
Sinta dan Vina beriringan berjalan menuju Fakultas Ekonomi. Mereka bertemu di depan kolam karena permintaan Vina. Sinta dan Andre sudah terlebih dahulu sampai di kampus 15 menit yang lalu. Tapi karena menunggu Vina. Sepertinya mereka akan terlambat masuk ke ruangan. Mereka akan masuk ke ruangan yang sama. Pernah sama sama hamil di waktu yang bersamaan. Membuat mereka banyak ketinggalan mata kuliah. Tapi itu tidak menyurutkan untuk melanjutkan pendidikan. Prinsip mereka. Nikah muda dan punya anak boleh. Tapi pendidikan harus digapai.
Sinta dan Vina bersamaan menoleh ke belakang. Tini mempercepat langkahnya untuk cepat tiba di tempat Sinta dan Vina berdiri. Tini tidak mengikuti mata kuliah lagi. Dia ke kampus hanya untuk menyesuaikan jadwal dosen pembimbing dan dua dosen penguji. Dalam Minggu ini, Tini akan berencana untuk seminar pertama skripsinya sebagai syarat untuk melanjutkan skripsinya ke bab selanjutnya.
Setelah berbincang sebentar, Tini memisahkan diri dari Sinta dan Vina. Tini ke lantai dua untuk menjumpai dosen penguji sedangkan Sinta dan Vina menuju ruangan mereka. Dari raut wajah mereka terlihat cemas. Mereka menyadari jika mereka sudah terlambat beberapa menit.
Sinta mengetuk ruangan itu. Sang dosen yang tidak lain adalah Andre. Seketika menoleh ke pintu. Dia melirik jam tangannya. Merasa dua sahabat itu tidak terlalu terlambat. Andre akhirnya mengangguk mempersilahkan dua sahabat itu untuk masuk.
Sinta dan Vina duduk di paling depan. Tepat di depan meja Andre. Bukan keinginan mereka untuk duduk di depan. Datang terlambat tidak memungkinkan mereka untuk memilih tempat duduk. Mereka berdua dengan pasrah duduk di bangku kosong yang hanya itu yang tersedia. Sinta menunduk sambil tersenyum ketika tidak sengaja matanya bertemu dengan mata milik suaminya. Tetapi Andre terlihat sangat profesional. Dia tidak menunjukkan sebagai suami Sinta di ruangan kelas. Andre memperlakukan semua mahasiswa sama tidak ada yang istimewa walaupun Sinta adalah istri yang sangat dicintainya.
"Saya akan membagikan hasil kuis minggu lalu," kata sang dosen memecahkan kesunyian di ruangan itu. Sang dosen mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia mengambil tumpukan kertas dari dalam tas kerja miliknya.
Sedangkan para mahasiswa sudah penasaran dengan nilai mereka. Hari ini mereka belajar Ekonomi manajerial yang terkenal sulit dan jarang mendapat nilai bagus. Para kakak senior yang sudah melewati tahap ini hanya pasrah mendapat nilai C yang paling tertinggi. Kalaupun ada dapat nilai B. Itu sudah luar biasa atau karena keajaiban.
Sang dosen sudah membacakan nama mahasiswa satu persatu. Dan nama Sinta juga sudah disebut. Setelah melihat nilainya. Sinta hanya menunduk. Vina yang terlihat penasaran dan ingin melihat kertas jawaban Sinta, tidak berhasil untuk mengetahui nilai kuis milik Sinta. Vina beranjak dari duduknya setelah namanya disebut.
"Dapat nilai berapa?" bisik Sinta setelah Vina duduk. Vina menunjukkan kertasnya dengan bangga. Vina mendapat nilai 70. Nilai yang sangat bagus dan sangat jarang untuk mata kuliah ini. Sinta kembali menundukkan kepalanya.
"Kamu dapat nilai berapa?" bisik Vina ketika melihat Andre sudah berdiri membelakangi mereka dan menulis judul materi di papan tulis. Sinta hendak memberitahu tapi suara Andre menghentikan ucapannya.
