
"Papa," gumam Tini pelan. Matanya memicing untuk memastikan jika yang dilihatnya adalah papanya sendiri. Indra papanya Tini langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah. Tini benar benar dan bingung. Tini masih ingat jelas, bahwa kedua orangtuanya dan kedua kakaknya akan berangkat ke luar kota hari ini. Rasa takut, malu dan gugup seketika hinggap di hatinya. Tini memukul kepalanya sendiri, Tini sungguh tidak menyangka jika papanya melihat sendiri dirinya berciuman.
Tini menatap Sean yang juga kelihatan takut dan malu. Tini sungguh menyesal, menyesal karena tidak menuruti apa yang diperintahkan Sean kepadanya. Andaikan dia dengan cepat mengambil pakaian Sean yang ada di kamarnya. Pasti bukan seperti ini kejadiannya. Kepergok berciuman. Dan yang lebih parah yang memergoki adalah sang papa yang paling dihormati dan ditakuti Tini. Andaikan mama atau salah satu kedua kakaknya, Tini masih bisa menyogok mereka untuk menutupi dari sang papa.
Sean bisa melihat ketakutan Tini yang jelas terlihat di wajahnya. Sean sebenarnya tertawa, Wajah malu malu yang ditunjukkan Tini ketika mencium dirinya tadi berbeda dengan sekarang. Wajah itu penuh ketakutan dan butuh dikasihani. Sean terkekeh. Tini semakin bingung, heran dan kesal. Di saat genting seperti ini Sean bisa tenang dan bahkan terkekeh. Tini melotot. Sean justru semakin tersenyum. Jika calon mertua meminta dirinya untuk menikahi Tini karena insiden ciuman ini. Sean dengan senang hati akan menerima.
"Cctv berjalan atau calon mertua sudah masuk ke dalam rumah. Cepat ambilkan pakaian aku sayang. Aku rasa setelah ini, calon mertua pasti akan cepat menikahkan kita," kata Sean sambil tersenyum. Tini meninju dada Sean agak keras. Sean meringis. Tini kesal, Sean masih bisa bercanda di saat dirinya sedang ketakutan.
"Kalau dinikahkan lumayan kak. Kalau disuruh berpisah bagaimana?" jawab Tini khawatir. Sang papa selalu menasehati dirinya melihat laki laki dari ketulusan hati dan pekerja keras. Papanya selalu berpesan untuk tidak memberi harapan kepada laki laki yang hanya mengumbar na*su. Hari ini, sang papa melihat bagaimana mereka berciuman dengan ganas. Tini ragu jika papa akan melarang Tini untuk terus melanjutkan hubungan ini.
Senyum Sean memudar setelah mendengar perkataan Tini. Satu hal yang tidak terpikir sedari tadi. Dia hanya berpikir jika calon mertua akan marah dan disuruh bertanggung jawab. Walau mereka masih bermain dia area atas saja, Sean akan siap bertanggung jawab.
"Ambillah pakaian aku sayang. Kita harus segera menjumpai papa kamu. Aku tidak ingin dianggap laki laki yang tidak bertanggungjawab."
Tini berdiri, dia masuk kedalam rumah. Dia langsung masuk ke dapur. Tini menyuruh asisten rumah tangga untuk naik ke atas mengambil pakaiannya dan pakaian Sean. Setelah pakaian itu di tangannya. Tini masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur dan mengganti pakaiannya. Tini kemudian kembali ke kolam renang dimana Sean berada.
"Ini kak," kata Tini sambil menyodorkan pakai milik Sean.
"Segitiga pengamannya mana sayang?" tanya Sean setelah menerima pakaiannya. Dia butuh segitiga pengaman yang baru karena
segitiga pengaman sebelumnya sudah basah.
"Kata si bibi tidak ada ukuran L kak. Yang ada ukuran s semua,"
"Jadi gimana donk. Tau gitu tadi aku tidak memakai segitiga pengaman ini ikut berenang," jawab Sean bingung. Entah bagaimana nasib burung merpati miliknya tanpa sangkar. Apalagi celananya celana bahan. Burung merpati itu pasti akan menonjolkan dirinya. Apalagi dia harus menghadapi calon mertua. Sean benar benar bingung. Untuk memakai segitiga pengaman sebelumnya juga tidak mungkin. Segitiga pengaman itu sudah sangat basah.
