Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Mantan


__ADS_3

Bulan berganti bulan. Vina akhirnya harus kembali lagi ke kampus. Atas dukungan Radit Vina memantapkan hatinya untuk melanjutkan kuliahnya. Yang membuat Vina lebih bersemangat, Sinta juga kembali melanjutkan kuliahnya. Mereka kini sudah memasuki tahun keempat di kampus ini atau semester delapan. Dilihat dari waktu mereka yang sudah menginjak tahun ke empat harusnya mereka sudah menyusun skripsi. Tapi karena cuti hamil dan melahirkan mereka kini harus rela untuk mengikuti mata kuliah di semester enam. Sedangkan Tini, Cici, Indah dan Elsa mereka sudah sibuk untuk mempersiapkan skripsi.


Hubungan Vina dan Radit semakin hari semakin mesra. Jika dibandingkan Andre. Radit terlihat lebih budak cinta. Setiap hari menyempatkan dirinya untuk mengantar dan menjemput Vina ke kampus. Vina bahkan tidak bisa lagi mengenakan pakaian yang ketat dan celana model pencil. Radit tidak bisa membayangkan jika pria pria yang ada di kampus melihat bokong sintal milik Vina jika memakai celana pencil ketat. Dan juga melihat dada Vina yang semakin membesar karena menyusui. Itulah sebabnya Radit rela membawa Vina berbelanja untuk membeli beberapa celana kulot dan baju atasan crop untuk Vina. Vina tidak protes. Karena tingginya badannya sangat cocok memakai kulot dan crop dan bahkan dirinya semakin terlihat lebih anggun. Selain ini, Vina ingin memberikan yang terbaik untuk Radit. Vina tidak ingin konsentrasi Radit terpecah hanya karena cemburu. Vina sadar urusan perusahaan sangat menyita pikiran Radit.


"Hei, kolot masuk jam berapa?" tanya Tini yang baru saja menutup pintu mobil suaminya. Vina juga demikian. Mobil dua bersahabat itu hampir bersamaan berhenti di parkiran kampus. Sejak Vina selalu memakai celana kulot. Tini memanggilnya dengan kolot.


"Tidak sadar kamu. Kamu juga kolot tuh. Sama sama memakai kulot tapi sok ngatain aku kolot," jawab Vina cemberut. Tini sejak menikah dengan Sean memang perlahan lahan sudah mulai mengubah penampilan. Sahabatnya yang satu ini selalu bisa memandang sesuatu dari segi yang berbeda. Sean dan Radit yang mendengar istri masing masing saling mengejek akhirnya turun juga dari mobil sambil tersenyum.


"Bagaimanapun bro. Sudah ada perkembangan?" tanya Sean kepada Radit. Baik Andre dan Sean sudah mengetahui permasalahan perusahaan yang dihadapi Radit.


"Sudah bro. Tapi karyawan yang dirumahkan belum bisa kembali bekerja. Perusahaan sudah ada kemajuan tetapi belum stabil," jawab Radit sedikit menceritakan perkembangan perusahaannya. Suntikan dana dari Hendrik sangat bermanfaat. Sedangkan papanya sendiri belum mengetahui permasalahan perusahaan yang diwariskan ke Radit. Vina mendengar perkataan Radit menarik nafas lega. Dia memang tidak banyak bertanya tentang perkembangan perusahaan. Dia takut pertanyaannya membuat Radit tidak nyaman. Vina hanya memperhatikan asupan gizi dan vitamin untuk Radit.


"Aku yakin akan kemampuan kamu Radit."


"Terima kasih Sean. Bagaimana sudah tanda-tanda?" tanya Radit sambil menatap Sean Tini bergantian. Tini seketika menunduk. Hampir tiga bulan menikah dengan Sean. Tanda tanda yang ditanyakan oleh Andre belum terlihat. Entah sudah berapa banyak test pack yang terbuang yang hanya bergaris satu. Tini jelas tahu bahwa Sean sangat menginginkan bayi secepatnya ada di pernikahan mereka. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Menikah, hamil dan melahirkan. Tini masih hanya merasakan menikah. Untuk kata hamil belum bisa dipastikan kapan itu terjadi.


"Belum bro. Mudah mudahan saja yang dicetak tadi malam jadi," jawab Sean bercanda sambil melirik Tini yang masih tertunduk. Sean tidak ingin melihat istrinya sedih. Pertanyaan yang serupa sering juga terdengar dari kedua orang tua mereka membuat Tini semakin tidak sabar.


"Masih tiga bulan Tini. Jangan bersedih karena hal itu. Tapi jika tidak sabar lagi kalian boleh konsultasi ke dokter spesialis kandungan," saran Vina.


"Aku pribadi belum begitu terburu-buru Vin, malah aku merasa lebih baik jika Tini merampungkan skripsinya terlebih dahulu," kata Sean. Setelah melihat kesibukan Tini menyusun skripsi. Sean merasa kasihan jika Tini juga hamil di waktu yang bersamaan. Tini menoleh Sean tidak percaya dengan apa yang didengarnya tetapi juga merasa lega karena Sean tidak terlalu menuntut.


"Kita juga perlu ke dokter kandungan bunda, sudah tiga bulan kamu memberikan aku vitamin. Tapi kok belum ada juga tanda tanda."

__ADS_1


Radit berbisik tepat di telinga Vina. Dia tidak ingin suaranya didengar oleh Tini. Wanita itu akan bisa menjadikan itu bahan tertawaan bagi mereka. Radit sebenarnya belum ingin Vina hamil dalam waktu dekat ini. Tapi Radit juga ingin tahu. Senjatanya sejak digunakan belum membuat Vina hamil. Radit merasa senjatanya sudah mengalami penurunan fungsi.


