Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Majikan


__ADS_3

"Vina, kamu kenapa?" tanya Radit panik. Susu hamil yang ditangannya diletakkan asal di atas meja. Radit bertambah panik melihat wajah Vina yang semakin memucat. Radit berlari ke lantai atas kamarnya. Tidak lama kemudian dia sudah berdiri di hadapan Vina dengan kunci mobil tangannya.


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang." Dengan wajah panik Radit menggendong tubuh Vina. Mulutnya berteriak memanggil bibi Ina untuk membuka pintu mobil.


"Pintu belakang bibi" kata Radit ketika bibi Ina hendak membukakan pintu depan. Radit kembali berteriak memanggil Satpam yang sedang bertugas pagi ini.


"Bawa mobilnya," kata Radit panik sambil memberikan kunci mobil itu ke satpam. Sedangkan Radit duduk di belakang dengan Vina.


Vina menahan sakit dalam diam. Tidak ada sedikitpun rintihan yang keluar dari mulutnya. Kepalanya semakin pening dan perutnya juga semakin sakit. Tetapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Keringat dingin dan wajah yang memucat. Vina memegang sandaran kursi mobil itu dengan kedua tangannya sambil meringis. Dia menunduk sambil menggigit bibirnya sendiri. Sedangkan Radit duduk menyamping memperhatikan Vina. Dia juga bingung untuk berbuat apa.


"Di bagian mana sakit Vina," tanya Radit lagi. Radit meminta tissue ke satpam yang menjadi supirnya sekarang. Radit mengelap keringat Vina yang ada di kening dan di leher.


"Kepala....perut." Vina menjawab dengan lemah. Dalam keadaan sakit seperti ini, berbicara adalah termasuk hal sulit baginya. Tetapi mengingat sikap temperamen Radit, dengan terpaksa Vina menjawabnya.


Radit meraih kedua bahu Vina. Dia membantu Vina berbaring dengan pahanya sebagai bantal. Vina tidak bisa berpikir apa apa lagi. Dia hanya ingin nyamannya saja. Dia menurut apa saja yang dilakukan Radit di mobil itu. Radit terus mengelap keringat Vina.


"Tarik nafas dan buang perlahan," kata Radit. Vina menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Keadaan sakit seperti inipun, otaknya berusaha menuruti perkataan Radit.


Radit juga menarik nafas panjang. Melihat Vina merasakan sakit seperti itu dengan keringat sebesar biji jagung membuatnya iba. Radit memperhatikan seluruh tubuh Vina. Berbaring menyamping dengan Kakinya yang ditekuk dan bagian punggung Vina yang sudah lembab karena keringat dingin. Radit mengulurkan tangannya meraba tubuh bagian belakang Vina, Radit menyingkapkan pakaian Vina dan mengelap keringat itu.


"Rumah sakit terdekat pak," kata Radit kepada Satpam. Satpam itu mengangguk.


"Ke klinik dokter agung saja," kata Vina lemah. Dia ingin dokter agung yang menanganinya. Radit juga mengatakan hal sama ke satpam tersebut.


Di klinik dokter agung, pasien juga sudah banyak yang mengantri. Vina semakin tidak tahan. Di tengah rasa sakit yang menderanya, Vina masih bisa berpikir. Jika harus ikut mengantri dengan pasien yang lain bisa dipastikan janinnya tidak bisa diselamatkan. Akhirnya Vina menerobos masuk ke ruangan dokter Agung tanpa mendaftar terlebih dahulu.


Dokter agung yang sedang berbicara dengan pasien sontak terkejut melihat Vina yang sudah pucat pasi. Dokter menyudahi pembicaraannya dengan pasien tersebut dan segera membantu Vina berbaring di tempat tidur itu. Disaat itu juga Radit masuk ke ruangan itu.


"Janinnya masih bisa diselamatkan," kata dokter Agung setelah memeriksa Vina. Dia menyuruh perawat untuk menyuntikkan obat ke Vina.


"Syukurlah," jawab Radit lega. Dokter agung menoleh ke Radit. Dokter Agung sudah mengetahui tentang masalah rumah tangga Vina. Selain tidak sengaja mendengar pembicaraan Vina dan Sahabatnya. Dokter agung juga sudah mendengar masalah tersebut dari orang tua Vina.


"Suami Vina?" tanya dokter Agung. Radit mengangguk. Dokter Agung mempersilahkan Radit untuk duduk, kemudian dokter tersebut duduk di bangku kerjanya.


"Kondisi kandungan Vina sangat lemah. Vina diharuskan untuk bed rest kembali,"


"Apakah bed rest nya harus di rumah sakit dokter?"


"Aku rasa bed rest di rumah sakit lebih bagus. Mengingat Vina baru saja satu malam di rumah sudah mengalami hal seperti ini. Apa Vina mempunyai beban pikiran yang berat?. tanya dokter Agung tanpa mengalihkan pandangannya dari Radit. Radit tidak tahu mau menjawab apa. Sebelum Vina merasakan sakit, mereka berdebat tentang hak asuh janinnya Vina. Dan tidak mungkin baginya untuk memberitahukan hal itu ke dokter agung.


