
"Mau makan sesuatu sayang?" tanya Sean. Mereka kini di dalam mobil sepulang dari rumah Radit. Tini hanya menggelengkan kepalanya. Tinggal berdua di dalam mobil membuat ingatannya kembali perselingkuhan sang papa. Lagipula Tini sudah menghabiskan dua nasi bungkus.
"Jangan terlalu dibawa ke dalam pikiran. Papa sudah berjanji akan berubah."
"Yang aku pikirkan bagaimana reaksi kak Rio dan kak Rendi jika mengetahui perselingkuhan papa kak."
"Apa kamu takut mereka meniru perilaku papa."
"Ketakutan untuk itu ada kak. Tapi yang paling aku takutkan jika mereka sampai bermain kasar kepada papa. Kak Rio agak sensitif jika berkaitan dengan mama. Dibandingkan aku dan kak Rendi. Kak Rio sangat menyayangi mama melebihi dirinya. Jangankan melihat mama menangis. Melihat termenung saja. Kakak Rio langsung kepo."
Sean menarik nafas panjang. Sebenarnya juga dirinya merasa bingung setelah mengetahui perselingkuhan papa mertua. Jika sampai perselingkuhan itu sampai ke telinga penghuni rumah papa Indra sudah dipastikan kedamaian yang selama ini terjaga dengan baik akan terusik.
"Jadi kapan rencana untuk memberitahukan masalah ini ke mama," tanya Sean.
"Setelah kerjasama papa dan kak Radit sudah tanda tangan. Saat ini belum waktu yang tepat. Aku tidak mau kerjasama itu terganggu dengan adanya masalah keluarga. Papa pasti terbebani jika perselingkuhannya diketahui mama. Dan aku tidak mau, hal itu membuat kerjasama mereka nantinya tertunda," kata Tini. Sejak tadi tidak berbicara, Tini memikirkan waktu yang tepat untuk memberitahukan masalah ini kepada sang mama. Perusahaan Radit sudah diambang kebangkrutan. Jika tidak secepatnya mendapatkan investor atau menjalin kerja sama dengan perusahaan lain. Bisa dipastikan perusahaan itu hanya tinggal nama. Itulah sebabnya Tini memastikan terlebih dahulu kerja sama itu sudah pasti terjalin. Setelah itu, Tini berencana membongkar perselingkuhan sang papa ke mama Mia.
Sean semakin bangga akan Tini. Tini selalu memikirkan orang orang yang dekat dengannya. Sean berpikir, bahwa dia tidak salah memilih isteri terlepas dari sifat Tini yang ter kadang bar bar. Apalagi Tini selalu memikirkan matang matang apa yang akan dilakukannya. Seperti kejadian tadi. Jika orang lain, mungkin Tini langsung teriak teriak atau mendobrak pintu kamar Intan. Tapi Tini tidak seperti itu. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan memperlihatkan kegiatan panas papanya kepada dirinya, Radit dan Vina.
Tini bahkan bisa dengan tenang menghadapi Intan, Dia juga tidak langsung dengan bermain kasar. Dengan tenang Tini memikirkan cara melumpuhkan Intan. Dan Tini berhasil.
Sean menoleh ke istrinya. Sean bisa melihat bahwa Tini merasakan hatinya hancur sangat dahsyat.
"Kenapa berhenti disini kak?" tanya Tini heran. Termenung beberapa saat membuat Tini tidak menyadari jika Sean membelokkan mobilnya tadi ke kanan. Arah rumah Sean seharusnya ke kiri.
"Kamu bisa memanjakan dirimu di salon ini sayang. Sebenarnya aku bisa memanjakan kamu dengan pijitan aku sendiri. Tapi aku takut, nantinya jadi minta yang lain," kata Sean sambil membuka sabuk pengaman kemudian membuka sabuk pengaman milik istrinya.
"Kamu tidak ada merasakan hal aneh di bagian sini kan?" tanya Sean sambil menunduk mencium perut istrinya. Bagaimanapun Sean masih sangat khawatir akibat pergerakan Tini tadi pas menendang lengan Intan.
"Tidak kak, jangan khwatir," jawab Tini. Dia membelai rambut suaminya yang masih betah mencium perutnya.
"Aku takut. Kaki kamu terangkat tinggi hanya untuk menendang lengannya."
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan kak."
"Baiklah, kita turun ya. Kamu bisa mau ngapain saja di dalam," kata Sean. Sean mengisyaratkan Tini untuk tidak turun terlebih dahulu. Seperti biasanya. Tini tidak hanya ratu di hati Sean tapi ratu di setiap perlakuannya.
