Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Vina membuka matanya ketika menyadari Radit keluar dari kamar. Vina bisa menebak jika Radit pasti ke kamar sang baby sitter untuk melihat dan memastikan jika ketiga bayi tersebut sudah minum susu. Dan seperti tebakan Vina, Radit memang ke kamar sebelah untuk melihat ketiga bayi kembarnya. Radit memang benar-benar memastikan bayi bayi kembarnya sudah minum dan berganti diapers. Pria itu memang sangat terlihat menyayangi ketiga bayi kembar itu. Dia tidak rela putra putrinya menahan lapar walau hanya satu menit.


Vina termenung memikirkan kata kata Radit tadi. Vina mendengar semua apa yang diucapkan oleh Radit tadi. Vina terpaksa pura pura tidur. Dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Radit. Dan juga tidak tahu menjawab apa atas pertanyaan itu. Dan pura pura tidur adalah jalan terbaik untuk menghindar. Vina tidak merasakan apapun ketika mendengarnya. Sebagai wanita yang dewasa dan pernah jatuh cinta. Vina menyadari bahwa hatinya masih tertutup untuk Radit. Berbeda Ketika bersama Ronal dahulu.


Bukan niatnya untuk membandingkan Radit dan Ronal. Vina hanya memastikan jika rasa cinta itu belum ada dihatinya untuk Radit. Bukan berarti Vina masih mencintai Ronal. Tidak sama sekali. Walau rumah tangganya seperti ini. Tidak niatnya untuk memikirkan pria lain. Tetapi Vina juga menyadari jika Radit benar benar tulus menyayangi dirinya dan ketiga bayinya. Melihat perjuangan Radit seperti ini. Terbersit di hatinya untuk menghargai semua apa yang diperbuat Radit untuk keluarga kecilnya. Vina memang seperti itu. Menghargai setiap kebaikan yang dia terima.


Vina juga tersentuh, ketika Radit meninggalkan pekerjaannya demi dirinya. Tapi sampai Radit berkata cinta, sedikit pun tidak ada debaran di hatinya. Vina biasa saja. Vina akan membiarkan hubungannya dengan Radit berjalan begitu saja. Berusaha untuk menjaga perasaan Radit dan berniat untuk menjiwai karakter Radit yang sebenarnya. Apalagi pria itu sekarang tidak seperti dulu lagi. Tidak bisa dibantah, perlahan lahan. Vina dapat merasakan bahwa sikap itu menghilang dari sikap Radit.


Vina kembali memejamkan matanya ketika mendengar suara pintu terbuka. Vina dapat merasakan pergerakan di ranjang jika Radit sudah berbaring di sampingnya. Hingga Radit terlelap dan terdengar dengkuran halus dari mulut Radit. Vina belum juga terlelap. Vina membuka matanya. Vina menatap wajah Radit yang tidur terlentang. Wajah lelah yang ditumbuhi kumis dan brewok nampak tidak terurus. Vina merasakan iba di hatinya melihat kondisi Radit saat ini. Hanya beberapa menit terlentang dan terlelap. Vina tahu bahwa Radit sangat kelelahan.


Vina sangat mengetahui bahwa Radit bekerja keras untuk mengembangkan perusahaannya. Dan beberapa bulan ini, juga Radit yang membiayai kebutuhan rumah tangga di rumah itu dan semua kebutuhan si kembar. Vina juga dapat merasakan perubahan akan tanggung jawab Radit sebagai suami. Walau uang itu tidak pernah ke tangannya karena Vina memang menolak.


Vina membalikkan tubuhnya membelakangi tubuh Radit. Entah mengapa mengingat semua pengorbanan Radit, hati Vina semakin tersentuh. Sejak Vina dijemput paksa boleh kedua orangtuanya. Vina mengetahui semua pengorbanan Radit. Diusir, dicaci maki oleh papa Hendrik. Tapi Radit terus berusaha dan berjuang. Hingga Radit akhirnya bisa mengurus Vina di tiga bulan terakhir kehamilannya. Semua kenangan itu, kini terlintas di benaknya.


