
Sean dan Andre hampir bersamaan menghentikan mobilnya di parkiran. Seperti biasanya Andre dan Sinta selalu bersamaan berangkat ke kampus. Sedangkan Sean, entah angin apa yang membawanya ke rumah Cici padi ini. Sean menawarkan diri untuk mengantar Cici ke kampus. Tentu saja Cici senang, selain nyaman uangnya juga tidak berkurang.
Sinta dan Andre turun dari dalam mobil. Begitu juga dengan Cici. Suara pintu mobil yang ditutup bersahutan dalam beberapa detik. Andre menghampiri mobil Sean yang hanya berjarak beberapa mobil dari mobilnya. Sedangkan Cici dan Sinta saling mendekat dan duduk di bangku panjang dekat parkiran itu. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk masuk kelas. Mereka masih bisa untuk bersantai.
"Langsung jalan bro?" tanya Andre ketika melihat Sean hendak memundurkan mobilnya. Sean mengangguk.
"Iya bro. Aku hanya mengantar Cici. Selain itu aku juga ingin bertemu dengan Ronal. Tapi Ronal sepertinya belum datang," jawab Sean.
"Ada urusan dengan Ronal?" tanya Andre.
"Aku hanya penasaran saja. Tini menduga Ronal yang menjemput Vina. Aku ingin bertanya langsung kepadanya. Bagaimanapun Radit adalah sahabat kita. Dan Vina adalah tanggung jawab Radit. Aku hanya ingin memastikan Vina baik baik saja bro,"
"Ya sudah, kalau kamu mau jalan, jalan saja. Nanti akan aku tanyakan ke Ronal. Aku kabari kamu lewat wa," kata Andre, dia tidak ingin memberitahu Sean dan yang lain bawa dia sudah menyuruh Ronal menjemput Vina sebelumnya.
Andre dan Sean sama sama mengedarkan pandangan. Ketika Cici memanggil nama Tini dengan kencang. Pandangan Sean dan Andre terhenti ke arah perpustakaan. Tini dan seorang laki laki keluar bersamaan dari ruang perpustakaan. Sean terus menatap Tini, Tini terlihat berbincang dengan laki laki itu dan sesekali Tini memukul lengan laki laki tersebut sambil tertawa. Laki laki itu juga terlihat membalas pukulan Tini dan juga tertawa.
"Kok sampai segitunya, liatin Tini bro. Kamu suka Tini atau suka Cici," tanya Andre sambil mengibaskan tangannya masuk kedalam mobil. Sean tidak menjawab pertanyaan Andre. Sean membuka pintu mobil setelah terlebih dahulu mematikan mesin mobilnya. Sean akhirnya turun dari mobil itu dan berjalan mendekat ke arah Cici dan Sinta. Andre pun demikian.
"Duluan saja kamu Edwin ke ruangan. Aku masih disini bersama mereka," kata Tini ke Edwin. Tini dan Edwin sudah berdiri dekat Sinta dan Cici.
"Oke, tapi ingat janji kamu ya. Hari Minggu kamu harus mengajari aku renang," jawab Edwin sedikit mengancam. Tadi Tini mengejek bahkan menertawakan Edwin yang tidak bisa berenang. Dan Tini bersedia mengajari Edwin berenang jika Edwin mau belajar.
"Iya, tapi agak siangan ya. Jam dua saja. Badan kekar dan gagah seperti itu tapi tidak bisa berenang," jawab Tini santai sambil terkekeh. Edwin menjitak kepala Tini. Tidak mau diperlakukan seperti itu, Tini menjitak balik kepala Edwin.
"Mari pak, duluan ci, tin," pamit Edwin. Dia tidak menyebut nama Sinta. Penolakan Sinta akan pernyataan cintanya dulu membuat Edwin malu bahkan tidak pernah bertegur sapa sama sekali dengan Sinta.
"Gak salah itu, perempuan yang mengajari laki laki berenang," kata Sean yang terdiam dari tadi. Mendengar Sean dan Tini akan berenang bersama, entah kenapa dia tidak suka. Tini sudah melihat Sean sedari tadi tapi berpura pura tidak melihat Sean. Tini sudah menduga bahwa Sean pasti mengantar Cici ke kampus ini. Selain itu, Tini masih malu berhadapan dengan Sean. Ciuman semalam masih jelas terasa di bibirnya. Tapi hatinya juga sakit ketika melihat Sean bersedia mengorbankan waktunya demi mengantar Cici.
