
Suasana di mobil itu terasa sunyi. Manusia yang berjumlah enam orang itu tidak ada mengeluarkan suara pelan apapun. Bahkan Airia hanya memandang jalanan tanpa berceloteh. Andre yang merasakan kepalanya berdenyut memilih memejamkan matanya. Sedangkan Andi selain fokus menyetir, dia juga sekali kali menoleh ke Andre yang duduk di sampingnya. Dalam hati Andi merasa puas karena berhasil menggagalkan Andre menggarap hari ini.
Bukan tanpa alasan dia berbuat seperti itu. Dia berusaha membuat yang terbaik untuk Andre. Tapi Andre seperti setengah hati untuk menuruti nasehat Andre. Selain itu. Andi juga menilai Sinta terlalu cepat luluh akan Andre. Tapi Andi menyimpan penilaian itu sendiri dihatinya. Untuk Sinta Andi merasa segan kalau harus berbicara menyangkut ranjang suami istri itu. Andi hanya berharap semoga dengan luluhnya hati Sinta. Andre bisa menyadari ketulusan Sinta.
"Sudah sampai," kata Andi setelah Andi menghentikan mobilnya. Sinta dan dua pekerjanya yang duduk di bangku belakang, bersiap siap untuk turun. Andi membuka pintu mobil, sebelum turun dia menoleh ke Andre yang masih betah memejamkan mata. Ternyata Andre tertidur. Andi menyuruh Sinta dan yang lain duluan masuk ke dalam rumah.
Andi mengibaskan tangannya di wajah Andre. Andre sama sekali tidak terusik. Andi membuka kaca mobil dan kemudian dengan pelan menutup mobil tersebut. Dengan santai Andi masuk ke dalam rumah dan membiarkan Andre tertidur di dalam mobil.
"Andre mana?" tanya mama Ningsih ketika Andi sudah duduk di rumah keluarga. Semua anggota keluarga papa Rahmat sudah berkumpul di sana. Kecuali Andre.
"Ketiduran di mobil ma,"
"Dibangunin donk,"
"Biar saja dulu ma, mungkin tadi malam Andre begadang. Kasihan kalau tidurnya diganggu," jawab Andi santai. Dia mencubit pipi Bella pelan dan merangkulnya.
"Sekarang hari Sabtu, tidak kerja. Untuk apa di begadang. Pekerjaan untuk penginapan yang aku bebankan ke dia juga sudah kelar," kata papa Rahmat.
"Oalah pa, Andre menggarap sawah tadi malam. Karena itulah dia begadang. Ya wajarlah lelah," jawab Andi santai. Ketika baru masuk ke ruangan keluarga tadi. Andi sempat melihat Sinta juga menguap. Dari situlah Andi berkesimpulan bahwa pasangan suami itu menunaikan tugas tadi malam. Sinta seketika malu dengan perkataan kakak iparnya. Walau menggunakannya kata kiasan Sinta apa yang dimaksudkan Andi. Dan memang benar adanya bahwa mereka tadi malam begadang. Sinta juga merasa kasihan mendengar Andre tertidur di mobil.
"Andre punya sawah?. Sejak kapan?" tanya Bayu heran. Di pikirannya sawah yang dimaksudkan Andi adalah sawah betulan. Andi hanya terkekeh mendengar pertanyaan kakaknya. Tanpa menjawab pertanyaan Bayu, Andi menyuruh istrinya mengambil minum untuk dirinya. Papa Rahmat dan yang lainnya masih bingung tentang sawah yang dikatakan Andi. Bella bangkit dari duduknya. Sinta juga melakukan hal yang sama. Sinta ingin membangunkan suaminya yang tertidur di mobil.
Sinta menghentikan langkahnya, ketika mendengar suara yang sedang berbicara. Suara itu adalah suara Andre. Andre yang terlihat berbicara dengan santai dan tangannya memegang pintu mobil sehingga menghalangi pandangan Sinta. Dan tidak bisa melihat jelas siapa lawan Andre berbicara.
