Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Hasutan Agnes


__ADS_3

"Mbak....Mbak Cindy," panggil Agnes ketika sudah turun dari mobilnya. Cindy sedang menerima panggilan video call dari seseorang di sudut tembok yang agak jauh dari garasi. Cindy terlihat menyudahi panggilannya dan berjalan ke arah Agnes.


"Agnes... kamu datang, kok ngasih kabar dulu," kata Cindy senang. Dia memegang tangan adik iparnya dan menarik Sinta ke dalam rumah. Mereka kini sudah duduk di sofa dan saling berhadapan.


"Kak Andre mana mbak?"


"Gak tahu Agnes, mulai dari semalam, kakakmu tidak pulang," jawab Cindy sedih. Agnes tidak heran atau terkejut karena jelas dia tahu Andre tadi malam menginap di rumahnya. Setelah mobil Andre dan Sean meninggalkan rumah, saat itu juga Agnes meluncur ke rumah Andre.


"Tidak usah sedih mbak, mungkin kak Andre di apartemennya," jawab Agnes pura pura tidak tahu bahwa apartemen Andre sudah di jual.


"Tidak mungkin Agnes, apartemen itu sudah di jual,"


"Apa mbak, sudah di jual?" tanya Agnes lagi dan masih pura pura terkejut.


"Iya, sudah lama pun sebelum Alexa lahir,"


"Kak Andre keterlaluan. Waktu beli apartemen, mohon mohon minjam duit. Sampai tabunganku terkuras, memang sih sudah dibayar. Tapi tetap aja aku kesal mbak, masa dia jual apartemen ga bilang bilang gak mau bagi duitnya lagi,"


"Nanti kan bisa beli lagi Agnes, Lagian uang segitu masih saja kamu harapkan,"


"Gampang ya mbak ngomong gitu. Emang beli apartemen itu satu juta atau dua juta mbak, ratusan juta loh mbak," jawab Agnes kesal. Cindy memutar bolanya malas. Cindy sudah mulai bosan menemani Agnes mengobrol. Padahal masih terhitung menit sejak kedatangan Agnes.


"Tapi kalau tidak di apartemen, kak Andre menginap di mana ya mbak?" tanya Agnes lagi.


"Tidak tahu Agnes, sudah hampir dua bulan dia sering pulang terlambat bahkan pernah tidak menginap di rumah seperti tadi malam. Pernah juga dia tiga hari baru pulang," jawab Cindy. Agnes terkejut mendengar Andre jawaban Cindy. Dalam dua bulan ini hanya tadi malam Andre menginap di rumah orang tua mereka.


"Kak Andre berarti tokcer donk mbak, jarang di rumah tapi bisa mbak Cindy hamil," kata Agnes tersenyum. Cindy terkejut. Karena belum ada yang tahu dia hamil selain Andre.


"Dari siapa kamu tahu aku hamil Agnes?"


"Kan mbak sendiri yang post di media sosial," jawab Agnes santai. Ekor matanya menangkap gerak gerik Cindy. Cindy terlihat bingung dan memeriksa ponselnya. Tetapi status yang disebutkan Agnes tidak ada.


"Gak ada loh Agnes," kata Cindy masih dengan wajah kebingungan.


"Mungkin aku yang salah lihat mbak, mungkin itu status orang," kata Agnes asal.


"Bibi... bibi, bawa sini Alexa!" panggil Agnes ke baby sitter yang hendak membawa Alexa ke luar rumah. Baby sitter tersebut mendekat dan memberikan Alexa ke Agnes.


"Ponakan Tante yang cantik, tapi masih lebih cantik Tante. Apa kabar?," kata Agnes setelah Alexa di tangannya. Agnes menciumi wajah dan menggelitik Alexa. Agnes terlihat senang dengan keponakannya.


"Enak saja bilang lebih cantik tantenya. Lebih cantik Alexa donk Tante," jawab Cindy menirukan suara anak kecil. Agnes tertawa riang.


"Mbak, kok diberi nama Alexa sih?. Ayahnya kan namanya Andre, harusnya lebih cocok nama Alexa itu, Andrea atau Andria. Biar mirip gitu sama nama ayahnya. Nah, kalau ini kan, seakan akan nama ayahnya Alex. Gak mirip wajah setidaknya mirip nama mbak," kata Agnes tenang dan masih dengan memperhatikan Alexa. Bayi itu terlihat memasukkan jempol ke mulutnya.

__ADS_1


"Kamu Agnes, jauh kali mikirnya ke situ. Aku hanya kepikiran nama Alexa itu keren. Aku juga mengidolakan artis Alexa key. Jadilah aku buat nama putriku Alexa. Dan ayahnya juga setuju," jawab Cindy tidak kalah tenang.


