Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Sikap Agnes


__ADS_3

Setelah mengambil barang barangnya dari kost, Sinta Pulang ke rumah Andre. Banyak pertanyaan dari teman teman kostnya ketika Sinta pamit pindah. Teman temannya merasa kehilangan. Sinta anak yang baik dan mudah bergaul. Sinta juga ringan tangan membantu teman temannya. Di kost bisa dikatakan Sinta yang paling rajin. Menyapu halaman dan juga membersihkan kamar mandi.


Dengan mengendarai angkutan umum, Sinta sampai di rumah suaminya. Sinta mendorong gerbang dan menutupnya kembali. Dengan tas dan kardus berisikan pakaian dan buku, Sinta memasuki pekarangan rumah. Sinta mengambil kunci di bawah keset kaki dan membuka pintu rumah. Sejenak Sinta berdiri mengamati keadaan rumah. Ini kedua kalinya dia menginjakkan kaki di rumah suaminya. Dan sebentar lagi rumah ini akan berganti kepemilikan atas nama Sinta seperti yang dijanjikan Andre.


Rumah mungil yang terdiri dari tiga kamar tidur, ruang tamu dan dapur dan juga pekarangan yang lumayan luas. Rumah seperti inilah impian Sinta. Dulu Sinta bermimpi untuk membeli rumah seperti ini untuk orangtuanya kelak setelah dia bekerja. Tapi tidak di sangka hanya dengan bersedia menjadi istri simpanan Andre Sinta akan mendapatkan rumah impiannya.


Sinta menghela nafas, kemudian masuk ke kamar utama. Kamar yang waktu itu ditempatinya bersama Andre. Sinta berniat membersihkan rumah dulu.


Sore menjelang, tanda tanda kehadiran Andre juga belum ada. Sinta sudah mandi. Rumah juga sudah bersih bersinar. Untuk masak Sinta ragu, karena sejujurnya Sinta tidak pandai memasak. Sambil menunggu Andre Sinta mengerjakan tugas tugas kuliahnya. Sampai malam tiba Andre juga tak kunjung muncul.


Sementara di tempat lain, Andre menikmati kebersamaannya bersama Cindy. Setelah menonton Andre membawa Cindy ke rumah orangtuanya. Dengan percaya diri Andre membawa Cindy ke ruang keluarga bukan ke ruang tamu karena bagi Andre sebentar lagi Cindy akan menjadi bagian keluarganya.


"Duduk sayang!. Tunggu sebentar Mas akan panggil Mama Papa."


Andre sedikit berlari menaiki tangga, hatinya penuh kebahagian, dia tidak sabar untuk memberitahu kedua orangtuanya. Di depan kamar Mama Papa Andre menggedor pintu dengan kencang.


" Mama...Papa buka pintunya Ma!"


Ceklek. Pintu terbuka.


"Ada apa sih Dre?. Ganggu aja tau gak?" kata Mama Ningsih sebel.


"Emang Mama ngapain?. Papa mana ma?"


"Tuh masih pake baju," kata Mama Ningsih memonyongkan bibir dan mengarahkannya ke arah kamar. Andre tersenyum paham apa yang terjadi sebelum dia mengetuk pintu.


"Udah Ma.. Lanjutin aja! sepuluh menit lagi Andre tunggu di ruang keluarga" kata Andre lagi sambil tersenyum geli.


"Anak kurang ajar...emang ada apa Dre?" tanya Papa Rahmat yang sudah di depan pintu. Andre terkekeh dan masih menjahili orangtuanya.


"Udah tua juga. Cucu udah segudang masih aja bermesraan," kata Andre tidak mau kalah.


"Segudang katamu?. Cucu masih dua. Kamu bilang segudang?. Papa dulu seumuran mu udah punya kamu dan kedua kakakmu. Jangankan anak, calon istri aja belum ada. Cepatlah nikah biar papa punya cucu segudang seperti yang kamu bilang itu. Jangan sampai adikmu yang bau kencur itu duluan nikah." Papa Rahmat mengomel melihat tingkah Andre yang suka menjahilinya.


"Makanya itu Pa... kita ke ruang tamu calon istri Andre sudah menunggu sedari tadi," kata Andre sambil menggandeng tangan kedua orangtuanya. Mama Ningsih dan Papa Andre saling berpandangan dan tersenyum sambil menuruni tangga. Ini yang mereka tunggu selama ini. Andre menikah. Usia Andre yang sudah tiga puluh membuat mereka sedikit risau yang tidak kunjung menikah.


Berbeda dengan Bayu dan Andi. Bayu menikah pas umur 24 tahun dan Andi umur 25 tahun. Dari kedua anaknya Mama Ningsih dan Papa Rahmat mempunyai dua orang cucu laki laki.

__ADS_1


Mama Ningsih dan Papa Rahmat sedikit terkejut melihat Cindy di ruang keluarga itu. Kedua orang tua itu berusaha menutupi keterkejutannya. Dan mereka juga menyapa Cindy seperti biasa yang mereka lakukan. Sejak lamaran mereka ditolak ini pertama kalinya mereka berjumpa.


"Cindy,, Kamu disini nak?" tanya mama Ningsih lembut dan duduk berdampingan dengan papa Rahmat. Cindy gugup, dengan penolakannya kemarin membuatnya tidak enak hati dan takut ditolak. Sedangkan Papa Rahmat hanya diam saja menunggu penjelasan Andre.


"Iya Tante."


