
Sean tidak tahu harus berkata apa apa. Sekarang bukan hanya Handoko yang merasa sangat marah kepada Intan. Radit juga terlihat sangat marah. Sean tahu persis jika Radit marah. Tapi kali ini, Sean dapat melihat Radit menahan amarahnya. Radit mengambil jalur aman untuk melampiaskan kemarahan terhadap Intan. Lebih bagus meludahi wajah Intan daripada harus menampar. Radit berpikir panjang. Dia harus fokus kepada keluarga dan perusahaannya. Dia tidak mau hanya karena melampiaskan kemarahannya akan berbuntut panjang apalagi harus berurusan dengan hukum.
"Hanya begini keberanian kamu. Meludahi seorang wanita hamil?" kata Intan sinis kemudian terkekeh. Sangat jelas jika Intan berusaha untuk memancing amarah Radit. Handoko yang duduk di kursinya merasa puas melihat Radit yang berkali kali meludahi wajah Intan.
"Kamu ingin ditampar atau ditendang?. Tidak. Aku tidak akan melakukan itu kepadamu. Bukan karena takut. Tamparan hanya untuk menyadarkan manusia. Tapi karena bagiku kamu bukan manusia. Melainkan sampah yang menjijikkan. Perilaku kamu itu adalah perilaku manusia sampah. Ingin hidup mewah tapi pemalas. Sehingga menghalalkan semua cara demi hidup mewah," kata Radit sambil menatap Intan sinis.
"Jangan mengatai aku sampah jika kamu sendiri juga memperistri wanita sampah," kata Intan tenang. Sean yang dari tadi diam spontan menatap Intan. Sedangkan Radit kembali tersulut amarah.
"Istriku adalah wanita terhormat dan aku yang pertama baginya. Jangan menyamakan dirimu dengan istriku. Karena jelas berbeda. Seperti langit dan bumi," jawab Radit sambil menatap Intan tajam. Yang ditatap terlihat sangat santai dan bahkan duduk dengan kaki yang saling menimpa. Rok pendek denim yang dipakainya tidak cukup untuk menutupi paha mulusnya. Jika bukan Radit dan Sean yang duduk di hadapannya sudah dipastikan yang melihat paha mulus itu akan meneteskan air liur.
"Munafik kamu Radit. Aku mengetahui sepak terjang kamu selama ini. Kamu pelanggan wanita malam," kata Intan sambil tersenyum sinis. Radit tertawa terbahak-bahak. Sean dan Handoko merasa heran dengan sikap Radit itu.
"Tidak diragukan lagi. Jika kamu mengetahui sepak terjang aku. Bisa dipastikan jika kamu berteman dengan wanita wanita malam. Dan aku yakin jika sebutan wanita malam juga cocok untuk kamu," kata Radit tenang. Sean dan Handoko langsung menatap Intan. Reaksi wanita itu juga terkejut mendengar perkataan Radit.
"Dan asal kamu tahu Intan. Aku sudah bertobat. Dan aku adalah pria beruntung karena banyak hal. Yang pertama karena aku terlepas dari kamu. Dan yang kedua karena aku mendapatkan istri yang sangat baik dan bisa menjaga harga dirinya. Dan yang ketiga. Istriku bisa menerima masa laluku. Dan yang keempat. Istriku sangat menghargai dan menghormati kedua orangtuaku. Dan yang kelima. Istriku sudah memberikan aku tiga bayi yang lucu lucu. Jadi coba renungkan. Wanita sampah itu seperti apa. Jika kamu merenungkan dengan baik. Maka kriteria wanita sampah itu pas ada dalam dirimu," kata Radit lagi. Intan tersulut amarah. Botol air mineral yang ada di meja itu disambar oleh Intan. Dia hendak melemparkan botol mineral itu tapi kemudian berhenti. Suara Tini yang bergema di depan pintu membuat mereka yang ada di ruangan itu menoleh.
Mama Mia dan Tini sudah berdiri di depan pintu itu. Sean langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Tini.
