Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Mencari Sinta


__ADS_3

"Kak, aku mau pulang," kata Andre ke Andi. Melihat Andi masih asyik bercerita, membuat Andre mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah Sinta. Dua Minggu menikah dengan Sinta, bisa dibilang mereka belum tidur bersama. Karena ketika gilirannya untuk menginap di rumah Sinta Minggu lalu, Agnes malah menjemput Sinta untuk menginap di rumah papa Rahmat selama empat hari.


"Mau pulang kemana?. Ini kan rumahmu?" tanya Andi. Dia kembali bercerita dengan Kasman. Keduanya sangat nyambung menceritakan tentang Cindy dan Rian.


"Kamu lupa?, dia kan sudah rujuk dengan Sinta," sahut Bella kesal. Bella juga sebenarnya sudah ingin pulang, Andi seakan tidak perduli. Dia bahkan terlihat tertawa terbahak-bahak dengan Kasman.


"Bentar lagi Andre, masih jam sepuluh," jawab Andi enteng.


"Perasaanku tidak enak kak, aku pulang duluan ya!, Mereka masih menginap di sini kok malam ini," kata Andre menunjuk para pekerja di rumahnya. Andre beranjak dari duduknya dan berpesan kepada Kasman untuk tidak keluar dari rumah selama beberapa hari ini.


Andre melajukan mobilnya kencang. Di wajahnya terukir senyum membayangkan wajah putrinya. Selain itu Andre juga membayangkan tidur bersama dengan Sinta. Sejak mencurigai Cindy berselingkuh tepatnya sejak Cindy keguguran. Andre tidak pernah lagi mempergunakan senjata pamungkasnya.


Kemarahan yang terjadi beberapa jam yang lalu kini sudah lenyap. Di hati Andre hanya ingin berjumpa dengan baby Airia dan Sinta secepatnya. Hanya beberapa menit berkendara Andre sudah tiba di gerbang rumah Sinta. Dengan tergesa Andre turun dari mobilnya dan membuka gerbang. Keinginan yang dalam berjumpa dengan putrinya secepatnya membuat Andre berpikir untuk mengganti gerbang rumah Sinta dengan gerbang otomatis.


Andre membuka pintu dengan hati yang berdebar. Dia sedikit heran dengan debaran hatinya. Tidak biasa seperti ini, apalagi hanya untuk bertemu dengan putrinya. Andre masuk ke rumah. Melihat sekeliling rumah itu sebentar dan berjalan ke kamar Sinta.


Andre mengernyitkan keningnya ketika melihat kamar itu kosong, menutupnya kembali dan berjalan ke arah kamar tamu tempat barang jualan Sinta. Kamar itu juga kosong. Bahkan barang dagangan sebiji pun tidak ada. Andre merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Setengah berlari Andre menuju dapur sambil memanggil nama Sinta.


Andre cepat mengambil ponselnya dan menghubungi Agnes. Andre semakin melemas ketika Agnes menjawab teleponnya dan mengatakan tidak tahu tentang Sinta dan baby Airia. Andre masuk ke kamar dan membuka lemari pakaian Sinta. Masih ada pakaian tetapi hanya sedikit. Andre kembali membuka lemari pakaian putrinya. Lemari itu kosong. Andre melemas dan merosot ke lantai.


Andre merasakan dadanya sangat sesak, firasatnya mengatakan bahwa Sinta sengaja pergi meninggalkannya. Bahunya berguncang karena menangis. Andre bahkan menjambak rambutnya sendiri.


Andre kembali mengambil ponselnya. Andre mengetikkan nomor Sinta dan segera memanggil. Dengan lesu Andre mematikan panggilannya. Nomornya bahkan masih diblokir Sinta. Andre memutari kamar itu, berharap ada petunjuk setidaknya Sinta menulis surat untuknya. Harapannya nihil tidak ada secarik kertas atau petunjuk apapun tentang kepergiaan Sinta.


"Kak," panggil Agnes dari luar. Dengan lesu Andre menuju pintu dan membukanya.


"Mereka pergi dek, mereka meninggalkan kakak," kata Andre sambil menangis. Berkali kali Andre menghapus air matanya yang berjatuhan sangat deras. Dia terduduk di sofa dengan kedua tangan di atas kepalanya. Agnes memandang kakaknya iba.


"Sepertinya mereka masih baru pergi kak, apa kita perlu menyusul mereka?. Ke bandara atau ke stasiun," saran Agnes. Agnes melihat sebuah selembar tissue basah bekas pakaidi bawah meja. Dari situ dia yakin bahwa Sinta dan baby Airia baru saja meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Hubungi kak Andi, suruh mereka ke bandara. Kita mencek ke setiap stasiun," jawab Andre cepat. Ide dari Agnes sedikit membuat harapannya muncul. Agnes menghubungi Andi dan bercerita tentang kepergian Sinta dan baby Airia. Di seberang Andi menghentikan obrolannya dengan Kasman dan cepat berlalu dari rumah itu menuju bandara.


Andre bersama Agnes pergi ke stasiun. Andre menduga Agnes pulang ke kampungnya. Stasiun itu sepi, bahkan satu bus pun tidak ada terlihat. Andre semakin lesu. Mereka kembali masuk ke mobil dan berniat ke stasiun bus antar provinsi.


"Kita turun dek, kita berpencar," kata Andi sambil membuka sabuk pengamannya. Harapannya muncul melihat masih banyak orang di stasiun itu.


"Baik kak, aku ke sana. Kakak periksa ke bus yang itu," jawab Agnes sambil menunjuk bus yang banyak penumpangnya.


