
Radit sengaja bangun cepat pagi ini. Pikirannya tidak fokus untuk hal hal lain kecuali kepada Intan. Bahkan untuk mengisi perutnya dia lupa. Dia keluar dari rumah tanpa pamit kepadanya orang tuanya. Dia masih kesal terhadap mama Anisa dan papa Jack yang mendesak Radit untuk segera meninggalkan Intan.
Tujuan pertama Radit pagi ini adalah rumah Intan. Terlalu pagi jika langsung ke kampus. Dan memang itulah tujuannya bangun cepat dan keluar dari rumah. Radit ingin menjemput Intan untuk pergi bersama ke kampus. Tapi niat tulus Radit harus berakhir dengan kecewa. Sesampai di rumah Intan. Radit mendapati rumah itu tertutup. Tidak ada tanda tanda jika Intan berada di rumah.
Radit akhirnya kembali memacu motornya setelah berkali-kali menghubungi Intan. Perasaannya sudah tidak enak karena panggilannya selalu ditolak. Radit sampai rela tidak serapan terlebih dahulu supaya cepat bertemu dengan Intan. Usahanya sia sia. Radit memilih menunggu Intan di kampus.
Radit duduk di atas motornya di parkiran itu.
Matanya mengawasi ke arah gerbang kampus. Hingga beberapa menit kemudian, sebuah motor melaju kencang datang dari gerbang. Sepasang muda mudi yang ada di atas motor itu menarik perhatian Radit. Ketika sang wanita membuka helm. Radit terkejut melihat wanita itu. Wanita yang sedang ditunggunya memeluk mesra pria lain di atas motor. Radit cemburu. Radit merasakan darahnya mendidih melihat pemandangan itu. Radit mendekat dan menatap Intan tajam. Wanita itu tidak perduli. Bahkan dengan mesra dan manja. Intan tertawa bersama pria yang bersamanya tadi. Radit tidak mengenal pria itu. Tapi dari cara mereka berinteraksi, Radit menyimpulkan jika antara Intan dan pria itu ada hubungan istimewa.
"Intan," panggil Radit. Jarak mereka kini hanya sekitar tiga meter. Intan menoleh tetapi menatap Radit dengan sinis. Dia memandang Radit sangat rendah.
"Apa maksud semua ini?" tanya Radit marah. Dia berharap Intan mengatakan jika antara dia dan pria itu hanya berteman biasa. Tapi diluar dugaan. Bukan menjawab, Intan bahkan berbalik hendak meninggalkan Radit. Radit mengejar Intan dan memegang tangan wanita itu. Intan menghempaskan tangan Radit kemudian mendorong tubuh Radit hingga hampir terjatuh. Perbuatan Intan itu mengundang perhatian mahasiswa lain. Hingga hanya berselang beberapa menit. Mereka sudah dikelilingi para mahasiswa.
Radit malu. Dia memanggil nama Intan pelan. Intan memandang Radit dengan tajam. Sorot matanya memancarkan kebencian. Sedangkan pria yang bersama Intan tadi sepertinya bersiap siaga menghadapi tindakan Radit.
"Aku tidak menyangka kamu seperti ini Intan. Aku menuruti semua kata dan permintaan kamu. Hanya karena aku ikut pulang dengan mamaku. Kamu langsung menggandeng pria lain," kata Radit kecewa.
"Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu," bentak Intan marah. Radit merasa sangat malu dan marah mendengar perkataan Intan. Dia merasa seperti orang mabuk yang mengigau. Radit memandang sekeliling. Berpuluh pasang mata menatap dirinya kasihan. Sebagian mahasiswa memang sudah mengetahui hubungan mereka.
"Kamu lupa?" tanya Radit sambil terkekeh mengejek. Kalau tidak mereka saat ini di area kampus. Radit ingin mengingatkan Intan akan semua yang mereka lakukan.
"Atau kamu pura pura lupa?" tanya Radit lagi. Bukannya takut belangnya terbongkar. Intan malah menaikkan dagunya melihat Radit. Di saat inilah Radit sadar. Apa yang dikatakan oleh mamanya ternyata benar. Radit membalas menatap Intan tajam. Intan mendekat ke Radit hingga jarak mereka beberapa centi.
"Kamu kira kamu siapa?" bisik Intan pelan.