"Kakak, mau pakai punya aku mau?"
"Hah. Punya kamu?. Apa kamu memakai d*laman seperti punya laki laki juga?" tanya Sean terkejut. Sean tidak bisa membayangkan jika Tini juga memakai segitiga pengaman seperti milik laki laki. Apalagi nanti di malam pertama. Membayangkan Tini memakai Segitiga pengaman seperti miliknya membuat Sean menggelengkan kepalanya.
"Iya punya aku, Masih ada stok yang masih baru. Jika kakak mau aku akan ambilkan."
"Jawab dulu.Yang kamu pakai seperti apa. Jika kamu pakai seperti ini. Aku tidak mau," jawab Sean sambil menunjuk karet segitiga pengamannya.
"Aku tidak mau tin, punya kakak kamu yang masih baru, apa tidak ada?. Aku akan menggantinya nanti," kata Sean lagi. Tini juga menunjukkan karet segitiga pengamannya. Sean sedikit lega. Tampilan tomboi Tini hanya dari luar saja. Untuk onderdil pakaian dalam. Tini memakai seperti yang dipakai wanita pada umumnya.
__ADS_1
"Non Anggun. Tuan Indra memanggil kalian berdua ke ruang tamu," kata seorang art membuat Tini kembali panik. Gara gara segitiga pengaman, mereka lupa jika ada sesuatu yang harus mereka pertanggungjawaban kepada sang papa.
"Cepat kak ganti pakaian kamu. Papa paling benci menunggu," kata Tini sambil mendorong tubuh Sean berjalan masuk ke dalam rumah. Tini menunjukkan kamar mandi yang di dapur dan menyuruh Sean untuk masuk mengganti pakaiannya.
"Tapi untuk segitiga pengaman aku, bagaimana sayang. Kan gak mungkin tidak pakai,"
"Hari ini tidak perlu dulu pakai kak. Gak pakai juga tidak langsung membuat burung perkutut kamu terbang. Sudah sana ganti pakaian. Aku tunggu di sini," kata Tini asal. Dia mendorong tubuh Sean untuk lebih masuk lagi ke kamar mandi.
Dengan terpaksa Sean harus masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaiannya. Dia benar-benar bingung untuk sangkar burungnya. Memakai yang basah itu tidak mungkin. Tidak memakai sama sekali juga tidak mungkin. Akhirnya Sean memeras segitiga pengaman yang basah itu. Dan mengenakannya kembali. Memakai ulang pakaian dalam sebelum dicuci adalah hal jijik baginya. Tapi hari ini demi menuruti keinginan Tini, Sean harus menderita dengan segi tiga pengaman yang basah itu.
"Kan gak apa apa. Gak nampak kok tidak memakai sangkar burung," kata Tini setelah Sean keluar dari kamar mandi. Tini memberikan Sean sisir. Sean pun menyisir rambutnya dengan rapi. Tini tertawa terbahak-bahak ketika Sean mengatakan memakai segitiga pengaman yang basah.
Yuk, kita meminta restu calon mertua," kata Sean sambil tersenyum. Tini kembali terdiam. Rasa takutnya kembali muncul. Tini sungguh takut jika apa yang dipikirkannya akan terjadi. Tini menyuruh Sean untuk keluar dari rumah lewat pintu samping. Biarlah dirinya yang akan kena marah sang papa. Tapi Sean menolak dengan tegas. Sean sungguh sungguh mencintai Tini jika dia menurut apa yang dikatakan Tini, sudah dipastikan Sean tidak akan mendapatkan restu sampai kapan pun. karena Sean tahu, papanya Tini sudah jelas melihat dirinya ketika berciuman tadi. Andai Sean hanya berniat mempermainkan cinta Tini, usulan itu pasti langsung di terima olehnya.
