Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kemarahan Andre


__ADS_3

Cindy hendak menurunkan kakinya ke luar mobil, Rian menarik tangannya. Mereka kini sudah di gerbang rumah Andre. Setelah puas bermain, Cindy memaksa Rian untuk pulang. Padahal kalau mereka mau masih ada waktu beberapa jam untuk mereka.


"Masih jam tujuh sayang, kita cari tempat untuk makan malam ya," pinta Rian masih memegang tangan Cindy.


"Aku mau istirahat Rian, aku makan malam di rumah saja, lagipula kita tidak bisa bebas seperti waktu pacaran dulu. Aku punya suami. Jadi mengertilah," tolak Cindy halus.


"Baiklah, sampai jumpa sayang," jawab Rian dan mengecup punggung tangan Cindy. Cindy tersenyum dan membelai wajah Rian. Cindy kemudian turun setelah Rian melepas tangannya.


Cindy hendak membuka pagar, tangannya terhenti ketika melihat Andre berjalan ke arah gerbang. Dia menoleh ke belakang. Mobil Rian masih ada di belakangnya. Andre semakin mendekat dan membukakan pintu untuk Cindy.


"Masuklah, sudah malam. Tidak bagus untuk kesehatanmu," kata Andre. Cindy hanya mengangguk. Cindy masuk bertepatan dengan mobil Rian yang sudah berjalan meninggalkan depan gerbang rumah Andre.


"Cindy, kamu pulang diantar siapa?" tanya Andre setelah menutup gerbang kembali. Dia berjalan agak cepat untuk mensejajarkan langkah dengan Cindy.


"Taksi online mas," jawab Cindy berbohong dan singkat.


"Berapa kamu bayar supirnya untuk mengantar kamu pergi dan pulang," tanya Andre lagi. Dia masih ingat mobil itu juga yang menjemput Cindy tadi siang. Yang katanya taksi online.


"Tidak tahu mas persisnya mas, aku tadi kasih seratus ribuan dan kembaliannya aku kasih ke dia," jawab Cindy enteng.


"Jadi benar kan bahwa mobil yang tadi itu juga yang menjemputmu tadi siang," tanya Andre.


"Bukan mas, warnanya saja yang sama," jawab Cindy cepat. Dia hampir mengangguk ketika mendengar pertanyaan Andre. Beruntung, otaknya cepat mencerna pertanyaan Andre.


"Jangan bohong kamu, ingatanku masih bisa diandalkan. Mobil itu tadi yang menjemputmu tadi siang. Aku bisa tahu dari stiker yang ada di mobil itu," kata Andre. Nadanya sudah mulai meninggi.


"Namanya taksi online mas, pasti ada stikernya," jawab Cindy asal. Dia semakin cepat melangkahkan kakinya ke rumah supaya bisa terhindar dari pertanyaan Andre.


"Dan satu lagi, tadi kamu bilang mau belanja sampai tidak mau membawa Alexa. Sekarang mana belanjaan kamu?"


"Tidak jadi belanja, aku tadi hanya nongkrong di tempat makan di mall itu," jawab Cindy ketus. Tangannya cepat membuka pintu rumah.


"Jangan pikir aku langsung percaya Cindy,"


"Terserah mu mas, aku gerah dan mau mandi. Kalau mau makan, duluan saja!" kata Cindy terus berjalan ke arah kamar mereka. Baginya lebih baik menghindar daripada mendengar pertanyaan Andre.

__ADS_1


Dengan lesu Andre kembali ke ruang tamu yang sudah dilewatinya demi berbicara dengan Cindy. Lembar jawaban mahasiswa sudah siap dikoreksi. Andre sudah bisa bersantai.


Andre berdiri dari duduknya ketika terdengar suara pintu kamar dibuka, Andre yakin itu adalah Cindy. Andre melangkah ke arah ruang makan, begitu juga Cindy.


"Belum makan mas?" tanya Cindy setelah duduk di bangku. Andre menggelengkan kepala. Cindy mengambilkan nasi dan lauknya untuk mereka berdua. Andre sedikit heran, melihat Cindy makan dengan lahap. Padahal katanya tadi nongkrong di tempat makan. Sambil makan Andre mengamati Cindy.


"Kenapa diam?" tanya Andre. Cindy memandangnya sekilas sambil memasukkan nasi ke mulutnya.


"Aku masih kesal dengan kamu mas," jawab Cindy. Andre terdiam. Baginya lebih bagus diam daripada harus berdebat lagi dengan Cindy. Cindy meletakkan sendok dan garpu. ***** makannya hilang mendengar pertanyaan Andre. Dengan kesal Cindy masuk ke kamar. Andre hanya dapat menarik nafas panjang dan melanjutkan makannya.


"Mas," teriak Cindy kencang. Andre meminum air putih dan dengan tergesa masuk ke dalam kamar.


"Ada apa sayang?" tanya Andre khawatir. Andre menghampiri Cindy yang meringkuk di ranjang.


"Perutku mulas mas." Cindy berkata sambil meringis. Mulas di perutnya semakin menjadi jadi.


"Bentar, aku ambil minyak kayu putih. Mungkin kamu masuk angin," jawab Andre hendak keluar dari kamar.


"Ambil di tasku mas."


"Mas," panggil Cindy lagi. Mereka sudah di kamar mandi. Cindy menunjukkan pakaian dalamnya ke Andre. Andre terkejut. Begitu juga Cindy. Badan Cindy melemas melihat bercak darah di pakaian dalamnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang," kata Andre cemas. Andre mengangkat tubuh Cindy kembali dan membawanya ke dalam mobil.


