Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Lolos Godaan


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu, Radit menjalankan perusahaan setelah kerja sama dengan Handoko dan Rio terjalin. Dan selama itu juga Radit sering pulang malam. Radit benar benar sangat serius menjalankan perusahaannya. Radit bahkan memakai jasa Andre sebagai tenaga perekrut para karyawan yang baru. Para karyawan sebelumnya banyak mengundurkan diri karena merasa tidak ada lagi harapan di perusahaan Radit. Hanya tertinggal beberapa orang staf yang masih bertahan. Radit benar benar berterimakasih kepada para stafnya yang masih setia.


Satu minggu ini bukan waktu yang mudah bagi Radit. Dia bahkan lupa mengisi perut karena sibuk mengadakan rapat membahas strategi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Radit sangat bersemangat. Semangat berkobar demi memajukan perusahaannya. Dalam hati, Radit bertekad jika kesempatan kali ini harus berhasil dengan hasil yang sangat memuaskan. Banyak keinginan yang sudah tersusun di otaknya untuk kebahagiaan keluarga kecilnya. Membelikan satu set perhiasan untuk istri tercinta. Mendaftarkan anak anaknya asuransi pendidikan dan juga berencana membawa keluarga kecilnya jalan jalan ke luar negeri.


Radit menyandarkan dirinya di sandaran kursi kerjanya. Saat ini sudah jam dua tapi Radit masih betah di ruangan itu. Andre, sang sahabat yang bersedia membantunya secara suka rela baru saja meninggalkan ruangannya. Kini Radit tinggal sendirian. Dia mengganjal perutnya dengan jus buah yang disediakan Vina tadi pagi. Radit kembali fokus memandangi layar laptopnya.


"Masuk," kata Radit tanpa setelah mendengar ketukan di pintu ruangannya. Radit masih fokus memandangi laptop itu tanpa menoleh siapa yang sudah berdiri di depan pintu itu.


"Selamat siang pak," sapa wanita itu.


"Selamat siang. Silahkan duduk," kata Radit sopan dan menoleh sekilas kepada wanita yang sudah di berdiri di depannya.


"Terima kasih pak." Wanita itu menarik bangku yang ada di dekatnya. Kemudian wanita itu duduk tanpa melepaskan maskernya yang hampir menutupi seluruh wajahnya. Radit masih fokus menatap laptop itu karena merasa tanggung.


Wanita itu duduk sambil menatap Radit dan sesekali memperbaiki kaca mata yang membingkai matanya. Dibalik masker, bibirnya menyunggingkan senyuman. Tentu saja Radit tidak menyadari itu. Wanita itu kemudian berdiri. Dia berjalan pelan ke samping meja kerja Radit hingga wanita itu sudah berdiri di samping Radit. Wanita itu membungkukkan badan hingga dadanya menyentuh lengan Radit. Wanita itu mengarah matanya untuk ikut melihat layar laptop.


"Maaf. Silahkan duduk di tempat duduk anda sebelumnya," kata Radit sambil bergeser. Dia risih dengan jarak mereka yang sangat dekat dan aroma parfum wanita itu yang sangat menyengat.


"Duduk disitu boleh?" tanya wanita itu sambil menunjuk paha Radit. Radit terkejut dan semakin bergeser menjauh dari wanita itu.


"Tolong bersikap sopan. Apa maksud kedatangan anda. Jika untuk menawarkan sesuatu atau mencari pekerjaan. Silakan keluar. Karena anda sudah pasti tidak lolos karena sudah tidak bersikap sopan," kata Radit sambil menunjuk pintu ruangan. Dia sudah berdiri untuk menghindari keagresifan wanita itu. Sungguh, Radit sangat tidak menyukai sikap wanita itu. Dia langsung mengingat tentang Intan yang menjebak Handoko.


"Kedatanganku bukan untuk dua duanya pak. Aku datang untuk menunjukkan cintaku kepadamu. Aku sangat mencintaimu," kata wanita itu lagi. Dia semakin mendekati Radit dan menyentuh tangannya. Radit spontan menarik tangannya.


"Hei wanita. Siapa kamu sebenarnya. Jangan buat marah aku ya. Keluar dari ruangan aku sekarang juga," kata Radit lagi.