"Aku baru sadar. Ternyata kamu tidak tulus mencintaiku," kata Radit. Hampir semua di sekitar mereka mendengar perkataan Radit. Mimik Intan berubah. Dia mendorong bahu Radit.
__ADS_1
"Cuiihh. Kamu kira kamu siapa yang harus dicintai dengan tulus," jawab Intan sombong. Dia membuang ludahnya dan ludah itu mendarat sempurna di tangan Radit. Radit melihat ludah itu jijik dan mendekat ke Intan. Dia menempelkan tangannya yang terkena ludah itu ke baju Intan. Kemudian Radit pergi dari kerumunan itu dengan malu. Radit bisa mendengar para mahasiswa lain yang menghujat Intan. Tapi dia juga mendengar kata kata kasihan yang terlontar untuk dirinya. Radit malu, terhina, terbodoh dan dibohongi. Radit merasakan dunianya hancur.
Tidak ada teman berbagi di kampus itu. Dia baru semester satu itupun masih hitungan hampir dua bulan. Ujian tengah semester saja belum dilalui tapi Radit sekarang menjalani ujian cinta. Ujian cinta itu tidak tanggung tanggung. Tidak hanya sekedar salah paham sebagai mana masalah percintaan anak muda jaman sekarang. Tapi ujian cinta Radit sungguh berada di level atas. Penghianatan dan harga dirinya tercoreng. Penghinaan dan penilaian secara bersamaan dari wanita yang dibelanya. Wanita yang dicintainya itu benar benar bukan wanita baik baik. Radit terpukul. Radit merasakan patah hati yang sangat dalam. Radit juga menyesal karena sudah melawan kedua orangtuanya karena Intan.
Radit memutuskan untuk tidak masuk ruangan pagi ini. Dia malu harus bertemu dengan mahasiswa yang melihat dia dihina oleh Intan. Radit duduk di salah satu kantin di luar kampus itu. Radit merenungkan segala apa yang mereka lalui satu bulan ini. Sikap Intan pagi ini sangat berbeda dengan ketika mereka jika berduaan.
Radit mengeluarkan uang dari dompetnya dan membeli sebungkus rokok serta pemantik. Radit merokok untuk yang pertama kalinya. Hingga hampir dua jam, Radit di kantin itu. Dan beberapa batang rokok juga sudah habis. Radit tidak menyadari jika jam belajar Intan sudah selesai. Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Radit segera menuju motornya. Niatnya untuk ke rumah Intan membuat perhitungan. Sebagai laki laki yang baru saja beranjak dewasa. Tentu saja dia tidak terima dengan penghinaan itu. Dia tidak ingin lagi bersama Intan. Perjuangan dan pembelaan Radit cukup sampai hari ini.
Tapi hatinya belum tenang jika tidak membalas sakit hati ini. Intan akan mendapatkan ganjaran atas perlakuannya terhadap Radit. Radit berencana untuk balas dendam.
Radit mengernyitkan keningnya setelah menghentikan motornya di halaman rumah Intan. Suasana rumah itu sedikit berbeda. Ada mobil mewah dengan dua pria berseragam hitam berdiri di dekat mobil. Mereka seperti bodyguard. Seorang pria itu mendekati motor Radit dan bertanya tujuan kedatangan Radit.
"Aku teman kuliah Intan. Aku ada perlu sebentar dengannya," kata Radit. Ide itu tiba riba terlintas di pikirannya. Radit menduga bahwa ayahnya Intan pulang lebih cepat dari rencana sebelumnya. Melihat mobil mewah dan rumah mewah yang ditinggali Intan. Radit menduga jika Intan adalah putri seorang pengusaha. Intan memang tidak pernah terbuka tentang hal pribadinya. Jadi, Radit tidak mengetahui persis bagaimana latar belakang Intan yang sebenarnya. Radit hanya mengetahui jika bundanya Intan sudah meninggal.
"Bos kami tidak bisa diganggu. Jika kamu hendak menemui non Intan. Harap menunggu sesudahnya urusan bos kami selesai," kata penjaga itu dengan mimik yang sangat menakutkan.
