
Sinta dan Tini keluar dari kelas bersamaan. Sedangkan Cici, Indah dan Elsa masih bercengkrama dengan mahasiswa yang lain di ruangan itu. Beberapa mahasiswi terlihat ke arah Sinta dan Tini. Sinta membalas senyuman itu dengan ramah. Keduanya terus melangkahkan menaiki tangga menuju lantai dua. Tujuan Meraka adalah ruangan Andre.
Tanpa mengetuk Sinta membuka ruangan itu. Sinta melihat Andre yang memberikan bimbingan skripsi kepada salah satu mahasiswi dan ada dua orang lagi mahasiswa yang duduk di sofa menunggu antrian bimbingan.
"Masuk saja Sinta, Tini," kata Andre ketika melihat Sinta hendak menutup pintu ruangan itu kembali. Kalau di kampus, Andre sangat profesional. Dia tidak membedakan Sinta dengan mahasiswi lainnya. Kampus ini adalah miliknya papanya. Dia tidak mau citra kampus tercoreng karena ketidak profesional dirinya.
"Maaf pak," jawab Sinta sambil melangkah masuk. Tini yang berjalan di belakang tersenyum karena kegugupan Sinta. Mahasiswa yang bimbingan itu, tahu bahwa Sinta adalah istri Andre. Jiwa jahil Tini meronta ronta. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan, Tini hanya tersenyum dan ikut duduk bersama Sinta di sofa itu. Dua mahasiswa tadi tersenyum ke arah Sinta dan Tini.
"Duduk dulu," kata Andre lagi. Dia melanjutkan bimbingannya terhadap mahasiswi itu. Andre terlihat sangat serius memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang duduk di depannya. Sudah sepuluh menit sejak Sinta dan Tini masuk ke ruangan itu, tetapi bimbingan itu belum siap juga. Sinta melihat dua mahasiswa yang duduk bersamanya di sofa. Dari raut wajahnya mereka terlihat raut wajah yang sudah bosan.
Sinta kembali menatap Andre. Yang ditatap sedang serius berbicara sambil menunjuk kertas bimbingan dan mahasiswi tersebut mengangguk kepala. Bahasa ekonomi terdengar dari mulut Andre membimbing mahasiswi itu.
Andre menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya beralih ke Sinta yang juga sedang menatapnya tajam. Seketika Andre melihat mahasiswi di depannya. Andre baru tersadar ternyata mahasiswi itu berpakaiannya sangat ****.
"Kamu perbaiki draf kamu. Bimbingan cukup sampai di sini," kata Andre sambil mengisyaratkan dua mahasiswa yang duduk di sofa untuk mendekat. Sinta masih mengamati Andre dan mahasiswi tersebut. Cara berpakaian mahasiswi tersebut membuat Sinta kesal. Belahan baju yang rendah hampir menunjukkan belahan dadanya. Jika menunduk , bisa dipastikan aset kembarnya kelihatan. Seketika Sinta merasa cemas, takut suaminya tergoda. Sebagai wanita yang pernah diduakan, wajar Sinta merasakan hal itu. Mahasiswi itu dengan cara berjalan yang diatur melenggang ke arah pintu. Membuka pintu tersebut dan keluar.
Seakan tahu apa yang dicemaskan istrinya. Andre sempat tersenyum ke Sinta sebelum menandatangani skripsi yang diberikan mahasiswanya. Sinta memalingkan wajahnya. Tini yang duduk di samping Sinta juga memperhatikan apa yang diperhatikan Sinta. Termasuk senyum Andre tidak luput dari penglihatannya. Tini terkekeh ketika melihat Sinta memalingkan wajah.
"Hanya tanda tangan?" tanya Andre ketika mahasiswa yang satunya lagi menyerahkan tiga skripsi yang sudah digandakan untuk ditandangani.
"Iya pak," jawab mahasiswa itu sopan.
"Dapat nilai apa kemarin?" tanya Andre lagi. Andre tidak bisa mengingat setiap nilai mahasiswa bimbingannya.
"Dapat nilai A pak,"
"Bagus. Selamat ya!. Semoga ilmu yang kamu dapatkan di kampus ini bisa memperbanyak uang di rekening kamu," canda Andre membuat mahasiswa itu tertawa. Tini juga ikut tertawa tetapi Sinta tidak.
"Terima kasih pak," kata mahasiswa itu. Dia membungkuk hormat ke Andre dan keluar dari ruangan itu. Andre duduk bergabung bersama Tini dan Sinta duduk di sofa.
"Kita tidak langsung berangkat pak?" tanya Tini sambil melirik jam dinding. Hari ini rencananya mereka menjemput Vina di rumah sakit.