"Aku mau bersedia menjadi yang kedua pak. Asal bapak mau mencintai aku seperti aku mencintaimu pak. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk kamu," kata wanita itu lagi. Suaranya sangat mendayu dan seperti dibuat buat supaya terdengar indah dan lembut.


"Jangan gila ya. Aku sangat mencintai istriku. Sampai matipun aku tidak akan mengkhianatinya. Pergilah!. Jangan coba coba merayu atau menjebak aku. Kamu akan tahu akibatnya nanti," kata Radit lagi. Wanita itu masih betah berdiri di situ dan menunduk. Radit tidak ingin kejadian yang dialami Handoko terjadi kepadanya.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi. Padahal kalau diajak enak enak. Aku mau loh pak. Aku masih virgin loh pak. Sayang kalau ditolak."

__ADS_1


"Pergilah. Aku tidak berminat dengan apapun yang kamu katakan. Istriku segalanya bagiku. Kamu tidak ada apa apanya," kata Radit sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Tapi aku masih mau disini pak. Menemani dan menyuapi kamu makan."


"Kalau begitu biarkan satpam yang akan menyeret kamu ke luar. Sebentar lagi satpam akan ke ruangan ini."


"Tapi aku belum mau pulang. Aku mau disini. Kamu belum makan kan. Aku bawa bekal makanan," kata wanita itu sambil menunjuk tas Tupperware di atas meja sofa. Radit bahkan tidak menyadari jika wanita itu tadi membawa Tupperware itu.


Radit menatap wanita itu tajam. Yang ditatap menundukkan kepalanya. Radit merasa satpam sangat lama sampai di ruangannya.


"Keluar. Sebelum satpam menyeret kamu," bentak Radit. Wanita itu berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata dan berjalan menuju sofa.


"Selamat, anda lolos godaan pak," kata wanita itu kemudian dan berbalik lagi menghadap Radit. Radit mengernyitkan keningnya. Wanita itu itu terlihat melepaskan ikatan rambut hingga menutupi leher jenjangnya. Kaca mata dilepas kemudian wanita itu juga melepaskan outer yang melekat di badannya. Baju atasannya yang pas badan dan juga celana denim ketat menampilkan bentuk body yang terlihat sempurna. Radit semakin menajamkan penglihatannya. Dia mengenali bentuk tubuh itu. Radit mendekati wanita tersebut. Kemudian wanita itu tertawa terbahak bahak sambil melepaskan maskernya.


Wanita itu kemudian merentangkan tangannya dan memeluk Radit. Radit juga memeluk wanita itu sambil terkekeh. Kemudian dia melepaskan pelukan itu dan mencubit kedua pipi wanita biru gemas.


"Ya ampun. Penampilan kamu beda banget Bun. Aku tidak bisa mengenali kalau seperti ini ditambah dengan masker, kaca mata dan parfum. Parfumnya beli dimana?. Jangan dipakai lagi. Aromanya entah aroma apa. Rambutnya jangan lagi diikat ke atas seperti itu. Hanya aku yang bisa melihat leher kamu ini," kata Radit sambil menuntun Vina duduk di sofa. Penampilan Vina memang tidak seperti biasanya yang selalu memakai kulot. Ditambah dengan suara yang dibuat buat sehingga penyamaran yang terlintas di otaknya dalam sekejap berhasil mengerjai Radit.


"Kamu berhasil mengerjai aku Bun."


"Aku tidak bermaksud untuk mengerjai kamu sebelumnya yah. Murni untuk mengantarkan bekal. Tapi melihat kamu sibuk dan cuek. Rencana itu terbersit dan berhasil," jawab Vina sambil tersenyum. Dia merasa lega karena godaannya tidak langsung ditanggapi oleh Radit.


"Buka mulut yah," kata Vina lagi. Radit membuka mulutnya.


"Selamat siang pak," kata satpam yang dipanggil Vina tadi untuk menyeret Vina.


"Tidak jadi pak. Ternyata dia istriku," kata Radit sambil menggerakkan tangannya untuk menyuruh satpam cepat berlalu dari depan pintu itu. Mulutnya penuh dengan makanan.


Vina dengan telaten menyuapi suaminya hingga makanan dalam wadah itu habis tidak tersisa.


