
Andre dan Radit mendengus kesal. Mereka berdua mendapatkan sebutan yabg tidak enak didengar sedangkan Sean mendapat sebutan yang jauh lebih enak didengar. Sedangkan Tini tersenyum puas. Dia merasa berhasil mengerjai Andre dan Radit sebelum memberi mereka kejutan sebagai mana direncanakan sebelumnya.
"Kejutannya apa?. Hanya penambahan julukan itu saja?" tanya Radit. Tini tertawa.
"Tidak. Ada selain itu. Dan satu lagi. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyebut kalian dengan julukan itu. Aku senang kak Andre dan kak Radit berubah dan mencintai istri masing masing dengan tulus. Dan aku juga berharap kak Sean selalu mencintai aku seperti ini. Tidak berubah sampai aku tidak bergigi lagi," kata Tini sambil menatap tiga pria bersahabat itu. Sean merentangkan tangannya dan memeluk Tini. Istrinya itu walau bermulut kasar tetapi hatinya sangat lembut. Sean bisa merasakannya kebaikan hati Tini setelah tiga bulan berumah tangga. Tini bahkan sangat menghargai dan menghormati orang tuanya.
Andre dan Radit terpaku mendengar perkataan Tini. Perubahan yang ada dalam diri mereka itu tidak lepas dari Tini yang selalu berkata apa adanya dan bahkan terkadang marah kepada mereka berdua. Andre memang sudah menganggap Tini seperti adiknya sendiri. Sean juga tidak cemburu jika Andre menunjukkan rasa sayangnya kepada Tini.
"Tini, kamu adalah adik perempuan aku setelah Agnes."
"Tini, kamu adalah adik perempuan satu satunya bagiku," kata Radit. Radit mengulurkan tangannya mengacak rambut Tini. Tapi Sean menepisnya dan melotot ke Radit. Radit terkekeh.
"Makasih kak Andre dan kak Radit. Kalian juga adalah kakak kakakku yang aku banggakan. Melihat kalian berubah aku bangga terhadap kalian." Radit dan Andre tersenyum. Mereka berdua sungguh menyadari jika Tini adalah wanita yang baik walau terkesan galak dan pemberani.
"Jadi kejutannya apa sayang," tanya Sean lembut. Tini membuka tasnya dan memberikan sebuah buku untuk Sean. Sean membuka buku itu dan terkejut.
"Ini buku siapa," tanya Sean heran
"Lihat namanya pa," jawab Tini tenang. Sean membalik buku itu ke halaman pertama. Sean terkejut dan memeluk Tini dengan erat.
"Kamu hamil sayang?" tanya Sean senang. Melihat sebuah USG di buku itu, tadinya Sean bingung. Sebelumnya dia bertanya dalam hati, buku siapa yang ada ditangannya. Tini mengangguk.
"Bro. Istriku hamil," kata Sean senang.
"Sudah tahu," jawab Andre.
"Darimana kamu tahu?" tanya Sean heran.
"Itu barusan. Kan Tini memberikan kamu buku hamil. Sean, Sean. Senang dan bahagia itu boleh tapi jangan langsung pikun," jawab Andre membuat Radit tertawa.
"Makasih atas kejutannya sayang. Tapi kenapa ya kalau di tes pakai test pack garisnya selalu satu," kata Sean bingung.
"Itu karena calon anak kita luar biasa pa. Dia tidak berkenan di tes lewat urine. Calon anak kita menyukai kecanggihan. Lewat USG baru ketahuan," kata Tini bangga. Andre dan Radit tertawa mendengar perkataan Tini.
__ADS_1
"Selamat Tini. Sean. Terus kejutan untuk kami apa?" tanya Radit. Dia juga senang mengetahui sahabatnya akan menjadi ayah sama seperti dirinya dan Andre.
"Kak Andre dan kak Radit lupa?. Kalian pernah tidak percaya jika kami sudah menikah. Dan kalian berjanji akan memberikan apapun yang aku minta setelah hamil dalam tiga bulan," kata Tini tenang. Andre menelan ludahnya kasar. Dia mengingat janji itu dengan jelas. Yang membuatnya takut. Tini akan meminta dirinya berbuat macam macam. Untuk meminta sesuatu yang berbau materi tidak mungkin. Karena Tini mempunyai banyak uang.
"Aku sudah ingat. Kamu minta apa dek?" tanya Radit.
"Untuk saat ini aku belum meminta apa apa. Nanti aku pikir pikir dulu."
"Jangan yang aneh aneh Tini," kata Vina.
"Aku tidak mengingatnya dan merasa tidak pernah berjanji," kata Andre sok santai tapi hatinya sudah gelisah. Dia takut Tini akan meminta sesuatu yang berbau skripsinya. Apalagi dosen pembimbing skripsi Tini adalah dirinya. Bukan disengaja. Tapi pihak Fakultas yang mengatur itu.
"Baiklah. Biar aku ingatkan," kata Tini.
Flashback on
",Pa, jangan ngebut. Kita belum malam pertama. Apa kamu ingin kita mati tanpa merasa bagaimana nikmatnya malam pertama?" tanya Tini sambil berpegangan karena kecepatan mobil yang sangat kencang.
"Pantas saja kamu ingin secepatnya menikah. Rupanya karena tidak sabaran untuk merasakan malam pertama," jawab Sean sambil terkekeh dan mengurangi laju mobilnya. Sean kemudian melirik arlojinya. Sudah jam sembilan. Butuh waktu satu jam lagi untuk sampai di kafe. Sean berencana untuk malam pertama di kafe daripada di rumah orangtuanya atau di hotel.
