
Tini bisa bertindak tegas kepada Intan, tapi tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menangis. Setelah duduk di mobil. Akhirnya sisi rapuh seorang wanita terlihat dalam diri Tini. Di mobil Radit, bahu Tini berguncang karena menangis. Vina yang duduk bersamanya di bangku belakang hanya bisa membeli sang sahabat. Sean yang duduk di bangku kemudi karena Radit terluka juga sudah membalikkan tubuhnya. Tangannya terulur membelai rambut istrinya.
Permasalahan yang dihadapi Tini memang tidak menyangkut mereka berdua sebagai suami istri. Tapi tetap saja permasalahan ini adalah ujian berat bagi Tini. Tini sendiri Tidka bisa membayangkan bagaimana hancurnya mama Mia mengetahui masalah ini. Apalagi wanita yang berusaha menghancurkannya adalah wanita yang sangat dikenalnya.
"Apa kita perlu melakukan visum supaya ada bukti memasukkan dia ke penjara?" tanya Radit kepada Tini. Radit sangat kasihan melihat kesedihan adik angkatnya itu. Radit sengaja bertanya seperti itu supaya Tini puas melihat penderitaan si pelakor. Jika Tini menginginkan Intan di penjara maka luka di perutnya bisa dijadikan alasan untuk memenjarakan sang mantan.
"Tidak perlu kak," jawab Tini. Memiskinkan kembali dan meninggalkan jejak di bibir Intan sudah cukup bagi Tini. Dia mengetahui sedikit latar belakang keluarga Intan. Tini kasihan jika orang tua Intan yang tidak mengetahui apa apa akan kelakuan putrinya di kota.
"Tapi bagaimana kalau dia melaporkan kamu sayang?" tanya Sean takut. Bagaimana pun Tini meninggalkan jejak kekerasan di bibir Intan. Jika dilaporkan, tentu saja Tini bisa ditangkap karena ada bukti.
"Tidak perlu takut kak. Jika pun dia melaporkan aku itu akan suatu kemudahan bagi ku untuk semakin menghancurkannya," jawab Tini sambil mengusap air matanya. Tini menyuruh Sean untuk menjalankan mobilnya karena mobil papanya sudah menunggu di depan.
"Tentang tante Mia. Apa kamu serius untuk mengungkapkan perselingkuhan om Indra tin?" tanya Vina.
"Itu harus Vina. Apapun keputusan mamaku akan berterima. Termasuk jika mereka berpisah."
"Apa kamu tidak takut, Tante Mia akan shock Vin, kamu harus hati hati untuk memberitahukannya."
"Kalau shock itu pasti Vina, tetapi yang aku tahu selama ini. Mamaku tidak ada riwayat penyakit jantung atau darah tinggi. Jadi aman untuk memberi kejutan yang melukai hatinya."
"Ini kode keras buat kamu Sean," kata Radit bercanda sambil menoleh ke Sean. Pria itu tidak mengerti arti kode keras yang dikatakan oleh Radit.
"Maksud kamu?" tanya Sean.
"Kamu tidak lihat tadi bagaimana Tini menghajar Intan. Cukup Intan wanita pertama dan terakhir mendapatkan serangan dari Tini," kata Radit. Sean hanya terkekeh. Tapi hatinya juga membenarkan perkataan Radit. Dia juga tidak dapat membayangkan jika dirinya menjadi sasaran kemarahan Tini. Apalagi Tini mampu mengelabui di sekitarnya sehingga gerakannya tidak terbaca. Belum lagi tenaga dalam yang sudah terasah. Dalam penglihatan awam. Tini hanya menendang atau meninju Intan dengan pelan. Tapi efeknya Intan bisa tersungkur dan bahkan giginya hampir rontok.
"Aku mana berani berbuat seperti itu bro. Lagipula tidak ada niat. Jika ada niat kenapa tidak waktu sendiri saja. Jangankan untuk bermain main dengan wanita. Nikah saja sesudah umur tua seperti ini," jawab Sean jujur.
"Kalau mendengar keterangan dari papaku. Dia pun tidak ada niat kak. Tapi lihat apa yang terjadi. Sepuluh tahun, mereka bermain di belakang mamaku. Intinya bukan ada niat atau tidak. Tapi kejujuran ke pasangan. Andaikan papaku jujur kepada mama ketika pertama kali terjebak oleh Intan. Pasti perselingkuhan itu tidak terjadi. Tapi karena kebodohan dan sok bisa mengatasi masalah. Papaku terbenam dalam dosa," kata Tini.