"Hati hati sayang," kata Sean sambil mengulurkan tangannya ke Tini. Tini terkekeh. Setelah mengetahui dirinya hamil. Setiap melangkah Sean tidak lupa untuk menyuruh Tini hati hati.
"Mereka masuk ke dalam salon tersebut. Setelah memilih perawatan seperti apa yang diinginkan oleh Tini. Salah satu karyawan di salon itu menunjukkan sebuah ruangan untuk Tini. Butuh waktu lama Tini melakukan perawatan itu. Dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Sean dengan sabar menunggu istrinya. Dia memainkan ponselnya ketika bosan. Dan juga menutup telinganya akan pujian yang di lontarkan para pelanggan salon lainnya. Karena jarang di temui di muka dunia ini. Pria yang bersedia menunggu istrinya Berjam jam di salon.
Tidak hanya itu. Setelah melakukan perawatan di salon. Sean juga membawa Tini makan malam di sebuah restoran kecil. Bukan restoran mewah. Tapi makanan olahan ikan di restoran itu sangat cocok di lidah Tini. Tini makan sangat lahap. Bahkan Tini mengatakan jika dirinya tidak keberatan jika Sean sering sering mengajaknya makan disini.
"Masih mau sayang. Aku bisa memesan lagi untukmu," tanya Sean sambil menatap istrinya yang masih terlihat berselera untuk menghabiskan ikan yang tinggal sedikit lagi.
"Cukup kak. Sudah kenyang. Ini mubasir jika tidak dihabiskan."
"Atau kita pesan untuk dibawa ke rumah?" tanya Sean lagi. Tini menggelengkan kepalanya.
"Darimana kakak mengetahui restoran ini. Menunya semua adalah favoritku," kata Tini. Dia adalah penyuka semua jenis ikan. Disuguhi menu seperti ini, Tini bisa melupakan masalah perselingkuhan papanya untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Dari mama dan papa. Mereka juga menyukai semua menu yang ada di restoran ini,"
"Kalau begitu, pesankan untuk kita bawa pulang untuk papa dan mama kak. Masa kita makan enak. Papa dan mama tidak. Apalagi makanan disini adalah makanan favorit mereka," kata Tini. Sean mengembangkan senyumnya. Sikap seperti ini yang diinginkan. Sikap wanita yang juga memperhatikan kedua orangtuanya. Bukan hanya perduli kepada dirinya sendiri. Dan sikap itu ada dalam diri Tini.
Sejak mengenal Tini dan mengetahui sikap perduli Tini kepada sahabat sahabatnya. Sean tidak ragu untuk membuat tato inisial nama Tini di salah satu lengannya. Apalagi setelah menikahi Tini sudah tiga bulan. Wanita itu bahkan tidak minta pisah rumah dari rumah orangtuanya. Sebagaimana kebanyakan wanita jika sudah menikah tidak suka tinggal di rumah mertua. Justru Tini, bisa memperlakukan kedua orangtuanya dengan baik. Tidak jarang kedua orangtuanya tertawa terbahak bahak jika Tini menunjukkan sifat aslinya di depan kedua orangtuanya.
"Kak, terima kasih sayang," kata Tini setelah mereka sudah di rumah. Hari juga sudah gelap. Mereka sudah berada di kamar setelah setelah terlebih dahulu menatap makanan yang mereka bawa dari restoran tadi.
"Sama sama sayang. Tidurlah. Kamu pasti sudah lelah," kata Sean.
"Kamu mau kemana?" tanya Tini. Sean menunjuk kamar mandi dan Tini mempersilahkan Sean untuk membersihkan diri.
"Belum tidur," tanya Sean setelah keluar dari kamar mandi. Tini duduk di ranjang dengan laptop di depannya.
"Belum kak, Kerjain ini dulu," jawab Tini sambil menunjuk kertas. Sean tahu bahwa kertas itu berisi coretan-coretan Tini untuk bab 3 skripsinya. Sean mendekat ranjang. Dia duduk di samping Tini sambil memperhatikan istrinya itu mengetik.
"Ada yang perlu aku bantu?" tanya Sean. Tini memberikan kertas coretan kepada Sean.
"Kamu saja yang membacakan. Biar yayang beib yang mengetik," kata Sean sambil menarik laptop ke depan. Tini tergelak sambil menutup mulutnya dengan kertas tersebut.
"Tahu gak yah. Asal kata dari yayang beib itu?"