"Mas," panggil Sinta, Andre menoleh dan Sinta dapat melihat jelas siapa lawan Andre berbicara.
"Lanjut aja mas!" kata Sinta akhirnya sambil membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah. Sinta berharap Andre cepat menyusulnya masuk ke rumah. Hingga ada sepuluh menit, Sinta sudah duduk bergabung bersama keluarga mertuanya. Suaminya itu belum juga muncul.
Hingga ketika semua orang yang ada di ruang keluarga itu menuju meja makan untuk makan siang. Andre masuk diikuti oleh Cindy di belakangnya. Sinta yang melihat itu tentu saja kecewa. Bukan hanya Sinta, semua orang yang ada di meja makan itu merasa kecewa. Semuanya memasang wajah datar. Andi saja yang sudah berjanji tidak mencampuri urusan Andre lagi, terlihat meninggalkan meja makan tanda protes atas adanya Cindy di ruangan itu.
"Selamat ulang tahun Papa, sehat dan panjang umur," ucap Cindy sambil menyodorkan tangannya. Dia masih memanggil mantan mertuanya dengan sebutan Papa. Papa Rahmat tidak menyambut uluran tangan Cindy. Dengan menatap lurus ke depan papa Rahmat sama sekali tidak menjawab ucapan selamat dari Cindy. Cindy menurunkan tangannya. Semua orang diam. Agnes bahkan menatap tajam wanita itu. Agnes langsung mendudukkan Airia di bangku kosong di sampingnya. Hanya itu bangku kosong yang tersisa. Agnes sengaja supaya melakukan itu supaya tidak ada alasan Cindy untuk duduk.
Cindy tanpa merasa kikuk atau gugup melihat ke semua orang. Tak ada satupun yang menaruh simpati kepadanya. Tangannya terkepal menahan cemburu melihat Andre yang sudah duduk di samping Sinta.
"Aku pamit mas Andre," kata Cindy. Andre hanya mengangguk. Sinta merasa geram dengan tingkah Andre yang masih menanggapi Cindy walau hanya anggukan kepala. Dan tidak melarang Cindy memanggil mertuanya dengan papa. Papa Rahmat hanya menarik nafas panjang.
__ADS_1
Mama Ningsih mempersilahkan anak dan menantunya untuk makan. Andi yang sempat pergi dari situ juga sudah duduk di bangku yang tempati Airia tadi. Mama Ningsih mengambil makanan untuk papa Rahmat. Bella dan Maya juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Sinta merasa malas untuk melayani Andre. Sinta masih diam dan tidak melakukan apa apa.
"Sayang," bisik Andre sambil menyenggol tangan Sinta. Sinta tidak menggubrisnya. Andi dan Agnes yang mendengar Andre memanggil Sinta dengan sebutan sayang. Menatap Andre dengan sinis. Melihat Sinta tidak berniat mengambil nasi untuk dirinya dan juga untuk Andre. Andre akhirnya mengambil makanan untuk dirinya dan Sinta.
Papa Rahmat merasa tidak selera dengan makanan yang di depannya. Hanya beberapa suap, papa Rahmat sudah berhenti makan. Papa Rahmat menarik nafas panjang lagi. Dia melihat Sinta yang juga terlihat tidak selera makan.
"Andre," panggil papa Rahmat merasa tidak sabar melihat yang lain belum selesai makan. Andre mendongak melihat papa Rahmat.
"Apa pa?"
"Kamu belum mengucapkan ulang tahun kepadaku," kata papa Rahmat datar. Sebenarnya bukan itu inti dari perkataan papa Rahmat. Papa Rahmat kecewa kepada Andre karena membawa Cindy tadi masuk.
"Maaf pa, tadi aku lupa. Selamat ulang tahun ya pa, segala yang terbaik menghampirimu papa," ucap Andre tulus. Dia sudah berdiri di samping papanya. Andre merangkul papa Rahmat dengan sayang.
"Ya wajarlah kamu lupa nak, karena kamu masih saja mengurusi mantan istri mu itu," jawab papa Rahmat datar.