"Kamu sama mama ketemu di mana?" tanya Sean heran dan berbisik sedangkan mama Mia langsung mendekat ke arah suaminya.
"Mama mengabari aku, kalau papa pingsan. Kami ketemu di luar tadi," bisik Tini.
"Papa sakit, syukurlah papa sudah sadar," kata mama Mia panik. Dia belum menyadari siapa saja yang ada di ruangan itu. Sementara Tini sudah mengepalkan tangannya ketika melihat sang pelakor ada di ruangan itu. Handoko tersenyum mendengar perkataan istrinya. Tapi hatinya merasakan takut yang luar biasa. Wajahnya yang memucat membuat mama Mia merasa khawatir. Handoko pucat bukan karena sakit. Tetapi karena keberadaan istri tercinta di ruangan itu karena tertipu oleh Intan. Apalagi ada Tini. Perselingkuhannya pasti terbongkar hari ini.
"Kalau papa sakit, sebaiknya pulang saja dulu Pa," kata Tini tenang. Keberadaan Intan di ruangan ini sudah bisa disimpulkan oleh Tini sendiri. Dia tidak akan membiarkan papanya dipermalukan di kantornya sendiri.
"Iya, sebaiknya papa pulang," kata Handoko setuju. Ide putrinya sungguh cemerlang.
"Tidak bisa. Aku mau berbicara dengan Tante Mia," kata Intan cepat. Semua mata mengarah ke wanita itu. Tidak terkecuali mama Mia. Mama Mia yabg tidak menyadari keberadaan Mia sebelumnya terkejut.
"Intan, kamu disini juga. Kamu mau bicara apa sama Tante. Nanti saja di rumah ya. Kamu ikut ke rumah sekarang. Om kamu butuh istirahat," kata mama Mia sambil membantu Handoko berdiri. Seperti orang sakit sungguhan. Handoko tidak keberatan dibantu.
"Biar nak Radit saja yang bantu papa, ma. Kamu berjalan saja di depan," kata Handoko. Dia memberi kode kepada Radit untuk pura pura membantunya. Kebohongan Intan yang mengirim pesan ke Mama Mia jika dirinya pingsan kini dimanfaatkan Handoko untuk menyelamatkan harga dirinya.
"Cepat bawa aku keluar dari sini nak," bisik Handoko. Radit paham maksud dari Handoko. Handoko menggerakkan kepalanya untuk berjalan cepat dari ruangan itu sementara Sean dan Tini berjaga di hadapan Intan supaya tidak mengejar langkah Handoko, Radit dan mama Mia.
"Awas, minggir," bentak Intan marah. Sean tidak perduli. Dia tetap menghalangi langkah Intan menuju pintu.
"Berani kamu berbuat ribut atau mempermalukan papaku di kantor ini. Maka jangan harap kamu bisa keluar dari sini dengan memakai rok mini kamu itu. Aku akan merobeknya," kata Tini sambil menatap penampilan Intan dengan sinis.
"Kamu ternyata takut juga jika papamu dipermalukan. Terimakasih karena kamu memberikan aku ide untuk itu. Aku...."
Satu pukulan membungkam mulut Intan untuk tidak berbicara lagi. Intan meringis kesakitan. Darah segar merembes dari bibirnya. Air matanya juga sudah terlihat turun di pipi Intan. Pukulan itu seperti angin mendarat di bibirnya. Tidak terlihat tapi terasa sakit.
"Itu karena kamu berani berbohong kepada mamaku. Aku akan memberikan beberapa pukulan lagi jika kamu berani berbicara. Silahkan keluar dari kantor ini dengan diam. Maka bibirmu akan selamat," kata Tini dingin. Tangannya mengisyaratkan untuk Intan keluar. Intan yang masih kesakitan menyambar tasnya dan mengeluarkan masker baru dari dalam tas tersebut.