"Oya Agnes, sebenarnya aku mau ke rumah papaku, apa kamu masih di sini atau mau pulang?" tanya Cindy. Cindy sudah merasa kesal dengan Agnes yang terlalu cerewet menurutnya.


"Kalau mau pergi, pergi aja mbak. Aku masih di sini. Mungkin sore aku pulang. Malas di rumah mbak," jawab Agnes santai. Tangannya masih membelai wajah dan rambut Alexa. Cindy merasa kesal, niatnya mau mengusir Agnes, malah anak itu mau pulang sore. Cindy menyandarkan punggungnya ke sofa dan memandang Agnes sinis ketika Agnes menunduk mencium pipi Alexa.


"Mampus kamu mbak, ini masih rumah pemberian orang tuaku untuk kamu tempati. Tetapi kamu sudah berani mengusirku. Bagaimana pula kalau rumah ini jerih payah mu. Bisa bisa kamu mengusirku sebelum masuk ke dalam rumah," batin Agnes. Cindy yang sudah tidak mampu menyembunyikan rasa kesalnya, pamit masuk ke dalam kamar. Agnes tidak perduli. Agnes memanggil baby sitter Alexa dan mengajak mereka ke taman belakang.


Siang hari, Andre pulang ke rumah. Dia sengaja membawa lembar kertas jawaban mahasiswa untuk dikoreksi di rumah. Tiba di rumah bukannya disambut dengan wajah tersenyum, Andre disambut dengan wajah kesal. Andre membalas wajah kesal istrinya dengan tersenyum.


"Sudah lama Agnes di sini?" tanya Andre. Tangannya terulur mengambil bakwan jagung yang ada di meja makan. Andre tahu Agnes di rumahnya dari mobil Agnes yang terparkir di halaman.


"Sejak tadi pagi," jawab Cindy ketus. Andre tidak perduli dengan nada ketus istrinya. Dia duduk dan kembali mengambil bakwan jagung. Cindy merasa curiga dengan Andre. Pakaian Andre ketika keluar dari rumah semalam berbeda dengan pakaian Andre sekarang.


"Darimana tadi malam kamu mas?" tanya Cindy kesal. Andre tidak menghiraukan pertanyaan Cindy dia masuk ke kamar dan mengganti bajunya. Andre kembali ke luar dari kamar. Kini Andre duduk di sofa ruang tamu dengan setumpuk lembar jawaban mahasiswa.


"Mas, kamu belum menjawab pertanyaan ku?" tanya Cindy lagi. Kedua tangannya sudah berada di pinggang. Andre mendongak Cindy yang berdiri.


"Duduklah!. Temani aku mengoreksi ini," pinta Andre lembut. Cindy semakin kesal.


"Mas..."


"Cindy!, marah marah itu tidak bagus untuk kesehatan ibu hamil muda. Apalagi jarak kehamilan mu yang cukup rapat. Kamu harus pandai mengontrol emosimu, supaya janin dan kesehatanmu tidak terganggu. Duduklah!" kata Andre masih lembut dan tenang. Cindy bukannya menurut malah semakin kesal.


"Jawab mas!" kata Cindy lagi masih marah.


"Aku menginap di rumah papa," jawab Andre jujur. Andre menduga Agnes sudah memberitahu Cindy bahwa dia menginap di rumah orang tua mereka.


"Apa sih ribut ribut?" tanya Agnes yang sudah tiba di ruang tamu. Agnes duduk di sebelah Andre. Dan mengambil satu lembar jawaban.


"Letakkan, nanti tercecer," perintah Andre ke Agnes. Agnes meletakkan kertas tersebut. Cindy yang belum puas dengan jawaban Andre kini duduk di hadapan Andre.


"Mas, kamu belum jujur," kata Cindy lagi. Agnes mengernyit keningnya tanda tidak mengerti.


"Aku sudah jujur sayang, tadi malam aku menginap di rumah papa. Tanya Agnes!" jawab Andre. Agnes paham apa yang membuat Cindy marah.


"Ya ampun, aku jadi lupa. Benar mbak, tadi malam kak Andre menginap di rumah rupanya." Agnes menepuk jidatnya kemudian mengacungkan kedua jarinya ke Cindy. Cindy menarik nafas lega.


"Kalau kamu mau menginap di sana?, kenapa tidak mengajakku mas?" tanya Cindy. Cindy melunak setelah mendengar jawaban Agnes.