"Aku juga sudah melarangnya tadi pa, tapi dia ngotot masuk. Lagian dia kemari hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk papa. Bukan karena ada urusan dengan aku," jawab Andre dan berjalan ke bangku semula. Yang lain diam, malas untuk membahas Cindy.
"Kapan kamu akan berkunjung ke rumah mertua kamu?" tanya papa Rahmat membuat Sinta mendongak. Sinta berpikir mertua yang mana yang dimaksudkan papa Rahmat.
"Aku ingin kamu segera memperkenalkan Airia ke kakek neneknya dari pihak Sinta," jawab papa Rahmat sambil melihat ke Sinta. Sinta tidak bereaksi apapun. Dia harap harap cemas menunggu jawaban dari Andre.
"Kapan Sinta siap, kami akan ke sana pa," jawab Andre santai. Bahkan dia tidak bertanya terlebih dahulu akan jawaban Sinta.
"Bagaimana Sinta," tanya papa Rahmat. Sinta menegakkan kepalanya dan menoleh ke Andre.
"Nanti saja pa, saat ini aku belum siap. Mungkin pas wisuda adalah waktu yang tepat," jawab Sinta pelan. Wajahnya menunduk menyembunyikan rasa kecewa kepada Andre. Sinta tidak suka dengan jawaban Andre yang tergantung kepada dirinya. Sinta lebih suka kalau Andre ngotot dan langsung menjumpai orang tuanya daripada seperti ini. Bahkan jika hari ini diajak menjumpai orang tuanya, Sinta siap. Sinta berpikir lebih cepat untuk memberi tahu orangtuanya lebih baik daripada harus mengulur waktu.
"Sebaiknya secepatnya nak. Jangan sampai adiknya Airia lahir nanti. Tapi kalian tidak berpikir untuk berkunjung ke sana. Menunggu wisuda aku rasa terlalu lama," kata mama Ningsih pelan. Jawaban Andre dan jawaban Sinta sungguh tidak disukai mama Ningsih.
"Ya ma," jawab Sinta. Sinta sungguh merutuki dirinya yang cepat luluh akan Andre. Bahkan Andre tidak membahas tentang orang tua Sinta lagi.
Semua bubar dari meja makan. Agnes membawa Airia ke kamarnya. Sinta yang masih kesal dengan Andre memilih mengikuti Agnes ke kamarnya.
"Sin, kamu sabar ya, aku juga tidak menyukai Cindy tadi. Aku harap kamu sabar menanti cinta suami mu. Aku percaya, sebenarnya kak Andre sudah ada rasa ke kamu. Tapi ya itu tadi dia masih tersesat dengan Cindy. Ditambah Cindy selingkuh. Aku kira kak Andre lagi proses membenahi hatinya," kata Agnes yang melihat Sinta termenung.
__ADS_1
"Tapi sampai kapan Agnes. Aku juga butuh kepastian. Aku sudah memberinya kesempatan kedua. Dan kami juga rujuk karena alasan Airia. Cindy yang menyelingkuhi dia saja, mas Andre masih mau menanggapi dia dan kasihan kepada Cindy. Sedangkan sama aku. Dia hanya memikirkan kebutuhan biologisnya saja,"
"Tapi tadi aku dengar, kak Andre memanggil kamu sayang. Bukan kah itu pertanda hubungan kalian sudah membaik?"
"Entahlah Agnes, aku yang terlalu bodoh atau mas Andre yang terlalu pintar bersandiwara. Aku terlalu cepat mempercayai. Kedatangan Cindy tadi ke rumah dan ke rumah ini membuka mata aku. Sebelumnya aku sudah berjanji untuk istri yang baik kepada mas Andre. Tapi melihat mas Andre tadi berbicara di luar. Aku jadi merasa pesimis. Mungkin untuk selamanya aku tidak bisa memiliki cintanya. Aku mungkin masih seperti dulu bagi mas Andre. Hanya pelampiasan. Kalau dipikir pikir, kasihan sekali aku ya Agnes?" tanya Sinta dengan mata yang sudah hampir menangis. Sinta memandang langit langit kamar Agnes supaya air matanya tidak turun.
