Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Sean


__ADS_3

Di mobil Sean. Tini terdiam. Sedangkan Cici dan Indah berbincang bincang dan sesekali Sean menanggapinya. Berbeda ketika di rumah sakit tadi, di mobil Sean Tini mengunci rapat mulutnya. Rasa marah akan Radit memang sudah hilang dari hatinya. Yang ada sekarang Tini merasa malu karena kembali di dalam mobil Sean. Padahal tadi rencananya dia pulang naik taksi saja untuk menghindari Sean. Tetapi karena perdebatan Tini dan Radit di parkiran tadi. Sean kembali menggiringnya ke dalam mobil.


Cici dan Indah menyanyikan sebuah lagu dari diva pop Indonesia. Ketika tiba di reff lagu tersebut Sean mengikuti Cici dan Indah bernyanyi. Tini memutar bolanya malas. Suara Cici dan indah juga Sean yang tidak tergolong bagus merusak pendengarannya.


Tidak ingin mendengar ketiga orang tersebut bernyanyi Tini membuka ranselnya. Dia meraba ke dalam ransel. Meraba kantong ransel juga tetapi apa yang dicarinya tidak ketemu. Tini menarik nafas panjang. Dia baru ingat bahwa headset miliknya masih di tangan Sean. Dia ingin menutup telinganya dengan headset supaya tidak mendengar suara ketiga manusia itu. Tapi sayangnya headset itu masih di saku Sean.


Tidak cukup hanya satu lagu. Kini ketiga orang tersebut menyanyikan lagu dari band ternama di negeri ini. Lagu yang berjudul " Terdalam". Lagu kesukaan Tini sejak Sean dan Cici dekat.


"Stop, stop," kata Tini sambil membalikkan badannya ke arah belakang. Tini duduk di depan di samping supir. Sedangkan Cici dan Indah duduk di bangku belakang. Ketiga orang itu berhenti bernyanyi. Sean menoleh ke Tini.


"Kenapa?" tanya Indah dan Cici bersamaan.


"Suara kalian bertiga memang sangat bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau tidak bernyanyi," kata Tini tenang. Sean spontan tertawa. Mereka bertiga dipuji terlebih dahulu kemudian dihempas ke jurang yang paling dalam. Bukannya marah, Sean malah tertawa mendengar perkataan Tini. Sedangkan Cici dan Indah cemberut. Cici bahkan mencubit tangan Tini.


"Begini nih yang tidak terima kritik. Apa kamu mau aku memuji suara kamu padahal suara kamu tidak ada bagus bagusnya?. Aku tidak mau menyesatkan kamu Ci. Lihat nih mereka berdua menerima kritik. Bukan seperti kamu yang justru mencubit aku. Sakit tahu?" kata Tini sewot. Cubitan Cici yang memutar di tangannya terasa sakit.


"Kamu ci, kamu tidak takut ke Tini. Kamu mencubit dia. Nanti dibalas baru kamu tahu. Dia jago karate loh," Kata Indah serius. Dia pernah melihat foto Tini yang terselip di binder memakai baju taekwondo.


"Kamu pernah latihan karate Tini?" tanya Sean setelah mendengar perkataan Indah.


"Bukan karate kak, tapi taekwondo," jawab Tini. Dia membuka aplikasi YouTube di ponsel dan mencari lagi "terdalam". Lagu terdalam dari ponsel Tini mengalun indah di dalam mobil itu.


"Sudah sabuk apa?" tanya Sean lagi.


"Sabut kelapa kak," jawab Tini tenang. Sean kembali tertawa. Cici dan Indah juga ikut tertawa.


"Aku nanya sabuk bukan sabut Tini," kata Sean lagi. Mulutnya tidak berhenti tertawa.


"Ooo sabuk. Masih sabuk kuning kak. Emang kenapa kak?" tanya Tini. Dia menoleh ke Sean. Tini bisa melihat Sean dari samping. Jantungnya berdetak kencang ketika Sean juga menoleh kepadanya. Buru buru Tini memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan.


"Bohong dia kak, di foto itu aku lihat dia sudah sabuk biru," jawab Indah.