"Yang mendapat nilai 40 ke bawah. Itu hanya penghargaan karena menulis soal dengan benar," kata Andre membuat mahasiswa banyak yang menunduk malu. Sinta apalagi. Melihat hasil nilainya. Sinta sebenarnya ingin menangis. Apalagi setelah mendengar perkataan sang dosen barusan. Itu artinya apa yang dituliskan di kertas jawaban itu tidak ada yang benar.
"Yang mendapat nilai 60 ke atas. Angkat tangan," kata Andre lagi. Hanya ada 3 orang mahasiswa yang tunjuk tangan termasuk Vina dari 30 orang mahasiswa. Andre memuji ketiga Mahasiswa tersebut dan menjadikan mereka sebagai contoh untuk mahasiswa lain. Mahasiswa yang sudah mengetahui bahwa Sinta adalah istri Andre spontan melihat ke Sinta yang tidak mengangkat tangan.
"Nilai ini minimal nilai C. Kalau ingin lulus dari mata kuliah saya. Silahkan belajar baik baik dan bertanya jika tidak mengerti," kata Andre lagi. Dia tidak ada sedikitpun untuk mengistimewakan Sinta sebagai istrinya.
"Kamu sebenarnya nilai berapa?" tanya Vina lagi dengan berbisik. Sinta menunjukkan kertas jawaban dan Vina tertawa sambil menutup mulutnya. Bukan mengejek. Karena beberapa semester bersama Sinta. Nilai ini adalah nilai terjelek yang didapat oleh Sinta. Sewaktu hamil Airia pun dia tidak pernah mendapat nilai dibawah 70. Ini dengan suami sendiri sebagai dosen. Sinta justru mendapat nilai yang sangat jelek.
"Kalau nilai 40 sebagai penghargaan karena menulis soal dengan benar. Jadi itu nilai untuk apa?" tanya Vina lagi. Masih dengan berbisik.
"Tidak tahu," jawab Sinta kecewa dan malu. Dia mendapat nilai 35 dari suaminya sendiri. Sinta malu terhadap dirinya sendiri dan kepada Andre. Seharusnya sebagai istri dosen, dia harus mendapatkan nilai yang wajar. Tapi Andre tidak seperti itu. Andre menilai hasil belajar mahasiswa secara obyektif bukan subjektif.
Andre kembali menerangkan materi dengan serius. Dari caranya mengajar harusnya mahasiswa cepat mengerti. Tapi bagi Sinta sendiri, apa yang diajarkan oleh Andre itu masih belum bisa dicerna oleh otaknya. Bukan karena main main belajar. Sinta sudah memusatkan perhatiannya tapi pelajaran itu masih belum juga dimengerti.
"Ada pertanyaan," tanya sang dosen setelah materi itu selesai diterangkan. Mahasiswa tidak ada satupun yang angkat tangan. Bahkan Sinta yang tidak mengerti sama sekali tidak berani untuk bertanya. Dia pura pura tidak mendengarkan pertanyaan itu dengan serius menulis. Andre menatap Sinta yang serius menulis apa yang dituliskan Andre di papan tulis.
"Semua sudah mengerti. Bagus kalau begitu. Semoga jika ada kuis. Semuanya dapat nilai 60. Untuk membantu nilai kuis yang rendah. Silahkan kerjakan soal ini," kata sang dosen lagi. Andre menuliskan tiga soal di papan tulis itu. Para mahasiswa juga melakukan hal yang sama. Menulis tiga soal itu di buku masing masing.
__ADS_1
Andre keluar dari ruangan dengan membawa tas kerjanya. Tini sudah menyambut Andre di depan pintu untuk menyesuaikan jadwal Andre dengan dua dosen penguji yang sudah Tini ketahui jadwalnya.
"Pak Andre. Ini jadwal pak Bambang dan pak Suryo untuk seminar pertama saya pak," kata Tini sambil menyodorkan secarik kertas kepada Andre. Pak Bambang dan pak Suryo adalah dua dosen penguji Tini yang akan mengujinya layak tidaknya menjadi sarjana.
"Kita bicarakan di ruangan saya," kata Andre sambil menerima kertas tersebut.
"Oke pak. Aku dan Sinta akan ke ruangan bapak," jawab Tini sopan. Andre mengangguk dan berjalan menuju tangga ke lantai dua.