"Enggak. Tidak ada peraturan yang mengatakan bahwa perempuan tidak bisa mengajari laki laki berenang," jawab Tini sewot. Dia masih tidak berani menatap Sean.
"Memang tidak ada peraturan. Kalau dia memegang atau menyentuh sesuatu yang berharga yang ada di tubuh kamu itu. Gimana?" tanya Sean lagi. Sean menatap tajam Tini ketika mengatakan itu.
"Ya ampun. Itu saja dipersoalkan. Kalau dia macam macam, kan tinggal mencelupkan kepalanya ke air. Selanjutnya dia pasti kapok," kata Tini tenang. Tini menggoyangkan kakinya yang menjuntai. Sedangkan Andre tertawa.
"Is ternyata kamu punya otak kriminal juga ya," jawab Sean sambil menendang pelan kaki Tini. Tini melotot. Dan menendang balik kaki Sean.
"Sakit Tini," kata Sean. Dia menendang pelan kaki Tini. Tapi Tini membalas menendang kaki Sean dengan keras. Sean tidak tahu bahwa Tini balas dendam kepadanya karena sudah berani mencium Tini. Selain itu Tini juga meluap kekesalannya dengan menendang kaki Sean.Zxzd
"Rasain itu play boy amatiran," kata Tini kesal. Tini kesal dengan sikap Sean yang seakan akan menyukainya tetapi semakin dekat dengan Cici. Bahkan sampai rela mengantar Cici ke kampus seperti pagi ini.
__ADS_1
"Play boy amatiran?" tanya Andre heran. Sean adalah laki laki yang baik. Bahkan Radit sering memanggil Sean dengan sebutan ustad. Diantara mereka bertiga, Sean lah yang sering memberi nasehat jika Andre dan Radit ada masalah. Selain itu yang setahu Andre, Sean juga tidak pernah berpacaran sama sekali. Tini mengangguk sedangkan Sean masih mengelus kakinya yang terasa sakit.
"Kamu kok ngatain kak Sean gitu sih Tini?" kata Sinta juga heran.
"Kamu nanya aku. Tanya sendiri orangnya. Kenapa aku memanggilnya play boy amatiran," kata Tini. Tangannya melambai ke arah parkiran motor.
"Ronal, sini dulu," panggil Tini ketika melihat Ronal sudah turun dari motor. Tini tidak sabar ingin mengetahui keadaan Vina. Sedangkan pertanyaan Andre dan Sinta tentang play boy Amatiran tidak terjawab.
"Kak Sean, disini juga. Ada urusan apa bang?" tanya Ronal ketika sampai di tempat Tini. Dia terkejut karena Sean ada di situ.
"Tadi mengantar Cici Ronal,"
"Ronal, kamu ada jemput Vina semalam tidak?" tanya Tini tidak sabaran. Sinta terus melihat Ronal. Sinta deg degan menunggu jawaban dari Ronal.
"Vina?. Aku tidak menjemputnya," jawab Ronal tenang. Sinta, Cici dan Tini sudah melemas. kalau bukan Ronal yang menjemput siapa lagi yang menjemput Vina. Jelas mereka mendengar dari bapak yang satu ruangan dengan Vina, bahwa yang menjemput Vina seumuran dengan dirinya.
"Jangan bercanda kamu Ronal," kata Sinta pelan.
"Aku serius Sinta. Aku tidak ada menjemputnya."
"Apa maksud kamu Ronal?" tanya Andre terkejut dan tidak percaya akan apa yang dikatakan Ronal. Jelas dua hari yang lalu dia meminta tolong ke Ronal untuk menjemput Vina. Dan Ronal mengangguk tanda setuju untuk menjemput Vina.
"Iya bang. Aku tidak jadi menjemputnya. Setelah aku berpikir itu adalah masalah rumah tangga Vina yang tidak selayaknya aku ikut campur. Kalau ikut campur untuk mendamaikan atau ikut campur untuk membuat hubungan mereka lebih baik tidak masalah. Tetapi kalau untuk ikut campur menjauhkan atau memperburuk hubungan mereka, aku tidak mau. Itulah sebabnya aku tidak jadi menjemput Vina semalam bang,"
"Bang Andre yang menceritakan Tini. Bang Andre juga meminta tolong aku untuk menjemput Vina karena suami Vina sudah mengikuti Sinta sebelumnya," jawab Ronal, Tini mengepalkan tangan mendengar perkataan Ronal.
