
"Cici tunggu," panggil Tini sambil berlari. Bukan masuk ke ruangan. Cici masuk ke kamar mandi. Melihat Tini masuk ke kamar mandi. Tini duduk di bangku panjang dekat kamar mandi tersebut. Tini menarik nafas panjang. Tini menduga, Cici masuk ke kamar mandi pasti karena menangis.
Dengan sabar, Tini menunggu Cici keluar dari kamar mandi. Cukup lama Cici tidak muncul muncul padahal jam pelajaran sudah mulai. Tini tidak perduli. Dia tetap menunggu Cici. Baginya yang terpenting saat ini adalah menjelaskan ke Cici bahwa antara dirinya dengan Sean tidak ada hubungan istimewa.
Tini menarik nafas lega, Cici sudah keluar dari kamar mandi dengan menunduk. Dia juga menyadari untuk masuk ke dalam kelas sudah terlambat. Tetapi dia tidak menyadari bahwa Tini masih menunggunya di bangku panjang tersebut. Cici pun ingin cepat cepat mau masuk ke dalam kelas. Tetapi langkahnya terhenti ketika Tini mencekal tangannya.
"Cici, maaf. Aku dan kak Sean tidak ada hubungan istimewa. Ciuman itu tidak unsur kesengajaan. Aku hanya berusaha mengambil headset dari tangan kak Sean, tapi entah mengapa yang terjadi justru bibirnya menyentuh bibir aku," kata Tini sambil berjalan. Karena Cici tidak mau berhenti.
"Tin, nanti saja kita bicarakan hal itu. Kita sudah terlambat. Buruan masuk ke dalam kelas," jawab Cici sambil menarik tangan Tini. Tini tidak berkata kata lagi. Karena ruangan kelas mereka tinggal beberapa langkah lagi. Dan dosen sudah terlihat berdiri di depan kelas.
Cici mengetuk pintu. Sang dosen melirik jam tangannya kemudian menganggukkan kepala pertanda mengijinkan Cici dan Tini masuk. Waktu tidak terlalu terlambat bagi kedua sahabat itu untuk masuk ke ruangan. Sinta, Indah dan Elsa sudah duduk berjejer dan di samping mereka sudah ada tersedia dua bangku kosong. Tini dan Cici tahu bahwa bangku itu untuk mereka. Karena memang seperti itulah biasanya. Keenam sahabat itu pasti selalu duduk berdekatan.
Sinta dan Cici tidak konsentrasi mengikuti pelajaran kali ini. Sinta masih memikirkan keberadaan Vina sedangkan Tini selain memikirkan keberadaan Vina juga memikirkan Cici. Tini berkali kali menoleh ke Cici. Memastikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja.
Tini kembali menarik nafas lega. Cici ternyata bisa konsentrasi mengikuti pelajaran kali ini. Terbukti dari beberapa pertanyaan dosen yang bisa dijawab Cici. Tidak seperti dirinya, jika di tanya tentang apa yang sudah diterangkan dosen, Tini pasti tidak bisa menjawab apapun. Karena apa yang diterangkan dosen sama sekali tidak masuk ke otaknya.
Pelajaran itu akhirnya usai. Hari ini Meraka hanya ada satu pelajaran. Cici bersiap untuk pulang tetapi Tini secepat mungkin menarik tangan Cici ke tempat yang sepi. Supaya mahasiswa lain tidak mendengar pembicaraan mereka terutama Indah dan Elsa. Sinta yang tahu tujuan Tini, mengajak indah dan Elsa untuk duduk di dekat kolam menunggu Tini dan Cici.
"Apalagi sih Tini, aku harus segera pulang. Aku ada janji penting hari ini," kata Cici sambil melepaskan tangan Tini dari pergelangan tangannya.
"Cici, aku hanya ingin meluruskan bahwa aku tidak ada hubungan istimewa dengan kak Sean," jawab Tini sambil menatap wajah Cici. Tini berharap Cici mau mempercayainya.
"Terus hubungannya sama aku apa?. Kalau kalian punya hubungan istimewa juga tidak apa apa," kata Cici ketus. Tini semakin yakin. Bahwa Cici benar benar sakit hati karena mendengar perkataannya tadi pagi.