"Aku bukan berurusan dengan bos kalian. Aku hanya ingin menjumpai putrinya," kata Radit. Kedua penjaga itu saling berpandangan. Radit menatap heran dua pria yang memakai rantai besar seperti biasa digunakan anjing di leher masing masing pria itu. Seorang dari pria itu terlihat mengangguk. Dan seorang dari terlihat bingung melihat kawannya mengangguk.
"Tapi maaf. Aku tidak akan mengotori tanganku," kata Radit sopan sambil melewati dua pria itu. Dua pria itu tidak melakukan perlawanan untuk melarang Radit untuk masuk ke dalam. Yang ada dua pria itu berdebat dan Radit bisa mendengarnya.
"Kenapa dia dibiarkan masuk?" tanya salah satu pengawal itu.
"Biarkan saja. Aku tidak tahan lagi melihat Nyonya besar terus dibohongi seperti ini. Biarkan pemuda itu menangkap basah mereka."
Radit bisa mendengar pembicaraan dua bodyguard itu. Dia semakin penasaran dan mempercepat langkahnya. Sesampai di depan pintu, Radit memelankan langkahnya. Suara suara yang didengarnya bukan seperti suara bertransaksi barang haram tapi suara suara yang didengarnya persis seperti yang dilakukannya dengan Intan menuju surga dunia.
Radit semakin mendekat ke kamar itu. Dia menoleh sebentar ke foto yang terpajang di dinding. Dia membayangkan murka seorang ayah jika melihat putrinya sendiri melakukan kegiatan terlarang di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Dia membuka pintu kamar yang terbuka sedikit itu secara perlahan. Kamar itu kosong. Radit kembali menajamkan pendengarannya. Hingga dia bisa menangkap suara itu dari arah dapur. Dengan perlahan, Radit menuju dapur itu. Dia terkejut. Seorang pria setengah baya sedang menggauli Intan dari belakang. Posisi pria itu membelakangi Radit sehingga mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang menyaksikan adegan panas itu. Intan terdengar mengeluarkan suara seperti suara ketika mereka bermain. Begitu juga dengan pria itu. Radit bisa melihat pria itu berkali-kali memukul pinggul Intan. Radit jijik. Apalagi melihat intan dengan sebelah tangannya menggerayangi tubuhnya sendiri sedangkan tangan satunya menahan tubuh. Radit berusaha tenang untuk menyaksikan dua insan berbeda umur itu meraih kenikmatan. Hingga adegan itu bertukar posisi. Pria tua itu duduk di bangku dan Intan naik ke pangkuan pria tersebut. Radit bisa melihat begitu liarnya seorang Intan bermain dengan pria itu. Suara dan goyangannya kini sedikit berbeda dengan yang mereka lakukan. Intan lebih liar saat ini dibandingkan ke dirinya.
Hingga akhirnya terbersit di pikiran Radit untuk mempermalukan Intan. Radit memfoto dua manusia itu. Setelah selesai mengambil foto. Radit mengamankan ponselnya. Dua manusia itu masih asyik bergoyang mencari kenikmatan duniawi. Terbersit di pikiran Radit untuk mengganggu kegiatan itu. Bagaimanapun sesuatu yang dimulai tanpa diselesaikan dengan baik akan membuat keduanya tersiksa. Radit bertepuk tangan. Sontak pria itu melepaskan miliknya dari bagian inti tubuh Intan. Radit terkejut ketika melihat pria itu. Pria yang sama dengan foto yang tergantung di dinding ruang tamu rumah itu. Radit menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak percaya jika seorang ayah berbuat seperti itu kepada putri kandungnya sendiri. Radit semakin jijik. Bahkan dia hampir muntah melihat inti tubuh milik Intan dan pria itu yang masih polos. Radit sudah berkesimpulan sendiri jika Intan adalah wanita simpanan pria itu.
"Siapa kamu," bentak pria itu sambil memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Permainan mereka belum tuntas. Kedatangan Radit sangat menganggu kegiatan Intan dan pria itu. Hal yang sama dilakukan oleh Intan. Tidak ada raut wajah sombong di wajah itu. Intan menunduk sambil mengenakan pakaiannya.