"Kamu melihat foto aku?" tanya Tini. Indah mengangguk. Tini memang sudah sabuk biru. Tanpa sepengetahuan para sahabatnya. Tini juga masuk anggota UKM taekwondo atau unit kegiatan mahasiswa di kampus mereka. Dan di lingkungan rumahnya. Dia mengajari anak anak yang tertarik taekwondo secara gratis. Tentu saja itu ada ijin dari kakak seniornya.


"Sama donk seperti kak Sean. Kak Sean juga sudah sabuk biru kan?" kata Cici membuat Tini menoleh ke Sean. Ternyata mereka berdua menggeluti olahraga yang sama. Tetapi perkataan Cici membuat Tini merasa yakin bahwa Cici sudah banyak tahu tentang Sean.


"Aku belum sabuk biru ci, masih bulan kemarin kenaikan sabuk tapi itupun tidak lulus,"


"Loh jadi kakak tidak lulus. Kenapa tidak lulus kak?" tanya Cici heran.


"Mungkin karena waktu itu kamu ikut nonton, jadinya kakak grogi,"


"Ih, bilang saja faktor umur. Umur kakak kan tidak muda lagi. Jadi kalah gesit sama yang muda. Apalagi lawan kakak waktu itu masih terlihat sangat muda," jawab Cici. Dia tidak terima karena dirinya yang ikut menonton kenaikan sabuk membuat Sean tidak lulus.


"Iya tidak perlu cemberut gitu Cici sayang. Kakak bercanda. Kakak kalah karena kurang latihan karena kerjaan menumpuk bersamaan dengan jadwal menjelang kenaikan sabuk. Lagi pula aku tidak tertarik dengan taekwondo. Tapi kamu tahu sendiri mama yang memaksa aku untuk belajar taekwondo," kata Sean sambil menoleh sekilas ke belakang. Tini semakin terbakar hatinya mendengar Sean menyebut Cici dengan sebutan Cici sayang. Setelah menoleh ke belakang. Sean menoleh ke Tini.


"Kak, kita cari makan dulu, aku sudah lapar," kata Cici lagi dengan manjanya. Dia bahkan menempelkan badannya ke kursi Sean. Posisi Cici tepat berada di belakang Sean.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa ci?" tanya Sean lembut.


"Tini sama indah mau makan apa?. Kalau kak Sean pasti ngikut sama apa yang mau aku makan," tanya Tini lagi. Sean mengangguk.


"Kita ke mall saja. Nanti kita lihat restoran mana yang promo," jawab Indah.


"Tini, bagaimana?" tanya Cici.


"Aku tidak mau makan. Aku turun di depan sana dekat simpang itu. Aku mau pulang," jawab Tini pelan. Sebenarnya dia sudah lapar karena waktunya sudah makan siang. Apalagi tadi dia marah marah yang menguras tenaga. Tentu saja perutnya segera minta diisi. Tapi karena tidak ingin melihat kedekatan Cici dan Sean. Tini memilih untuk makan sendiri daripada harus ikut ke mall yang akan membuat dadanya semakin sesak.


"Kelamaan ke mall. Kita makan di sini saja dulu. Aku juga sudah sangat lapar. Setelah kenyang. Aku bersedia menjadi supir kalian kemana pun kalian mau. Termasuk keliling mall," kata Sean sambil menghentikan mobilnya di depan rumah makan Padang. Cici dan Indah mengangguk setuju. Sedangkan Tini merasa berat untuk menuruti keinginan Sean.


"Ayo turun," kata Sean ketika melihat Tini masih termenung. Cici dan indah sudah menutup pintu mobil pertanda mereka sudah keluar.


"Iya. iya kak," kata Tini gugup sambil menghentikan Sean yang hendak membuka sabuk pengamannya. Sean terus membuka sabuk pengaman tersebut. Tini sampai menahan nafas karena dekatnya kepala Sean ke dirinya yang menunduk membuka sabuk pengaman yang agak susah dibuka.


"Sudah. Turunlah," kata Sean lembut. Tanpa melihat Sean, Tini membuka pintu mobil itu. Dia mempercepat langkahnya ketika dia tahu bahwa Sean juga sudah turun dari mobil.


