Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Tekad Sinta


__ADS_3

Cindy memandang mama Ratih sendu, dari tadi mama Ratih diam. Itu artinya mama Ratih sangat marah kepada Cindy. Cindy yang sudah paham watak mamanya hanya bisa terdiam dan duduk di tepi ranjang. Mama Ratih akhirnya keluar dari kamar setelah melihat Rian di ambang pintu. Kasman yang memapah hanya membantu Rian sampai di ambang pintu.


Dengan lesu, Cindy mengambil pakaian Rian yang sudah dikumpulkannya tadi dari kursi rias. Menyerahkan pakaian tersebut dan duduk di samping Rian. Rian masih menunduk. Entah apa yang ada di pikirannya.


"Pakailah, kita harus cepat keluar dari sini," kata Cindy pelan. Rian melirik ke arah pintu. Pintu itu masih terbuka lebar. Cindy yang melihat arah mata Rian beranjak dari duduknya.


"Jangan tutup, nanti mereka mengira kita berbuat yang tidak tidak lagi," larang Rian meringis kesakitan ketika melihat Cindy hendak menutup pintu. Rian dibantu Cindy akhirnya mengenakan pakaiannya.


"Ayo, kita keluar. Aku mau minta maaf kepada kedua orang tuamu dan Andre," ajak Rian. Cindy masih duduk dan memandang wajah Rian yang penuh dengan benjolan. Hatinya iba.


"Pergilah, aku akan menyusul,"


Rian melangkahkan kakinya dengan tertatih menuju ruang tamu. Di sana sudah berkumpul kedua orang tua Cindy, Andre, Andi, Bella dan Agnes. Kasman dan Tuti juga masih di ruangan itu. Andi dan Andre tetap tidak mau duduk di sofa. Andre sampai menyuruh Kasman untuk mengambil bangku teras supaya ada tempat duduknya di ruang tamu.


"Pak, Bu. Aku minta maaf," kata Rian tulus. Rian masih menunduk dan berdiri dekat papa Dion, mama Ratih langsung memalingkan wajahnya.


Sementara yang lain masih diam. Andi Andre memandang Rian dengan tajam.


"Butuh waktu untuk memaafkan kamu nak, kesalahan kalian fatal," jawab papa Dion pelan. Rian semakin menunduk.


"Andre, aku benar benar minta maaf," kata Rian lagi. Andre masih menatap Rian.


"Baiklah, aku bahkan tidak tahu siapa namamu,"


"Rian," sahut Rian cepat.


"Baiklah Rian, mulai sekarang kalian sudah bebas. Kamu sudah mendengar sendiri kata talak dari mulut ku untuk Cindy. Aku akui aku yang terlalu bodoh percaya kepada Cindy si brengsek itu. Aku bahkan menceraikan istri pertama aku di saat mengandung demi Cindy. Ternyata aku hanya menjaga anakmu di kandungan Cindy. Aku mengabaikan darah daging aku sendiri. Membiarkan dia mengalami kesulitan sendiri di masa hamil. Sedangkan Cindy aku manjakan dengan berbagai fasilitas dan pelayanan para pekerja di rumah ini," jawab Andre sedih.

__ADS_1


Matanya terlihat berkaca kaca. Andre merasakan sesak di dadanya ketika dia mengingat Sinta. Membandingkan perlakuannya terhadap Cindy dan perlakuannya kepada Sinta.


Andi menepuk punggung Andre pelan, dia menyadari adiknya itu sangat menyesal dan terpukul dengan kenyataan bahwa Alexa bukan darah dagingnya. Agnes dan Bella juga terlihat sedih. Apalagi Bella, Dia tahu sendiri bagaimana perjuangan Sinta ketika hamil. Dan Bella juga tahu bagaimana manjanya Cindy ketika hamil. Sangat berbanding terbalik. Andre menarik nafas panjang sedangkan Rian masih menunduk.


Dengan menyeret koper, Cindy keluar dari kamar. Kepalanya tertunduk dan lesu. Bukannya duduk di ruang tamu dia langsung masuk ke kamar Alexa. Tidak berapa lama kemudian Cindy keluar dari kamar Alexa dengan menggendong Alexa.


"Rian, ayo kita pergi," ajak Cindy. Dia tidak berniat sama sekali untuk meminta maaf kepada orang tuanya dan Andre. Andre memandangnya sinis dan penuh kebencian. Rian membungkukkan badannya ke arah orang tua Cindy dan yang lainnya.


"Cindy," panggil papa Dion. Cindy berhenti dan menoleh. Rian terus melangkah keluar rumah.


"Papa benar benar kecewa kepada kamu Cindy. Sudah ketangkap basah kamu berselingkuh dan menghancurkan Andre, tetapi dari tadi papa tidak ada mendengar kata maaf dari mulut mu," kata papa Dion marah. Dia semakin tidak punya muka di hadapan Andre ketika melihat Cindy melenggang pergi.