"Agnes, Kemari!" panggil Mama Ningsih pada putri bungsunya yang kebetulan keluar dari dapur. Agnes menurut dan duduk di sofa tunggal. Seperti orang tuanya Agnes juga terkejut melihat Cindy.


"Mbak Cindy disini juga, ada angin apa mbak bawa ke mari?" tanya Agnes terkesan hanya basa basi. Cindy tersenyum dan melirik Andre kemudian menunduk.


"Andre, Jelaskan!. Papa Rahmat yang diam sedari tadi berbicara dan nadanya sangat tegas.


"Pa...Ma...Cindy calon istri Andre..."


"Bagaimana bisa kak?. Mbak Cindy kan sudah menolak lamaran mu waktu itu?" kata Agnes memotong perkataan Andre. Papa Rahmat mengisyaratkan Agnes supaya diam.


"Biarkan kakakmu menjelaskan Agnes."


"Pa, Cindy menerimaku, Cindy memiliki perasaan yang sama denganku Pa, Cindy menyesal menolak lamaran ku waktu itu.Dan Cindy juga sudah memutuskan kekasihnya itu."


"Iya om."


"Kami bisa apa?. Kalau kalian saling mencintai. Kalian sudah dewasa sudah sepantasnya memikirkan pernikahan."


"Iya pa,, saya tergantung kesiapan Cindy aja Pa."


"Bagaimana Cindy? Apakah orang tuamu juga tahu akan keputusanmu ini?.


"Belum Om, tapi akan segera saya beritahu. Tentang pernikahan saya kira tidak perlu terburu buru. Kalau mas Andre bersedia saya kira tahun depan saja om." Cindy berkata dengan perasaan lega dari tadi takut ditolak tapi nyatanya Cindy diterima.


"Kak, ikut aku bentar!" kata Agnes sambil menarik tangan Andre. Sedari tadi Agnes diam bukan berarti dia menerima Cindy jadi kakak iparnya. Agnes tidak suka dengan sikap Cindy. Dulu tanpa berpikir panjang menolak Andre sekarang dengan seenaknya datang dan katanya mencintai Andre.


Agnes membawa Andre ke kamarnya. Takut pembicaraan mereka terdengar oleh Cindy.


"Apa sih bocah?. Pake tarik tangan segala. Sakit nih," kata Andre sambil duduk ditepi ranjang Agnes.


"Kak,, apa kakak ga mikir kenapa Cindy tiba tiba datang ke kakak?"

__ADS_1


"Cindy juga cinta sama kakak Agnes, selama ini dia tidak menyadarinya."


"Terus kakak percaya?. Kalau aku ga percaya kak. Dulu dia menolak kakak. Alasannya punya kekasih dan saling mencintai. Dan sekarang dengan tidak tau malu datang ke kakak."


"Anak kecil tau apa kamu?.


Masih dengan santai dan mengacak rambut Agnes Andre berkata.


"Aku bukan anak kecil lagi kak. Aku sudah 18 tahun dan kuliah semester dua".


"Terus? kalau sudah 18 tahun, paling juga masih ngompol," kata Andre bercanda.


"Kak, aku serius. Seharusnya Cindy malu lihat kakak. Kakak itu tampan mapan pasti banyak gadis gadis yang jauh lebih baik dari Cindy yang ngantri untuk kakak. Aku yakin dia punya alasan tersendiri tiba tiba datang ke kakak."


"Tapi yang kucinta hanya Cindy. Sudahlah dek, kakak kebawah dulu mau antar Cindy pulang."


"Kak, apa hanya Cindy yang ada di pikiran kakak. Segitu banyaknya mahasiswi cantik di kampus yang setiap hari kakak jumpai. Apa salah satu dari mereka tidak ada yang membuat kakak tertarik?. Kak, percaya padaku!. Aku tidak suka Cindy."


Deg.


Perkataan Agnes membuat Andre ingat akan Sinta. Satu harian bersama Cindy, tak sedikitpun terlintas di pikirannya tentang Sinta. Perkataan Agnes seakan mengingat kan Andre keberadaan Sinta. Bahkan tanpa ketertarikan Andre sudah mengikat Sinta dengan pernikahan siri. Walaupun Tidak ada rasa bersalah di hati Andre membiarkan Sinta menunggunya tapi Andre ingin cepat cepat pulang. Andre keluar dari kamar Agnes.


"Pa, Ma. Aku sama Cindy pamit dulu ya!. Aku mau antar Cindy," kata Andre ketika sudah di ruang keluarga.


"Aku pulang sendiri aja mas, mobil Mas kan masih di kampus bagaimana nanti mau balik?"


" O iya Mas lupa. Ya udah, kamu hati hati nyetir ya!.


"Andre, kamu nginap di sini saja malam ini ya!" kata Mama Ningsih.


"Ga Ma. Aku balik aja ke apartemen."


"Mas punya apa Apartemen? Ya udah ayo ku antar sekalian," ajak Cindy sambil berdiri. Matanya berbinar.


"Jarak rumahmu dengan Apartemenku berlawanan arah. Ini udah jam sepuluh malam. Mas naik taksi aja. Kamu pulang aja takut ada begal."


Andre berdiri dan pamit kepada kedua orangtuanya. Sesampai di depan mobil, layaknya seorang kekasih Andre membukakan pintu untuk Cindy. Andre mengusap rambut Cindy. Cindy pun menjalankan mobilnya keluar dari gerbang rumah orang tua Andre.

__ADS_1


__ADS_2