Pagi hari Vina terbangun kesiangan. Kepalanya masih pening tapi tidak sesakit kemarin. Vina menggerutu karena sudah jam delapan tetapi tidak ada yang membangunnya. Vina memanggil baby sitter yang sedang melintas di depan kamarnya. Pintu kamar terbuka sehingga Vina bisa melihat Ema yang sedang menggendong Elvano.


"Kenapa kalian tidak membangunkan aku Ema," tanya Vina sedikit kesal dan sudah duduk di tepi ranjang.


"Pak Radit tidak memperbolehkan kami membangunkan kamu mbak. Tentang si kembar semuanya sudah beres. Sudah mandi dan sudah minum susu," jawab Ema. Tapi tetap saja Vina merasa kesal. Dia tidak ingin melewatkan momen melihat ketiga bayi itu bangun tidur dan memandikannya.


"Mana Ayahnya si kembar?" tanya Vina. Ema Tidak menjawab. Karena yang ditanya sudah muncul di depan pintu. Radit membawa ember air panas. Radit membawa ember tersebut ke dalam kamar mandi. Ema keluar dari kamar itu.


"Selamat pagi bunda, kamu mandi dulu. Siap itu sarapan. Aku membawakan air panas. Jangan mandi air dingin dulu ya!" kata Radit lembut sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Vina berdiri. Rumah Vina memang tidak mewah seperti rumah miliknya. Rumah Vina tidak dilengkapi dengan fasilitas yang asal pencet mengalir air hangat untuk dimandikan. Radit tidak ingin Vina mandi air dingin yang akan memperlambat kesembuhannya. Itulah sebabnya Radit memasak sendiri air itu untuk Mandian Vina.


"Pagi Radit. Terima kasih," jawab Vina pelan. Mendapat perhatian seperti itu, hatinya semakin luluh. Vina juga mengulurkan tangannya untuk dibantu oleh Radit. Radit tersenyum. Vina membalas sapaannya membuat Radit bahagia dan ada getaran aneh di dadanya. Radit seperti melihat kesempatan dari balasan sapaan Radit tadi. Radit membantu Vina berjalan untuk masuk ke kamar mandi. Sebenarnya itu tidak perlu. Karena sakit kepala Vina sudah berkurang tapi entah mengapa Vina tidak kuasa menolaknya.


"Bisa mandi sendiri?" tanya Radit khawatir. Vina mengangguk dan masuk ke kamar mandi.


"Jangan kunci pintunya dari dalam Vin, aku tidak akan masuk jika kamu tidak memintanya," kata Radit khawatir ketika mendengar suara pintu yang dikunci. Radit khwatir terjadi apa apa kepada Vina. Radit tersenyum ketika mendengar kunci pintu yang dibuka. Radit berjalan ke arah lemari dan menyiapkan pakaian untuk Vina.


"Radit, bisa minta tolong?" teriak Vina dari dalam kamar mandi.


"Buka pintunya bunda. Aku tahu apa yang akan kamu minta. Pakaian kan?" jawab Radit. Beberapa detik kemudian pintu kamar mandi sudah terbuka dengan tangan Vina yang terulur. Sedangkan badannya bersembunyi di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Vina keluar dari kamar mandi dengan malu malu. Radit menyiapkan semua pakaian termasuk pakaian dalamnya membuat wanita itu malu. Ini bukan yang pertama Radit mengurus Vina seperti ini. Tapi situasi yang berbeda membuat Vina malu. Kalau dulu karena keadaan yang tidak bisa untuk berbuat apapun ketika hamil berbeda dengan saat ini. Vina hanya sakit kepala biasa. Tapi Radit memberi perhatian yang lebih.