"Terimakasih Bun. Bahagia rasanya dapat istri cantik, muda dan perhatian seperti ini," puji Radit. Vina tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali jangan seperti ini yah. Makan telat akan menggangu kesehatan kamu. Kamu bekerja memang untuk mencari uang. Jangan sampai penyakit ikut ikutan mengikuti kamu karena terlalu fokus bekerja. Lebih baik mencegah daripada mengobati," kata Vina sambil menutup resleting tas Tupperware itu. Kemudian menyerahkan air mineral kepada Radit. Radit hanya mengangguk. Benar yang dikatakan istrinya. Jika dia bekerja keras dan lupa mengisi perut yang didapat bukan hanya uang tetapi juga penyakit.


"Duduk disini Bun," kata Radit sambil menepuk pahanya. Vina menatap suaminya kemudian menegakkan badannya.


"Jangan biasakan tempat kerja merangkap menjadi tempat bermesraan yah. Sekalipun itu dengan istri sendiri. Ini adalah perusahaan kamu. Dan yang mewariskan adalah papa. Gunakan tempat ini selayaknya sebagai tempat untuk bekerja. Dengan begitu kamu selalu terpikir jika tempat ini adalah tempat mengais rejeki. Dengan seperti itu, siapapun yang berusaha menggoda kamu disini. Pikiranmu akan selalu mengatakan jika tempat ini adalah tempat mencari uang," kata Vina serius.


Radit merenungkan kata kata istrinya. Kata kata bijak istrinya memang benar adanya. Tidak jarang antara sekretaris dan bos terlibat affair dan berawal dari ruangan kerja. Hingga akhirnya berakhir di ranjang. Radit tidak ingin seperti itu terjadi pada dirinya. Dia sudah memberikan hatinya utuh untuk Vina istrinya. Dan dan tidak ingin rumah tangganya seperti rumah tangga Handoko.


"Pintarnya istri Radit," kata Radit sambil meraih bahu istrinya.


"Memeluk juga dihindari di ruangan ini yah. Kontak fisik dihindari selain berjabat tangan. Jangan pernah memberikan kesempatan kepada wanita lain untuk menyentuh apapun di tubuhmu," kata Vina lagi. Raut wajahnya serius seperti orang tua yang menasehati putranya. Radit tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dia mengartikan itu sebagai cinta dan cemburu Vina untuk dirinya.


"Oke Bunda sayang. Itu untuk wanita lain. Tapi untuk istri sendiri mana bisa tahan untuk tidak memeluk," kata Radit sambil mengapit Vina di ketiaknya. Vina tertawa dan menggelitik perut suaminya.


"Ampun Bun, ampun," kata Radit sambil tertawa. Vina melepaskan tangannya dari perut Radit. Wanita merasa sangat puas karena berhasil membuat Radit lelah tertawa.


"Aku pulang sekarang yah. Kembalilah bekerja," kata Vina. Dia mencium pipi suaminya kiri kanan kemudian beranjak dari duduknya. Radit langsung menangkap tangan Vina.


"Kita pulang sama sama. Kerjaan aku sudah tidak begitu banyak lagi. Nanti di rumah bisa dilanjutkan lagi."


"Terserah kamu yah," kata Vina lagi. Radit mendudukkan Vina kembali di sofa sedangkan Radit berjalan menuju meja kerjanya. Dia memasukkan beberapa kertas ke dalam tas kerjanya dan memasukkan laptop.


"Ayo Bun," kata Radit lagi. Radit memberitakan tangannya untuk menggandeng Vina. Vina hanya menautkan jarinya di jemari Radit. Mereka berjalan beriringan tanpa bergelayut manja sebagaimana sering dilakukan seorang istri atasan jika di kantor suaminya. Walau begitu, suami istri justru terlihat lebih romantis.


"Masih jam tiga. Terlalu cepat kalau langsung pulang," kata Radit setelah melihat arloji di pergelangan tangannya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah mama?" tanya Vina. Dia ingin mengunjungi rumah mertuanya selagi ada waktu seperti ini. Radit mengangguk setuju. Radit membawa mobilnya menuju kediaman kedua orangtuanya.


"Kita membeli makanan kesukaan mama dulu," kata Radit sambil menghentikan mobilnya di depan gerobak jajanan.


"Mama mau makan jajanan seperti ini?" tanya Vina heran. Keluarga Radit adalah keluarga kaya. Makan jajanan di pinggir jalan seperti ini tentu saja jauh dari pemikiran Vina. Radit hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2