"Aku adalah orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan itu ke dia. Satu minggu ini kami melakukannya di setiap sudut rumah ini," jawab Radit tenang. Dia tidak menyangka membalaskan dendamnya kepada Intan segampang ini. Radit bisa melihat tubuh Intan bergetar karena ketakutan. Bukan seperti waktu sebelumnya, Radit kasihan melihat wanita itu. Sekarang, Radit justru merasa puas setelah mengucapkan kata kata itu. Dia hanya menunggu waktu beberapa menit lagi untuk melihat pertunjukan. Dan benar saja, sorot mata pria itu sudah berubah de wajah yang memerah.
"Dasar istri durhaka," teriak pria tua itu sambil mendekat ke Intan. Pria itu marah dan kalap. Dia menarik tangan Intan yang sebelumnya sudah duduk di bangku. Tangan pria itu sangat cepat menampar pipi Intan berkali kali. Intan terhuyung dan tersungkur di lantai.
Darah segar menetes dari sudut bibirnya bercampur dengan air mata yang juga turun dari mata. Radit tersenyum sinis melihat penderitaan Intan. Dia tidak perlu mengotori tangan untuk membalaskan dendamnya kepada Intan. Tapi Radit juga terkejut. Wanita yang menjadi kekasihnya beberapa bulan ini ternyata adalah istri orang lain. Intan tidak memberikan pembelaan atas perkataan Radit. Wanita itu kini menangisi luka di sudut bibirnya.
"Dan kamu. Karena kamu mengaku melakukan hal itu dengan istriku. Maka aku akan menjebloskan kamu ke penjara."
Belum hilang keterkejutan Radit karena mendengar Intan adalah istri dari pria itu. Kini dia terkejut dengan perkataan pria itu untuk menjebloskan dirinya ke penjara. Pria itu menunjukkan Radit dengan marah.
"Silahkan. Aku yakin jika dia hanya sebagai istri simpanan kamu. Dengan seperti itu kamu membongkar kebusukan kamu senderi. Istri dan anak anak kamu akan mengetahui kelakuan kamu ini. Kalau aku tidak masalah. Aku pria lajang yang bebas," kata Radit tenang dan memberi sedikit ancaman.
"Kamu tidak mengetahui siapa aku rupanya," kata pria itu sambil terkekeh meremehkan.
"Iya. Aku tidak mengenalmu. Aku baru melihat kamu hari ini. Sayangnya pertemuan pertama kita aku bisa melihat seluruh tubuh polos dan berprilaku seperti binatang."
"Aku Handoko. Pengusaha sukses di kota ini. Aku bisa mengatur dan melaporkan kamu dengan pasal yang lain," kata Handoko marah. Dia sangat tersinggung dengan perkataan Radit.
"Silahkan. Aku tidak takut. Aku juga putra dari seorang pengusaha di kota ini. Asal kamu tahu. Bukan hanya aku yang sudah menjadi kekasih istri kamu itu. Tadi pagi. Dia juga berboncengan dengan seorang pria. Terlihat sangat mesra sekali. Dan bisa aku pastikan jika pria yang aku maksudkan itu, juga sudah berbuat apa yang kita lakukan kepada wanita iblis itu," kata Radit semakin memancing amarah Handoko. Handoko semakin marah dan kembali menerjang Intan. Radit tidak menyangka sangat gampang menyulut amarah pria itu. Jika boleh meminta, Intan harus babak belur hari ini.
"Aku juga berada di rumah ini sekarang untuk membalaskan dendam kepada wanita itu atas penghinaan yang dilakukannya tadi pagi. Tapi sudah cukup bagiku melihat dia merasakan kesakitan sekarang. Kita bisa menganggap kejadian ini tidak ada. Tapi jika kamu memperpanjang. Aku siap. Karena aku punya bukti untuk menghancurkan kalian berdua," kata Radit lagi sambil menepuk saku celananya. Radit membalikkan badannya berlalu dari rumah itu. Hatinya puas melihat penderitaan Intan. Tapi hatinya juga menangis karena melawan kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Radit membawa motornya sangat kencang. Tujuan adalah rumah terutama kamarnya. Radit berlari menuju kamarnya. Radit melampiaskan kemarahannya kepada dinding kamar itu. Radit berkali kali meninju dinding itu hingga punggung tangannya kesakitan. Radit bukan marah karena penghianatan Intan. Tapi Radit marah kepada dirinya sendiri yang tidak mendengarkan nasehat kedua orangtuanya. Radit sangat menyesal.
Flashback off