"Tunggu disini. Jangan keluar dulu. Aku akan membawa sarapan kamu ke kamar," kata Radit setelah memastikan Vina duduk di tepi ranjang. Tanpa mendengar jawaban Vina, Radit keluar dari kamar. Vina menatap punggung Radit yang semakin menjauh. Hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti ini. Tidak sadar, Vina menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


"Aku buatkan Sop kambing untuk kamu. Hanya ini yang bisa aku masak. Abaikan rasanya, ingat khasiatnya. Kata orang Sop kambing sangat manjur untuk menaikkan tensi," kata Radit sambil meletakkan baki itu di meja kecil dekat ranjang Vina. Dia memang memasak SOP kambing itu sendiri. Hanya merebus dan mencampurnya bawang goreng, seledri dan bawang Prei dan juga garam secukupnya. Radit memang tidak pintar memasak hanya bermodalkan niat. Sop itu pun siap disantap.


"Makasih Radit. Aku akan mencobanya," jawab Vina. Dia meminta Radit untuk meletakkan baki itu di pahanya. Tapi Radit menolak. Radit menyendok nasi dan sopnya kemudian menyodorkan ke mulut Vina. Lagi lagi Vina tidak kuasa menolak. Hingga nasi yang hampir sepiring dan semangkok sop itu habis tidak bersisa.


"Radit, kamu tahu tidak dokter bedah yang bisa melakukan bedah kebiri untuk manusia," tanya Vina setelah selesai sarapan. Radit menghentikan tangannya yang menyusun peralatan makan ke atas baki. Dia heran dan bingung atas pertanyaan itu.


"Untuk apa?" tanya Radit sambil mengambil obat yang harus dimakan Vina pagi ini.


"Jaga jaga saja. Kali aja kamu tidak berubah dari kebiasaan lama kamu. Aku tidak susah untuk mencari tempatnya nanti," jawab Vina santai sambil mengambil obat yang disodorkan Radit. Vina memasukkan obat itu ke mulutnya dan kemudian mengambil gelas air putih dari tangan Radit. Vina menelan obat itu dengan mudah.


"Kamu mendengar apa yang aku bilang tadi malam?" tanya Radit terkejut dan sedikit gugup. Yang dia tahu Vina sudah tertidur saat itu. Detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Detak jantung itu berdetak kencang. Radit sengaja mendekatkan dirinya ke Vina. Supaya Vina bisa mendengarnya.


"Kamu bisa mendengar detak jantungku?" tanya Radit.


"Jika kamu, mendengar apa yang aku ucapkan tadi malam. Kamu Percaya atau tidak?" tanya Radit. Vina menggelengkan kepalanya. Radit terlihat kecewa tapi dia bisa memaklumi hal itu.


"Aku serius Vina. Aku tidak memaksa kamu untuk secepatnya percaya. Tapi jangan ada kata cerai lagi diantara kita,"


"Aku memang belum percaya Radit. Tapi aku bukan tipe manusia yang menolak kebaikan orang termasuk kebaikan kamu. Walaupun kamu melakukan ini semua demi bayi kembar kita. Aku akan menghargainya. Berubah lah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan untuk aku tapi setidaknya untuk bayi kita. Berikan contoh untuk mereka sejak bayi,"


"Aku berjanji berubah demi kamu dan bayi kembar kita Vin,"


"Aku tidak butuh janji. Aku butuh pembuktian,"


"Baiklah bos. Akan aku buktikan jika aku akan berubah,"


"Mulai kapan?"


"Sejak mengetahui kamu hamil. Sebenarnya aku tidak pernah lagi ke hal hal begituan Vin. Perhatian aku sudah teralihkan ke kamu saat itu dan sampai sekarang hanya kalian berempat yang ada di pikiran aku," kata Radit serius. Dan itulah yang terjadi selama ini. Vina tidak memberi respon atas jawaban itu.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya Vin," tanya Radit. Melihat Vina terdiam. Radit mengira jika Vina tidak percaya.


"Jangan menuntut aku untuk percaya atas semua tindakan kamu Radit. Kebohongan pun akan bisa dipercaya jika terdengar meyakinkan. Kamu harus berbuat dan bertindak yang benar. Tanpa kamu jelaskan pun. Aku bisa percaya," jawab Vina. Jawaban yang menuntut keseriusan dan kejujuran. Bukan perkataan yang bersifat meyakinkan. Radit paham akan maksud itu. Radit mengangguk setuju.


