Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kejutan Untuk Sahabat


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah Andre , Agnes singgah di supermarket. Agnes mengitari rak demi rak dan memasukkan barang yang diinginkannya ke dalam troli. Dari barang belanjanya Agnes seperti ibu muda yang berbelanja bulanan.


Puas setelah melihat trolinya penuh, Agnes menuju kasir. Tidak ada rasa menyesal di wajahnya mengeluarkan uang yang banyak untuk belanjaan yang sangat banyak itu. Agnes sampai menyuruh karyawan swalayan untuk membawa belanjaan itu ke mobilnya.


Setelah memastikan belanjaannya sudah di mobil, Agnes berkendara menuju rumah Sinta. Baru beberapa jam berpisah dari baby Airia, Agnes sudah merindukan keponakannya.


Melihat gerbang yang terbuka sedikit, Agnes turun dari mobil untuk membuka gerbang tersebut lebih lebar. Kemudian masuk kembali ke mobil untuk memasukkan mobilnya ke halaman rumah Sinta.


Sinta yang mendengar suara mobil, keluar dari rumah. Melihat mobil Agnes, Sinta berjalan ke arah gerbang untuk menutupnya.


"Ini bawa," kata Agnes ketika Sinta mendekat ke arahnya. Sinta menerima dua kantong plastik berisi susu bayi dan tissue basah dari Agnes. Agnes mengeluarkan barang belanjaannya lagi dari dalam mobil. Agnes membawa satu goni beras isi sepuluh kiloan dan tangan sebelahnya kantong plastik berisi perlengkapan kamar mandi.


"Kamu tidak perlu repot repot Agnes," kata Sinta pelan. Wajahnya datar tidak menunjukan senang atau tidak senang. Agnes tidak menggubris dia terus berjalan ke dalam rumah.


"Agnes?" seru Vina ketika Agnes mendekat ke ruang tamu. Keenam sahabat itu memang sedang di rumah Sinta. Tadi sepulang ujian mereka singgah. Vina sampai merengek minta para sahabatnya untuk berkumpul di rumah Sinta.


"Sebentar Vina, aku antar ini ke dapur dulu," kata Agnes. Agnes berlalu ke dapur. Sinta masuk ke dalam rumah. Meletakkan kantong plastik yang diberikan Agnes dengan asal kemudian duduk bergabung kembali bersama keenam sahabatnya. Selain Sinta dan Vina, ini pertama kali Agnes bertemu dengan sahabat Sinta yang lainnya. Vina sedikit bingung, Yang dia tahu Sinta dan Agnes hanya bertemu beberapa kali. Tapi hari ini, dari cara Agnes masuk ke dalam rumah, sepertinya mereka sangat dekat.


"Tidak usah pasang muka datar seperti itu, kalau kamu tidak mau menerima pemberianku. Nanti aku ganti namamu dari Sinta menjadi Sinto," kata Agnes yang sudah duduk di sofa. Dua kali sudah Agnes bolak balik ke mobilnya untuk mengambil barang belanjaan. Keenam sahabat itu tertawa.


"Enak saja ganti nama orang sembarangan," jawab Sinta cemberut.


"Makanya itu, jangan menolak pemberianku. Itu wujud rasa sayang dari seorang Tante untuk ponakannya," jawab Agnes santai. Vina hanya terkekeh. Dia tahu sifat sahabatnya itu. Paling tidak bisa ditolak.


"Aku mau lihat ponakan aku yang cantik cetar membahana," kata Agnes lagi dia sudah berdiri.


"Dia masih tidur Agnes. Baru saja tidur. Jangan ganggu dulu ya," jawab Sinta memohon. Dari tadi dia sudah bersusah payah menidurkan bayinya.


"Memang benar benar baru tidur kan?, bukan larangan untuk aku melihatnya?" tanya Agnes lagi. Sinta dan yang lainnya hampir serentak mengangguk.

__ADS_1


"Coba saja, melarang aku melihat ponakan aku. Aku ganti namamu menjadi Sinti, cukup ayahnya saja kamu larang bertemu dengan Airia," kata Agnes lagi dengan gayanya yang sok galak. Vina kembali terkekeh.


"Dengar itu Sinta, aku saja sudah pernah berubah nama dibuatnya dari Vina jadi Vino," kata Vina. Yang lain tertawa mendengar perkataan Vina.


"Emang kamu tahu siapa ayahnya?" tanya Tini. Gadis tomboi itu selalu mencerna omongan orang dengan baik.


"Ya tahulah, kan kakak aku yang mantan suami Sinta," kata Agnes santai. Tidak ada beban dalam perkataannya. Sinta sudah mulai berkeringat dan gugup. Dia memberi Agnes kode lewat matanya supaya Agnes tidak membocorkan identitas mantan suaminya. Agnes acuh.


"Kurang ajar ya kakak kamu itu," kata Tini geram. Amarahnya muncul ketika mendengar Agnes menyebut bahwa kakaknya lah mantan suami Sinta. Tini yang sudah melihat kesulitan Sinta selama hamil ingin membalaskan semua kesulitan itu dengan meninju wajah mantan suami Sinta.


"Ya begitu lah, aku juga menyayangkan sifat kakakku itu, kami sekeluarga bisa apa?. Apalagi Sinta tidak berusaha mencari keluarga mantan suaminya. Aku saja tahunya setelah aku lakukan test DNA kakakku dengan baby Airia secara diam diam." Keenam sahabat itu terkejut dengan perkataan Agnes. Apalagi Vina, dia sama sekali tidak menyangka, dia yang memperkenalkan Sinta ke Agnes.