"Aku bisa untuk tidak mempermalukan papamu disini. Tapi aku akan datang ke rumah Handoko dan membongkar semuanya," kata Intan dengan suara yang kurang jelas karena kesakitan. Tapi perkataannya masih bisa dimengerti oleh Sean dan Tini.
"Silahkan kalau kamu berani. Kedatangan kamu hanya akan menghancurkan diri kamu sendiri."
__ADS_1
"Aku akan ke polisi sekarang juga," gertak Intan lagi. Sean terkejut.
"Berani kamu membawa masalah ini ke polisi. Maka semua video video panas kamu akan tersebar. Bukan dengan papa mertuaku atau dengan Radit. Tapi dengan yang lain," gertak Sean tidak kalah menakutkan. Riak wajah Intan berubah. Intan memakai maskernya dan keluar dari ruangan itu.
"Kak, memang ada video panas Intan lainnya?" tanya Tini.
"Aku asal bicara saja sayang. Supaya dia tidak berani melaporkan kamu karena tonjokan di bibirnya itu," bisik Sean. Intan sudah setengah berlari meninggalkan mereka.
"Kak, menurut kamu. Apa dia berani ke rumah papa?"
"Aku rasa dia berani sayang. Apapun nanti yang terjadi di rumah. Aku mohon kamu kuat untuk menghadapi. Walau kemungkinan terburuk yang terjadi," kata Sean sambil memeluk bahu istrinya. Tini menganggukkan kepalanya. Ujian hidup yang dihadapinya sekarang ini bukan hanya menyakiti hati sang mama juga menyakiti mereka satu keluarga.
Di rumah Handoko. Handoko dan mama Mia sudah duduk bersebelahan sementara Intan sudah duduk di hadapan mereka. Tini dan Sean yang baru saja datang langsung mengambil tempat duduk di sofa panjang lainnnya. Rio juga duduk di sofa tunggal.
Walau duduk tegak, Handoko merasa gelisah dan berusaha bersikap seperti tidak apa apa. Sedangkan Intan yang memakai masker selalu mencuri pandang ke Handoko.
"Papa sebaiknya istirahat di kamar. Biar Rio yang mengantar papa," kata mama Mia sambil memegang lutut suaminya. Handoko menangkap tangan itu dan menggenggamnya. Tanpa disangka, Handoko melorot dan bersimpuh di hadapan mama Mia.
"Maafkan papa ma," kata Handoko sambil menciumi punggung tangan mama Mia. Mama Mia menegakkan kepalanya dan tidak menunduk untuk menatap suaminya.
"Kenapa kamu meminta maaf," kata mama Mia dingin.
"Aku sudah mengkhianati mama," kata Handoko pelan. Mama Mia menarik nafas panjang. Dia sama sekali tidak terkejut. Sikap tenang yang ditunjukkan mama Mia membujuk Sean dan Tini heran. Dibalik maskernya, Intan sudah tersenyum walau luka bibirnya masih berdenyut nyeri.
"Lalu, setelah kamu mengkhianati aku. Apa perlu maaf bagimu. Kenapa setelah sepuluh tahun kamu baru hari ini meminta maaf?" tanya Mama Mia. Mama Mia dan Rio sudah mengetahui semua tentang Handoko dan Intan. Di kantor tadi, mama Mia berusaha bersikap ramah ke Intan dan langsung mengajak Handoko pulang supaya pembicaraan mereka tidak diketahui oleh orang luar. Mama Mia masih berusaha keras untuk menjaga nama baik keluarganya terutama harga diri Handoko.
"Ma, mama mengetahui perselingkuhan papa selama ini?" tanya Tini heran. Dia belum membuka mulut tentang perselingkuhan itu.
"Aku baru tahu tiga bulan terakhir ini," kata mama Mia tentang.
"Mama, maafkan papa. Kenapa mama tidak berusaha menghentikan aku ma," kata Handoko.
