
Vina menatap keluar jendela. Wajahnya muram dan tatapannya sendu. Kini dia berada di kamar lantai dua rumah Radit. Sejak acara kaburnya bersama Sinta. Dia dikurung oleh Radit di rumah ini. Sembilan hari sudah dia terkurung tanpa boleh memegang ponsel. Untuk mengundang para sahabatnya, Vina harus meminjam ponsel pembantu di rumah ini. Dan selama itu juga Vina tidak melihat Radit. Tetapi penjagaan sangat ketat. Yang membuat Vina makin sedih, orangtuanya mendukung Radit untuk mengurung Vina.
Bukan tanpa alasan Radit mengurung Vina, sewaktu di hotel Vina berusaha melarikan diri. Resepsi pernikahan yang direncanakan di hotel mewah akhirnya dibatalkan. Dan sebagai gantinya resepsi pernikahan itu akan terlaksana hari ini di halaman rumah Radit. Radit dan orang tua Vina takut. Vina bisa memperdayai para suruhan Radit dan keluarga. Dan akhirnya kabur lagi.
Vina menghembuskan nafasnya kasar. Dari lantai dua Vina bisa melihat tenda tenda yang sudah dipasang dan ada pelaminan yang sudah di dekorasi sangat indah. Kemudian sepasang mata indah itu menoleh ke manekin. Kebaya yang akan dipakai untuk akad dan disampingnya manekin berisi gaun untuk resepsi pernikahan. Vina membayangkan rumitnya mengganti kebaya dengan gaun dengan waktu yang sedikit.
Tidak ada wajah berbinar melihat kebaya dan gaun pengantin itu, yang ada wajah Vina semakin muram. Radit yang sudah mengambil paksa kehormatannya masih jelas terlintas di pikirannya. Kejadian itu masih jelas terekam di otaknya hingga Vina memejamkan mata berusaha melupakan kejadian itu.
"Vina tidak menyadari bahwa perias pengantin yang disewa Radit sudah masuk ke kamar tempatnya kini. Vina hanya mengangguk ketika melihat kedua wanita perias itu tersenyum ke arahnya. Vina pasrah saja ketika kedua perias itu memegang rambut dan wajahnya.
"Cantik sekali kamu mbak," kata salah satu perias pengantin itu kepada Vina. Perias itu tersenyum puas melihat hasil karyanya di wajah Vina. Tidak ada senyum di wajah Vina ketika mendengar pujian itu.
"Tersenyum mbak, supaya auranya terpancar," kata perias itu lagi. Vina menurut tersenyum untuk menghargai perias tersebut kemudian senyum itu hilang ketika salah satu kerabatnya masuk ke kamar itu.
"Belum siap?, cepat kenakan kebayanya. Ini sudah jam sebelas. Penghulunya sudah menunggu," perintah kerabat Vina itu cerewet kemudian keluar dari kamar itu. Perias itu menanggalkan kebaya dan Roknya dari manekin kemudian membantu Vina mengenakannya.
Vina kini sudah duduk di samping Radit. Di depan mereka juga sudah ada penghulu. Orang tua dan juga kerabat dari Radit dan Vina juga, sudah terlihat di ruangan itu. Dari penampilan kedua pengantin itu, orang tidak mengira mereka pasangan yang dijodohkan, kebaya dan pakaian Radit nampak serasi. Warna putih gading membuat mereka seperti pasangan yang sudah matang mempersiapkan pernikahan ini.
Duduk di samping Radit membuat pikiran Vina berkelana. Membayangkan yang duduk di sampingnya adalah Ronal mantan kekasihnya. Kebersamaan bersama Ronal terus membayangi Vina. Bagaimana Ronal memperlakukan Vina dengan baik dan sangat memanjakannya. Berbeda dengan Radit yang berlaku kasar dan sering membentaknya. Hingga Vina tersentak, ketika semua yang di ruangan itu mengatakan sah.
Dengan kaku, Vina memasangkan cincin ke jari Radit. Sedangkan pria itu terlihat santai ketika memasangkan cincin ke jari Vina dan mencium keningnya. Radit tersenyum dan menyenggol bahu Vina supaya mengikutinya tersenyum. Dengan terpaksa Vina tersenyum.