"Kita tunggu Sean dulu, Dia yang akan membawa Vina ke rumah Cici," jawab Andre sambil membuka tutup botol air mineral. Rencananya Vina akan tinggal untuk sementara di rumah Cici. Cici tinggal berdua bersama mamanya. Papanya sudah meninggal dan mamanya juga sering dinas ke luar kota. Mamanya Cici senang menerima Vina di rumahnya.
"Kita ketemu di rumah sakit saja kak, ngapain harus menunggu di sini, toh di rumah sakit nanti juga ketemu,"
"Ya gak gitu juga Tini. Sean juga mau jemput Cici sekalian. Kan enak kalau jalan bareng," jawab Andre sambil melirik ke Sinta yang masih diam dari tadi. Tini terdiam. Keakraban Sean dan Cici masih saja membuat hatinya merasa cemburu.
"Kenapa diam sayang?" tanya Andre sambil mengelus punggung tangan Sinta. Sinta menatapnya sekilas.
"Dia cemburu itu kak, kakak kelamaan ngasih bimbingan sama mahasiswi cantik tadi," kata Tini sambil tersenyum. Sinta melotot ke arahnya tapi Tini tidak merasa takut.
"Benar begitu sayang?" tanya Andre lembut. Sinta mengerucutkan bibirnya.
"Benar sayang," kata Tini sambil menirukan cara berbicara Sinta. Sinta menatapnya kesal.
"Tidak kok mas, Tini saja yang sok pintar. Mau satu harian juga ngasih bimbingan ke cewek cantik tadi, aku tidak apa apa," jawab Sinta pelan. Apa yang keluar dari mulutnya berbanding terbalik sama isi hatinya. Andre tentu saja tahu tentang kecemburuan Sinta. Andre tersenyum dan mengelus pucuk kepala Sinta.
__ADS_1
" Tuh kan!. Benar dia cemburu. Kak Andre kalau mau mesra mesra jangan di depan aku donk. Seperti tidak tahu saja aku jomblo. Aku sebaiknya keluar saja. Aku tunggu di parkiran," kata Tini ketus sambil beranjak dari duduknya.
"Makasih Tini, kamu memang adik aku yang super pengertian," kata Andre sambil tersenyum. Melihat kecemburuan Sinta, Andre merasa butuh waktu berdua saat ini bersama istrinya.
"Aku minta maaf sayang. Kalau karena bimbingan mahasiswi tadi membuat kamu cemburu. Itu murni bimbingan sayang. Tidak ada unsur yang lain," kata Andre setelah Tini menutup pintu ruangan. Andre meraih tubuh Sinta dan memeluknya. Andre tidak ingin Sinta terbebani akibat bimbingan tadi.
"Mas sengaja membuat bimbingan cewek tadi lama kan?. Mas pasti menikmati belahan dadanya yang sebesar bola basket itu," kata Sinta kesal. Andre tertawa mendengar perkataan Sinta. Dia mencubit pipi Sinta pelan.
"Ya ampun, aku jadi menyesal karena tidak memperhatikannya tadi. Ternyata sebesar bola basket ya. Aku terlalu fokus pada drafnya yang berantakan," goda Andre membuat Sinta semakin kesal. Dia memukul dada Andre saking kesalnya. Andre bercanda tapi Sinta menanggapinya dengan serius. Andre terkekeh.
"Ooo jadi mas menyesal karena tidak memperhatikannya tadi. Kenapa tidak panggil lagi cewek tadi, mungkin dia masih di kampus ini. Sebentar, aku akan mencarinya biar mas bisa memperhatikan bola basketnya,"
"Sayang, kok jadi ditanggapi serius?. Aku hanya bercanda. Percaya sama mas. Aku memang pernah berengsek tapi aku tidak membenarkan perzinahan," kata Andre sambil menarik tangan Sinta untuk duduk kembali. Dia tidak menyangka candaannya ditanggapi serius oleh Sinta.
"Iya. Tidak membenarkan perzinahan. Bisa saja kan langsung menjadikan simpanan," kata Sinta lagi membuat Andre menjadi frustasi.
"Sebentar sayang, duduk yang manis disini," kata Andre. Dia tidak mau menanggapi kecemburuan wanita hamil muda itu. Dia berjalan ke arah meja kerjanya dan membuka laptop. Andre mengetikkan sesuatu dan kemudian meletakkan kertas di printer. Tidak lama kemudian Andre mengambil kertas dari printer dan berjalan ke sofa tempat Sinta duduk.
"Coba baca!, sudah bisa seperti ini?. Kamu juga bisa menambahkan kata kata yang cocok sebagai tambahan kalimat yang di kertas ini," kata Andre sambil menyodorkan kertas itu ke Sinta. Sinta membaca kertas itu. Dalam hati tersenyum puas dan merasa senang.