"Tuh, dengar kalian berdua itu. Kalau kami sih sudah ada perjanjian. Ayah masih ingat kan perjanjian itu," tanya Vina.
"Masih ingat donk Bun. Dan pasti selalu ingat," jawab Radit pasti.
"Perjanjian apa sih. Jadi penasaran," tanya Sean.
"Aku sudah berjanji jika menyakiti Vina. Maka aku rela dikebiri," jawab Radit. Sean menoleh sebentar ke Radit. Dia mengetahui arti dari kebiri. Membayangkan saja, Sean sudah bergidik nyeri. Sedangkan Tini tertawa.
"Kalau kak Sean, berani tidak berjanji seperti kak Radit," tanya Tini sambil meletakkan wajahnya di sandaran kursi Sean. Sean hanya terkekeh tanpa menjawab.
"Kalau begitu cintamu diragukan kak," kata Tini pura pura cemberut. Dia bisa merasakan cinta tulus Sean kepadanya. Tapi mengetahui janji Radit ke Vina. Tini juga ingin mengetahui bagaimana Sean menyayangkan aset berharganya.
"Jangankan di kebiri sayang. Jika ada wanita lain di hatiku. Dipotong juga aku rela. Terus potongan itu kamu gantung di atas pintu rumah kita sebagai jimat anti pelakor," kata Sean sambil membelokkan setirnya. Tinggal beberapa menit lagi mereka akan sampai di rumah Radit. Radit dan Vina tertawa.
"Aku tidak yakin kak. Yang masuk akal sajalah. Kalau dikebiri masih bisa aku yakin."
"Kamu tidak percaya. Perlu bukti?" tanya Sean sambil tertawa.
"Bukti yang kamu inginkan mempunyai wanita dulu baru di potong. Begitu?. Coba saja kalau berani," ancam Tini. Sean dan Radit tertawa.
__ADS_1
"Percaya padaku sayang. Tanpa ancaman pun. Aku akan setia dan jujur kepadamu. Belah dadaku sayang. Nama Anggun tertulis tegak bersambung di dada ini," kata Sean serius. Radit dan Vina kembali tertawa. Walau gombalan Sean terdengar garing tapi mereka bisa merasakan bahwa Sean benar benar tulus.
"Kalau dibelah yang mati donk kak. Aku tidak mau."
"Nah itu tahu. Makanya percaya pada suamimu ini. Kalau aku mati yang rugi siapa. Kamu kan?.
"Iya. Iya. Aku yang rugi."
Pembicaraan di mobil itu bisa mengalihkan kesedihan Tini. Hingga mobil sudah berhenti di halaman rumah Radit. Wajah Tini tidak sesedih tadi. Tidak lama kemudian mobil Handoko juga menyusul berhenti di halaman itu.
Radit mempersilahkan Handoko masuk ke rumah begitu juga Sean dan Tini. Tetapi sepasang suami istri itu memilih untuk langsung pulang tanpa masuk ke rumah Radit.
Papa Jack tentu saja terkejut melihat keberadaan Handoko di rumah itu. Dia sudah mulai berpikir yang tidak tidak tentang kedatangan Handoko. Apalagi sebelumnya Radit sudah menceritakan tentang masa lalunya yabg berkaitan dengan Handoko. Tapi rasa cemas itu hilang setelah Handoko menceritakan secara singkat tentang persahabatan putrinya dengan Radit. Radit yang mendengar penjelasan Handoko maklum atas penjelasan itu. Tidak mungkin Handoko menceritakan semua apa yang terjadi kepada Jack satu harian ini.
Dua pria tua itu naik ke atas lantai tiga setelah terlebih dahulu papa Jack memamerkan cucu cucu kesayangannya. Vina menyempatkan diri membuat kopi untuk mertuanya dan Handoko. Vina menyajikan nastar sebagai cemilan dua pria itu. Sebagai istri Radit, Vina juga berterimakasih kepada Handoko yang sudah memberi kesempatan kepada suaminya untuk menjalin kerja sama. Sedangkan Radit langsung ke ruang kerjanya untuk mempersiapkan bahan materi yang harus di presentasikan hari Senin di hadapan Handoko dan Rio. Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang ada di perutnya.
"Vina," panggil Mama Anisa yang sengaja duduk di ruang tamu menunggu Vina membuat kan kopi untuk papa mertua dan Handoko.
