Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Banci Kaleng


__ADS_3

Mobil Andre berhenti di parkiran rumah sakit. Andre dan Sinta masih bisa melihat Sean menarik tangan Tini. Tetapi mereka tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Sean kepada Tini. Sinta yang melihat itu sedikit heran dengan tingkah Tini dan Sean. Sinta dapat melihat Tini yang berlari tanpa menjawab perkataan Sean.


Sedangkan Sean. Dia masih berdiri di samping mobilnya. Senyum terukir di bibirnya melihat Tini yang berlari dengan wajah yang memerah karena malu. Dia menoleh ketika terdengar suara pintu mobil yang ditutup.


"Kenapa bro. Apa gadis tomboi itu membuat kamu jengkel?" tanya Andre sambil memainkan kunci mobilnya. Tangan satunya menggandeng tangan Sinta.


"Sedikit bro. Bukan Tini namanya kalau tidak membuat jengkel," jawab Sean sambil tersenyum.


"Tapi kalau tidak ada Tini tidak ramai bro. Aku saja dikatain mantan berengsek," kata Andre sambil terkekeh. Mereka sudah melangkahkan kaki masuk ke rumah sakit. Sean juga ikut terkekeh.


"Untung tidak dikatain mantan napi bro,"


"Ah lama lama kamu ketularan Tini, Sean,"


"Biar saja mas. Aku dukung kak Sean ketularan Tini. Biar tambah rame. Kalau bisa jangan hanya ketularan jahilnya Tini."


"Maksud apa nih Sinta?" tanya Sean heran.


"Gak ada maksud apa apa kak,"


"Sebenarnya Tini itu baik, hanya saja dia sedikit bar bar," kata Andre.


"Kita kok bahas Tini sih. Kita kemari bukannya jemput Vina," kata Sinta kesal. Walau nyatanya Tini agak bar bar sedikit tapi Sinta tidak suka suaminya dan Sean membicarakan Tini. Bagaimanapun Tini adalah salah satu sahabat terbaiknya.


"Baiklah sayang,"


"Andre, apa tindakan kita ini benar?. Aku takut jika Radit mengetahui kita ikut menyembunyikan Vina. Radit marah besar kepada kita berdua," kata Sean khawatir. Dia tahu bagaimana watak Radit jika merasa terganggu.


"Entahlah Sean, saat ini kita pikirkan untuk membantu Vina supaya kondisinya baik baik saja. Masalah Radit kita lihat saja nanti. Dia bahkan sampai dua kali datang ke rumah menanyakan Vina. Instingnya memang benar benar bekerja dengan baik sedangkan hati nuraninya mati," jawab Andre juga tidak kalah khawatir. Dia juga tidak dapat membayangkan jika Radit mengetahui hal ini semua. Tapi bagi Andre, Kondisi kesehatan Vina lebih penting daripada harus memikirkan kemarahan Radit.


"Mas, apa kak Radit itu galak?" tanya Sinta polos. Mendengar pembicaraan suaminya dan Sean. Sinta menyimpulkan bahwa Radit mempunyai temperamen yang tinggi.


"Dia paling tidak suka diganggu oleh siapapun sayang. Jika diganggu dia akan mengamuk seperti harimau yang kelaparan," jawab Andre membuat Sinta bergidik ngeri.


"Tidak suka diganggu tapi dia tidak hanya mengganggu Vina tapi sudah merusak Vina dan menginjak harga dirinya. Semua orang tidak suka diganggu. Kalau tidak suka diganggu jangan mengganggu orang lain donk," kata Sinta emosional. Mereka bertiga semakin mendekati lift.


"Jangan marah marah sayang. Ingat ada janin kita disini," kata Andre sambil menyentuh perut rata Sinta. Sinta mengangguk dan tersenyum.


"Kak Sean gimana dengan Cici?, sudah ada kemajuan?" tanya Sinta setelah mereka di dalam lift.


"Kemajuan apa maksud kamu Sinta?" tanya Sean terkekeh.


"Itu loh kak. Apa kalian sudah berpacaran. Akhir akhir ini aku lihat kalian sangat dekat,"


"Kita lihat saja nanti Sinta. Aku tidak mau terburu buru,"


"Kak, sepertinya Tini juga menyukai kakak. Apa kakak tidak merasakannya?"