"Bagi mahasiswa yang mau bimbingan skripsi di harapkan berpakaiannya sopan. Memakai kemeja dan celana bahan. Terima kasih.
Begitu isi dari kertas yang baru saja diprint Andre. Sinta mengangguk. Setidaknya dengan adanya peringatan tersebut. Mahasiswa yang akan memasuki ruangan Andre berpakaian sopan dan tidak mengundang dosa. Andre meminta kertas itu kembali dan menempelkan kertas tersebut di depan pintu ruangannya. Andre tahu kekhawatiran istrinya. Dia bisa menjaga hati tetapi tidak bisa melarang orang yang menaruh hati padanya. Melihat senyum Sinta Andre merasa lagu.
"Kita ke bawah sayang. Radit sudah di parkiran," kata Andre sambil menarik tangan Sinta. Dia mengunci ruangannya dan berjalan bersisian ke parkiran.
Sementara itu di parkiran Tini berdebat dengan Sean. Tini mengotot ikut mobil Andre. Sedangkan Sean juga memaksanya untuk ikut dengan mobilnya. Cici dan Indah hanya diam melihat perdebatan dua manusia itu. Elsa sudah pulang. Dia tidak bisa mengantar Vina ke rumah Cici. Selain rumahnya yang jauh. Mamanya Elsa juga belum pulih benar dari sakitnya.
"Pokoknya kamu ikut mobil kakak. Kamu mau seperti obat nyamuk di mobil Andre?. Kamu hanya mengganggu keromantisan mereka saja nantinya," tanya Sean tidak mau kalah.
"Apa urusan kakak?. Yang terganggu kan bukan kakak. Jadi masalahnya sama kakak apa?"
"Masalah aku tidak mau, Mereka terganggu," jawab Sean cepat.
"Aku tidak mau ah. Aku juga tidak mau mengganggu kakak dengan Cici. Aku tetap baik mobil pak Andre. Titik sebesar kepala aku," kata Tini lagi. Sean tertawa. Dia mendekat ke Tini dan mengacak rambutnya.
"Jangan pegang pegang. Tuh lihat. Nanti penghuni hati kakak cemburu," kata Tini sambil menunjuk Cici dan Indah yang sedang berbicara di bangku panjang dekat parkiran itu.
"Kalau di mobil aku setidaknya kita berempat. Kalau aku asyik berbicara dengan Cici. Kamu masih ada teman si Indah," kata Sean lagi. Andre dan Sinta sudah mendekat ke mobil itu.
"Yee. Sama saja," jawab Tini ketus.
"Apanya yang sama saja," tanya Andre sambil membuka pintu mobil untuk Sinta. Tini tidak menjawab pertanyaan Andre.
"Andre, Tini naik mobil aku saja bro. Kalian berdua saja satu mobil. Aku takut gadis tomboi ini mengganggu kalian berdua jika dia satu mobil dengan kalian," kata Sean sambil menarik tangan Tini. Tini berusaha melepaskan pegangan itu.
"Dengan senang hati bro. Tini tidak apa apa kan kamu naik mobil Sean saja," kata Andre. Tini menatap Andre kesal. Dia berharap Andre mengajaknya satu mobil ternyata malah setuju Tini naik mobil Sean. Akhirnya Tini menurut masuk mobil Sean. Dia dan Indah duduk di bangku belakang sedangkan Cici duduk di samping Sean.
__ADS_1
Di dalam mobil Sean, Tini tidak berceloteh seperti biasanya. Sesekali dia menatap Sean dari belakang. Dan lebih sering Tini memalingkan wajahnya keluar mobil. Memandangi jalanan lebih bagus baginya saat ini daripada harus melihat Sean.
"Cici, mama menyuruh kamu datang ke rumah hari Minggu. Apa kamu ada waktu?" tanya Sean kepada Cici. Tini yang mendengar percakapan Sean semakin merasakan hatinya menahan cemburu. Mamanya Sean menyuruh Cici ke rumahnya itu artinya hubungan Sean dan Cici sudah sangat dekat. Hal seperti ini lah yang ingin dihindari Tini. Tapi entah mengapa justru Sean yang memaksanya ikut ke mobilnya.
"Sean sialan. Kamu memaksa aku ikut ke mobilmu hanya untuk memamerkan kedekatan mu dengan sahabatku," batin Tini jengkel. Dia terus memandangi jalanan.
