Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Exstra Part


__ADS_3

Tiga wanita sedang melakukan perawatan tubuh di klinik kecantikan yang terkenal bagus dan mahal di kota itu. Sinta, Vina dan Tini. Tiga wanita bersahabat itu sedang menikmati massage di punggung mereka. Mereka berada di ruangan yang sama. Mereka menikmati pijatan itu sambil bercerita.


Sinta dan Vina berkali kali terkekeh mendengar ocehan Tini. Wanita itu masih sama seperti mereka di jaman kuliah dulu. Dia masih saja berbicara tanpa saringan. Tapi hal itu juga yang yang bisa membuat Sinta dan Vina tertawa. Sinta dan Vina juga merasa kagum atas sahabat mereka itu. Tini bisa merubah penampilan menjadi sosok wanita anggun sama persis seperti nama aslinya.


Tiga sahabat itu juga mempunyai prinsip yang sama menyangkut cara mencintai suami mereka masing masing. Mencintaimu suami dengan mempercantik diri. Dan para suami mereka juga mendukung prinsip tiga sahabat itu. Tak jarang hampir setiap hari Minggu seperti hari ini tiga sahabat itu menghabiskan waktu beberapa jam untuk perawatan tubuh dari rambut sampai kuku.


Dan tiga pria bersahabat itu juga dengan suka rela mengasuh putra putri mereka. Di saat para istri mereka melakukan perawatan seperti hari ini. Para tiga sahabat itu juga berkumpul di satu tempat sambil membawa putra putri mereka. Terkadang di salah satu rumah mereka, di mall, di taman atau tempat hiburan lainnya.


"Para penembak jitu berkumpul di rumahku," kata Tini sambil membaca pesan di ponselnya. Kini perawatan sudah di kaki.


Sinta dan Vina terkekeh. Setelah hidup berbahagia seperti ini. Tini menjuluki tiga pria bersahabat itu dengan penembak jitu. Tentu saja tiga pria bersahabat itu senang dengan julukan itu. Julukan itu seperti menggambarkan kehebatan dan keperkasaan mereka sebagai laki laki.


"Apa kita disuruh cepat pulang?" tanya Sinta sambil memeriksa ponselnya. Tapi pesan Andre tidak ada di ponselnya.


"Tidak. Suamiku hanya memberitahukan saja," jawab Tini.


"Berarti kita masih bisa jalan jalan di mall," kata Vina. Salon kecantikan itu berada di dalam mall. Vina merasa rugi jika tidak melihat lihat sesuatu yang bisa menyegarkan matanya.


"Kita sebaiknya langsung pulang saja. Aku tidak sabaran menunjukkan hasil perawatan hari ini kepada suamiku," jawab Tini.


"Gak seru," jawab Vina ketus. Berhari hari selalu di rumah membuat Vina masih ingin jalan jalan. Vina hanya seorang ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Sedangkan Tini dan Sinta mempunyai kesibukan yang lumayan padat di luar rumah.


"Sebaiknya kita jalan jalan sebentar Tin," kata Sinta. Tini menatap Vina sebentar.


"Baiklah," kata Tini.


"Terima kasih ketua. Lama lama kamu seperti ketua diantara kita bertiga," kata Vina senang. Tini terkekeh mendapat julukan ketua dari sahabatnya.


"Jangan panggil aku ketua Vina. Nanti ikutan para penembak jitu itu memanggil aku ketua."


Beberapa menit kemudian, tiga wanita itu sudah keluar dari gedung mall tanpa membawa sesuatu di tangan mereka. Setelah keluar dari salon, mereka juga masuk keluar butik. Tapi satu barang pun tidak ada yang menarik perhatian mereka karena tidak ada yang diskon besar-besaran. Walau mereka sudah berkecukupan materi tapi kalau urusan belanja tetap saja mereka berburu diskon. Tapi tidak dengan Tini. Di tidak membeli apapun karena memang dia tidak ada rencana untuk berbelanja hari ini.

__ADS_1


"Uang tidak dibawa mati. Kalau suka jangan harus menunggu diskon dulu baru dibeli," kata Tini setelah mereka sudah di dalam mobil. Mobil melaju kencang dengan Tini sebagai supirnya.


"Namanya wanita pasti suka yang diskon Tini. Apalagi kalau kita tahu harga sebelumnya. Wah, merasa sangat beruntung memiliki barang mahal tapi di diskon."


"Uang tidak dibawa mati. Tapi kalau bawa mobil kencang begini bisa mati Tini," kata Vina marah. Tini membawa mobil seperti dikejar hantu. Sebenarnya Vina dan Sinta sudah mengetahui kebiasaan wanita itu jika membawa mobil pasti kencang seperti ini. Tapi Tini selalu menjemput mereka jika bepergian seperti hari ini.


"Baiklah. Kita jalan seperti bebek saja," jawab Tini sambil mengurangi kecepatan mobilnya. Dia tidak tega melihat wajah dua sahabatnya yang ketakutan.


"Syukurlah kamu sudah waras Tini. Entah kenapa setiap menyetir aku selalu melihat dirimu seperti orang gila."


Tini tidak menjawab perkataan Sinta. Dua sahabatnya itu tidak mengetahui jika dirinya ingin cepat sampai di rumah dan bertemu dengan anak anaknya dan juga anak anak dari sahabatnya. Dia sangat yakin jika, Andre dan Radit pasti membawa para pasukan itu ke rumahnya.


