Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kejujuran


__ADS_3

Cindy mengomel di tempat tidurnya. Hari ini, dia sudah diperbolehkan dokter pulang setelah empat hari dirawat di rumah sakit. Sebenarnya terlalu lama bagi pasien yang hanya keguguran dirawat di rumah sakit. Tetapi karena Cindy pendarahan, jadilah Cindy sampai empat hari di rumah sakit. Rasa sedih kehilangan janin dan kemarahan Andre membuatnya merasa sedih dan sering menangis.


Bosan, tentu saja Cindy sangat bosan. Terbiasa bebas dan melangkah kemana saja membuatnya merasa stres di rumah sakit yang tidak dia sadari semakin memperlambat pemulihannya. Apalagi Andre hanya sebentar datang ke rumah sakit untuk melihatnya. Selanjutnya mama Ratih yang selalu menemani Cindy.


Sedangkan Rian, tidak pernah terlihat batang hidungnya menjenguk Cindy. Bukan karena tidak tahu atau tidak mau, tapi Cindy yang melarang. Cindy takut Andre semakin curiga kepadanya. Apalagi mama Ratih yang menjaga Cindy. Mama Ratih paling anti dengan Rian.


Kini hari yang ditunggu Cindy akhirnya tiba. Pagi ini Cindy diperbolehkan pulang ke rumah. Cindy menghubungi Andre untuk menjemputnya, tetapi Andre malah menyuruhnya untuk pulang naik taksi saja.


Cindy semakin curiga dan sangat yakin, bahwa Andre mempunyai selingkuhan di luar sana. Tidak mau berlama lama di rumah sakit, akhirnya Cindy pulang dengan taksi. Sedangkan mama Ratih juga pulang ke rumahnya sendiri.


"Mas, tega kamu mas," kata Cindy marah setelah tiba di rumah. Andre terlihat memegang berkas di tangannya dan duduk santai di sofa rumah tamu.


"Jangan sering marah, kamu baru pulih. Sebentar lagi aku harus ke luar kota," jawab Andre santai. Cindy dengan kasar menghempaskan tubuhnya duduk di hadapan Andre.


"Mas, kamu berubah," kata Cindy. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Cindy bisa melihat tidak ada kekhawatiran di mata Andre. Mata itu tidak memperlihatkan cinta sepertinya sebelumnya.


"Sikapmu yang membuat aku berubah Cindy. Aku sudah menerima kamu apa adanya. Tetapi perselingkuhan mu paling tidak bisa aku terima," jawab Andre.


"Aku tidak selingkuhan mas..."


"Kalau kamu tidak selingkuh, katakan hal apa yang menyebabkan kamu lelah sehingga kamu sampai keguguran. Berikan aku jawaban yang bisa aku terima," bentak Andre memotong perkataan Cindy. Cindy semakin menangis. Suara Andre yang membentak membuat jantungnya hampir copot. Andre masuk ke kamar dan membanting pintu. Cindy juga mengikuti Andre ke kamar.


Cindy meraih ponsel Andre yang terletak di meja rias. Sedangkan Andre membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Cindy terkejut, wallpaper ponsel Andre adalah seorang bayi, tapi itu bukan Alexa. Cindy membuka galeri foto. Cindy semakin terkejut, begitu banyak foto foto bayi di ponsel itu tetapi bukan fotonya putrinya. Dari sekian banyak foto hanya ada satu atau dua foto Alexa selebihnya foto bayi tersebut.


Cindy meletakkan kembali ponsel itu di meja rias. Tangannya sudah gemetar dan dadanya semakin sesak. Benar dugaannya bahwa Andre sudah berselingkuh dan bahkan sudah mempunyai bayi dari hasil perselingkuhannya.


Otaknya merangkai kejadian beberapa dua bulan terakhir ini. Kejadian di rumah sakit ketika perawat bertanya ke Andre tentang Sinta. Dan Agnes yang bercerita bahwa Sinta dan bayinya di rumah mertuanya. Mungkinkan selingkuhan Andre itu Sinta?. Pikir Cindy dalam hati.


Cindy merapatkan gigi dan tangan terkepal. Duduk di tepi ranjang menunggu Andre keluar dari kamar mandi. Pikirannya melayang ke awal mereka menikah. Tidak ada perlakuan Andre yang mencurigakan. Hanya dua bulan terakhir ini, Cindy merasakan perubahan sikap Andre.