"Kak, aku takut,"
"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab Tini, Kamu ingin enak enak tapi tidak mau berjuang. Ayo!. Kita harus ke ruang tamu sekarang. Kamu tadi yang bilang jika papa kamu paling tidak suka jika menunggu," kata Tini sambil menarik tangan Tini keluar dari dapur. Tini merasakan ketakutan yang luar biasa. Dengan menunduk, Tini berjalan di belakang Sean.
"Om, Tante, kak. Aku minta maaf karena sudah lancang masuk ke rumah ini dan berbuat yang tidak sepantasnya," kata Sean sedikit gugup. Dia sudah berusaha untuk tenang, tapi rasa gugup itu seakan senang ikut bersamanya. Bahkan kakinya ikut bergetar karena gugup. Kedua kakaknya Tini terlihat berbisik dan tertawa pelan. Masih dengan menunduk Tini menggerakkan kepalanya melihat kedua kakaknya itu. Ketika kedua sang kakak melihat ke arahnya. Tini menjulurkan lidahnya karena kesal.
"Sampai dimana tadi acara kalian berdua?" tanya Indra dingin. Kedua kakak Tini terkekeh. Mereka mengetahui arah pertanyaan itu. Karena mereka juga melihat kelakuan Sean dan Tini tadi di tepi kolam.
"Maksud papa?" tanya Tini gugup dan tidak mengerti. Indra juga akhirnya merasa malu jika harus memperjelas pertanyaannya.
"Apa yang om lihat, masih sebatas itu om," jawab Sean. Tanpa dijelaskan, Sean tahu arah pertanyaan papanya Tini.
"Bagaimana aku percaya, kalian juga masuk ke kamarnya Tini," kata Indra dingin. Tini melihat papanya tidak percaya. Bukan karena sudah menangkap dirinya yang berciuman tadi. Tetapi karena papanya mengetahui jika Sean juga masuk ke kamarnya. Cctv tidak ada untuk lantai atas. Pasti salah satu pekerja yang sudah membicarakan itu kepada papanya. Tini akhirnya memilih diam, menjelaskan juga percuma. Papanya pasti lebih percaya kepada. orang kepercayaannya yang ada di rumah ini.
Sean semakin merasa tidak nyaman. Tatapan tajam sang calon mertua membuat dirinya menjadi gugup. Dan segitiga pengaman yang basah itu membuat Sean semakin tidak nyaman. Sean sudah bisa merasakan perutnya masuk angin. Memakai pakaian dalam yang basah ternyata bukan keputusan yang tepat. Sean berusaha tenang menyembunyikan kegugupannya. Sean harap harap cemas menunggu hukuman dari sang calon mertua.
Hingga akhirnya papa Indra marah dan mengomeli Tini, wanita tomboi itu terlihat menundukkan kepalanya. Keberaniannya melawan Andre dan Radit tidak terlihat untuk membela dirinya sendiri.
"Aku ingin kalian yang menentukan hukuman kalian. Kalian sudah dewasa dan mengetahui sampai sedalam mana hubungan kalian," kata Indra setelah selesai memarahi Tini. Sean memberanikan dirinya menatap Indra. Sean semakin kagum dengan sosok sang calon papa mertua. Di saat orang tua lain akan marah atau menampar jika melihat putrinya berciuman seperti itu. Indra hanya mengomel dan menasehati Tini kemudian memberikan pilihan untuk menentukan hukuman sendiri. Tini juga merasa bingung dan lega. Papanya tidak menampar dirinya dan Sean. Padahal, ini pertama kalinya Tini dengan lancang membawa orang lain ke rumah tanpa orang tuanya.
"Jika om merestui, aku akan menikahi Tini secepatnya," jawab Sean pasti. Inilah waktunya dia harus meminta ijin calon mertuanya. Indra menyembunyikan senyum dari Tini dan Sean. Indra sangat suka dan senang jawaban Sean. Dari jawaban itu, Indra yakin bahwa Sean sangat mencintai putrinya dan bertanggung jawab.
__ADS_1
"Apa karena hubungan kalian sudah sangat dalam sehingga kamu ingin menikahi putriku secepatnya." Indra masih harus mengetes kejujuran dan ketulusan Sean. Dia tidak ingin Tini mendapatkan suami yang asal laki laki. Selain bertanggung jawab, Indra juga menginginkan menantu yang jujur dan juga tulus.