"Cici, aku minta maaf. Aku janji akan menjaga jarak dari kak Sean demi hubungan kalian. Tapi untuk nanti siang, tolong jangan berpikiran macam macam. Aku bersedia ikut dengannya hanya untuk mencari keberadaan Vina," kata Tini dengan wajah memelas. Menghadapi Cici jauh berbeda sikap Tini dibandingkan menghadapi Andre dan Radit.
"Sudahlah Tini, aku harus segera pergi. Aku sudah ditunggu," jawab Cici sambil mengambil ponselnya dari tas. Ponselnya berdering dan tanpa pamit ke Tini, Cici melangkah terburu buru. Tini melayangkan tinjunya ke udara. Dia merasa tidak berhasil meyakinkan Tini. Tini mengikuti langkah Cici yang terus berlari meninggalkannya.
Berbeda dengan Cici yang melangkah terburu buru. Tini justru melangkah dengan lesu. Dia tahu Sinta dan yang lain sudah menunggu di kolam. Dia juga menghampiri tiga sahabatnya itu. Sinta yang seakan tahu masalah Tini hanya bisa mengelus pundak Tini ketika gadis itu sudah duduk di dekatnya.
Elsa dan indah akhirnya pergi juga. Sedangkan Sinta selain menunggu Andre untuk pulang bersama. Sinta juga akan menemani Tini menunggu Sean. Mereka masih betah duduk di kolam itu.
"Tini, bagaimana ceritanya kak Sean sampai bisa mencium kamu," tanya Sinta hati hati. Ditanya tentang ciuman itu, Tini kembali merasa malu. Apalagi rasa nikmat dari ciuman itu. Membuat rona wajah Tini bersemu merah.
"Sebenarnya itu bukan sengaja Sinta, tapi walau pun tidak sengaja tetap saja aku kesal," jawab Tini sambil menunduk. Sinta tersenyum melihat tingkah Tini yang malu malu. Tini tidak bercerita bahwa ciuman tidak sengaja itu berubah menjadi ciuman panas.
"Aku tahu kamu menyukai kak Sean," kata Sinta sambil tersenyum. Tini menatap Sinta tidak percaya. Bagaimana bisa sahabatnya tahu tentang perasaannya ke Sean. Sementara dia sudah berusaha keras untuk menyembunyikannya. Tini bahkan merasa berhasil menyembunyikan perasaannya dari siapa pun termasuk Sean.
"Walaupun kami bercanda dalam mengungkapkan perasaan kamu tapi aku bisa membedakannya. Kak Sean dan yang lain mungkin bisa kamu bohongi. Tapi aku tidak. Sudah lama aku ingin menanyakan ini kepada kamu. Tetapi melihat kak Sean semakin dekat ke Cici. Aku berusaha untuk tidak bertanya. Tapi perkataan kamu tadi memaksa aku untuk bertanya Tini,"
"Kamu memang sahabat terbaikku Sinta, tapi apapun yang kamu tahu tentang perasaan aku. Tolong kamu sembunyikan. Aku tidak ingin Cici terluka karena itu. Bagaimanapun mereka makin hari makin dekat. Dan aku juga akan menjaga jarak dari kak Sean. Untuk nanti siang, itu aku lakukan semata mata demi mencari keberadaan Vina," kata Tini sambil memeluk Sinta. Dalam hati Sinta mengagumi sikap berkorban Tini dalam bersahabat. Dia rela meredam perasaannya demi sahabat Cici.
"Tini, asal kamu tahu. Kak Sean tidak pernah tertarik kepada aku seperti laki laki ke wanita yang jatuh cinta. Perhatian yang pernah aku dapat dari dia itu karena sudah lama dia pernah melihat aku dan mas Andre."
__ADS_1
Tini mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Sinta. Pertama kali bertemu dengan Sean. Tini dan yang lain beranggapan bahwa Sean menyukai Sinta.
"Maksud kamu Sinta?" tanya Tini heran.
"Kak Sean pernah melihat secara tidak sengaja aku dan mas Andre. Ketika pertama kali bertemu di rumah sakit, dia mengetahui status aku dari Agnes dan mengantar aku pulang. Mulai saat itulah dia merasa curiga tentang aku dan mas Andre. Dia dekat dengan aku murni hanya untuk membantu dan menganggap aku seperti adik kandungnya,"
"Aku kira selama ini, kak Sean sangat menyukai kamu,"
"Semua tindakan dan perhatiannya hanya untuk menyadarkan mas Andre. Aku juga pernah tidak sengaja melihat sebuah tato di lengan kanannya. Nanti kamu bisa perhatikan. Aku rasa itu inisial nama kamu,"
"Ah mana mungkin itu inisial nama aku Sinta, kalau itu inisial nama aku sudah pasti dia ada rasa terhadap aku. Kamu bisa lihat perhatiannya ke Cici. Aku rasa kak Sean memang benar benar menyukai Cici. Dan aku tidak akan menganggu itu," jawab Tini tidak percaya. Tapi dalam hati Tini masih berharap apa yang dikatakan Sinta itu benar.