"Mas," panggil Cindy lemah ketika melihat Andre keluar dari kamar mandi. Andre seakan tidak perduli dia memilih bajunya sendiri dan memakainya.

__ADS_1


"Mas," panggil Cindy lagi.


"Aku harus keluar kota untuk beberapa hari," jawab Andre santai. Andre mendekat ke meja rias. Andre menata rambutnya dengan Pomade kemudian menyisirnya.


"Siapa bayi di ponsel mu itu mas, kamu menuduhku selingkuh ternyata kamu juga selingkuh,"


"Jadi kamu sudah mengakui bahwa kamu selingkuh?" kata Andre balik bertanya. Dia melirik Cindy dari cermin yang di depannya. Cindy cepat menggelengkan kepala.


"Aku yang bertanya mas, kenapa kamu balik bertanya?" teriak Cindy kencang. Tangannya mengambil apa saja yang bisa diraih dan melemparkannya ke Andre. Bantal dan guling sudah berserakan di lantai akibat kemarahan Cindy.


"Terlalu kamu mas, bahkan usia Alexa tidak jauh beda dengan usia bayi itu. Siapa dia mas. Jelaskan!" kata Cindy sambil menangis. Dia mendekat ke Andre dan menarik baju bahkan memukuli badan Andre.


"Aku tidak pernah selingkuh dari kamu justru aku berselingkuh dari dia sampai menikahi kamu," jawab Andre. Andre berusaha melepaskan diri dari Cindy yang terus menarik narik bajunya.


"Apa maksud kamu mas?" tanya Cindy lemah. Dia melepaskan baju Andre dan kembali duduk di ranjang.


"Dia putri kandung aku. Namanya Airia. Sebenarnya kamu bukan istri pertama bagiku melainkan istri kedua," jawab Andre pelan. Cindy semakin hancur mendengar jawaban Andre. Sedih, kecewa dan sakit hati bercampur sudah di hatinya. Dia masih ingat betul dengan nama Airia. Agnes sudah menyebutnya tempo hari ketika berkunjung ke rumah ini.


"Itu artinya bahwa Sinta lah yang kamu maksud istri pertama mu?, kamu benar benar pembohong mas," kata Cindy sedih. Air matanya belum juga berhenti.


"Jangan katakan menjaga perasaan aku mas, kenapa kamu tidak berterus terang sebelumnya?. Aku bisa mundur kalau kamu sudah pria beristri. Kalian sudah bercerai. Dan aku harap kamu tahu batasan mu sebagai mantan," kata Cindy sedikit lega mendengar bahwa Andre dan Sinta sudah bercerai.


"Aku akan tetap bertanggung jawab bagi mereka. Walau dia sudah mantan aku akan membagi penghasilanku ke mereka," jawab Andre


"Tidak bisa mas, aku tidak mau kamu memberi penghasilan mu dengan ****** itu,"


"Jangan sebut dia ****** Cindy. Jangan samakan dirimu dengan Sinta. Dia wanita baik baik," bela Andre marah. Sungguh dia Andre sangat tidak suka dan marah ketika Cindy meyebut Sinta ******.


"Dia sudah mantan mu mas, ada aku dan Alexa juga butuh pertanggung jawaban kamu," bentak Cindy tidak mau kalah. Andre menatap Cindy tajam. Begitu juga Cindy. Dia menatap Andre tajam. Aura kemarahan jelas terpancar dari wajah keduanya.


"Apa aku kurang pertanggungjawaban terhadap Alexa dan dirimu?, Kamu bahkan menipu aku dengan alasan membuka usaha. Sampai apartemen terjual. Bukankah itu melebihi tanggung jawabku sebagai suami?. Apa kamu berkekurangan selama ini?. Bahkan baju, sepatu dan tas yang kamu beli selama menikah dengan aku masih ada yang belum kamu pakai," kata Andre lagi. Andre semakin mendekat ke tepi ranjang. Dia mengangkat dagu Cindy.


"Katakan!, apa aku tidak bertanggung jawab?" tanya Andre kemudian sambil melepaskan tangannya dari dagu Cindy.