"Tidak tahu."
"Yayang beib itu berasal dari kata sayang bebek. Jadi jangan ikutan bilang yayang beib," kata Tini sambil tertawa.
"Hah. Tahu darimana kamu itu?"
"Segini saja?" tanya Sean setelah selesai Tini membacakan isi coretan tersebut. Tini mengangguk dan menyuruh Sean menutup laptop tersebut.
"Saatnya menunaikan kewajiban istri," kata Tini setelah Sean kembali duduk di ranjang setelah menyimpan laptop. Sean tersenyum. Hampir setiap malam sebelum tidur mereka melakukan hubungan suami istri dan bahkan pagi hari setelah bangun tak luput dari kegiatan itu.
"Kalau kamu mau tidur. Tidur saja sayang. Aku tidak memaksa kamu untuk menunaikan kewajiban malam ini," kata Sean sambil membelai rambut istrinya. Sean mengerti jika istrinya masih terluka. Dia tidak ingin meminta haknya saat keadaan hati istrinya tidak baik.
"Kamu sangat pengertian kak. Aku beruntung memiliki kamu. Tapi aku mohon. Jangan mengkhianati aku. Jika ada sikapku yang tidak berkenan di hatimu. Tolong beritahu aku. Supaya aku bisa memperbaikinya. Aku hanya ingin pernikahan sekali dalam seumur hidup," kata Tini serius. Matanya tidak lepas dari mata Sean ketika mengatakan itu.
Sean menarik kepalanya Tini dan meletakkannya di dadanya. Dia mengerti kekhawatiran Tini akan arti kesetiaan. Dia sendiri menyaksikan bagaimana papa Indra atau Handoko berlaku mesra dan sangat manis ke mama mertuanya. Dan mama Mia adalah sosok istri sempurna. Cantik, lembut, hormat suami dan bahkan pintar memasak. Tapi itu tidak jaminan bagi Papa Indra setia. Walau mengaku dijebak. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, tapi Sean sadar. Papa mertuanya juga dengan sadar melakukan perselingkuhan itu.
"Ternyata bisa juga kamu serius sayang," kata Sean sambil terkekeh. Dia bukan tidak mau menjawab atau meyakinkan Tini akan kesetiaannya. Tapi Sean lebih memilih akan menunjukan kesetiaan daripada harus mengucap janji janji manis.
"Kamu tidak menyakinkan aku?" tanya Tini sambil mendongak menatap wajah sang suami.
"Tidak perlu pakai kata kata. Kamu bisa merasakan kesetiaan aku hari demi hari nantinya. Kita hidup seribu tahun lagi. Jadi hanya sikap yang bisa membuktikan kesetiaan aku kepadamu sayang?"
"Seribu tahun lagi?" macam betul saja. Seribu tahun."
"Namanya doa sayang. Tidak mungkin aku akan mengatakan seribu menit lagi."
"Iya. Diiyakan sajalah. Daripada makin melantur."
__ADS_1
"Kamu tidak ingin hidup seribu tahun lagi bersamaku?"
"Iya maulah," jawab Tini singkat. Dia memukul paha Sean.
"Kenapa sayang. Kok dipukul?"
"Tadi katanya tidak mau memaksa aku menunaikan kewajiban malam ini. Tapi juniornya sudah tegak lurus," kata Tini sambil mengarahkan matanya ke arah paha suaminya.
"Ini belum tegak lurus sayang. Tapi masih tegak terjepit," jawab Sean sambil menarik tangan Tini dan meletakkan tangan itu di bagian yang tegak terjepit tersebut. Sean melihat mood istrinya sudah membaik.
"Tegak luruskan sayang. Jika kamu berminat. Tapi jika tidak. Tidak apa apa," kata Sean lagi. Tini terkekeh.
"Baik kak. Lagipula kalau sudah tegak begini. Rugi kalau tidak dinikmati," jawab Tini membuat Sean tertawa terbahak bahak.
"Kamu tahukan caranya. Membuat ini tegak lurus," tanya Sean lagi. Kedua tangannya sudah menumpu dirinya sehingga posisi Sean setengah berbaring.
"Tau begini caranya," jawab Tini sambil menggerakkan jari jarinya dan bibir berbunyi seperti mengajari burung sungguhan berkicau.
"Tiniiiii," kata Sean sambil tertawa terbahak-bahak dan membaringkan tubuhnya. Tini masih saja menggerakkan tangan kanannya dan bibirnya berbunyi seperti suara burung. Tapi tangan kirinya sudah terulur menarik celana karet milik Sean turun dari pinggang.
