
Sinta merasa jantungnya berdenyut kencang. Foto yang kirim Vina ke aplikasi wa nya membuat Sinta berpikir keras tentang penyakit yang di derita Vina. Jarum jam yang tertancap di pergelangan tangan Vina menandakan bahwa Vina benar benar sakit yang tidak bisa dianggap sepele. Semalam ketika mereka berkumpul Vina terlihat baik baik saja. Dan Sinta merasakan jarum jam berjalan lambat. Andaikan dia bisa menerobos antrian pengambilan obat itu, Sinta akan melakukannya.
Melihat kegelisahan Sinta, Andre menggenggam jemari Sinta. Kegelisahan itu sedikit berkurang. Tapi tidak dengan pikiran yang terus bertanya dalam hati akan apa yang menimpa Vina.
"Mas, aku duluan ke ruangan Vina ya!" kata Sinta yang tidak sabar ingin tahu tentang Vina. Andre menoleh.
"Tidak sayang, sebentar lagi giliran kita, kita sama sama ke ruangan Vina," jawab Andre. Andre mengusap punggung Sinta dengan lembut. Sinta berusaha menekan rasa gelisah di hatinya. Dia mengambil nomor antrian dari tangan Andre ketika nomor antrian nomor lima puluh dua di panggil.
"Masih lama lagi mas, ini masih nomor 52, antrian kita nomor 71," kata Sinta lagi. Sinta benar benar tidak sabar. Sinta berharap Andre memperbolehkannya duluan ke ruangan Vina.
"Tunggu sebentar," jawab Andre sambil berdiri. Dia berjalan ke arah petugas apotik itu. Andre berbicara sebentar kemudian menyerahkan nomor antrian dan resep dokter ke petugas. Kemudian Andre kembali ke tempat duduknya tadi bersama Sinta.
"Ayo, nanti kita ambil obatnya, Aku sudah berbicara ke petugas. Ketika giliran nomor kita. Petugas akan mengambil obat dan menyimpannya sebentar. Setelah dari ruangan Vina kita akan mengambilnya," kata Andre lembut. Andre menarik tangan Sinta. Tangan Sinta Andre selipkan di lengannya dan mereka berjalan menuju ruangan Vina. Andre merasa takut jika Sinta harus pergi duluan ke ruangan Vina. Itu sebabnya dia menjumpai petugas tadi.
Sinta membuka ruangan Vina dengan dada yang berdebar dan penuh rasa khawatir. Sedangkan Andre di belakangnya memegang pundak Sinta. Vina yang mendengar suara pintu di buka langsung menoleh ke arah pintu tersebut.
"Vin..." panggil Sinta pelan. Dia berjalan dan mendekat ke arah bed Vina. Sinta meneliti wajah Vina yang memucat.
"Kenapa seperti ini Vin, apa yang terjadi?. Mana suami kamu?" tanya Sinta yang sedih. Dia meneliti sekitar ruangan dan hanya Vina yang ada di ruangan itu selain dirinya dan Andre. Mendapat pertanyaan seperti itu, Vina bukan menjawab. Vina justru terbayang kejadian tadi pagi. Bagaimana dia menahan sakit di perut dan di bawah perutnya karena Radit dengan brutal dan tanpa ampun menghajarnya.
Setelah puas dan meludah, Radit justru pergi meninggalkannya tanpa melepas ikat pinggang yang mengikat tangan Vina. Radit tidak perduli dengan isak tangis Vina. Susah payah Vina melepas ikatan tali pinggang itu dari tangannya. Walau lama tetapi ikat pinggang itu akhirnya terlepas. Tidak hanya disitu Vina semakin merasakan perutnya sakit. Tidak mau mati konyol di kamar itu, tanpa minta bantuan siapapun Vina keluar dari rumah dan menstop taksi untuk membawanya ke rumah sakit.
Mengingat itu semua, air mata Vina tidak terbendung lagi. Vina menangis. Menangisi kebodohan dan keserakahan keluarganya. Andaikan dia pintar sedikit saja. Mungkin Vina tidak di rumah sakit ini sekarang. Melihat Vina menangis. Sinta ikut menangis. Walau Sinta belum tahu masalah Vina yang sebenarnya. Sinta tahu bahwa saat ini Vina sangat sedih dan tidak baik baik saja. Sinta membungkukkan badannya. Dia memeluk Vina sahabatnya. Sinta berharap pelukannya bisa memenangkan hati Vina. Sedangkan Andre masih berdiri di sisi tempat tidur. Dia juga merasa sedih melihat keadaan Vina yang sangat kacau.