__ADS_1


"Mas, aku memaafkan semua kesalahan mu ini. Aku juga mau kamu bertanggung jawab kepada putri mu bukan bundanya. Aku bersedia menerima putrimu di rumah ini. Kita merawatnya bersama sama dengan merawat Alexa," kata Cindy pelan dan melunak. Apa yang katakan Andre itu benar semua. Cindy meraih tangan Andre tetapi Andre menghempaskan tangan Cindy.


"Aku tidak butuh maaf kamu Cindy. Kamu gila dan tidak berperasaan. Sampai kapanpun aku tidak akan memisahkan putriku dengan bundanya. Cukup aku menyakitinya selama ini. Aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi,"


"Itu hanya alasan kamu saja, supaya bisa


dekat dengan mantanmu,"


"Kalau iya kenapa?, Bahkan kalau mau dia rujuk dengan aku. Aku akan segera menikahinya," kata Andre sengit. Rahangnya mengeras menahan marah dan tidak menyangka Cindy tega memisahkan anak dari bundanya. Sementara itu Cindy juga tidak kalah marah. Tangannya terkepal dan dadanya bergemuruh menahan marah dan kesal. Dia mengumpat Sinta dalam hatinya.


"Itu tidak bisa mas, aku tidak mau dimadu," kata Cindy sambil menggelengkan kepala. Dia lupa perbuatannya lebih hina dari perlakuan Andre.


"Terserah kamu, Mau atau tidak mau. Aku akan memperjuangkan Sinta," jawab Andre kemudian membuka bajunya dan mencampakkan baju itu dengan kasar ke keranjang kain kotor. Andre mengambil kemeja yang baru dan memakainya.


"Brengsek kamu mas," umpat Cindy marah. Dia mengambil bantal dari lantai dan melemparkannya ke Andre.


"Iya. Aku akui aku brengsek. Makanya dapat istri juga brengsek seperti kamu. Dan kedepannya aku mau berubah supaya dapat istri yang baik tentunya itu Sinta," jawab Andre tenang. Andre meraih ransel berisi pakaiannya selama di luar kota. Andre keluar dari kamar dan menuju kamar Alexa.


"Mbak, aku titip Alexa ya!, tolong jaga dia dengan baik. Seminggu ini mungkin aku di luar kota," kata Andre kepada baby sitter Alexa. Andre membungkuk dan mencium kedua pipi Alexa.


"Baik pak. Bapak jangan khawatir. Aku akan menjaga Alexa dengan baik," jawab baby sitter itu sambil mengangguk.


Di kamar, setelah Andre keluar. Amarah Cindy tidak terkontrol. Dia mencampakkan apa saja yang bisa diraih tangannya. Cindy merasa dibohongi. Dia mengira bahwa dia wanita satu satunya di hidup Andre, ternyata dia hanya yang kedua.


Tangannya terkepal, sorot matanya tajam. Mengingat Andre memuji Sinta membuat Cindy muak dan timbul di hatinya rasa benci untuk Sinta. Padahal mereka hanya beberapa kali bertemu secara tidak sengaja.


"Tuti...," teriak Cindy dari kamar. Tuti muncul di depan pintu kamar dan terkejut melihat keadaan kamar yang berantakan. Tuti sampai menutup mulut melihat kondisi kamar yang tidak cocok lagi disebut kamar tidur.


"Masuk," perintah Cindy ke Tuti. Tuti masuk sambil memungut apa saja yang dilewati kakinya.


"Iya ibu," kata Tuti setelah berdiri di hadapan Cindy.


"Selama aku di rumah sakit, apa mas Andre bertanya sesuatu kepada kalian?" tanya Cindy penuh selidik.

__ADS_1


"Tidak ada ibu, pak Andre malah jarang di rumah selama ibu di rumah sakit," jawab Tuti sopan. Cindy menarik nafas panjang. Cindy menduga bahwa Andre di rumah Sinta selama dia di rumah sakit. Kejujuran Andre tentang Sinta membuat Cindy takut. Cindy takut diceraikan Andre dan kembali ke Sinta.


"Bersihkan segera!, aku mau istirahat," perintah Cindy lagi. Cindy keluar dari kamar sementara Tuti melayangkan tinjunya ke udara karena kesal melihat kamar yang bagaikan kapal pecah dan harus dirapikan secepatnya.


__ADS_2