"Ya ma."
"Boleh kita berbicara di kamar kamu?" tanya mama Anisa.
"Boleh ma. Yuk!.
Vina membantu mama mertuanya untuk berdiri. Dengan menggandeng tangan mama Anisa. Mereka menaiki tangga. Sekilas mereka bukan seperti mama mertua dan menantu melainkan nama kandung dan putrinya.
"Ada apa ma. Mama mau curhat?" tanya Vina sambil terkekeh dan mendudukkan mertuanya di sofa yang ada di kamar itu.
"Boleh donk ma. Curhat apa nih?" tanya Vina sambil memijit kaki mertuanya yang sudah diletakkan di pahanya. Vina memperlakukan mama Anisa seperti mama Rita ibu kandungnya. Mama Anisa tersenyum. Sungguh dia bersyukur mempunyai menantu seperti Vina.
"Mama hanya ingin memberikan ini kepadamu nak," kata mama Anisa setelah mengambil beberapa kotak dari tas besar yang dibawanya tadi.
"Apa ini ma?" tanya Vina heran dan terkejut. Mama Anisa menyuruh Vina untuk membuka kotak kotak itu. Vina bisa melihat banyaknya perhiasan di kotak tersebut dari berbagai ukuran. Ada yang tebal dan ada yang tipis. Mulai dari gelang, kalung, cincin dan anting.
"Yang itu emas. Dan yang ini berlian," kata mama Anisa lagi sambil menyodorkan satu kotak. Vina membuka kotak tersebut. Sama seperti kotak pertama. Kotak itu juga berisi berlian dari berbagai bentuk.
"Apa maksudnya ini ma?" tanya Vina bingung.
"Ini semua aku berikan kepada kamu nak. Simpan baik baik. Tapi jika terdesak seperti sekarang ini kamu bisa membantu Radit dengan menjualnya. Tapi kalau bisa disimpan. Disimpan saja dulu. Jangan sampai Radit mengetahui ini. Sebagai wanita, kita perlu mempunyai simpanan tanpa sepengetahuan suami. Bukan bermaksud untuk mengajari kamu tidak jujur. Tapi sebagai istri pengusaha. Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Itu sebabnya kamu perlu mempunyai tabungan. Ini semua adalah simpanan mama tanpa sepengetahuan papa. Itulah sebabnya aku berikan ke kamu. Mama takut keburu mati."
"Jangan berkata seperti itu ma. Mama harus optimis bisa sehat kembali," kata Vina. Mama Anisa kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ubah sertifikat ini menjadi namamu," kata mama Anisa sambil menyodorkan sertifikat itu ke tangan Vina.
"Ma."
"Jangan menolak. Ini juga tanpa sepengetahuan papa mertua kamu. Dan ini juga rahasiakan dari Andre. Kamu juga bisa menjualnya jika suatu saat terdesak," kata mama Anisa. Vina kembali bingung. Dia merasa tidak enak hati menerima semua ini. Dia hanya seorang menantu. Ada Radit yang lebih berhak atas semua ini.
Vina membuka dan membaca sertifikat itu. Sertifikat tanah yang luas yang berada dekat dengan kampusnya.
__ADS_1
"Sudah ada bangunan di atasnya. Beberapa rumah kontrakan sederhana. Kapan kamu mempunyai waktu. Aku akan mengajak kamu ke sana. Supaya mereka mengenali kamu sebagai pemilik yang baru."
"Aku rasa kalau tentang ini. Radit harus tahu ma. Bagaimanapun suatu saat Radit pasti tahu dan aku tidak ingin. Gara gara ini menjadi perselisihan nantinya," kata Vina. Nasehat mertuanya tentang simpanan tanpa sepengetahuan suami masuk akal baginya. Tapi jika menyangkut harta tidak bergerak seperti ini apalagi pemberian mama mertua. Vina tidak bersedia untuk merahasiakannya.
"Kalau sudah berubah menjadi namamu pasti tidak menjadi perselisihan nak."
"Tidak ma, apapun mama bilang jika menyangkut sertifikat ini. Aku tidak bersedia untuk merahasiakannya. Apalagi ini bukan satu sertifikat. Aku tahu maksud mama baik. Tapi tolong mengerti juga akan keinginanku," kata Vina. Mama Anisa menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh menantunya adalah hal baik. Mama Anisa hanya ingin Vina seperti dirinya. Diam diam mempunyai harta pribadi untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu dengan masalah keuangan keluarga.