"Kita ke rumah Andre sebentar. Aku harus mengembalikan flashdisk. Katanya dia butuh malam ini," jawab Sean. Tini kecewa mendengar jawaban Sean. Dia ingin merasakan malam pertama secepatnya. Tapi Andre justru menyuruh Sean ke rumahnya. Andre tidak bisa disalahkan dalam hal ini. Karena baik Sean maupun Tini. Tidak memberitahu acara bahagia itu ke sahabat sahabat mereka.
"Masuk dulu. Ada gurami bakar dan sate kerang kesukaan kamu," kata Andre kepada Tini setelah Sean dan Tini sudah di halaman rumah Andre. Tini lupa akan malam pertama yang diinginkan tadi ketika mendengar gurami bakar. Dia mengangguk. Tanpa minta persetujuan Sean. Tini turun dari mobil. Melihat Tini sudah turun. Mau tidak mau, Sean pun akhirnya turun dari mobil.
Tini sangat menikmati gurami bakar itu sambil bercerita dengan Sinta. Sean juga begitu. Mereka lupa waktu hingga jam sudah menunjukkan angka sebelas.
"Menginap disini saja Sean. Sudah larut malam. Akhir akhir ini marak begal di kota ini," kata Andre ketika Sean pamit untuk pulang. Tini dan Sean saling berpandangan. Karena nikmatnya makan gurami bakar dan sate kerang. Mereka terlupa akan malam pertama yang akan memberikan kenikmatan luar biasa.
"Kami pulang saja Andre."
"Jangan ngotot kamu Sean. Biarkan Sinta yang minta ijin ke orang tua Tini jika kamu tidak berani minta ijin. Ini sudah larut malam. Berbahaya jika pulang," kata Andre. Dia belum mengetahui jika tadi pagi sahabatnya itu sudah sah menjadi suami dari Tini.
"Siapa yang tidak berani. Tidur satu kamar dengan dia juga aku berani," jawab Sean tenang. Tentu saja dia berani karena Tini sudah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Serius kamu Sean. Biasanya pak ustadz. Malam ini kok agak melenceng. Jangan jangan karena kamu kebanyakan makan sate kerang," kata Andre sambil terkekeh.
"Ya berani," kata Sean. Dia mengedipkan sebelah matanya ke Tini. Tini terkekeh.
"Kamu juga mau Tini?" tanya Andre.
"Mau donk kak. Sayang kalau ditolak," jawab Tini sambil tertawa.
"Dua duanya tidak tahan lagi untuk merasakan nikmatnya berkembang biak," kata Andre sambil melakukan panggilan video kepada Radit. Setelah tersambung. Andre menceritakan tentang Sean yang berani untuk tidur berdua dengan Tini.
"Kasih ranjang yang empuk untuk mereka berdua bro. Kalau pun kebobolan, toh mereka berdua akan menikah dua bulan lagi. Jika Tini hamil dalam tiga bulan ini. Aku akan memberikan apapun permintaannya," kata Radit dari seberang sambil terkekeh. Sinta, Andre juga Sean dan Tini jelas mendengar perkataan Radit. Tini yang suka tantangan tentu saja tidak melewatkan hal ini. Lagipula kalau mereka tidur bersama tidak akan menjadi dosa bagi keduanya.
"Dengar Sean. Tini. Aku juga akan memberikan apapun permintaan Tini jika Tini hamil dalam tiga bulan ini," kata Andre menantang pengantin baru itu. Andre dan Radit sangat yakin jika Sean pasti tidak akan melakukan hal selain tidur bersama. Sean dan Tini mengangguk setuju.
"Lagi pula. Punya wajah tampan tapi belum menikah sama saja merusak citra pria pria ganteng sejagat raya ini. Masih perjaka pula," kata Radit lagi. Seperti biasa Sean hanya tersenyum mendengar candaan sahabat sahabatnya.
Andre menutup panggilan video itu. Dia mengajak Sean dan Tini melangkah ke lantai dua. Sean membawa pengantin itu ke kamar paling ujung. Untung orang tua Sinta menginap di rumah papa Rahmat.
"Kak, pernikahan kita kok tidak ada istimewanya. Menikah sederhana. Malam pertama nginap di rumah sahabat lagi," keluh Tini yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Itulah resikonya menikah diam diam sayang. Kalau Andre tahu kita pengantin baru tidak mungkin menyuruh aku harus mengantar flashdisk itu. Dan juga memberikan tantangan untuk kita."
"Iya juga sih kak. Kakak sih. Keenakan makan sate kerang jadi lupa waktu. Seharusnya kita malam pertama di kafe bukan disini."
"Ya sudah. Malam pertama kita tunda dulu. Besok saja di..."
"Jangan kak. Sekarang saja. Masa mau enak enak harus ditunda," potong Tini cemberut. Tini menarik tangan Sean untuk duduk di sebelahnya.
"Kita mulai darimana nih kak," tanya Tini sok polos. Sean tersenyum. Sebagai pria dewasa. Dia tahu memulai darimana.
"Kita pemanasan dulu. Jalan di tempat sepuluh menit."
"Mana ada seperti itu. Yang ada ini akan loyo jika kita jalan di tempat," kata Tini sambil meraba sesuatu yang menggantung di antara kedua paha Sean. Sean terkekeh. Batang itu sudah mengeras tanpa pemanasan.
__ADS_1
"Nanti akan terasa sakit. Kamu jangan teriak minta tolong apalagi menendang aku," bisik Sean sambil membelai wajah Tini dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menahan tangan Tini untuk tetap di area terlarang itu. Tini mengangguk pasrah. Bisikan Sean membuka segala bulu di tubuhnya berdiri dan Tini merinding.
Sean menciumi bibir Tini lembut. Tini tentu saja membalas karena sudah mulai ahli.