Sean terkejut dan memajukan kepalanya melihat aksi Tini di burung perkututnya. Tini sudah menundukkan kepala dan memasukkan burung itu ke dalam mulutnya. Sean kembali meletakkan kepalanya. Menikmati permainan istrinya yang sangat luar biasa dan di luar perkiraannya.
"Sayang, aku suka permainan kamu," kata Sean serak. Tini melebarkan paha suaminya dan tangan kiri bermain di dua biji dekat burung perkutut tersebut. Sean sampai memejamkan matanya karena kenikmatan itu. Hari ke hari, Sean dapat merasakan jika istrinya semakin pandai memuaskannya di ranjang. Yang membuat Sean semakin suka, Tini selalu apa adanya. Tidak terpaksa atau setengah hati jika menyangkut urusan di ranjang.
Seperti kali ini. Sean Mengetahui jelas beban pikiran istrinya Tapi Tini bisa mengendalikan dirinya untuk tidak larut bersedih dan menunaikan kewajiban sebagai istri. Tidak ingin istrinya lelah menunduk. Sean duduk dan langsung menyambar bibir istrinya. Cukup lama dirinya bermain di bibir dan di puncak dada istrinya. Menyuruh sang istri untuk segera tidur ternyata kesalahan. Yang benar adalah mengajaknya istrinya mengarungi samudera cinta sebelum terlelap dalam mimpi.
"Bisa kan malam ini?" tanya Sean memastikan istrinya tidak keberatan jika mereka akan memadu kasih.
"Kalau tidak bisa. Tidak apa apa kan kak?" jawab Tini sambil memeluk Sean dan menyembunyikan wajah senyumnya. Tini hanya berniat mengerjai sang suami. Dia tidak berniat mengabaikan kewajiban sebagai istri.
"Tidak apa sayang. Tapi jangan salahkan jika sabun kecantikan kamu itu tinggal botolnya saja besok," jawab Sean sambil tersenyum. Tini melonggarkan pelukannya kemudian meninju lengan Sean pelan. Sean terkekeh.
"Baiklah. Lakukan tugasmu dengan baik sayang," kata Tini. Seperti perintah sang istri. Sean melakukan tugasnya dengan baik. Suara mereka saling bersahutan pelan sambil bergerak mencapai apa yang mereka inginkan.
"Maaf aku duluan keluar sayang," kata Sean sambil mempercepat gerakan. Mereka sudah bermain agak lama tapi belum ada tanda tanda Tini akan mencapai *******. Sementara dirinya sudah menahan lahar itu dari tadi supaya bisa keluar bersama.
Sebagai suami, Sean mengetahui istrinya belum mendapat kepuasan. Sean menggerakkan tangannya menuju bagian inti tubuh istrinya. Dengan cara itu, istrinya bisa mendapatkan kepuasan sebelum hasrat itu hilang. Tubuhnya masih terlalu lelah jika harus kembali bergerak di atas tubuh Tini. Tini menangkap tangan tersebut dan tersenyum.
"Tidak perlu kak. Kita tidur saja ya," kata Tini sambil duduk. Dia hendak ke kamar mandi membersihkan inti tubuhnya sebelum tidur.
"Tapi kamu belum keluar tadi sayang."
"Tidak apa-apa kak. Besok besok juga bisa. Yang penting aku sudah melaksanakan tugasku malam ini."
"Kamu yakin sayang?.
"Yakin sayang," jawab Tini serius. Sean mengulurkan tangannya untuk menggendong istrinya ke kamar mandi. Dari kamar mandi juga Sean menggendong istrinya ke ranjang.
"Tidurlah," kata Sean sambil membelai rambut istrinya. Tini memejamkan matanya menikmati belaian lembut sang suami. Hingga Tini terlelap. Sean memperhatikan wajah istrinya. Wajah yang selalu ceria dan penuh canda tawa. Tapi hari ini wajah ceria itu hilang beberapa saat karena kelakuan sang papa.
__ADS_1
Sean mengecup kepala istrinya. Dalam hati Sean bersyukur memiliki istri seperti Tini. Kesabaran mencari istri yang baik tidak berakhir sia sia. Dalam diri Tini, semua kriteria wanita idaman yang dicari selama ini. Dan jangan lupa ada nilai plusnya. Tini putri pengusaha yang sudah jelas mendapat warisan yang lumayan banyak. Nilai plus lainnya. Tini bahkan jago beladiri.