"Vin, aku anggap ini awal kita memulai membina rumah tangga selayaknya seperti rumah tangga pada umumnya,"


"Boleh Radit. Tapi untuk sementara, jangan menuntut aku untuk menjadi istri sempurna buat kamu. Kita jalani seiring berjalannya waktu,"


"Percaya sama aku Vin. Aku akan berubah. Aku tidak menuntut jika kamu belum bersedia," jawab Radit sambil tersenyum. Dia mengerti maksud perkataan Vina. Dan Radit juga tidak akan terburu untuk itu. Diberi kesempatan kedua seperti ini saja sudah membuatnya bahagia.


"Terima kasih Radit," jawab Vina tulus.


"Jangan mengucapkan terimakasih kepada aku. Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah memberi kesempatan kepada aku untuk berubah," jawab Radit tidak kalah tulus. Dia menatap Vina sambil tersenyum.


"Jangan lupa. Apa yang kamu katakan tadi malam. Jika tidak berubah rela dikebiri," kata Vina mengingatkan perkataan Radit. Radit terkekeh. Tangannya menjangkau kepala Vina yang terbungkus handuk.


"Boleh aku mencium kening kamu Vin," tanya Radit pelan. Vina menatap Radit sebentar dan mengangguk. Radit mencondongkan kepalanya dan mencium kening Vina agak lama. Dia terharu dengan apa yang dirasakan hari ini. Setetes air mata tidak terasa mengalir di pipinya. Biarlah Vina mengejeknya karena air mata ini. Dan mengatai dirinya pria yang cengeng. Radit tidak perduli.


Vina melihat Radit yang mengusap air matanya. Dia tidak mengomentari air mata itu. Baginya yang terpenting adalah perubahan sikap Radit. Bukan air mata. Karena istilah air mata buaya juga terlihat menyakinkan. Yang Vina butuhkan adalah dicintai, dihargai dan bertanggung jawab.


"Terimakasih Vin," kata Radit sambil menggenggam tangan Vina. Vina hanya mengangguk. Vina berharap. Memberi kesempatan kedua bagi Radit adalah awal kebahagiaannya dan kebahagiaan si kembar.


"Vin, aku awali rumah tangga kita dengan memberikan tanggung jawab aku kepada kamu dan bayi kita. Aku percaya kan ini padamu. Mulai hari ini semua pengeluaran rumah tangga kita kamu yang mengaturnya. Aku hanya bertanggungjawab mengisinya," kata Radit sambil memberikan kartu ATM kepada Vina. Selama ini, Radit membayar sendiri para baby sitter dan pekerja lainnya. Sedangkan untuk kebutuhan sehari hari dan untuk kebutuhan si kembar. Radit mentransfernya ke rekening Hendrik.


Vina terlihat ragu untuk menerima kartu itu. Radit meraih tangan Vina dan meletakkan kartu tersebut di telapak tangan Vina.


"Terima Vin, kita sudah sepakat untuk mengawali rumah tangga ini," desak Radit sambil tersenyum. Vina akhirnya mengangguk.


"Aku akan membuat pembukuannya nanti," kata Vina pelan. Radit terkekeh.


"Kamu itu istriku. Bukan pegawai aku. Aku tidak butuh pembukuan itu. Kamu berhak untuk menikmati jerih payah suamimu ini," jawab Radit tersenyum. Radit yang sebelumnya duduk di depan Vina kini berpindah ke samping Vina. Radit meraih tubuh Vina dan memeluknya. Radit berkali kali mengucap syukur. Doa doanya terjawab. Dan Radit berjanji akan membahagiakan Vina dan bayi kembarnya.


Vina tidak menolak ketika Radit memeluknya. Walau belum mencintai Radit. Tiga bulan di awal pernikahan Vina menanti cinta suaminya. Tapi takdir berkata lain. Setelah kelahiran bayi kembarnya, Vina bisa mendengar kata cinta dari sang suami. Dia hanya berharap. Jika ini adalah keputusan yang tepat buat dirinya dan bayi kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2