"Masih sakit?" tanya Andre ketika Cindy sudah dimasukkan ke dalam mobil. Cindy mengangguk lemah sambil memegang perutnya. Andre berlari masuk ke dalam rumah kembali untuk mengambil kunci mobil.


Setiba di rumah sakit, Cindy langsung di bawa ke UGD. Andre terlihat sangat khawatir melihat kondisi Cindy. Wajahnya sudah pucat dan berkeringat dingin.


"Janinnya tidak dapat dipertahankan lagi. Demi kesehatan ibu. Kita harus cepat mengambil tindakan," kata dokter setelah memeriksa Cindy. Cindy hanya mengangguk lemah dan ingin cepat ditangani. Rasa sakit itu semakin menjadi jadi.


"Hanya itu jalan keluar dok?" tanya Andre sedih. Dokter dengan pasti mengangguk.


"Tadi istri saya masih terlihat sehat dokter, kenapa bisa seperti ini?" tanya Andre lagi.


"Hamil muda seperti ini sangat rentan pak. Seorang ibu yang hamil muda tidak boleh terlalu lelah. Apalagi untuk melakukan hubungan suami istri, sebaiknya jangan dulu," Kata dokter itu menjelaskan. Andre mengernyitkan keningnya. Dalam satu Minggu ini, seingatnya dia tidak pernah meminta jatah.

__ADS_1


"Langsung bawa ke ruangan VK," kata dokter itu kepada perawat.


Andre mengikuti dokter dan perawat itu menuju ruangan VK. Sesekali dia melihat Cindy yang meringis kesakitan.


"Bapak, tunggu di sini saja," kata perawat kepada Andre setelah Cindy dimasukkan ke ruangan VK.


Hampir satu jam Cindy ditangani oleh dokter kandungan. Janin berumur satu bulan itu harus dikeluarkan. Cindy merasa bersalah dengan janinnya. Bermain dengan Rian dia sampai melupakan janinnya. Kenikmatan yang yang dirasanya bersama Rian tidak sebanding dengan rasa sakit dan kehilangan yang dialaminya malam ini.


Cindy menitikkan air mata, merasa gagal menjaga janinnya. Membuat Cindy tidak berhenti menangis. Perawat yang sedang membersihkan tubuhnya sudah berkali kali mengingatkan Cindy untuk tidak menangis. Cindy tidak perduli. Hingga dia merasakan sesuatu mengalir deras di area pribadinya.


"Suster, sepertinya ada yang keluar lagi," kata Cindy kepada perawat.


"Ibu bisa pendarahan kalau terus menangis. Ibu harus ikhlas. Demi kesehatan ibu," jawab perawat itu sambil menyingkapkan kain penutup tubuh Cindy. Cindy menghapus air matanya dan berusaha menuruti perkataan perawat. Tetapi tetap saja air mata itu terus menetes di pipinya.


"Alihkan pikiran ibu ke hal hal yang lain. Jangan terus memikirkan kejadian ini," saran perawat itu.


"Ibu sudah punya anak," tanya perawat itu lagi. Cindy mengangguk.


"Alihkan pikiran ke anak ibu yang ada di rumah," kata perawat itu lagi. Cindy membayangkan Alexa yang ada di rumah. Memikirkan anak itu membuat Cindy lupa sedikit dengan apa yang dialami sekarang.


Andre masuk kedalam ruangan VK. Tatapannya datar ke arah Cindy. Entah kenapa dia tidak merasa hal lain dengan kehilangan janin Cindy. Dia hanya merasa kasihan melihat wajah pucat Cindy.


"Mas, maaf aku tidak bisa menjaganya dengan baik," kata Cindy ketika melihat Andre semakin mendekat ke tempat tidurnya.


"Lupakan, fokuslah ke kesehatanmu. Kamu harus segera pulih biar bisa memuaskan pria lain atau mencari kepuasan dengan pria lain," kata Andre dingin.


"Maksudmu apa mas?" tanya Cindy tersentak. Dia takut Andre sudah mengetahui perselingkuhannya. Andre menyuruh perawat untuk keluar.


"Hal apa yang membuatmu lelah?, di rumah bahkan kamu tidak mengerjakan apapun. Kamu keluar tidak menyetir, dan tadi kamu ke mall hanya untuk nongkrong di tempat makan. Lalu sekarang kamu keguguran. Sekarang jawab aku!. Apa yang membuat yang membuatmu lelah" kata Andre lagi. Matanya menatap tajam Cindy.


"Kamu tidak sadar mas, bahwa kamu juga membuatku lelah berpikir. Berpikir melihat tingkah kamu beberapa Minggu ini," jawab Cindy lemah.


"Harusnya kamu menghiburku atas kehilangan ini bukan menuduhku yang macam macam. Apalagi kalau kamu tidak punya bukti," kata Cindy lagi. Air matanya sudah kembali banjir di pipinya.


"Baiklah aku akan mencari bukti. Jangan kamu kira aku bodoh. Aroma shampoo mu saja berbeda ketika keluar rumah dan ketika pulang dari mall seperti katamu tadi. Dan jika aku menemukan bukti. Aku pastikan kamu akan hancur tidak bersisa" kata Andre marah. Cindy tersentak dan tersadar. Rian sudah mengingatkan Cindy tadi untuk tidak keramas. Rasa gerah dan keringat yang lengket, membuat Cindy tidak menghiraukan perkataan Rian.

__ADS_1


Cindy hendak berbicara lagi tetapi Andre langsung keluar dari ruangan Cindy. Dia menghubungi orang tua Cindy untuk menemani Cindy di rumah sakit.


__ADS_2