada di luar kota. Selama di sana, aku akan berusaha berubah. Selama itu juga, aku mohon Kamu mengirimkan video video kalian. Aku pasti merindukanmu kalian berempat. Entah bisa aku menahan rindu atau tidak. Tapi aku rasa pasti tidak bisa. Tapi aku rela, asal itu bisa menunda perceraian kita. Dan aku juga berharap hati mu berubah dan bersedia menerima aku," kata Radit sedih. Radit menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kesedihan itu.


"Kamu tidak bisa dipercaya Radit. Dulu pertama kamu membujuk aku pulang ke rumah, Kamu juga berjanji tidak menyakiti aku. Tapi kenyataannya apa?. Sekarang kami berjanji berubah, aku tidak yakin. Kamu manusia plin plan," jawab Vina tajam.


"Aku sudah berubah kok Vina, setelah mengetahui kamu hamil. Aku tidak pernah lagi bermain dengan wanita malam. Bahkan Donna pernah merayu aku. Tapi tidak berhasil," jawab Radit kini tersenyum. Dia berharap kejujurannya menjadi nilai plus dan Vina mempertimbangkan penawarannya tadi.


"Oya?. Baguslah kalau begitu. Setidaknya kamu sudah berkurang berbuat dosa. Dan seharusnya seperti itu. Kalau sudah mempunyai anak, sudah suatu keharusan untuk memberi contoh yang bagus kepada anak anak. Jangan sampai setelah besar mereka menyadari jika kelahiran mereka bukan karena cinta melainkan karena pemerkosaan," sindir Vina tajam. Radit menelan ludahnya kasar.


"Jangan ngomong seperti itu donk Vin, kasihan putra putri kita kalau harus mendengarkan perkataan kamu. Walaupun mereka masih bayi. Mereka pasti bisa mendengar perkataan kamu."


"Oleh sebab itu berubah Radit dan rajinlah kamu berdoa."


Radit tersenyum dan merasa senang. Vina kembali menceramahi dirinya seperti di awal di pernikahan. Radit sangat yakin bahwa suatu saat nanti Vina akan menjadi istri yang mencintai dirinya. Seperti perkataan Vina dia akan rajin berdoa. Berdoa kepada yang kuasa supaya membuka hati Vina untuk bersedia memaafkan dan menerima dirinya.


"Baik bos, mulai detik ini. Aku berjanji akan memberi contoh untuk ketiga buah hati kita. Aku akan berubah. Besok, aku tidak usah ke luar kota ya. Kita sama sama memberi contoh kepada mereka," kata Radit pura pura bodoh. Berharap Vina mengatakan iya atau mengangguk.


"Kalau kamu tidak ke luar kota. Cepat tanda tangan surat itu," jawab Vina sambil menunjuk selembar kertas di atas meja dekat ranjang. Vina pun sebenarnya mendukung Radit ke luar kota. Vina ingin hidup tanpa melihat Radit dulu.


"Baiklah, besok aku keluar kota. Tapi aku rasa aku tidak bisa menahan rinduku kepada kalian. Tadi saja, aku hendak pulang ke rumah. Ternyata tanpa sadar aku membawa mobil ke sini," kata Radit sedih. Radit sengaja berterus terang apa yang dialaminya hari ini, lagi lagi Radit berharap Vina kasihan kepadanya.


"Aku akan mengirim video mereka," kata Vina.


"Setiap hari ya bos,"


"Hmm,"


"Aku serius Vina, jangan hanya dijawab begitu saja. Aku tidak mengerti arti hmm itu,"


"Iya Radit. Kalau hanya mengirimkan foto itu gampang."


"Vin, kamu sudah mempertimbangkan untuk pindah dari rumah ini. Papa dan mama biarkan ikut pindah," kata Radit sambil menatap Vina. Wanita itu terlihat tidak begitu serius mendengarkan perkataan Radit.


"Aku betah tinggal di sini Radit. Jangan paksa aku untuk pindah."


"Aku tidak memaksa Vina. Kalau kamu tidak bersedia untuk pindah juga tidak apa apa. Aku tidak akan memaksa kamu," jawab Radit lembut. Dia mengingat perkataan Andre tadi. Dia tidak akan memaksakan kehendak lagi ke Vina. Radit belajar menghargai keputusan Vina.


Radit berdiri dari duduknya. Mengamati wajah putra putrinya yang tertidur pulas. Entah bagaimana dia nanti menahan rindunya kepada ketiga bayi kembar itu. Radit tiba tiba menyesal karena memutuskan untuk pergi ke luar kota. Harusnya dia pindah untuk sementara ke rumah yang pernah ditempatinya bersama Vina. Dengan begitu. Sekali atau dua kali dalam satu minggu bisa berkunjung ke rumah ini.


"Vin."


"Apalagi sih Radit," tanya Vina kesal. Radit memanggil namanya dari tempat dimana ketiga bayi kembar itu tidur. Vina takut bayi bayi itu terbangun.


"Aku batalkan saja ke luar kota ya. Sebagai gantinya. Aku pulang ke rumah dulu. Tapi ijinkan aku. Untuk berkunjung kemari sekali atau dua kali seminggu. Aku pasti tidak bisa menahan rindu jika harus pergi ke luar kota."

__ADS_1


"Dasar plin plan," jawab Vina ketus. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah ke luar.


__ADS_2