"Vina, apa yang terjadi?. Kamu sakit apa?" tanya Sinta lagi. Dia menghapus sisa air mata di pipi Vina. Vina masih diam. Pandangannya kosong.
"Vin,"
"Jangan dipaksa sayang. Biarkan Vina tenang dulu," kata Andre lembut. Sinta akhirnya diam dan duduk di kursi di samping bed Vina. Sinta mengelus punggung tangan Vina. Berharap Vina mau bercerita.
"Vina, kamu tidak boleh menyimpan masalah kamu sendiri. Aku sahabat kamu. Kamu punya banyak sahabat. Apa kamu tidak mempercayai aku sehingga kamu tidak mau berbagi masalah dengan aku?. Siapa yang kamu percaya diantara kami?. Aku akan menyuruhnya datang kemari. Tini atau Indah?" tanya Sinta lembut. Sinta menatap wajah Vina yang masih menatap lurus ke depan.
__ADS_1
'Disaat aku ada masalah kamu selalu ada untuk aku Vina. Kamu sangat baik. Saat ini kamu masalah. Kamu hanya diam saja, Kamu harus berbagi Vina. Jangan menutup diri seperti ini" kata Sinta lagi. Melihat Vina yang hanya diam. Sinta tahu bahwa Vina butuh teman untuk mencurahkan semua masalahnya.
"Aku sudah hancur Sinta, andaikan bunuh diri tidak dosa. Aku sudah melakukannya sejak tiga bulan lalu," jawab Vina lirih. Pandangannya masih lurus ke depan. Air mata itu juga sudah mengering. Sinta dan Andre sangat terkejut mendengar perkataan Vina.
"Vin,"
"Aku diperkosa Radit ketika kabur itu gagal. Dan tadi pagi dia juga mengulanginya."
Sinta dan Andre semakin terkejut. Mereka tidak menyangka Vina mengalami hal tragis seperti itu. Apalagi Andre. Dia menyesal karena memberitahu Radit ketika Sinta dan Vina kabur dulu. Andre mengusap wajahnya kasar. Penderitaan Vina saat ini mengingatkan dia akan perlakuannya ke Sinta yang pernah juga kasar dan bahkan nyaris memperkosa Sinta. Andre menatap Sinta dan Vina bergantian. Kedua wanita baik itu harus jatuh ke lelaki brengsek seperti mereka berdua. Andre merasa bersyukur dalam hati karena wanita sebaik Sinta bersedia memaafkan dirinya yang berengsek.
Sedangkan Sinta, dia menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Nasibnya dan nasib Vina ada sedikit persamaan. Menikah karena terpaksa dengan alasan yang berbeda tetapi sama sama mendatangkan penderitaan. Walau kini Andre sudah mulai berubah dan mengatakan cinta kepada Sinta. Sinta masih bisa merasakan luka dan penderitaan itu. Entah kapan sembuhnya hati Sinta. Yang pasti saat ini dia berusaha untuk sembuh dari luka hati yang ditorehkan Andre.
"Vina, maaf. Maafkan aku. Aku tidak menyangka Radit sejahat itu kepada kamu. Andaikan aku tidak memberi tahunya dulu tentang rencana kabur kalian itu. Mungkin kamu tidak menderita seperti ini," kata Andre pelan. Dia menundukkan kepala, tidak sanggup melihat keadaan Vina yang sangat menyedihkan. Wajahnya yang memucat juga bibir bawahnya yang membengkak. Dalam hati Andre juga memaki Radit. Walau dirinya berengsek, dia juga tidak membenarkan sikap Radit yang memperkosa Vina.
Vina tidak menanggapi perkataan Andre. Dalam hati juga dia menyesalkan sikap Andre dulu. Tapi dia masih menghargai Sinta dan memilih diam daripada harus memaki suami sahabatnya itu.
Masih beberapa menit di ruangan Vina, Sinta melihat Vina meringis menahan sakit.
Vina kembali meringis. Melihat Vina meringis, Sinta mengusap pelan punggung Vina.
"Sore ibu," sapa perawat itu ramah. Dia mendekat ke bed Vina.
"Suster, perut ku sangat sakit," kata Vina lemah.