"Untuk mencegah kejadian seperti ini terulang. Tolong jangan membuat Vina terlalu banyak berpikir yang berat." kata dokter agung lagi. Radit mengangguk.

__ADS_1


"Aku sarankan, Vina sebaiknya langsung di bawa ke rumah sakit untuk di rawat inap,"


"Baik dokter,"


Radit membawa Vina keluar dari ruangan dokter Agung. Mereka kini sudah di mobil. Seperti saran dokter Agung, Radit akan membawa Vina ke rumah sakit tempat dokter agung bekerja.


"Radit, kita ke rumah saja," kata Vina pelan. Rasa sakitnya sudah sedikit berkurang.


"Kamu tidak mendengar kata dokter tadi?"


"Percuma saja kita ke rumah sakit sekarang, tetapi setelah pulang ke rumah. Kamu kembali menyakiti aku. Kamu sudah melihat bagaimana aku menahan sakit mempertahankan janin ini. Ini tidak seberapa dibandingkan sakit yang pertama. Tapi kamu tega akan memisahkan aku dari anak ini,"


"Kita tetap ke rumah sakit,"


"Aku tetap tidak mau Radit. Mendengar kamu akan memisahkan aku dari anak ini kelak. Lebih bagus kamu menyakiti aku sekarang dengan kata kata yang menyakitkan itu. Aku sudah pasrah kalau harus mati bersama janin ini," kata Vina sambil menangis. Dia tidak perduli Radit akan marah. Rasa sakit di tubuhnya dan rasa sakit hati akibat perlakuan Radit menyatu membuat air mata itu tidak terbendung lagi.


Radit mematung mendengar perkataan Vina.


"Lebih baik aku mati Radit. Untuk menjalani enam bulan ke depan. Aku merasa tidak mampu dan pasti tidak mampu," kata Vina lagi. Suaranya sangat pelan tapi Radit masih bisa mendengarnya apa yang dikatakan Vina. Setelah itu Vina kembali terisak.


"Vina,"


"Kandungan kamu lemah Vina dan harus bed rest di rumah sakit," kata Radit berusaha membujuk Vina.


"Kamu tahu mengapa kandungan aku lemah?. Kamu memperkosa aku dengan brutal, kamu memperlakukan aku seperti binatang. Kamu membebani pikiranku dengan memisahkan aku kelak dari anak ini. Kamu penyebabnya Radit. Jika terjadi sesuatu terhadap janin ini. Jangan salahkan aku. Salahkan diri mu," kata Vina sambil meringis.


Deg.


Radit terdiam mendengar perkataan Vina. Dadanya seperti diremas ketika Vina mengingatkan pemerkosaan di pagi hari itu. Radit juga teringat dengan rekaman Cctv yang memperlihatkan Vina keluar dari rumah sambil meringis. Kata kata tadi pagi juga kembali terngiang di telinganya. Radit terbodoh. Meminta Vina untuk menjaga kandungn itu baik baik, tanpa disadarinya. Bahwa dirinya penyebab janin itu terancam gugur.


"Vina, maaf,"


"Jangan minta maaf Radit. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku wanita hina yang pantas diperkosa oleh suami sendiri. Aku wanita bodoh. Aku wanita keras kepala. Aku yang salah tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Sedangkan kamu suami yang baik, bertanggungjawab, dan setia. Aku salah, aku bodoh sehingga tidak layak jadi ibu untuk anakku sendiri," sindir Vina. Air matanya terus berjatuhan di pipinya. Menjadi istri yang tidak anggap masih bisa diterima. Tetapi untuk dipisahkan dari anaknya sendiri, Vina Tidak bisa terima.


"Hentikan ocehan kamu Vina," kata Radit. Tangannya terulur menggapai pundak Vina. Radit membawa Vina ke pelukannya. Vina meronta tetapi Radit semakin memeluknya.


"Maaf. Aku benar benar minta maaf," kata Radit pelan. Mendengar sindiran Vina, Radit merasa tertampar. Dia jelas tahu bahwa semua yang dikatakan Vina adalah kebalikannya. Berkali kali Vina berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi dirinya yang terlalu membesar-besarkan rasa benci karena Vina pernah berusaha kabur.


Entah karena pengaruh obat, Vina kini sudah tertidur. Dia tidak lagi mendengar permintaan maaf dari Radit. Melihat Vina tertidur, Radit memerintahkan satpam supir itu untuk membawa mereka ke rumah sakit. Dalam hati, Radit berharap, Vina terbangun setelah mereka tiba di rumah sakit.


Setelah menyebutkan nama dokter Agung dan menunjukkan selembar kertas. Vina langsung dibawa ke ruang perawatan. Vina tidak lagi menempati ruangan kelas dua. Radit sengaja memilih ruangan yang terbaik di rumah sakit itu.