"Terserah kamu. Simpan dulu kotak kotak itu nak. Kemudian panggil suami kamu kemari," kata mama Anisa. Vina menurut. Dia menyimpan kotak kotak perhiasan itu di lemarinya.
"Yah, sibuk?" tanya Vina ketika masuk ke ruang kerja Radit. Pria itu menoleh dan melambaikan tangan menyuruh Vina masuk.
"Ya ampun. Kamu bahkan belum ganti baju yah," kata Vina ketika baru menyadari jika suaminya terluka. Mulai turun dari mobil dia sibuk menjamu Handoko membuatkan kopi spesial.
"Maaf yah. Aku lupa tadi. Seharusnya sesampai di rumah aku langsung merawat luka kamu itu," kata Vina penuh sesal ketika melihat kotak obat di atas meja kerja Radit.
"Tidak Bun. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Tidak mungkin kita mengabaikan om Handoko yang sudah begitu baik memberikan kita kesempatan baik. Sudah. Tidak perlu dipikirkan. Mama dimana?. Kenapa tidak kamu temani mengobrol?.
"Mama di kamar kita yah. Aku disuruh memanggil kamu segera ke sana. Itupun jika pekerjaan kamu sudah selesai."
"Sebenarnya belum selesai. Bisa dilanjutkan nanti malam," jawab Radit. Mereka bergandengan tangan keluar dari kamar itu.
"Aduh," pekik Radit kesakitan. Dia lupa akan luka di perutnya. Ketika hendak menaiki tangga. Radit memposisikan dirinya untuk menggendong Vina baik ke atas.
"Kenapa yah?.
"Lupa punya luka," jawab Radit sambil meringis. Vina meniup luka itu supaya sakitnya cepat hilang. Radit terharu dengan perbuatan istrinya.
"Ada apa ma?" tanya Radit ketika mereka sudah duduk di sofa kamar. Mama Anisa menyerahkan tiga sertifikat tanah kepadanya. Radit tidak terlihat terkejut melihat surat itu.
"Papamu tidak mengetahui ini. Aku ingin memberikan kepada Vina. Tapi Vina tidak bisa diajak berahasia."
"Papa tidak mengetahui ini ma. Tapi aku mengetahui ini," kata Radit sambil membuka sertifikat sertifikat itu.
"Darimana kamu tahu. Apa saja yang kamu tahu?" tanya mama Anisa heran.
"Aku mengetahui semuanya ma. Termasuk perhiasan mama yang banyak itu. Tapi satupun tidak hilang kan. Aku anak baik. Aku tidak menyentuh harta harta pribadi mama," jawab Radit tenang. Dia mengedipkan sebelah matanya kepada sang mama.
"Kamu tidak keberatan kan jika. Tiga sertifikat itu berubah nama menjadi nama Vina?" tanya mama Anisa sambil menatap putranya.
"Tidak ma. Malah aku senang karena mama bisa menganggap istriku seperti putri kandung mama. Jarang jarang kan mama mertua dan menantu akur. Melihat kalian akur. Aku sangat bahagia ma," kata Radit jujur.
"Itu karena papa dan mama pintar mencari jodoh untuk kamu."
Radit tertawa. Yang dikatakan oleh mamanya adalah suatu kebenaran. Sementara Vina merasa lega. Pemberian mama Anisa diketahui oleh Radit. Dia tidak bisa membayangkan jika pemberian itu diterima tanpa sepengetahuan suaminya. Sementara Radit sudah mengetahui harta itu tanpa mama Anisa sadari. Bisa menjadi salah paham di kemudian hari jika sertifikat itu berubah nama tanpa sepengetahuan Radit.
"Mama mau sertifikat itu secepatnya berganti nama menjadi nama Vina," kata mama Anisa lagi.
"Dalam satu bulan ini aku usahakan ma. Tenang saja," jawab Radit. Mama Anisa mengangguk senang.
__ADS_1
"Radit, karena kamu sudah mengetahui ini semua. Luangkan waktu kamu untuk menemani mama dan Vina ke tempat itu. Kalian harus tahu lokasinya seperti apa," kata mama Anisa lagi.
"Baik ma. Nanti pas hari Minggu saja kita ke sana," jawab Radit. Dia sadar setelah kerja sama itu terjalin dengan perusahaan Handoko dan Rio. Waktunya mulai hari Senin sampai Sabtu pasti tidak sempat.