"Sinta, Vina. Bagaimana pelajaran ini. Gampang tidak," tanya Tini yang sudah masuk ke ruangan. Sinta dan Vina masih menulis soal. Tini menarik bangku dan duduk dekat dua sahabatnya itu. Sinta memberitahu nilai kuisnya dan Tini tertawa terbahak-bahak.
"Kamu dapat nilai berapa mata kuliah ini," tanya Vina ke Tini.
"Dapat C. Dari satu kelas hanya ada dua orang dapat nilai B," jawab Tini.
"Laki laki atau perempuan," tanya Sinta.
"Laki laki Sinta. Kalau perempuan, kamu curiga?" tanya Tini. Sinta mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Tinggal mereka bertiga di ruangan itu.
"Punya suami pernah main gila dengan perempuan lain. Tentu saja aku ada sedikit kecurigaan Tini," jawab Sinta. Vina sudah selesai menulis.
"Maksud kamu Sinta. Kak Andre masih mencurigakan?" tanya Vina.
"Maksud kamu Sinta?" tanya Vina.
"Suamiku mantan brengsek Vina. Takut saja kembali brengsek. Tini saja pernah bernegosiasi untuk nilai mata kuliah ini dengan mas Andre karena takut gagal lulus. Iya kan Tini," tanya Sinta membuat Tini gelagapan. Dia pernah memang bernegosiasi dengan Andre ketika waktu itu Andre meminta trik supaya Sinta tidak meninggalkan Andre. Waktu itu tepat di pernikahan Vina.
"Pernah. Tapi tidak berhasil. Kak Andre tetap saja menyuruh untuk rajin belajar supaya dapat nilai bagus. Tidak ada nepotisme sama sekali," jawab Tini kesal. Dia sangat bersusah payah untuk mendapatkan nilai C itu.
"Tini, Vina. Aku duluan," kata Vina. Dia sudah ditunggu oleh Radit di parkiran. Siang ini mereka rencananya akan pindah rumah ke jalan kenangan. Dan dari pesan yang dikirimkan Radit. Kedua mertuanya sudah menunggu kedatangan mereka di rumah jalan kenangan.
"Kok terburu buru. Masih jam sepuluh lewat," protes Sinta. Biasanya mereka akan mengobrol sebentar sebelum pulang.
"Kami mau pindah rumah ke jalan kenangan siang ini Sinta."
"Kamu yakin," tanya Tini terkejut. Vina mengangguk.
"Tenang saja Tini. Aku buka tipe orang pendendam dan larut terhadap masa lalu. Aku sangat yakin. Lain kali kalau ada waktu. Kalian datang berkunjung ya," jawab Vina sambil menepuk bahu Tini. Tini mengacungkan jempolnya. Dia juga sebenarnya sangat rindu dengan tiga bayi kembar Vina.
__ADS_1
"Nanti aku ajak kak Sean. Bagaimana dengan kamu Sinta. Weekend sepertinya waktu yang tepat."
"Aku ga bisa janji Tini. Vina. Tau sendirilah punya bayi," kata Sinta.
"Baiklah aku pergi dulu," pamit Vina. Dia setengah berlari keluar dari ruangan karena tidak ingin Radit terlalu lama menunggu.
Sinta dan Tini juga akhirnya keluar dari ruangan. Tini harus membujuk Sinta supaya bersedia menemaninya ke ruangan Andre. Sebenarnya Tini bisa sendiri. Tapi kalau bersama Sinta. Tini bisa merasa lebih seru dan bisa menjahili Andre. Sinta sebenarnya ingin ke perpustakaan untuk mencari beberapa buku tapi bukan Tini namanya kalau tidak berhasil membujuk.
"Masuk," sahut Andre dari dalam. Tini membuka pintu ruangan Andre perlahan dan melangkah masuk. Sinta mengikuti dari belakang dan menutup pintu. Karena tidak ada urusan kampus dengan Andre. Sinta langsung duduk di sofa sedangkan Tini duduk di bangku di depan meja kerja Andre.
Tini dan Andre terlihat menyesuaikan jadwal. Setelah cocok, seminar pertama skripsi milik Tini akan diadakan hari Kamis jam 2. Tini terlihat lega dan senang. Berbeda dengan Sinta yang masih memikirkan nilai kuisnya.