Dan benar saja, setelah mereka turun dari mobil. Ketiga sahabat itu bisa melihat halaman rumah Tini dengan pemandangan yang indah. Tujuh orang anak dengan umur yang berbeda sedang duduk tenang di atas tikar karakter di bawah pohon mangga. Papan tulis kecil juga sudah tergantung di batang pohon itu. Airia mempraktekkan apa yang dipelajarinya di sekolah. Dia berperan seperti seorang guru yang mengajari Andra, Vano, Karina, Kalina, Ayu dan Seno. Seno adalah putra Tini dan Sean.


Sedangkan di teras, tiga pria matang nan tampan plus tajir duduk mengelilingi meja bundar kecil. Mereka berhenti tertawa ketika melihat istri mereka masing masing turun darah mobil. Mata mereka seakan tidak berkedip melihat penampilan istri mereka yang terlihat fresh dan juga bening. Tiga wanita itu semakin cantik dengan warna rambut mereka yang sudah berubah warna. Hanya Sinta yang mempertahankan warna rambut hitamnya.


"Sayang, kamu tidak mengubah warna rambut kamu?" tanya Andre. Tiga wanita itu juga sudah bergabung bersama para suaminya.


"Aku beri kamu waktu 2 x 24 jam untuk mengembalikan warna rambut kamu itu bunda," kata Radit tegas. Vina mengerutkan keningnya mendapatkan nada protes dari suaminya. Tadi pun sebenarnya dia ragu ragu untuk mengubah warna rambutnya. Tapi Vina tidak bisa menahan diri ketika melihat warna rambut itu yang terlihat cantik di matanya.


"Kalau aku, sekarang juga kamu harus mengganti warna rambut itu," kata Sean tegas kepada Tini. Dua wanita itu langsung membulatkan matanya. Ingin terlihat cantik di depan suami mereka. Ternyata mereka justru disuruh harus mengganti warna rambut mereka ke warna rambut semula.


Tini dan Vina hanya mengangguk menurut kepada suami mereka masing masing.


"Besok saja, kamu bisa sama Vina ke salon," kata Sean sambil menarik tangan Tini untuk duduk kembali.


"Minggu depan saja ya sayang. Biarkan kami memiliki rambut ala bule satu minggu saja," kata Tini lembut sambil tersenyum manis kepada Sean.


"Yah, Minggu depan saja ya. Janji, warna rambutnya pasti diganti," kata Vina. Dia sudah menempel di lengan Radit.


"Baiklah, tetapi selama satu Minggu jangan keluar rumah,"jawab Radit sambil memperhatikan wajah istrinya. Vina dan Tini memang terlihat sangat cantik dengan warna rambut mereka. Dua wanita itu seperti gadis ABG dengan penampilan baru mereka. Tapi justru itu yang membuat Radit dan Sean menolak warna rambut itu. Mereka takut jika istri mereka disukai pria pria muda.

__ADS_1


Andre tentu saja mengerti kecemasan dua sahabatnya. Karena dia juga dapat melihat Tini dan Vina tampil berbeda dengan warna rambut itu. Seandainya Sinta mengubah warna rambutnya tentu saja Andre juga tidak setuju.


"Aku ke mereka dulu," kata Radit sambil mengambil minuman kesehatan yang baru saja diantarkan asisten rumah Tini.


"Anak anak, waktunya istirahat," kata Radit kepada anak anak itu. Airia berhenti mengajari anak anak itu belajar menghitung. Dia persis seperti guru yang mengajari murid muridnya.


"Om, mau."


"Ayah. Aku mau dua."


"Om, aku belum dapat."


Anak anak itu berebutan mengambil minuman kesehatan itu dari tangan Radit. Radit membagi rata anak anak itu. Dia tidak menghiraukan Vano yang meminta dua.


"Yah, aku mau dua," rengek Vano sambil mengulurkan tangannya meminta satu lagi.


"Semua harus dapat satu ya nak. Tidak boleh rakus," kata Radit. Vano cemberut dan langsung duduk kembali.


"Jangan cemberut donk. Nanti Ayu Dewi tidak mau sama kamu. Iya kan Ayu?" tanya Radit pada Ayu. Balita itu hanya mengangguk walau tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Radit.


"Ayu sini!, Duduk dekat Vano," kata Radit lagi. Lagi lagi Ayu menurut. Radit membantu Ayu duduk di samping Vano.


"Andra, sini nak," kata Radit lagi. Andra juga menurut. Radit membantu Andra untuk duduk di samping Kalina. Kemudian Radit menyuruh Airia, Karina dan juga Seno duduk berdekatan.


"Lihat, dari kecil mereka sudah nampak menjadi pasangan serasi," kata Radit kepada Andre dan Sean. Dia menunjuk kepada dua pasang anak anak itu yang sedang menikmati minuman kesehatan.


"Ada ada saja kamu yah. Masih kecil sudah dijodohkan. Mereka belum tahu apa apa yah Biarkan mereka memilih jodoh mereka sendiri nantinya," kata Vina. Radit terkekeh. Keinginannya masih tetap untuk menjodohkan Vano dengan Ayu juga menjodohkan Andra dengan Kalina.


Sinta dan Andre hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Radit itu. Apalagi Tini juga setuju dengan putrinya dijodohkan dengan Vano. Sedangkan Sean tidak terlalu menanggapi perjodohan itu. Baginya, jodoh ada di tangan Tuhan bukan di tangan Radit.


"Kak Andre, tidak ada rencana untuk menambah momongan?. Aku juga ingin kita besanan. Buatkan satu anak perempuan lagi untuk menjadi menantuku kelak," kata Tini kepada Andre.

__ADS_1


"Ah iya, pesanan kamu akan segera dibuat nanti malam," kata Andre terkekeh. Sean dan Radit juga tertawa.


__ADS_2