"Tidak perlu yah. Pergilah ke kantor."


"Aku tunggu kamu Bun, tadi katanya hanya minta tanda tangan dosen pembimbing akademik. Sana minta. Aku tunggu kamu disini!" kata Radit sambil membalikkan tubuh Vina ke arah fakultas ekonomi. Vina menoleh ke Tini. Tini mengangkat bahunya.


"Kamu tidak sibuk hari ini Radit?. Andre mengajak kita untuk berkumpul di kafe aku jam sebelas. Makan siang di sana," kata Sean setelah membaca pesan dari Andre.


"Dan membawa pasangan masing-masing," kata Sean lagi. Radit menoleh ke Vina.


"Gimana Bun?. Kamu bisa." Vina mengangguk dan menoleh ke Tini. Dua sahabat itu tersenyum. Radit melihat arlojinya. Masih ada waktu sekitar dua jam untuk berkutat di kantornya sebelum berkumpul dengan para sahabatnya di kafe milik Sean.


****


"Ma, sini. Jangan kalah donk dengan mereka," kata Sean sambil membantu Tini berdiri. Tini menurut. Dia juga tidak mau kalah.


"Iya donk pa. Kita harus menang dari mereka. Bagaimana kalau kita pindah ke kamar saja. Mereka pasti gelagapan juga mau cari kamar," kata Tini sambil tersenyum kepada dua pasangan.


"Kamu benar ma. Yuk kita ke kamar. Kalau hanya memangku seperti ini yang ada celana semakin sempit ma," kata Sean sambil berdiri. Mereka seakan melupakan keberadaan Radit dan Andre beserta istri masing masing di ruangan yang sama.


"Dasar pasangan mesum. Mentang kalian punya kamar sendiri di kafe. Seenaknya saja meninggalkan kami," kata Radit kesal. Sean makin hari sifatnya hampir sama dengan Tini. Suka bercanda dan menjahili Radit dan Andre.


"Yang mulai sok mesra. Siapa tadi?. Harusnya kalau ngumpul seperti ini jaga sikap masing masing donk. Bukan berlomba sok mesra. Sempit celana, baru tahu," kata Tini ketus. Tini memang tidak terlalu menyukai terlalu mesra seperti ini. Baginya hal hal intim bersama suami adalah rahasia yang tidak perlu diumbar di hadapan orang lain termasuk para sahabat. Tini turun dari pangkuan Sean. Sinta juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Andre dan Sinta terlihat gugup. Sejauh ini mereka juga memang mesra tetapi di saat berdua saja. Ini yang pertama bagi Sinta dipangku oleh Andre.


"Tetap di sini Bun, kalau celana semakin sempit. Solusinya gampang. Pinjam kamar mereka," kata Radit tidak perduli. Dia bahkan memeluk pinggang Vina. Vina yang dasarnya suka diperlakukan dengan mesra. Tidak risih. Bahkan Vina juga melingkarkan tangannya di leher Radit. Sinta dan Tini melirik pasangan itu dengan biasa saja sedangkan Vina tersenyum tidak perduli.


"Baik yah. Aku nurut ke kamu saja," jawab Vina. Dia bahkan menyandarkan kepalanya di dada Radit.


"Kembali menjadi obat nyamuk," kata Tini. Sinta yang tahu maksud dari perkataan itu tertawa terbahak-bahak. Dulu mereka menjadi obat nyamuk untuk Vina dan Ronal. Sekarang mereka menjadi obat nyamuk untuk Vina juga dan Radit.


"Mi, sebenarnya acara kita hari ini hanya untuk melihat mereka seperti ini?" tanya Andre kepada Sinta. Sebenarnya acara ini bukanlah ide dari Andre. Melainkan ide dari Sinta, Tini dan Vina. Sinta sengaja meminta Andre untuk mengumpulkan mereka disini seolah-olah ide ini dari Andre.


"Entahlah Pi. Mereka berdua bahkan seperti tidak menganggap kita ada," jawab Sinta yang melihat Radit dan Vina berbisik bisik. Sinta menatap Vina yang terlihat bahagia duduk di pangkuan Radit. Sinta sangat kagum dengan Sahabatnya ini. Cintanya benar benar luar biasa. Sinta dapat melihat Vina mencintai Radit apa adanya. Bukan ada apanya.


Vina turun dari pangkuan Radit. Dia duduk disebelah Radit. Dia menatap dua sahabatnya.


"Sebenarnya kami bertiga mempunyai kejutan untuk kalian bertiga," kata Vina sambil memandang satu persatu tiga wajah pria tampan itu. Andre, Radit dan Sean sama sama mengerutkan keningnya.


"Kalian bertiga akan menjadi mantan. Mulai hari ini," kata Tini serius sambil menunjuk wajah tiga pria itu satu persatu. Tiga pria itu nampak terkejut dan sama sama bergerak memperbaiki cara duduk mereka.


"Maksud kamu apa Tini?" tanya Radit sudah mulai terbawa emosi. Radit duduk gelisah sambil menoleh ke Vina yang terlihat duduk sangat tenang.


"Maksud kamu apa ma?" tanya Sean.


"Jangan bercanda kamu Tini," kata Andre juga gusar dan melihat Sinta yang duduk tenang sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sedangkan Tini menatap tajam tiga pria itu. Mereka bertiga sama sama mengingat hal apa apa saja yang mereka lakukan selama beberapa hari ini yang memungkinkan bisa membuat istri mereka marah.

__ADS_1


"Mantan brengsek, mantan banci kaleng dan mantan pacarnya Tini," kata Tini sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya menunjuk tiga pria itu mulai dari Andre, Radit dan Sean.


__ADS_2