"Tarik nafas ya ibu, kemudian keluarkan secara perlahan. Itu akan mengurangi rasa sakit di perut ibu. Saya akan panggil dokter," kata perawat setelah mendengar keluhan Vina. Vina melakukan apa yang disarankan perawat itu. Walau rasa sakit itu tidak hilang setidaknya bisa mengalihkan rasa sakit karena Vina fokus menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Tidak lama kemudian seorang dokter laki laki memasuki ruangan itu. Sang dokter yang bernama Agung itu memeriksa Vina. Andre keluar sebentar dari ruangan itu karena merasa malu melihat perut Vina.
"Kandungan ibu masih lemah, tolong jangan banyak berpikir hal hal yang bisa memicu stres. Selain itu untuk menjaga hal yang tidak kita inginkan ibu juga saya sarankan untuk bed rest," kata dokter Agung setelah selesai memeriksa keadaan Vina. Sinta yang mendengar Vina mengandung semakin tidak percaya. Dia melambaikan tangannya ke arah pintu ketika dilihatnya Andre melihat kedalam ruangan. Andre pun masuk dan berdiri di samping Sinta.
"Berapa lama aku harus bed rest dokter?" tanya Vina pelan. Rasa sakit itu sudah mulai menghilang.
"Paling cepat tiga sampai tujuh hari. Tergantung kesehatan ibu dan keadaan janin di kandungan. Oleh sebab itu hindari berpikir yang bisa membuat ibu stres,"
__ADS_1
"Baik dokter. Terima kasih," kata Vina sedih. Dokter itu berlalu dari ruangan itu. Seperti Sinta Andre kembali terkejut dengan kenyataan tentang Vina.
"Apa Radit tahu kalau kamu mengandung Vina?' tanya Andre gelisah. Dia berpikiran bahwa Radit pasti tidak mengetahui tentang kehamilan Vina.
"Dia tidak perlu tahu dan selamanya tidak perlu tahu," jawab Vina sedih. Seperti dugaan Andre, benar Radit belum mengetahui kehamilan Vina yang sudah berumur tiga bulan. Itu keputusan final dari Vina. Sebelum kejadian tadi pagi. Vina selalu mencari kesempatan untuk memberitahu kehamilannya kepada Radit. Tetapi sikap Radit yang dingin dan sering membentak membuat Vina lupa untuk memberitahu kehamilannya jika ada waktu bertatap muka dengan Radit.
"Vin, jangan seperti itu Vina. Kamu harus memberitahu Radit. Bagaimana pun itu darah dagingnya," kata Sinta berusaha menasehati Vina. Dulu dia di posisi seperti Vina. Nasehat dan dukungan dari para sahabatnya dan juga Bella membuahkan hasil. Hingga sekarang dia mempunyai putri yang sangat cantik yang menyadarkan Andre akan semua kesalahannya.
"Setelah dia mengetahui kemudian menyuruh aku untuk membuang janin ini. Itu yang kamu mau Sinta?. Sampai kapan pun aku tidak akan memberitahunya. Juga kalian, Aku harap jangan berkata apapun tentang keadaan aku sekarang kepadanya. Dia pasti tidak akan bertanya tetapi mana tahu dia bertanya ke pak Andre. Aku mohon jangan berkata apapun tentang aku," kata Vina sambil memohon kepada Andre dan Sinta. Sinta dan Andre masih menatap Vina. Sedangkan Andre, perkataan Vina mengingatkan dirinya yang pernah menolak kehamilan Sinta. Laki laki itu kembali mengingat kepingan kepingan luka yang ditorehkan kepada Sinta.
"Vina, bukan seperti itu maksud aku. Aku juga pernah di posisi kamu. Tapi nasehat kalian semua yang membuat aku bertahan sampai sekarang. Aku hanya mengucapkan apa yang pernah kamu sarankan dulu kepadaku," jawab Sinta pelan. Sedangkan Andre yang mendengar perkataan Sinta kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri. Dari perkataan Sinta jelas, bahwa hari hari yang dilalui dulu tidaklah mudah.