"Kalau kak Andre sudah minta tolong, kenapa kamu tidak mau membantu Andre. Kamu sudah tahu tentang dan penyebab kenapa sampai Vina dirawat di rumah sakit. Keterlaluan kamu Ronal," kata Tini marah dan kecewa. Dia tidak menyangka Ronal sampai tega tidak menolong Vina.
"Bukan begitu Tini, aku hanya berpikir. Yang namanya rumah tangga pasti ada masalah. Vina masih berstatus istri dari suaminya. Kalau aku sampai menolong dalam keadaan rumah tangga bermasalah. Yang bisa aku yang terkena masalah dan Vina juga akan kena fitnah. Kemudian aku ingat masalah bang Andre dan Sinta. Masalah mereka lebih parah dari masalah Vina. Tapi kamu lihat sekarang. Mereka sudah rujuk dan berbahagia. Begitu juga dengan Vina. Mungkin saat ini rumah tangganya bermasalah. Tapi besok besok. Siapa yang tahu. Jangan jangan Radit menjadi cinta mati ke Vina. Apalagi Vina sedang mengandung. Bisa jadi kan, janin yang di kandungan Vina, membuat Radit berubah dari tabiat buruknya," kata Ronal panjang lebar.
Andre tersentak dan tersadar mendengar alasan Ronal yang tidak mau menolong Vina. Apa yang dikatakan Ronal masuk akal baginya. Kesalahannya pernah menolak kehamilan Sinta, tetapi justru dengan adanya Airia lah membuatnya berbahagia seperti sekarang ini. Seandainya Airia tidak lahir, bisa saja Andre masih bersama dengan Cindy dan tidak tahu tentang kebusukan Cindy. Kehamilan Vina saat ini bisa saja membuat hubungan Vina dan Radit suatu saat nanti membaik.
Sedangkan Sean masih termenung memikirkan kata kata Ronal. Ronal yang memikirkan jauh ke masa depan membuatnya tersadar. Harusnya mereka terlebih dahulu mengetahui tanggapan Radit akan kehamilan Vina. Tidak langsung menyembunyikan Vina dari Radit. Kini Vina entah dimana, bahkan mereka yang berusaha membantu Vina bersembunyi dari Radit, juga tidak mengetahui keberadaan Vina sekarang. Jika Vina tidak ditemukan itu artinya bahwa mereka secara tidak langsung memisahkan suami istri. Harusnya mereka mencari solusi terbaik untuk Radit dan Vina bukan malah menyembunyikan Vina dan kehamilannya.
"Ronal, kamu berkata seperti ini, bukan karena Vina yang menyuruh kan?" tanya Sinta sedih. Dia berharap bahwa yang dikatakan Ronal hanya untuk menutupi bantuannya menjemput Vina.
"Aku serius Sinta. Aku tidak ada menjemput Vina. Kamu bisa bertanya ke Edwin. Semalam kami bersama sampai sore," kata Ronal serius. Sinta dan yang lain percaya bahwa Ronal memang tidak menjemput Vina semalam. Bukti kuat jika Ronal tidak menjemput Vina, Edwin saksinya.
"Jadi Vina kemana?. Nomor ponselnya juga tidak aktif dari semalam," kata Sinta sambil menangis. Andre yang melihat istrinya menangis langsung duduk dekat Sinta dan mengusap air mata Sinta dengan ibu jarinya. Sedangkan Tini dan Cici juga terlihat sangat cemas sama sekali.
__ADS_1
"Aku ke ruangan," pamit Ronal. Sean dan Ronal mengangguk. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menahan Ronal terlalu lama.
"Mungkinkan kah orangtuanya yang menjemputnya?" tanya Cici pelan.
"Tidak mungkin. Di surat itu juga, Vina berpesan kepada kita. Mengatakan hal baik ke orangtuanya, jika orangtuanya bertanya ke kita," kata Sinta pelan.
"Banci kaleng. Ini semua gara gara kamu," maki Tini sambil merapatkan giginya.
"Ada baiknya kita bertanya juga ke orangtuanya. Kita bisa berpura pura tidak mengetahui masalah Vina," kata Sean. Andre mengangguk setuju.