"Bukan om. Perasaan cinta aku ke Tini memang sangat dalam. Tetapi tidak dengan tindakanku,"
"Berapa umur kamu?"
"Tiga puluh dua om,"
"Kamu bahkan lebih tua dari kedua putraku. Apa yang kamu punya sehingga kamu berani meminta restu untuk menikahi putriku,"
"Aku punya cinta om,"
"Cinta tidak cukup untuk membahagiakan seorang istri. Kamu harus mempunyai sesuatu yang lain untuk bisa membahagiakan putriku,"
"Sejujurnya saat ini, aku berusaha untuk layak secara ekonomi untuk meminang Tini untuk menjadi istri aku om. Tentang sesuatu yang lain, aku pastikan aku memilikinya untuk membahagiakan Tini," jawab Sean tenang. Indra memperlihatkan senyumnya. Dia sangat puas dengan jawaban Sean.
"Aku beri kamu tiga bulan untuk mempersiapkan pesta pernikahan impian kalian berdua," kata Indra sambil tersenyum. Sean dan Tini menatap Indra. Mereka berdua tidak menyangka semudah itu untuk mendapatkan restu dari Indra.
"Kalau dua bulan, bagaimana om?"
"Ah ternyata kami tidak sabaran rupanya. Kamu tanya calon istri kamu. Jika dia tidak anti lagi akan rok atau gaun, lebih cepat dari situ juga om setuju," kata Indra sambil tersenyum. Kedua kakak Tini juga tertawa sedangkan Mamanya Tini hanya tersenyum. Sejak umur sepuluh tahun Tini memang tidak pernah lagi memakai rok. Bahkan untuk sekolah dasar sampai sekolah menengah umum, Indra harus meminta kepada pihak sekolah untuk mengijinkan Tini memakai celana.
"Kamu kenapa bro?, sepertinya kamu kurang nyaman," tanya kakak tertua dari Tini. Sean hanya tersenyum kaku.
"Dia memakai segitiga pengaman yang basah," sahut Tini spontan tanpa saringan. Sean membulatkan matanya karena rahasianya harus terbongkar, Sedangkan kedua orang tua Tini nampak menahan senyum. Sedangkan kedua kakaknya tertawa terbahak-bahak.
"Kamu yakin memperistri si tomboi ini? Sekarang saja kamu sudah dibuat tidak nyaman seperti ini. Apalagi sesudah menikah."
Tini melotot ke arah kakaknya yang memprovokasi Sean. Kakaknya itu merasa tidak bersalah sama sekali. Kakaknya Tini memanggil art yang sudah memegang celana jeans yang baru.
"Berikan ke calon suami adikku," katanya. Pembantu itu memberikan celana jeans tersebut. Sean menerima dan melihat segitiga pengaman terselip di lipatan celana itu.
"Ternyata kamu mengerjai aku kak, Kakak tega. Kamu tidak lihat kak Sean dari tadi tidak nyaman," gerutu Tini geram akan kelakuan sang kakak. Entah kapan dan si bibi bekerja sama untuk mengerjai dirinya dan Sean. Dia menyuruh Sean untuk mengganti celananya. Sean pun beranjak dari sofa itu dengan sedikit malu.
"Kamu itu ya Tini, bukannya kuliah dengan baik. Kamu justru membawa laki laki ke dalam rumah dan berenang. Jadi wanita itu harus menjaga diri bukannya langsung memberikan dirimu seperti itu," kata mamanya marah. Tini menunduk. Papanya terlihat mengelus lengan sang mama.
__ADS_1
"Kalau laki laki yang lain kamu bawa ke rumah Anggun, aku sudah menyeret dan menendangnya ke luar," kata Indra datar. Sejujurnya dia belum berniat untuk menikahkan Tini secepat ini tetapi karena kejujuran dan ketulusan Sean, Indra membuang keraguan itu. Indra juga menyadari menjaga anak perempuan itu seperti menjadi sesuatu yang mudah pecah. Jika tersenggol sedikit saja akan pecah dan tidak berarti. Indra tidak ingin putrinya melakukan hal hal di luar kewajaran.