Seseorang membisikkan ke telinga Vina untuk berganti pakaian setelah ceramah diakhiri. Ceramah yang seharusnya sebagai nasehat untuk menjalani pernikahan mereka, tidak satupun masuk ke telinga Vina. Sedangkan Radit nampak sering mengangguk kepala. Bukan tanda setuju dengan ceramah yang didengarnya tetapi karena sudah bosan dengan ceramah tersebut.
Akhirnya Vina berusaha berdiri, Radit yang melihat Vina kesusahan berdiri dengan cepat membantu Vina. Radit menunduk hormat ke para yang hadir di ruangan itu. Dengan menuntun Vina, Radit berjalan menaiki tangga.
Dua orang sudah menunggu Vina di ruangan rias tadi, untuk membantu Vina berganti pakaian. Vina dan Radit di beri waktu satu jam untuk touch up. Begitu memasuki ruangan rias Radit menyuruh dua orang tersebut keluar.
"Mereka akan membantu aku Radit, kenapa kamu menyuruh mereka keluar?" tanya Vina heran setelah Radit mengunci pintu.
"Layani aku sebentar,"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Vina marah. Suaranya meninggi karena marah.
"Aku merindukan tubuhmu Vina, layani aku sekarang,"
"Kamu gila Radit, bahkan di waktu mepet seperti ini kamu hanya memikirkan itu?" bentak Vina, Radit tidak terpengaruh sedikitpun dengan kemarahan Vina.
"Sudahlah, jangan banyak ngomong. Hanya Sepuluh menit. Kita punya waktu satu jam.
"Aku tidak mau," jawab Vina cepat.
"Kalau kamu tidak mau, aku akan memaksamu,"
"Radit kamu gila, menunggu malam tinggal beberapa jam lagi. Apa kamu tidak bisa bersabar," bentak Vina lagi. Dia masih tidak mau membuka kebayanya.
"Jangan banyak ngomong cepat buka,"
"Aku tidak mau, kalau kamu mau itu, panggil wanita peliharaan mu kemari. Dan bermainlah. Aku cukup waras untuk tidak melayani kamu sekarang." jawab Vina. Dia mundur perlahan, untuk berjalan cepat menuju pintu dia tidak bisa karena sarung berbentuk rok panjang dan span di bawah.
"Ternyata kamu suka dipaksa rupanya," kata Radit. Dia sudah melepaskan pakaian bagian atasnya.
"Baiklah nanti malam, kamu akan menerima pembalasan atas penolakan kamu ini," jawab Radit tenang. Dia menyambar pakaiannya dan membuka pintu. Vina menarik nafas lega. Pria gila itu sudah berlalu dari ruangan hias.
Vina berjalan menuruni tangga, dua orang mengapitnya di kiri dan kanan. Vina terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pengantinnya. Tetapi sayang di wajahnya tidak ada senyum sedikitpun berbeda dengan kedua orangtuanya yang sangat bahagia dengan pernikahan ini. Di bawah Radit sudah menunggunya. Sama seperti orang tua Vina, Radit selalu menyunggingkan wajah tersenyum.
"Senyum," kata Radit. Giginya rapat karena geram melihat Vina tidak tersenyum sama sekali. Radit memberikan lengannya supaya Vina menggandengnya.
"Kamu kira, dengan perbuatan kamu yang gila ini. Aku masih bisa tersenyum?" balas Vina sengit dengan sedikit berbisik. Vina mengikuti langkah Radit berjalan ke pelaminan. Radit menoleh ke Vina yang berjalan di sampingnya kemudian tersenyum sinis.
"Duduklah!" kata Radit sedikit mendorong Vina untuk duduk di pelaminan. Vina yang di dorong merasa kesal dan marah. Di depan para tamu seperti ini. Radit masih saja bermain kasar mendorongnya.
Dari pelaminan, Vina melihat para tamu yang sudah duduk mengitari meja bundar. Walau resepsi ini di adakan di halaman rumah tetapi penataan meja dan kursi juga hiasan di tata sedemikan rupa sehingga terkesan mewah. Vina dapat melihat para sahabatnya duduk di antara tamu tamu. Tini, Indah, Elsa, Cici dan Sean satu meja. Sedangkan Sinta, Andre, Bella dan Andi satu meja.