"Ah kamu sayang, mana mungkin Tini menyukai Sean. Dia kan memang begitu orangnya. Suka bercanda," kata Andre. Mereka sudah keluar dari lift menuju ruangan Vina.

__ADS_1


"Tapi entah mengapa setiap kali dia bercanda dengan kak Sean. Aku bisa merasakan keseriusan Tini mas,"


"Jangan dibahas lagi. Kita sudah dekat ruangan Vina. Tidak enak jika Tini mendengarnya," kata Sean. Ruangan Vina memang tinggal beberapa langkah lagi. Sinta tidak berkata kata lagi. Tapi hatinya tidak puas mendapatkan jawaban dari Sean baik tentang hubungannya dengan Cici atau tanggapan Sean terhadap perkataannya tentang perasaan Tini.


Sebagai sahabat Sinta bisa merasakan perbedaannya sikap Tini setiap berhadapan dengan Sean. Walau Tini selalu bercanda, Sinta bisa merasakan keseriusan Tini lewat mimik wajah dan sorot mata Tini ketika bercanda.


Tiga pasang kaki itu semakin mendekat ke pintu. Sean di depan sedangkan Sinta dan Andre dibelakangnya. Andre tidak melepaskan tangannya sebentar pun dari tangan Sinta. Pintu yang terbuka membuat Sean melenggang masuk ke dalam ruangan Vina.


"Vina mana?" tanya Sean heran. Indah dan Cici duduk di bangku khusus tamu sedangkan Tini duduk di bed tempat Vina selama ini dirawat berbaring. Indah, Cici dan Tini tidak menjawab pertanyaan Sean. Sama seperti Sean. Andre dan Sinta juga merasa heran karena Vina tidak ada di ruangan itu. Dalam hati Sinta berharap Vina di kamar mandi.


"Tini, Vina mana?" tanya Sinta mengulang pertanyaan Sean. Tini mendongak. Sinta bisa melihat raut wajah Tini yang sedih.


"Vina sudah pergi Sinta, dia menitip ini," kata Tini sambil menyodorkan secarik kertas. Sinta cepat meraih kertas tersebut dan membacanya.


"Para sahabatku yang baik. Kak Andre dan kak Sean. Terima kasih karena sudah banyak membantu aku. Aku pergi. Aku tidak bisa ke rumah Cici karena aku takut Radit bisa menemukan aku. Aku juga takut melibatkan kak Andre dan kak Sean terlalu jauh dalam masalah aku ini. Karena aku tidak mau merusak persahabatan diantara kalian. Jika orang tua aku bertanya kepada kalian. Tolong katakan bahwa aku baik baik saja. Aku menyayangi kalian. Terima kasih.


Sinta melemas dan menangis. Dia tidak menyangka bahwa Vina akan pergi. Sinta sangat mengkhawatirkan Vina. Apalagi Vina masih harus bed rest. Kalau Vina tidak bersama orangtuanya sekarang. Jadi Vina sama siapa?. Sinta bertanya dalam hatinya.


"Vina kamu dimana?. Kenapa seperti ini Vin?" kata Sinta menangis. Dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. Sama seperti Sinta, Andre dan Sean juga Tini dan Indah sangat mengkhawatirkan Vina. Mereka semua menampakan raut wajah yang sedih. Andre mengusap punggung Sinta dan memeluknya.


"Kita doakan Vina baik baik saja sayang, kamu harus memikirkan janin kita," kata Andre menenangkan Sinta.


"Radit sialan. Untuk apa kamu ke sini?" tanya Tini marah. Ketika dia menoleh ke pintu. Radit berdiri di sana. Semua mata kini mengarah ke pintu. Radit berjalan masuk.


Tanpa sepengetahuan Sinta dan Andre sudah dua hari ini Radit mengikuti Sinta. Radit sangat yakin seratus persen Sinta mengetahui keberadaan Vina. Hingga dia memutuskan mengikuti Sinta. Semalam Sinta tidak ke rumah sakit untuk mengunjungi Vina tidak membuat Radit langsung menyerah. Hari ini Radit kembali melakukan itu. Dia sengaja naik motor supaya Andre tidak mengenalinya.


"Jadi benar dugaan aku, bahwa ternyata memang benar. Kalian sengaja menyembunyikan Vina dari aku. Dan kamu Sean kenapa kamu ikut ikutan mereka?" tanya Radit marah. Andre dan Sinta terdiam. Sean juga diam. Dia tidak mau menjawab Radit karena itu akan membuat Radit bertambah marah. Sean sudah tahu karakter Radit. Jika Radit marah paling tidak bisa dijawab dan lebih bagus didiamkan.