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Ekonomi manajerial dapat nilai segitu sudah biasa Sinta," kata Tini sambil berjalan dan duduk di sofa. Andre terkejut dengan perkataan Tini. Dia juga duduk di sofa di sebelah Sinta.
"Kalau mau dapat nilai bagus. Harus rajin belajar donk mi. Bukan main joget joget dengan Airia terus," kata Andre bercanda dan mencolek pipi Sinta terlihat biasa saja. Andaikan hanya mereka berdua di ruangan itu. Dia sudah menghempaskan tangan Andre. Dia selalu main joget joget mengikuti tren sekarang bukan karena kemauannya. Tapi Airia yang selalu merengek meminta memainkan salah satu aplikasi yang terkenal dengan joget joget itu.
"Ya ampun. Sama istri juga perhitungan kasih nilai pak. Kapan tamatnya Sinta?. Ekonomi manajerial itu sulit loh pak. Langsung kasih nilai 60 atau bocoran soal. Gampang kan?" kata Tini.
"Tidak semudah itu Tini. Kampus ya kampus. Tidak ada nepotisme atau perlakuan khusus apalagi menyangkut nilai walau itu dengan istriku sendiri," kata Andre tegas. Sinta juga sebenarnya tidak ingin seperti itu. Dia hanya menyesal tidak belajar serius di rumah dan tidak meminta Andre untuk mengajarinya di rumah.
"Kalau suami aku seperti itu Sinta. Akan aku buat dia berpuasa satu semester. Biar tinta putihnya mengeras," kata Tini tenang. Andre sudah kesal mendengar perkataan Tini yang mengompori Sinta. Apalagi melihat Sinta hanya diam. Andre takut kompor Tini berpengaruh ke Sinta.
"Dasar kompor hock. Kamu lupa aku dosen pembimbing kamu?" tanya Andre kesal.
"Peace kak. Ingat kok. Kalau tidak ingat sudah pasti aku akan menambah sumbu kompor hock seperti yang kakak bilang itu," jawab Tini dengan membuat wajah yang menyesal. Andre mengulurkan tangannya untuk menoyor kepala Tini.
"Jangan kasar kak. Ingat aku hamil."
"Keluar sana. Konfirmasi ke dua dosen penguji kamu tentang jadwal seminar kamu itu," usir Andre. Tini tersenyum dan beranjak dari duduknya. Dia senang karena berhasil menjahili Andre.
"Sinta, bila perlu pindah tidur ke rumah ku," kata Tini lagi sebelum membuka pintu. Andre mengangkat asbak dan Tini membuka pintu sambil terkekeh.
"Aku harap kamu mengerti sayang. Aku tidak ingin nama baik kampus tercoreng karena mengistimewakan dirimu," kata Andre sambil memeluk Sinta. Sinta mengangguk. Dia juga menyadari akan sulit di posisi dirinya sebagai istri sekaligus mahasiswa Andre. Mendapat nilai jelek akan mendapat penilaian negatif dari mahasiswa lain. Percuma istri dosen pasti tanggapan mereka. Tetapi mendapat nilai bagus juga akan mendapat kecurigaan dari mahasiswa lain. Pasti ada juga yang mencurigai jika Sinta diistimewakan.
"Aku mengerti Papi," jawab Sinta pelan. Dia juga tidak ingin nama kampus tercoreng. Selama ini kampus ini adalah kampus favorit di kota ini juga dari luar kota. Terkenal disiplin dan juga mencetak sarjana sarjana yang langsung banyak diterima kerja di perusahaan besar di negeri ini. Sinta tidak ingin hanya karena dirinya. Kampus ini tercoreng dan tidak diminati masyarakat.
"Aku akan mengajari kamu di rumah," kata Andre lagi.
__ADS_1
"Aku cari buku ke perpustakaan dulu Pi."
"Kamu lupa suamimu seorang dosen. Di sana banyak buku. Cari saja di sana," kata Andre sambil menunjuk rak rak buku di sudut ruangan itu. Sinta beranjak dari duduknya dan mencari buku yang diinginkannya.