__ADS_1


Sementara itu di hari yang sama, menjelang sore hari. Mobil Andre sudah terparkir di halaman rumah orang tua Sinta. Ibu ibu yang sedang duduk berkumpul di teras halaman di sebelah rumah Sinta merasa terkejut dengan kedatangan mobil Andre. Bertahun tahun bertetangga dengan orangtuanya Sinta. Baru kali ini mereka melihat Keluarga Panji kedatangan tamu dengan membawa mobil.


Sinta dan Andre masih di dalam mobil. Rasa lelah karena perjalanan panjang yang memakan waktu hampir enam jam, sungguh melelahkan badan Sinta. Belum lagi dia harus memangku Airia. Tetapi rasa lelah itu hilang hanya dengan melihat rumah orang tuanya.


"Mas, kita turun," kata Sinta. Sama seperti Andre Sinta juga merasakan jantungnya berdetak kencang. Andre mengangguk dan meraih Airia dari tangan Sinta.


"Sinta, jujur aku merasa gugup dan takut sekarang. Tolong bantu aku nanti untuk meyakinkan papa dan mama mertua ya,"


"Ah, gak ah mas. Itu tugas kamu. Jangan hanya menghamili putri mereka saja kamu tahu. Kamu harus usaha donk," jawab Sinta sambil menyembunyikan wajahnya. Dia berniat untuk mengerjai suaminya itu.


"Jangan gitu donk sayang. Aku pasti berusaha. Hanya saja aku takut, karena terlalu kecewa orang tua kamu menyuruh kita berpisah,"


"Iya, kalau itu permintaan mereka. Aku bisa apa mas. Kalau kecewa ya pastilah mereka kecewa," jawab Sinta lagi membuat Andre merasa takut.


"Ya ampun. Kamu kok jadi begitu sih sayang. Harusnya kita sama sama berjuang donk untuk mendapat restu mereka. Ingat, sebentar lagi kita akan mempunyai dua anak,"


"Iya, Kita lihat situasi dulu. Mas, jangan berbicara tentang pernikahan kita dulu. Biar aku yang memberitahu mereka pelan pelan. Selanjutnya, mas bisa menyakinkan mereka," jawab Sinta sambil membuka pintu mobil. Andre juga melakukan hal yang sama.


"Sinta, kamu pulang?. Kamu makin cantik saja Sinta. Kamu bersama siapa itu," tanya salah satu ibu yang berkumpul di teras samping rumah Sinta.


"Iya ibu. Terima kasih," jawab Sinta sopan. Sinta berjalan cepat ke arah pintu rumahnya supaya para ibu itu tidak banyak bertanya lagi.


Sinta mengetuk pintu itu dengan dada yang berdebar. Apalagi terdengar sahutan dari dalam membuat dada Sinta semakin berdebar.


"Mbak Sinta," pekik Lina senang. Tiga orang yang sedang duduk di sofa tua langsung menoleh ke arah pintu. Papa Panji, mama Ria dan Dion mendekat ke pintu. Mereka bergantian memeluk Sinta melepas rindu. Mereka tidak menyadari bahwa di belakang Sinta Andre berdiri sambil menggendong Airia. Seperti biasa mama Ria menitikkan air mata terharu karena masih bisa melihat putri sulung kembali pulang setelah hampir dua tahun tidak pulang.


"Dia siapa?" tanya papa Panji heran setelah menyadari keberadaan Andre. Andre tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Dia majikan aku pa, yang aku ceritakan itu yang punya rumah makan dan catering," jawab Sinta berbohong. Melihat di pelipis papanya tertempel salonpas. Sinta menduga papa tidak dalam keadaan baik baik saja. Andre menatap Sinta dengan membulatkan mata. Sinta yang melihat itu mengedipkan sebelahnya katanya.


Mama Ria mempersilahkan Andre untuk duduk setelah acara salam salaman selesai.


"Papa sakit," tanya Sinta cemas.


"Darah tinggi mbak. Kebanyakan makan daun ubi sama ikan asin," jawab Doni yang mendapat pukulan dari Lina. Lina merasa malu kepada majikan kakaknya. Bagi Lina, apa yang dimakan di rumah tidak perlu diumbar kepada oarnag lain. Papa Panji mengangguk membenarkan ucapan Doni.


"Untung aku tadi berbohong. Entah apa jadinya jika aku mengatakan yang sebenarnya," batin Sinta sambil merogoh ponselnya dari dalam tas.


"Maksudnya apa sayang memperkenalkan aku sebagai majikan kamu," pesan Andre lewat aplikasi wa.


"Kamu gak dengar tadi adik aku bilang, papa darah tinggi. Untung tadi aku berbohong. Kalau aku langsung mengatakan yang sejujurnya. Bisa bisa papa stroke. Mas mau begitu?" balas Sinta. Andre hanya membalas pesan Sinta dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2