"Kalian harus mempertanggungjawabkan ini," kata Radit marah. Dia menunjuk muka Andre dan Sinta. Andre menyenggol bahu Sinta supaya diam. Seperti Sean Andre juga sudah mengetahui karakter Radit. Dia malu harus adu mulut di ruangan ini. Setelah ini, Andre berencana mengajak Radit untuk berbicara berdua saja.


"Enak saja kamu mengatakan itu. Harusnya kamu yang bertanggung jawab. Vina sakit dan pergi itu karena ulah kamu," jawab Tini juga marah. Dia turun dari bed. Dia tidak terima ketika Radit mengatakan Andre dan Sinta yang bertanggungjawab. Apalagi cara Radit dengan menunjuk wajah Andre dan Sinta. Darah Tini serasa mendidih melihat kelakuan Radit. Tini kini sudah berdiri di hadapan Radit.


Radit memandangi Tini dari atas sampai ke bawah. Dia ingat bahwa Tini lah teman duet Sinta ketika bernyanyi di pesta pernikahannya dengan Vina.


"Kamu juga ikut menyembunyikan?" tanya Radit lagi.


"Kalau iya. Kamu mau bilang apa?" jawab Tini. Tini bahkan menggulung lengan bajunya. Seakan menantang Radit untuk berduel. Sean yang melihat itu mendekat ke Tini. Sean takut Radit kalap dan melampiaskan kemarahannya ke Tini.


"Kamu juga harus ikut bertanggungjawab," kata Radit sambil menunjuk kening Tini. Tini menghempaskan tangan Radit dengan kasar.


"Bagaimana caraku mempertanggungjawabkannya," tanya Tini tenang dan masih menantang Radit.


"Kamu cari Vina sampai ketemu jika tidak..."


"Jika tidak apa?" potong Tini cepat.


"Aku akan menjebloskan kalian semua yang menyembunyikan Vina dari aku ke penjara," jawab Radit sambil menunjuk wajah mereka satu persatu.


"Sebelum itu terjadi. Kamu yang duluan masuk penjara. Kamu menyiksa sahabatku. Kamu memperkosanya. Mana yang lebih pantas masuk penjara. Kami yang menolong Vina atau kamu yang membuatnya hampir keguguran. Jawab banci kaleng!. Aku bahkan punya rekaman Vina yang menceritakan bagaimana buasnya kamu memperkosanya," kata Tini semakin marah. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Yang ada kemarahan yang siap menghajar Radit. Radit tentu saja terkejut mendengar perkataan Tini. Radit terdiam mencerna perkataan Tini. Saat Vina bercerita, diam diam Tini merekamnya. Dan rekaman itu masih tersimpan di ponselnya.

__ADS_1


"Vina hamil?" tanya Radit pelan. Tangannya kini mengusap wajahnya yang frustasi. Bukan kemarahan lagi yang terlihat di wajah Radit. Melainkan wajah yang kebingungan dan ketakutan. Perbuatan amoralnya sudah diketahui oleh para sahabat Sinta dan sahabatnya.


"Ya Radit. Vina hamil tiga bulan. Itulah alasannya Vina dirawat di rumah sakit ini. Kandungannya lemah dan hampir keguguran. Vina tidak ingin lagi bertemu dengan kamu. Demi menjaga kandungnya kami berjanji ke Vina untuk tidak membuka mulut jika kamu bertanya tentang keberadaan Vina. Perbuatan kamu bukan hanya menyakiti fisiknya tetapi juga menyakiti psikisnya," jawab Andre. Radit terdiam. Dia kembali membuka lipatan kertas surat dari Vina. Tetapi secepat kilat. Tini merampasnya.


"Kamu tidak pantas memilki apapun tentang Vina termasuk surat ini banci kaleng," kata Tini masih marah. Dia melihat kertas itu dan memasukkan ke saku kemejanya.


"Diam," bentak Radit marah. Suaranya menggelegar di ruangan itu. Sinta, Cici, dan Indah sampai tersentak.


"Eh kalian. Kalau mau ribut jangan di sini. Istri saya terganggu karena suara kalian," kata seorang bapak marah yang menyembul dari balik tirai.