"Aku juga tidak suka dengan sifat kak Andre yang seperti itu Sinta, kamu sabar ya!. Semua butuh proses," kata Agnes sambil mengusap punggung Sinta.
"Aku mencintainya Agnes, dia orang pertama yang membuat aku jatuh cinta dan yang pertama menyentuh aku. Tapi cinta itu yang membuat aku bodoh hingga aku mau jatuh ke lubang yang sama untuk keduakalinya," kata Sinta sambil menangis. Sinta merasa tidak berdaya dengan cintanya. Dia sudah pernah hampir bisa mengubur rasa Sinta itu, tapi takdir kembali membawanya ke Andre. Sinta akan berusaha mengikuti proses seperti yang diucapkan Agnes. Agnes tidak tahu mau berbuat apa apa. Agnes hanya bisa memeluk Sinta. Mendengar ungkapan hati Sinta, Agnes juga ikut merasa sakit dan sedih.
"Aku akan membantumu kamu Sinta, aku akan buat mas Andre menyadari hatinya untuk kamu,"
"Jangan Agnes. Biarkan dia sendiri memahami perasaan yang sebenarnya kepada aku. Jika dia tidak bisa mencintai aku. Aku juga akan mencoba bertahan sampai semampu aku. Kami menikah untuk pertama kalinya karena alasan saling menguntungkan. Rujuk karena Airia. Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan ini lagi. Cinta atau tidak cinta. Aku akan coba bertahan. Sejauh dia tidak kasar kepada aku dan tidak menikah lagi," jawab Sinta sambil menghapus air matanya. Sinta sudah memutuskan sejak tadi untuk menanti cinta suaminya.
"Baiklah Sinta, yang terbaik untuk rumah tangga kamu bersama kak Andre. Sebentar ya!. Aku buka pintu dulu."
Andre melihat Sinta yang duduk sambil menunduk di ranjang Agnes. Pria itu langsung masuk ke kamar dan duduk di samping Sinta. Tanpa merasa berdosa dia mengacak rambut Sinta sambil memperhatikan Airia yang bermain di karpet.
Sayang, kamu gak lihat penampilan aku?" tanyanya Andre sambil menyenggol bahu Sinta. Sinta yang masih menunduk melihat kaki Andre dan beralih ke celana Andre. Sinta kemudian melihat sampai ke badan Andre. Pria itu karena tergesa tadi ketika Andi menggedor pintu saat di rumahnya. Memakai baju dengan asal. Kaos berkerah dengan celana karet rumahan sungguh membuat penampilan jauh dari biasanya. Celana karet itu sungguh membuat penampilan Andre seperti laki laki yang culun.
"Kok pakai gini sih kak?" tanya Agnes dan tertawa. Sinta juga ikut tertawa geli. Melihat penampilan Andre, Sinta bisa melupakan rasa kecewanya tadi.
"Aku sudah dibully tadi di bawah,"
"Ganti sana mas, Pakaian kamu masih ada disini kan mas?" tanya Sinta masih tertawa.
"Siapin sana sayang. Aku mau ke bawah lagi," kata Andre sambil menarik tangan Sinta menuju kamarnya.
"Bahkan ********** juga tidak aku pakai," kata Andre setelah mereka sudah di kamar Andre. Sinta kembali tertawa.
"Makanya jangan suka mencari kesempatan di waktu yang sempit," jawab Sinta sambil memilih celana untuk Andre.
"Bukan waktunya yang sempit dasar kak Andi saja yang suka mengganggu. Lanjut disini ya sayang,"
"Tidak. Itu saja di pikiran kamu mas," jawab Sinta tegas. Dan langsung keluar dari kamar itu. Dia tidak lagi ke kamar Agnes. Sinta memilih bergabung ke bawah. Andre tidak akan berani mengajaknya lagi kalau sudah diantara mertua dan kakak iparnya. Selain itu, sikap Andre terhadap Cindy tadi, membuat dia malas untuk melayaninya.
__ADS_1