"Ini terjadi karena dia juga pa, dia yang tidak bisa jadi suami yang memuaskan istrinya," jawab Cindy enteng. Mendengar itu mama Ratih semakin malu dan marah. Mama Ratih menarik tangannya suaminya untuk segera keluar dari rumah itu.


"Kami pamit nak Andre, maafkan kami yang tidak bisa mendidik Cindy jadi istri yang baik buat kamu," kata mama Ratih. Dengan tergesa mama Ratih keluar dari rumah dengan menarik tangan suaminya. Mama Ratih bahkan belum mendengar jawaban dari Andre atas permintaan maafnya.


Andre berdiri dan mendekat ke Cindy yang masih berdiri dekat ruang tamu. Bella dan Agnes merasa takut, mereka takut Andre menampar Cindy lagi.


"Pergilah!" usir Andre kencang. Cindy keluar dari rumah itu. Andre kembali duduk di sofa.


"Pak," panggil Kasman takut.


"Berkemas lah dan silahkan pergi," kata Andre dingin.


"Berikan kesempatan kepada Kasman bro, dia pasti butuh pekerjaan. Kalau dipikir pikir. Kasman juga kasihan," kata Andi santai. Dia terlihat menyilang kan kakinya sambil bermain ponsel.


"Maksud kakak?"

__ADS_1


"Iya, coba bayangkan. Dia harus menjaga orang bercinta. Kalau Cindy dan Rian bercinta di sofa ini. Berarti dia harus berdiri di sana, sudah dipastikan Kasman menahan hasrat hampir setiap hari. Itu pasti menyiksa. Iya kan Kasman?.


Andi menunjuk pintu depan yang menurutnya tempat Kasman berjaga ketika Cindy dan Rian bercinta di ruang tamu. Kasman mengangguk. Karena memang begitu adanya.


"Tak kita tadi apa," kata Bella kesal dan melemparkan tissue ke Andi. Andre jadi tertawa mendengar perkataan kakaknya.


"Kalau papa setuju, aku akan menjual rumah ini kak, bawa saja Kasman bekerja bersamamu. Tuti juga kak, Tuti bisa memasak. Aku kira di kafe mbak Bella, Tuti bisa bekerja. Sedangkan baby sitter Alexa. Kalau Sinta mau, nanti jadi baby sitter putriku Airia."


Andre masih memikirkan nasib para pekerjanya. Andre bisa memaafkan mereka karena Andre tahu mereka mau bekerjasama dengan Cindy dan Rian karena ancaman.


Kasman dan Tuti merasa lega. Berkali kali mereka meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada Andre.


"Bagaimana kita memberitahu ini kepada papa kak?" tanya Agnes. Dari tadi dia memikirkan orangtuanya.


"Aku serahkan ke kak Andi saja," jawab Andre. Andi mengangguk.


Sementara itu di jam yang sama. Sinta dan Vina nampak berkemas. Tiga tas besar sudah berjejer dekat pintu rumah.


"Sinta, kalau kamu ragu. Kamu bisa membatalkan rencana ini. Aku akan tetap pergi. Aku tidak mau menikah dengan pria yang dijodohkan orangtuaku," kata Vina yang melihat Sinta sedih. Rencana mereka malam ini akan kabur ke luar kota. Vina bahkan sudah mengurus surat transfer mereka dari kampus.


Acara semalam kumpul bersama sahabat sahabat mereka, itu hanya sebagai tanda perpisahan dari Sinta dan Vina. Memang Vina dan Sinta belum memberitahu Tini dan yang lainnya tentang rencana malam ini.


"Kamu kira aku mau bersama suami yang tidak mencintai aku. Sakit Vin. Sungguh sakit. Bahkan dia mau rujuk hanya demi putriku. Aku sudah mendapatkan akte lahir Airia. Setidaknya Airia tidak menyalahkan aku kelak. Aku dan putriku akan memulai hidup baru di daerah lain," jawab Sinta sedih.


"Inikah alasanmu tidak memberitahu orang tua kamu tentang pernikahan ini?" tanya Vina hati hati. Sinta mengangguk.


"Baiklah. Kita akan berjuang bersama. Kita mengalah nasib yang sama Sinta," kata Vina sedih. Sinta terlihat mengamati sekeliling rumahnya.

__ADS_1


Dulu aku pernah menggadaikan harga diriku dengan menjadi simpanan kamu mas. Kini aku akan pergi membawa harga diri yang pernah aku gadaikan. Putri ku dialah harga diriku sekarang. Cinta dan patah hati yang kamu hadirkan di hidupku, kini masih melekat di hati ini. Tidak mudah melupakan cinta ini walau sedalam apa kamu menyakiti hatiku. Aku menanti satu kata itu, hingga aku memberimu kesempatan ke dua. Kata itu tidak pernah terucap dari bibirmu. Maafkan aku, aku tidak mau mengulang kisah yang membuat aku jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku memilih pergi. Biarlah selamanya aku menanti cintamu, suamiku. Selamat tinggal mas Andre."


Sinta membatin di hatinya. Tekadnya sudah bulat pergi dari Andre.


__ADS_2