"Kamu menyalahkan aku karena tidak langsung menghentikan perselingkuhan kamu. Aku lihat, kamu menikmati dan sudah terlanjur. Andaikan masih memulai untuk berselingkuh dan masih sekedar aku akan berusaha menghentikannya. Tapi ketika aku mengetahui perselingkuhan kamu dan sudah mencelupkan tongkatmu ke dia. Aku sudah muak dan jijik Handoko. Aku rasa kamu sudah bisa menebak keputusan aku setelah ini."
"Ma, aku mohon maaf ma. Ampuni aku. Aku akan menerima hukuman apapun asalkan kita tetap bersama."
Intan yabg awalnya tersenyum mendengar perkataan mama Mia kini menatap garang ke Handoko.
"Hukuman apa yang kamu minta," tanya mama Mia lagi.
"Apapun ma. Yang penting kita tidak bercerai," jawab Handoko penuh harap.
"Dan kamu Intan, apa yang ingin kamu katakan," tanya Mama Mia. Dia menyuruh Handoko untuk duduk kembali seperti semula.
"Maaf Tante. Yang menjadi selingkuhan om Handoko adalah aku," kata Intan. Dia tidak menunduk atau menampakkan wajah menyesal. Tatapannya lurus ke arah mama Mia.
"Buka masker kamu. Dan ulangi perkataan kamu. Aku tidak jelas mendengar apa yang kamu bilang," perintah mama Mia tegas. Intan membuka maskernya dan mengulangi perkataannya. Seketika mama Mia bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. Ingin rasanya mendaratkan pukulan di bibir tak berbentuk itu. Tapi belum waktunya.
" Kamu memang pelakor sejati Intan. Tidak tanggung tanggung. Setelah apa yang aku lakukan kepadamu. Kamu berani melakukan hal terlarang dengan suamiku. Lalu apa yang kamu inginkan," tanya mama Mia setelah berhenti tertawa.
__ADS_1
"Aku hamil Tante dan om Handoko harus bertanggungjawab."
"Aku yakin itu bukan benihku Intan," teriak Handoko.
"Bertanggung seperti apa yang kamu maksudkan," tanya Mama Mia setelah menyuruh Handoko diam.
"Om Handoko harus menikahi aku Tante."
"Kamu mau menjadi istri kedua?.
Intan terkejut. Menjadi istri kedua tidak pernah terpikir olehnya. Dia ingin Handoko bercerai dan menikahi dirinya. Sementara Handoko menunduk dan merasa lega. Perkataan istrinya seperti angin segar yang berarti mereka tidak berpisah.
"Kamu tidak menjawab. Berarti kamu menginginkan aku dan Handoko bercerai. Benar begitu?" tanya mama Mia lagi.
"Aku dan om Handoko saling mencintai Tante."
"Saling mencintai kamu bilang. Kalau Handoko mencintai kamu. Kenapa dia tidak bersedia bercerai dariku dan sepuluh tahun menjadikan kamu pelampiasannya. Apa kamu masih yakin menikah dengan suamiku."
"Bercerai atau tidak. Aku dan Handoko harus menikah. Anak ini butuh ayah biologisnya."
"Apa kamu yakin itu benih dari suamiku?" Intan mengangguk.
"Begini Intan. Kamu akan terkejut setelah mendengar penjelasan aku nantinya. Aku harap kamu tidak berubah pikiran setelah mendengar penjelasan aku," kata mama Mia tenang. Yang lain di ruangan itu masih setia untuk menutup mulut mendengar pembicaraan dua wanita itu.
"Handoko tidak memiliki apa apa lagi. Rumah yang kamu tempati termasuk saham yang ada di perusahaan. Semua aset atas namanya sudah beralih nama menjadi nama ketiga putra putrinya. Jika kamu menikah dengan Handoko. Kalian harus memulai dari nol. Handoko bisa bekerja di kantor yang tadi kamu datangi. Perusahaan itu sudah menjadi milik dari putra keduaku Rendy. Sedangkan Rio sudah memimpin perusahaannya sendiri."