"Maaf pak, apakah bapak tahu siapa yang menjemputnya istri saya yang di rawat di sini juga?" tanya Radit kepada bapak itu. Radit menyadari bahwa ruangan rawat Vina ternyata hanya ruangan kelas dua.


"Dia dijemput seseorang tadi," jawab bapak itu. Masih hanya kepalanya yang menyembul dari balik tirai. Andre dan yang lainnya spontan menoleh ke bapak itu.


"Laki laki atau perempuan?"


"Laki laki dan sepertinya mereka masih seumuran,"


"Apakah bapak mendengar siapa namanya tadi. Maksud aku. Istri aku memanggilnya bagaimana?"


"Kalau itu aku tidak mendengarnya."


Sinta merasa lega mendengar perkataan bapak itu. Walau Vina tidak jadi ke rumah Cici. Setidak Vina tidak sendiri. Sedangkan Radit wajahnya semakin memucat. Takut dan menyesal bercampur dalam hatinya. Apalagi setelah tahu bahwa Vina hamil. Sisi kemanusiaannya muncul.


"Kalian masih di sini?" tanya Tini membuyarkan lamunan Sinta, Cici dan Indah. Radit yang sempat termenung pun tersentak karena perkataan Tini. Radit melangkah keluar dan menuju ruang administrasi. Dia bertanya tentang pembayaran biaya Vina. Radit melemas karena tidak juga mendapat titik terang dari sana. Dengan lesu Radit keluar dari ruangan itu.


Radit setengah berlari keluar dari rumah sakit ketika dilihatnya Andre dan yang lainnya masih di parkiran.


"Andre," panggil Radit. Andre dan yang lain menoleh. Mereka semua masih berjalan menuju mobil.


"Kalau Vina mengabari salah satu dari kalian. Tolong beritahu aku," kata Radit memohon.


"Entahlah bro. Kami saja masih bingung kemana Vina pergi dan ingin mencarinya. Tetapi kamu terkesan seakan akan hanya menunggu kabar dari Vina tanpa berusaha mencarinya," jawab Andre pelan.


"Aku juga akan berusaha mencarinya Andre. Tapi aku yakin dia akan mengabari istri kamu. Aku membutuhkan itikad baik kalian jika Vina memberi kabar,"


"Kami tidak akan memberitahu kamu. Kami hanya akan mengabari orangtuanya. Di surat ini juga Vina menginginkan seperti itu," jawab Tini sengit. Dia mengambil surat dari sakunya dan menggoyangkan di depan wajah Radit.


"Diam lah kamu wanita setengah pria. Dari tadi kamu yang memancing kemarahan aku. Kamu tidak tahu siapa aku?" kata Radit marah. Perkataan Tini kembali memancing kemarahannya. Tini juga semakin marah karena Radit menyebutnya wanita setengah pria.


"Tentu saja tahu. Kamu adalah banci kaleng yang memperkosa istri sendiri. Kalau kamu masuk penjara. Bisa dipastikan napi yang lain akan membakar burung perkutut mu itu," kata Tini berani. Andre dan Sean menyembunyikan wajahku yang tersenyum karena mendengar perkataan Tini. Sedangkan Radit semakin marah. Keberadaan Vina yang tidak diketahui ditambah dengan perkataan Tini yang memancing kemarahannya membuat Radit mengepalkan tangannya. Giginya berbunyi karena menahan marah.


Sean menarik Tini masuk ke mobilnya. Dia tahu Radit sudah sangat marah.


"Mas, seandainya kamu bukan dosen kami. Entah sebutan apa yang akan dikatakan Tini terhadap kamu," kata Sinta setelah mereka berdua di mobil. Tini, Cici dan Indah kembali ikut mobil Sean.


"Kamu tidak ingat aku disebut dengan mantan berengsek?" tanya Andre sambil menyetir. Dia mengagumi keberanian Tini menghadapi Radit. Radit seakan tidak berdaya menjawab setiap perkataan Tini yang pas tidak terbantahkan.


"Apa kamu marah mas, Tini menyebut kamu seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak sama sekali. Karena aku pantas mendapat sebutan itu,"


"Entah darimana Tini dapat istilah itu mas. Kak Radit sudah dapat julukan banci kaleng," kata Sinta tertawa. Andre juga ikut tertawa sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2