"Di ajak juga percuma. Nanti di sana bukannya gabung sama mbak Bella dan mbak Maya kamu malah nempel ke aku terus. Jadi untuk apa kamu ikut ke rumah orang tuaku?. Harusnya kalau lagi kumpul keluarga itu, kamu semakin mendekatkan diri ke mbak mbak aku. Mereka berdua itu orang baik," jawab Andre mencari alasan. Cindy kembali kesal karena Andre membandingkannya dengan Maya dan Bella.


"Iya mbak, mereka berdua itu baik loh. Samalah seperti aku baiknya," kata Agnes sok polos sambil menepuk dadanya.

__ADS_1


"Baik apanya?, kamu malah tidak memberitahu Cindy bahwa aku menginap di rumah papa,"


"Oya mbak, sayang sekali mbak tidak ikut tadi malam ke rumah papa. Kami bersenang senang loh tadi malam. Apalagi Sinta dan bayinya di rumah. Wah, tambah heboh loh mbak," kata Agnes sambil meringis. Kakinya di timpa Andre dengan sengaja.


"Siapa Sinta?" tanya Cindy bingung. Nama itu tidak asing baginya.


"Sinta yang datang ke ruangan mbak, waktu melahirkan Alexa," jawab Agnes. Andre sudah pasrah. Jika Agnes memberitahu tentang Sinta dan putrinya Airia.


"Loh, kok bisa dia dan bayinya di rumah papa?" tanya Cindy lagi. Dia merasa heran. Seingatnya waktu di rumah sakit, Bella yang memperkenalkan Sinta kepada keluarga besar papa Rahmat.


"Karena putrinya Sinta adalah keponakan aku. Itu artinya putrinya Sinta cucu papa dan mama."


Cindy mengerutkan keningnya bingung dan otaknya tidak bisa mencerna perkataan Agnes.


"Maksudmu Agnes, Sinta adalah mantan istri kak Bayu atau kak Andi?" tanya Cindy bingung. Mendengar Agnes mengatakan bahwa putrinya Sinta merupakan cucu papa Rahmat membuat otaknya berpikir bahwa Sinta adalah istri dari salah satu kakak iparnya. Agnes menggelengkan kepalanya dengan cepat. Andre mengamati cara Agnes yang berbicara.


"Sinta itu, ternyata mantan istri pertama dari salah satu kakakku. Tapi kakak dari putranya om aku yang di Kalimantan," jawab Agnes santai. Andre sempat batuk ketika Agnes berbicara. Agnes berbohong, padahal mereka tidak mempunyai om di Kalimantan.


"O gitu ya, tidak nyangka ya. Bisa kebetulan gitu ketemu sama mbak Bella," kata Cindy. Untuk meyakinkan kebohongannya Agnes mengangguk.


"Tau gak mbak, putrinya itu mirip banget samaku. Hidungnya mirip hidung kak Andre. Kok bisa gitu ya?"


"Ya bisalah Agnes, hubungan darah itu kan masih ada. Bisa saja mirip," jawab Cindy. Andre menendang kaki Agnes di bawah meja.


"Apa sih kak?, sakit tahu?" kata Agnes sambil meringis. Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Maksud hatinya untuk memberi Agnes kode, yang ada Agnes mengeluh sakit.


"Pulang sana!" bentak Andre. Agnes berdiri dari duduknya dan menarik tangan Andre.


"Mbak, aku pamit ya!, sebenarnya aku berencana pulang sore tapi karena kak Andra mengusirku, aku pulang saja," kata Agnes. Tangannya masih memegang tangan Andre. Cindy hanya mengangguk.


"Ayo!, Antar aku sampai ke mobil. Tamu harus dihargai bukan malah diusir." Agnes menarik tangan Andre. Andre mengulurkan tangannya memeluk pundak Agnes.


"Apa maksud kedatanganmu ke rumahku?" bisik Andre tepat di telinga Agnes. Agnes menggosok telinganya karena merasa geli.


"Aku mau membuktikan ucapan kak Andi. Seberapa brengsek istrimu itu kak," jawab Agnes setelah menoleh ke belakang. Cindy masih duduk di sofa. Andre menyentil kening Agnes.


"Sok detektif kamu." Agnes terkekeh. Andre sama sekali tidak marah dengan Agnes.


"Agnes..." panggil Andre setelah Agnes sudah di belakang kemudi. Andre menoleh ke arah pintu rumah. Merasa aman, Andre membungkuk. Kepala tepat di pintu mobil.


"Tolong bantu aku. Aku serius ingin menikahi Sinta kembali. Tolong yakinkan dia!" pinta Andre penuh harap.


"Malas, usaha aja sendiri," kata Agnes kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Andre mundur dan hanya bisa melihat mobil Agnes yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2