__ADS_1
"Kamu lihat, gara gara tingkah kamu, aku tidak bisa menjamu para tamu ku di hotel berbintang. Andaikan kamu tidak kabur hari itu. Resepsi ini diadakan di hotel. Harga diri aku serasa turun karena mengadakan resepsi pernikahan di halaman rumah," kata Radit sinis. Vina hanya diam saja. Vina merasa malas meladeni perkataan Radit.
"Berdiri dan tersenyum," kata Radit lagi menarik tangan Vina. Beberapa tamu berjalan ke arah mereka untuk memberi selamat. Vina hanya dapat meringis.
"Senyum," perintah Radit lagi. Para tamu sudah semakin mendekat.
Vina tersenyum terpaksa sambil menyalami para tamu Radit. Sedangkan Radit terkadang tertawa membalas ucapannya para rekannya.
"Jangan ucapkan selamat," kata Vina ketika Sinta mendekat kepadanya. Sinta yang tahu tentang perjodohan Vina dan Radit akhirnya merangkul sahabatnya. Rasa sedih jelas terlihat di wajah kedua sahabat itu. Tini dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sinta. Tidak ada ucapan selamat dari mereka hanya ada rangkulan untuk menguatkan Vina.
Vina dan Radit kembali duduk. Para tamu juga terlihat sudah duduk di tempat masing masing.
Kalau boleh memilih, Vina ingin rasanya bergabung bersama para sahabatnya dibandingkan harus bersanding dengan Radit di pelaminan. Ternyata bukan hanya pikiran Vina seperti itu. Radit berdiri dan berjalan meninggalkan pelaminan. Vina ternganga melihat Radit yang meninggalkannya sendiri duduk di pelaminan. Rasa sesak itu menjalari hatinya. Matanya berkaca-kaca melihat perlakuan Radit. Tidak cukup hanya diperkosa. Radit bahkan meninggalkannya di pelaminan. Rasa sakit dan malu bercampur di hati Vina.
Sementara itu Radit, tanpa beban dan tanpa bersalah berjalan menghampiri meja tempat Andre.Dengan santai pria itu menarik bangku kosong dan mendudukinya. Sean dan Andi juga di meja yang sama sedangkan Bella dan Sinta sudah bergabung dengan meja Tini.
Banyak mata yang melihat Vina yang duduk sendiri. Para sahabatnya juga melihat hal itu. Sinta dan yang lainnya merasa geram. Tetapi tidak bisa berbuat apa apa. Hingga Indah dan Tini beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pelaminan untuk menemani Vina. Saat ini mereka harus memberikan dukungan kepada Vina.
"Kamu kok ke sini Radit, sana temani istrimu," kata Andi. Radit hanya tersenyum menanggapi ucapan Andi.
"Biar saja bro, biar dia terbiasa dan tidak mengharap lebih dari pernikahan ini," jawab Radit santai.
"Andre, istri kamu tidak ikut?" tanya Radit.
"Ikut, itu dia?" jawab Andre. Dia menunjuk Sinta yang sedang memangku Airia.
"Kok lain, perasaan waktu tujuh bulanan. Bukan dia orangnya," kata Radit bingung. Dia masih ingat wajah Cindy. Andre bingung mau menjawab apa. Dia malu kalau harus menjelaskan tentang rumah tangga baik bersama Sinta maupun rumah tangga yang sudah kandas dengan Cindy.
Andre juga kembali merasakan hatinya berdenyut nyeri ketika Radit mengingatkan tujuh bulanan cindy. Bagaimana dia dan keluarga kala itu mendoakan Cindy dan Alexa. Tetapi untuk Sinta, jangan berdoa untuk keselamatan Sinta dan Airia. Mengingat saja tidak ada. Andi dan Sean juga terlihat diam. Mereka tidak mau berkata apapun tentang Sinta.
"Dapat dimana bro?, cantik banget. Kalah wanita wanita yang pernah tidur dengan aku," kata Radit lagi. Andre seketika mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia tidak suka Radit memuji Sinta seperti itu.
__ADS_1
****
Tentang Vina dan Radit akan hanya beberapa bab, dan akan terhubung ke bab selanjutnya. Jangan di bully otornya ya bunda,.