"Aku akan membuat wajah kakakmu itu babak belur," kata Tini. Sinta mendekat ke Tini dan memeluknya. Sinta terharu dengan pembelaan Tini kepadanya. Sedangkan yang lain, mereka masih penasaran dengan kakaknya Sinta.


"Sinta, kamu kenal di mana dengan kakaknya Agnes," tanya Vina. Sinta tergagap dan mengedipkan sebelah matanya ke Agnes.


"Kenal dimana?, Kalian juga mengenalnya?" kata Agnes membuat Sinta semakin gugup. Niatnya untuk menutup identitas Andre sebagai mantan suaminya sepertinya tidak berhasil.


"Kakakku, dosen kalian sendiri. Kak Andre. Dan kamu!. Kalau mau membuat wajah kak Andre babak belur. Silahkan!. Tapi jangan di kampus. Kasihan nanti dia kehilangan wibawa di depan rekan dan mahasiswa. Aku akan mengatur pertemuan kalian di rumah ini. Terserah kalian mau apakan kakakku. Tapi jangan sampai mati ya. Kasihan Sinta," kata Agnes sambil menunjuk ke arah Tini dan sinta. Agnes merasa tidak berdosa dengan perkataannya. Agnes bahkan terkekeh.


Vina dan yang lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa mantan suami Sinta adalah dosen mereka sendiri. Sinta bahkan tidak menampakkan sikap yang mencurigakan ketika di kampus bahkan ketika berpapasan dengan Andre di kampus.


Keenam sahabat itu saling berpandangan. Mereka kemudian menatap Sinta dengan bingung. Sinta menunduk.


"Sinta, kamu hebat. Kamu berhasil mengelabui kami," kata Indah kecewa.


"Kami tidak menyangka Sinta, kamu bisa menyembunyikan ini dari kami,"


"Aku akan tetap menghajarnya. Jangan ada yang menyalahkan Sinta. Dia sudah cukup menderita selama ini. Pasti dia punya alasan untuk itu," kata Tini.

__ADS_1


"Maaf," kata Sinta pelan dan tulus.


"Seperti yang dikatakan Tini, aku punya Alasan untuk itu," kata Sinta lagi.


"Jangan menilai Sinta negatif. Sinta adalah istri pertama kakakku," kata Agnes lagi. Yang lain merasa lega. Sinta, teman mereka bukan pelakor.


"Iya, iya. Maaf di terima," kata Vina cuek.


"Hei Vin, by the way pertunangan mu lancar kan?" tanya Agnes. Yang lain semakin terkejut.


"Pertunangan siapa?" tanya Ronal yang sedari tadi diam. Dia menoleh ke Vina yang duduk di sebelahnya. Vina menunduk. Vina gugup dan meremas ujung bajunya. Yang lain juga menatap Vina dengan mimik penuh tanya. Ronal mengangkat tangan Vina. Benar sebuah cincin berlian bertengger indah di jarinya.


"Kamu bertunangan?, lelucon apa ini Vina?" tanya Ronal frustasi. Agnes yang awalnya merasa santai kini menjadi bingung. Dia memang tidak tahu bahwa Vina merupakan kekasih Ronal. Dari curhatan Vina, dia hanya bercerita di jodohkan oleh orang tuanya.


"Maaf Ronal, aku dijodohkan orangtuaku, aku tidak bisa menolak dan kami sudah bertunangan," cicit Vina pelan dan masih menunduk.


"Lalu aku bagaimana, kamu anggap apa aku selama ini Vina?" tanya Ronal marah. Tini mendekati kedua sepasang kekasih itu. Tini menepuk pundak Ronal.


"Sabar bro, jangan terbawa emosi. Diselesaikan dengan baik baik," kata Tini. Dari perkataan Ronal Agnes paham. Bahwa Vina dan Ronal sepasang kekasih.


"Berarti kita, akan berakhir di sini?. Itu maksudmu?" tanya Ronal masih dengan marah. Vina mengangguk lemah. Ronal mengambil ranselnya dan keluar dari rumah.


"Indah, aku mohon!, kejar Ronal. Tolong temani dia di saat seperti ini," kata Vina sambil mengguncang badan Indah. Yang lain juga menyuruh Indah untuk mengejar Ronal. Indah menurut dan berlari ke luar rumah mengejar Ronal.


"Agnes, kejutan mu memang luar biasa untuk kami," kata Tini. Agnes hanya terdiam. Dia tidak menyangka pertanyaannya membuat sepasang kekasih putus.


"Vina, kenapa kamu tidak mengundang kami. Kamu sama aja seperti Sinta. Pas lagi senang tidak ingat dengan sahabat," kata Elsa kecewa.


"Pertunangannya dadakan dua hari yang lalu Elsa, aku juga tidak tahu mau curhat kepada siapa. Kalau aku curhat sama kalian.Ronal pasti tahu. Maka dari itu aku memilih curhat ke Agnes. Sebenarnya, saat ini aku ingin memberitahu kalian semua. Untuk memberitahu Ronal secara pribadi aku tidak sanggup," jawab Vina sedih.

__ADS_1


"Ah, hidup kalian berdua penuh drama," kata Tini sambil menunjuk Sinta dan Vina. Sinta dan Vina saling menunduk.


Sinta sebenarnya sedikit lega, para sahabatnya sudah mengetahui identitas mantan suaminya. Kini, dia hanya memikirkan bagaimana menjelaskan status dan baby Airia kepada kedua orangtuanya.


__ADS_2