Cukup lama Sinta dan Tini bercerita di tepi kolam itu. Topik pembicaraan mereka hanya seputar Sean. Walau bibir Tini mengatakan akan menjaga jarak dengan Sean. Tetap saja Tini senang walau hanya membicarakan tentang Sean.
"Tini, dari tadi kamu kok bersemangat sekali membahas tentang Kak Sean. Jangan sampai kamu lupa akan janji kamu tadi. Menjaga jarak dari kak Sean," kata Sinta membuat Tini menjadi malu. Dia ingin membantah perkataan Sinta, tetapi urung karena Andre sudah berdiri dekat mereka dan mobil Sean juga terlihat masuk ke dalam kampus.
"Ya ampun, tidak terasa ya Tini sudah jam satu," kata Sinta melihat jam tangannya. Sean juga terlihat sudah berjalan mendekat ke kolam. Penampilannya tidak seformal tadi pagi.
"Itu Sean Tini, kalian langsung jalan saja atau makan siang dengan kami dulu?" tanya Andre sambil menunjuk Sean. Tini terpana dengan penampilan Sean kali ini yang terlihat sangat santai. Tidak seperti biasanya selalu berpakaian formal jika mereka bertemu.
"Kalau aku sih kak langsung jalan saja. Aku masih kenyang. Dari tadi kami sudah mengemil di sini," jawab Tini. Matanya masih sesekali mencuri pandang ke arah Sean yang semakin mendekat.
"Udah siap?. Kita langsung jalan?" tanya Sean sambil menatap Tini. Sean tersenyum Sedangkan Tini gugup dan malu. Sinta dan Andre sudah mengetahui mereka berciuman tanpa status.
"Belum kak, aku masih mau menurunkan bendera itu dulu," kata Tini santai setelah berhasil menguasai kegugupannya. Dia menunjuk tiang bendera yang terletak di depan perpustakaannya.
"Aku mau menggantikan bendera itu dengan kak Sean. Kalian tidak lihat. Bajunya merah dan celana putih. Sama seperti bendera. Alangkah baiknya jika kak Sean gantian sebentar dengan bendera itu," jawab Tini tenang. Penampilan Sean memang terlihat keren hari ini. Tetapi bukan Tini namanya jika tidak melihat sesuatu itu dari segi yang berbeda. Andre dan Sinta tertawa terbahak-bahak. Dan Sean juga. Dia tidak marah sama sekali karena candaan Tini. Yang ada dia merasa terhibur. Sean senang. Tini sudah kembali bercanda.
"Aku dukung kamu Tini, itu bisa sebagai hukuman karena telah mencium kamu sembarangan," jawab Andre masih tertawa. Tini menginjak sepatu Andre karena merasa malu karena ciuman itu kembali diungkit.
"Tidak apa apa, aku siap menerima hukuman apapun yang penting bisa selalu mencium Tini," jawab Sean santai. Tini terdiam tetapi melotot ke Sean. Sedangkan Sinta dan Andre semakin tidak bisa mengartikan perasaan Sean kepada siapa sebenarnya. Baik ke Tini dan ke Cici. Sean semakin berani.
"Kalau bercanda, jangan sembarangan kak Sean," kata Tini kemudian. Dari nadanya bicaranya Tini marah dan kesal. Tini beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah mobil Sean yang terparkir.
Setelah Sean berbicara sebentar ke Andre dan Sinta. Akhirnya Sean menyusul Tini ke parkiran. Dia bahkan membukakan pintu mobil untuk Tini.
"Ini yang terakhir, aku akan satu mobil dengan kamu kak Sean. Dan ini juga terpaksa. Kalau bukan karena Vina. Aku tidak mau," kata Tini marah. Mobil Sean sudah meninggalkan area kampus.
"Kenapa?" tanya Sean tenang.