"Ada donk kak. Untuk Tante sesibuk apapun pasti aku usahain untuk datang. Kak, tolong tanya Tante apa yang ingin aku masak untuk aku bawa ke rumah kakak ya!. Kabari aku lewat wa," jawab Cici sambil tersenyum. Perkataan Cici makin membuat Tini cemburu. Apalagi dia tidak bisa memasak. Jelas kriteria Sean adalah Cici. Cici cantik, modis dan pintar lagi memasak bukan seperti dirinya yang hanya tahu menggoreng telor. Kalau tidak mata sapi ya di dadar. Selain itu Tini angkat tangan kalau bagian masak memasak.
"Kamu masak seperti biasa saja. Makanan kesukaan mama. Mama pasti senang. Dan bisa dipastikan satu harian mama memuji masakan kamu," kata Sean sambil fokus menyetir. Dia tidak tahu bahwa Tini ingin turun saja dari mobil itu.
"Baiklah kak, aku akan datang lebih awal. Supaya Tante senang. Aku juga tahu Tante pasti akan mengajak berbelanja,"
"Aku rasa itu tujuan utamanya menyuruh kamu datang ke rumah,"
"Aku juga menduga seperti itu kak. Kakak ikut kami saja nanti ya. Pergi bertiga kan lebih seru. Setidaknya kasih pendapat lah untuk pilihan belanja kami nanti,"
"Tidak masalah. Biasanya juga seperti itu. Yang jadi supir kan aku. Papa mana mau menemani kalian berbelanja. Yang ada pegal linunya akan kumat jika ikut kalian," kata Sean sambil membelokan mobilnya. Cici tertawa. Sedangkan Tini dia merasakan perjalanan ini sangat lama.
"Sean sialan. Pamer saja terus. Tunggu aku punya pacar. Aku akan pamerkan ke wajah kamu yang tampan itu. Tunggu lah saat itu tiba," batin Tini lagi. Hatinya semakin memanas mendengar perkataan Cici dan Sean. Tini tidak menyangka Sean dan Cici sedekat itu.
"Tini, kamu bawa headset tidak?" tanya Sean membuat Tini terkejut. Dia seketika mengingat kejadian di rumah sakit itu. Wajah yang tadi menampakkan rasa kesal kini berganti menjadi memerah karena malu. Dalam hati Tini kembali memaki Sean.
"Aku tidak bawa kak," jawab Tini malu. Rasa lembek ketika tidak sengaja dia menyentuh aset berharga Sean masih terasa di jari jarinya.
"Tidak bawa atau masih..." Sean sengaja menggantungkan omongannya. Tini semakin kesal. Tini tahu Sean sengaja mengerjainya.
"Aku ada headset kak. Mau pakai?" tawar Cici sambil membuka tasnya.
"Tidak perlu Cici. Aku maunya pakai headset Tini," jawab Sean. Cici kembali menutup tasnya. Tini menarik nafas lega. Mereka sudah tiba di parkiran rumah sakit.
"Tini," panggil Sean sambil menutup pintu mobil. Tini berhenti sedangkan Cici dan Elsa terus berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
"Apa lagi sih kak?" tanya Tini kesal. Dari tadi dia ingin menghindari Sean tetapi Sean justru memaksa ikut mobilnya dan kini memanggil Tini.
"Kamu tidak mau headset ini lagi?" tanya Sean sambil mengambil headset itu dari sakunya. Tini kembali mendekat ke mobil Sean.
"Minta kak," kata Tini sambil menunduk. Jujur Tini masih malu tapi Sean terlihat biasa saja.
"Ambil di sini," kata Sean sambil memasukkan kembali headset itu ke saku celananya. Tini melotot.
"Sean sialan, apa sih maksud kamu?" tanya Tini marah. Dia merasa dipermainkan oleh Sean. Tadi bertanya bawa headset atau tidak. Padahal Sean tahu bahwa headset itu masih sama dia. Dan kini dia memberikan headset itu tetapi harus Tini yang mengambil dari sakunya. Tentu saja Tini tidak mau. Dia tidak mau mengulang hal yang membuat dirinya malu.
"Ih gak sopan. Panggil kakak seperti biasa. Ulangi perkataan kamu,"
"Kak Sean sialan. Apa sih maksud kamu?" tanya Tini lagi. Dia menuruti perintah Sean untuk mengulang perkataannya tadi.
"Aku mau, kamu mengulangi seperti di rumah sakit itu,"
__ADS_1
"Kak Sean gila, makan tuh headset. Aku tidak butuh itu lagi," kata Tini marah. Dia membalik badannya dan hendak berlari ke dalam rumah sakit. Sean cepat menangkap tangannya.
"Kamu yang pertama yang menyentuhnya dan tidak aku biarkan wanita mana pun untuk menyentuhnya selain kamu. Pergilah!. Aku hanya ingin mengatakan itu," kata Sean sambil mendorong tubuh Tini pelan. Tini berlari dan merasa malu.