"Itu beda Sinta, pak Andre tidak pernah memperkosa kamu. Sedangkan aku. Aku seperti bukan manusia baginya. Harga diri aku sama sekali tidak ada. Dia membawa wanita secara bergantian ke rumah. Tanpa memikirkan perasaan aku sebagai istri sahnya. Aku juga sudah berusaha untuk membuat Radit berubah. Tapi apa yang aku dapat. Aku bagaikan binatang. Semakin tidak berharga," jawab Vina sedih. Air mata kembali mengalir tanpa permisi di pipinya. Setiap mengingat perlakuan Radit. Hatinya semakin sakit dan terluka.
Sinta memeluk sahabatnya dengan erat, dia tidak menyangka bahwa nasib Vina sesedih ini. Dulu melihat Vina dengan Ronal yang saling mencintai, hidup Vina di matanya mendekati sempurna. Tetapi takdir berkata lain. Perjodohan yang diinginkan orang tua Vina mengantarkan gadis cantik itu ke lubang penderitaan.
"Jangan mengingat hal buruk itu lagi Vina, sekarang kamu fokus ke kandungan kamu ya!, kamu harus kuat ada nyawa di rahim mu yang harus kamu jaga," kata Sinta untuk menguatkan Vina.
"Iya Vina, dengarkan kata dokter tadi. Kamu jangan berpikir yang bisa memicu stres," kata Andre untuk menguatkan Vina lagi. Melihat Vina hancur seperti ini membuat Andre sangat kasihan. Dia membayangkan Sinta juga dulu seperti itu. Lagi lagi Andre merasakan hatinya berdenyut nyeri.
"Sebenarnya aku tidak menginginkan anak ini, tapi aku takut dosa. Dia ada karena kejahatan seksual Radit. Aku sangat membenci Radit dan tidak menginginkan apapun yang berkaitan dengan Radit, termasuk kehamilan ini."
Sinta terkejut dan shock dengan perkataan Vina. Sinta sampai memegang dadanya mendengar perkataan itu. Gadis manis dan cantik yang dikenalnya lemah lembut bisa berkata sejahat itu kepada janinnya sendiri. Andaikan kehamilan itu sesuatu yang bisa dipindahkan, Sinta bersedia jika kehamilan Vina itu dipindahkan ke dirinya. Sayangnya itu tidak akan pernah bisa terjadi.
"Vina, aku mohon. Jangan berubah jahat karena Radit yang sudah jahat kepada kamu. Aku mohon Vina, jangan katakan itu lagi. Kehamilan kamu bukan hanya benih dari Radit saja. Tapi kehamilan kamu ini juga karena kamu juga punya andil di dalamnya. Benih kami juga ada disitu Vina. Ini juga darah daging kamu," kata Sinta sambil menangis. Dia memegang kedua pipi Vina. Vina juga akhirnya kembali menangis.
"Vina, kami berdua akan menutup mulut tentang kamu kepada Radit. Tetapi jangan pernah berpikiran yang tidak tidak kepada kandungan kamu. Kamu sendiri tahu bahwa aku pernah melakukan kesalahan itu dengan menolak kehamilan Sinta dulu. Aku begitu menyesal dan mendapat karma. Aku tidak ingin kamu mengalami penyesalan dan karma seperti aku. Tetapi kamu lihat sekarang. Aku merasa diberkati karena putri kami Airia dan Sinta. Tentang Radit yang sangat jahat kepada kamu. Biarkan dia berbuat sesuka hatinya. Dia pasti akan dapat karma nantinya. Dia belum tahu karma itu seperti apa dan bagaimana sakitnya. Jadi, aku minta kamu fokus ke kandungan kamu. Aku dan Sinta akan membantu kamu sebisa kami. Aku yakin sahabat kamu yang lain juga pasti akan membantu kamu," kata Andre panjang lebar. Dia berusaha menyadarkan Vina akan perkataannya barusan.
Vina menatap Andre dan Sinta bergantian. Dia butuh mereka sekarang. Orangtuanya tidak mungkin bisa diharapkan. Sinta mengangguk membenarkan dan setuju dengan ucapan suaminya.
"Makasih kak Andre dan Sinta. Aku butuh bantuan dan dukungan kalian. Tapi aku mohon. Bantu aku untuk menjauh dari Radit. Aku tidak sanggup kak, Sinta," kata Vina mengiba. Dia tidak lagi memanggil Andre dengan sebutan pak. Baginya, Andre sudah seperti kakak sendiri yang menyadarkan dari kekhilafannya barusan, dengan berbagi pengalamanya sendiri. Sinta tersenyum dan mengangguk. Sinta kembali memeluk sahabatnya itu.
__ADS_1