"Aku tidak akan memberitahu alasannya. Yang pasti aku tidak akan bersedia kapanpun satu mobil dengan kamu,"
"Jangan cepat mengatakan hal itu. Bisa bisa kamu jadi termakan cakap. Dan malah makin sering bersama aku di mobil ini," jawab Sean tenang. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Tini.
__ADS_1
"Apa kamu takut kejadian semalam terulang?. Seperti kamu juga menikmatinya walau cuma sebentar. Kita bisa mengulangnya dengan durasi yang lama jika kamu mau."
Tini melotot mendengar perkataan Sean.
"Apa kak Sean mengira aku serendah itu?"
"Tidak. Tentu saja tidak. Aku tidak merendahkan kamu. Aku bahkan tahu bahwa itu adalah ciuman pertama kamu."
"Tapi perkataan kamu seolah olah merendahkan aku."
"Jangan pernah berpikiran seperti itu Tini," kata Sean tenang. Dia membelokkan setirnya ke arah supermarket.
"Apa kamu mau membeli sesuatu. Aku mau masuk ke sana sebentar," kata Sean setelah mobil berhenti.Tini hanya menggeleng kan kepalanya.
"Atau mau menitip sesuatu," tanya Sean lagi. Tini kembali menggelengkan kepalanya. Sean menatap wajah Tini lekat. Tini semakin grogi karena tatapan Sean.
"Tini, aku minta maaf. Jika kejadian semalam melukai hati kamu. Sungguh aku tidak ada niat merendahkan kamu," kata Sean pelan. Tini tidak bergeming sama sekali. Sean meraih tangan Tini.
"Tini, aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu," kata Sean sambil mengecup punggung tangan Tini. Tini mendongak tidak percaya. Jantungnya kembali berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Baru hitungan jam dia berjanji ke Cici dan Sinta akan menjaga jarak dari Sean. Tapi detik ini dia mendengar pernyataan cinta Sean untuknya. Tini kembali menunduk.
"Aku berharap kamu bertanya mengapa aku melakukan itu. Yang ada kamu menendang kaki ku dengan keras dan ingin menggantung aku di tiang bendera. Aku serius Tini. Di setiap candaan kamu. Aku tahu kamu serius," kata Sean sambil menatap Tini dari samping. Posisi Tini yang duduk menatap ke depan dan Sean yang menyamping.
"Kak jangan begini. Aku tidak ingin menyakiti Cici. Dia sudah berharap banyak kepada kakak," kata Tini pelan dan menunduk. Sean tertawa.
"Berharap bagaimana maksud kamu. Aku akan selalu perhatian kepadanya dan akan selalu begitu," kata Sean sambil terkekeh. Tini menarik tangannya kasar dari genggaman Sean. Tini merasa dipermainkan.
"Tini, dengar dulu. Kamu tahu nama panjang Cici?" tanya Sean. Tini mengangguk. Sean mengeluarkan dompetnya dan mengambil KTP dari sana.
"Cici itu adik sepupu aku Tini. Nih lihat KTP aku. Sanjaya itu adalah nama kakek kami," kata Sean sambil menunjukkan Ktpnya. Tini melihat KTP tersebut dan benar nama Sanjaya tersemat di belakang nama Sean. Tini tahu bahwa nama Cici juga ada embel-embel Sanjaya. Tini tidak pernah menduga sebelumnya bahwa Sean dan Cici ternyata saudara sepupu.
"Jadi bagaimana?. Cinta aku dibalas atau tidak nih," kata Sean sambil tersenyum. Tini meliriknya sekilas kemudian menunduk.
"Kalau tidak dibalas. Aku benar benar tergantung menggantikan bendera di kampus kamu,"
"Jangan kak," kata Tini cepat. Sean kembali tersenyum.
"Jadi bagaimana?"
"I love you too Kak Sean," jawab Tini sambil menunduk. Wajahnya masih memerah karena malu harus mengatakan balasan cinta Sean. Selain itu detak jantungnya juga tidak bisa diajak kompromi untuk berdetak normal. Sean meraih tubuh Tini dan memeluknya erat.
"Jangan pernah mengajari laki laki bodoh itu berenang," kata Sean. Tini tahu siapa yang dimaksud Sean.
"Tapi aku sudah janji kak,"
__ADS_1
"Aku akan mencari seseorang yang bisa mengajari."
"Baiklah kak,"