Semua orang terkejut kecuali Rio. Dia dan mama Mia sudah berusaha keras untuk mengalihkan semua aset dengan mengecoh sang papa untuk membubuhkan tanda tangan di berkas yang berkaitan dengan pengalihan nama. Sejak mengetahui perselingkuhan itu dari bodyguard sang papa. Dengan diam diam mereka berencana memiskinkan Handoko.
"Terimakasih mama, mama sudah melakukan hal yang tepat," kata Handoko senang. Dia tidak marah sama sekali dengan penjelasan yang diberikan oleh istrinya. Intan meradang. Wajahnya memerah karena marah. Dia tidak menyangka jika usahanya yang maksimal ternyata sia sia.
"Kalau begitu. Aku minta uang bulanan untuk janin ini. Bagaimanapun ini adalah benih om Handoko yang berarti saudara Rio, Rendy dan Anggun. Kalau tidak aku akan membocorkan perselingkuhan ini. Aku masih mempunyai bukti lain dari perselingkuhan om Handoko dengan diriku," kata Intan.
"Apapun yang ada di rahim kamu itu Intan. Itu bukan benih Handoko. Handoko sudah melakukan vasektomi sebelum kamu datang ke rumah ini," kata Mama Mia tenang. Lagi lagi wajah wajah terkejut terlihat di ruangan itu. Handoko yang awalnya terkejut kini sudah mengingat vasektomi yang dia lakukan. Mereka mengambil keputusan itu beberapa tahun silam karena mama Mia tidak cocok untuk memakai kontrasepsi apapun.
Mama Mia mendekat ke Intan.
Plak. Plak.
Tamparan bertubi tubi di wajah sang pelakor. Dari tadi menahan marah ternyata tidak tekendali juga. Mama Mia menyimpulkan jika Intan hanya menginginkan harta mereka.
Intan menangis histeris. Bibirnya semakin tidak berbentuk dan kedua pipi sudah memerah karena mendapat tamparan.
"Kebodohanmu yang terbesar karena kamu berani menampakkan dirimu di hadapanku hari ini. Rumahku adalah tempat berlindung pertama kali kamu menginjakkan kaki di kota ini. Dan rumah terakhir yang kamu singgahi di kota ini adalah rumahku. Orang orang kepercayaan aku akan membawa kamu pulang ke kampung dengan menyebarkan semua aibmu. Biarlah setelah ini cibiran masyarakat kampung yang akan menghukum kamu," kata mama Mia marah. Mama Mia memanggil orang orang kepercayaannya dan memerintahkan untuk menyeret Intan untuk dipulangkan ke kampung. Sebelumnya mama Mia sudah mengambil ponsel dan dompet Intan. Intan datang ke kota dengan tidak membawa apa-apa. Pulang ke kampung dengan membawa aib.
"Dan kamu Handoko. Aku tidak akan bercerai dari kamu. Tetapi sebagai gantinya kamu akan tinggal di paviliun kecil yang baru selesai dibangun. Kamu tidak bisa masuk ke rumah ini. Itu hukuman bagimu. Kamu hanya bisa melihat kebahagiaan aku bersama anak anak tanpa bisa merasakannya. Jika kamu mencoba untuk melawan. Maka siap siap video panas kamu dan Intan beredar. Aku sudah memasang Cctv di rumah simpanan kamu itu tanpa sepengetahuan kalian berdua. Apapun kegiatan di sana sudah tersimpan dengan aman," kata mama Mia. Sean dan Tini kembali terkejut.
"Sean dan Tini. Mama tahu kamu sedih nak. Jadikan pengalaman rumah tangga mama menjadi pelajaran bagi kalian," kata mama Mia. Sean dan Tini mengangguk. Mereka berdua lega dengan keputusan sang mama.
Episode episode mendekati ending. Untuk selanjutnya episode tentang kebahagiaan tiga pasangan ini. Sebagai karya selanjutnya setelah novel ini tamat. Author sudah memulai karya baru yang berjudul Suami Rahasia. Jika berkenan silahkan mampir di sana. Terima kasih para pembacaku yang setia.
__ADS_1