"Bisa juga saran kamu Sean. Tapi kalian aja dulu ke sana ya. Rencananya besok kami mau ke kampungnya Sinta jadi butuh persiapan hari ini," jawab Andre.
"Tidak masalah bro, Kerjaan aku tidak begitu banyak hari ini. Selepas makan siang juga aku punya waktu. Siapa saja yang mau ikut," kata Sean sambil memandang Tini dan Cici.
"Aku tidak bisa kalau hari ini kak, aku juga ada kerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Sudah terlanjur berjanji," kata Cici.
"Berarti, aku dan Tini yang akan pergi. Elsa pasti belum bisa. Dia masih fokus menjaga mamanya. Tin, nanti jam satu aku akan menjemput kamu di kampus ini," kata Sean sambil tersenyum. Tini memandang Sean sekilas. Kemudian memalingkan wajahnya ke arah kolam. Mendengar dirinya akan pergi berdua dengan Sean, yang ada Tini kembali mengingat ciuman semalam.
"Bagaimana Tini. Kami bisa kan?" tanya Andre yang melihat Tini tidak menggubris perkataan Sean.
"Aku bisa. Tapi kak Sean jangan mencium aku sembarangan ya!" kata Tini dengan mengancam. Andre, Sinta dan Cici terkejut. Mereka menatap Sean dan Tini bergantian. Sean menggaruk kepalanya sedangkan Tini spontan menutup mulutnya. Andre seketika tertawa terbahak-bahak. Sebutan play boy amatiran terjawab.
"Sean mencium kamu?" tanya Andre setelah berhenti tertawa. Tini malu. Wajahnya entah sudah berubah warna apa sekarang. Sedangkan Sinta masih menatap Sean dengan tatapan tidak percaya.
"Cici, tunggu!" panggil Tini sambil berlari. Cici meninggalkan mereka tanpa pamit.
"Aku rasa, itu sebabnya Tini memanggil kamu dengan sebutan play boy amatiran," kata Andre setelah Tini benar benar pergi dari tempat itu. Sean masih terdiam.
"Kak Sean menyukai siapa sekarang. Tini atau Cici?. Jangan buat mereka saling tidak enak karena sikap kakak yang terkesan menyukai Cici tapi mencium Tini," kata Sinta cemas. Melihat Cici berlari meninggalkan mereka setelah mendengar perkataan Tini. Sinta tahu bahwa hatinya tidak sedang baik sekarang. Sinta tidak ingin persahabatan antara mereka renggang, terutama Cici dan Tini karena Sean.
"Ya bro. Tentukan sikap kamu. Apa kamu dan Cici sudah berpacaran?" tanya Andre. Sean hanya menggelengkan kepalanya.
"Tapi siapa pun yang melihat perlakuan kakak kepada Cici, orang pasti menilai bahwa kakak menyukainya. Apalagi Cici. Dia pasti dapat merasakan perhatian kakak," kata Sinta kesal. Sinta kesal karena sikap Sean yang sangat memperhatikan Cici sampai mengantar ke kampus seperti pagi ini tapi semalam dia sudah mencium Tini.
"Bro, bro. Baru kali ini kamu jatuh cinta tapi langsung membuat dua orang bersahabat salah paham. Cocok juga julukan yang dikasih Tini buat kamu play boy amatiran," kata Andre sambil tertawa terbahak-bahak. Sinta juga ikut tersenyum.
"Dan kamu mantan berengsek," jawab Sean. Sean juga tertawa terbahak-bahak.
"Radit banci kaleng," sambung Andre membuat dua sahabat itu semakin tertawa. Sinta juga tidak dapat menahan untuk tidak tertawa.
__ADS_1
"Tiga sahabat dapat julukan masing masing," kata Sinta setelah berhenti tertawa.
"Tentukan sikap kamu bro. Tini atau Cici. Aku akan berusaha membantu Radit berubah dari tabiat buruknya. Mendengar perkataan Ronal tadi aku jadi berubah pikiran untuk membuat Radit dan Vina bersatu kembali. Tiga sahabat Andre, Radit dan Sean yang sudah mendapat julukan dari Tini. Mantan brengsek, banci kaleng dan play boy amatiran akan tetap bersama. Berbahagia bersama istri masing masing," kata Andre mantap dan mengajak Sean tos. Sean mengangguk setuju. Sinta yang melihat dua sahabat itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.