Andre naik ke bus yang dimaksud Agnes. Meneliti satu persatu wajah yang di bus itu tetapi satu wajah pun tidak ada yang dikenalnya. Dengan lesu, Andre kembali turun dari bus itu. Andre berkeliling di sekitar stasiun, wajahnya sudah pucat membayangkan bahwa Sinta memang benar benar pergi. Mereka kembali dari stasiun itu tanpa hasil.


Cukup lama mereka berkeliling dari satu stasiun ke stasiun lain. Tetapi Sinta dan baby Airia tidak juga ditemukan. Akhirnya Agnes mengajak Andre pulang.


"Kita cek stasiun yang lain dek," kata Andre ketika Agnes mengajaknya pulang.


"Ini sudah jam satu dini hari kak, lagian kita sudah hampir mendatangi semua stasiun. Kalau pun mereka naik bus, mereka sudah pasti sudah berangkat," jawab Agnes.


Sementara itu di bandara Sinta terkejut dengan tepukan di panggungnya.


"Kak, Mbak?"


"Hai Vina, mau ikut kabar juga?" tanya Bella enteng. Bella mengambil baby Airia dari gendongan Sinta. Bayi itu tidur nyenyak tidak terganggu sedikit pun walau sudah berpindah tangan. Andre berjalan sedikit menjauh dari mereka


"Mbak, biarkan kami pergi. Aku mohon. Sinta, kalau kamu batal pergi. Aku tetap pergi Sinta, aku tidak mau menikah dengan pria itu," kata Vina sedih. Dia sudah menarik tasnya menuju ruang keberangkatan.


"Vin, jangan seperti ini. Sinta tidak boleh pergi tanpa ijin suaminya. Sinta, kamu sudah memberi kesempatan kedua kepada Andre, seharusnya tidak seperti ini. Kamu juga Vina jangan gotot kabur Vin. Kami bisa menemukan kalian, anggap saja bahwa kalian memang tidak seharusnya pergi. Semua masalah ada penyelesaiannya," kata Bella panjang lebar. Vina berhenti melangkah, air matanya sudah menetes di pipinya.


"Mbak, mbak tidak tahu apa alasan aku dan Sinta kabur," jawab Vina sedih.


"Aku tahu Vina, kalau tidak alasan sakit hati, apa lagi?, Asal kalian tahu. Sakit hati itu kita sendiri yang menyembuhkan. Apalagi Andre sudah menyesal. Kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Tetapi kalau dia tidak berubah. Maka aku yang membantu Sinta untuk pergi darinya,"

__ADS_1


"Apa kakak menelepon mas Andre?" tanya Sinta ketika melihat Andi sudah mendekat.


"Iya, mereka bahkan sudah berkeliling di semua stasiun di kota ini. Tunangan Vina juga sebentar lagi datang. Ternyata tunangan Vina si Radit sahabatnya Andre. Andre sudah menghubungi Radit," jelas Andi membuat Vina terkejut.


"Apa kak?, Oh my God. Seharusnya kakak tidak memberitahu tahu aku di sini kak," kata Vina sedikit histeris dan takut. Dia cepat meraih kopernya dan hendak berlalu dari hadapan mereka.


"Tidak ada gunanya kamu kabur Vina," teriak Radit berlari mengejar Vina dan memegang tangannya. Ketika Andre menghubungi Radit tadi memberitahu tentang Vina dan Sinta. Radit berada di hotel dekat bandara. Sehingga dia lebih cepat sampai dibandingkan Andre dan Agnes.


"Lepas Radit, aku tidak mau menikah dengan kamu," balas Vina sambil meringis karena pergelangan tangannya sakit.


"Undangan sudah di sebar, seenaknya kamu mau kabur, kamu mau mempermalukan keluarga aku. Tidak akan kubiarkan itu terjadi," kata Radit marah. Dia menarik tangan Vina kasar.


"Radit, jangan seperti ini. Kasihan Vina," kata Andi. Radit menghempaskan tangan Vina kasar.


"Mau diseret atau jalan sendiri?" tanya Radit lagi. Vina hanya diam saja. Bella dan Sinta memandang Vina iba.


"Kami duluan bro, mbak," kata Radit ke Andi dan Bella. Dia tidak pamit ke Sinta karena memang belum mengenalnya. Radit kembali menarik tangan Vina kasar dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menarik koper Vina.


Setelah Radit dan Vina berlalu dari tempat itu, Andre dan Agnes tiba. Wajah lelah terlihat di wajah keduanya. Agnes memeluk Sinta.


"Kenapa Sinta?, kenapa kamu tega memisahkan aku dengan Airia?" tanya Agnes sedih. Sinta hanya diam saja.


"Kita langsung aja pulang. Agnes sama kalian saja. Mobilnya tinggal di rumah," kata Andre. Dia bahkan tidak bertanya apa apa kepada Sinta. Andre menyeret dua koper milik Sinta dan Airia. Sedangkan Agnes menuntun Sinta menuju mobil.


"Mbak Bella, Vina mana?" tanya Agnes sambil berjalan. Tangannya menggandeng Sinta.


"Sudah pergi dibawa Radit," jawab Bella.


Kini Andre dan Sinta juga baby Airia sudah di mobil. Keduanya terdiam. Sinta selain merasa takut juga merasa malu karena tidak berhasil kabur.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu, berniat kabur seperti ini. Aku pastikan kamu pergi tanpa putriku," ancam Andre dingin, suaranya memecah kesunyian di mobil itu. Sinta terkejut dan seketika menoleh ke Andre. Pria itu fokus menyetir dan kembali terdiam.


Para reader aku yang baik. Terima kasih karena masih setia membaca novel ini. Kalau ada waktunya, silahkan singgah di novelku yang lain berjudul Mencintai ayah sahabatku. Terima kasih dan salam sahabat. Aku tunggu likenya di sana.


__ADS_2