Tini duduk di hadapan Cici dan Indah. Meja mereka terdiri dari empat bangku. Melihat posisi duduk seperti ini. Bisa dipastikan Sean akan duduk di samping Tini. Belum sempat Tini minta untuk bertukar bangku dengan Cici. Sean sudah duduk di sampingnya. Terpaksa Tini mengurungkan niatnya. Ketika Sean meletakkan kunci mobil di meja. Tangan Sean menyentuh tangan Tini tanpa sengaja. Tini tidak tahu mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Yang pasti dia sangat senang dengan sentuhan Sean.


"Kenapa kamu tersenyum Tini?" tanya Cici heran. Cici heran melihat Tini yang tersenyum tanpa sebab.


"Karena aku punya bibir yang ****," jawab Tini ketus. Dia merasa malu karena pertanyaan Cici. Hanya dia yang tahu. Dia tersenyum karena sentuhan Sean. Sean terkekeh.


"****?, coba aku perhatikan," kata Sean sambil memegang kedua pipi Tini. Demi apapun Tini sangat berdebar. Dia takut. Jarak yang dekat dengan Sean. Sean bisa mendengar detak jantung.


"Apaan sih kak, Makan aja dulu. Ada saatnya nanti kakak memperhatikan bibir aku yang **** ini," jawab Tini sambil menunjuk berbagai lauk pauk dan nasi yang sudah disajikan di meja.


"Nanti ketika malam pertama kita. Itupun jika kakak dan Cici tidak jadi Menikah. Kalau kalian yang menikah. Sudah pasti laki laki yang lain yang melihat bibir **** aku ini," jawab Tini bercanda. Sean menatap lama mata Tini. Tini yang ditatap seperti itu langsung pura pura mengambil nasi dan lauk pauknya. Sean tahu Tini gugup.


Tini makan sangat lahap sekali berbanding terbalik dengan jawabannya yang mengatakan tidak mau makan. Berbeda dengan Cici dan Indah yang seperti menjaga berat badannya. Mereka makan hanya sedikit nasi tetapi lebih banyak makan lauk-pauknya.


"Tadi katanya tidak mau makan. Tapi dia yang lebih banyak menghabiskan menu di meja ini," cibir Cici ketika Tini hendak menambah nasi.


"Kamu tidak menyimak tadi ucapan aku. Aku tidak mau makan. Sebenarnya lanjutan dari Kalimat aku itu tidak mau makan bayar sendiri. Makan gratis mau. Kan kak Sean yang ajak makan di sini. Otomatis dia yang bayar. Kalau kamu yang ajak ya pasti bayar sendiri sendiri," jawab Tini tidak mau kalah. Sean kembali terkekeh karena Tini. Tanpa sadar tangan kirinya terulur mengacak rambut Tini. Tini membiarkannya tapi matanya menatap Cici yang menunduk.


"Makan saja yang banyak. Aku akan membayar sebanyak apapun yang kalian makan. Asal makannya dari mulut ya," kata Sean juga bercanda. Tini tertawa sambil menutup mulutnya.


"Makan dari mulut lah. Emang makan dari mana lagi?" tanya Tini tertawa. Melihat Tini tertawa Sean juga ikut tertawa.


"Bayar kak, kita pulang," kata Cici sambil mengelap mulutnya pakai tissue. Sean memanggil pelayan rumah makan tersebut. Sean mengeluarkan beberapa dua lembar ratusan ribu dan memberikannya ke pelayan.


Kak, aku naik angkutan umum saja dari sini," kata Tini ketika mereka sudah di depan mobil. Tanpa menghiraukan perkataan Tini, Sean menarik tangan Tini dan membuka pintu depan. Tini hendak protes tetapi Sean sudah mendorongnya masuk ke dalam mobil. Cici dan Indah juga sudah duduk dengan santai di bangku belakang.


"Tini, Indah. Sebutkan alamat kalian. Aku akan mengantar kalian satu persatu." kata Sean ketika Indah dan Cici mengatakan mau pulang saja. Mereka tidak jadi ke mall seperti saran Indah tadi. Indah menyebutkan alamatnya. Sedangkan Tini masih diam. Entah mengapa suasana mobil itu menjadi sunyi, tidak seperti sebelumnya yang penuh canda. Sean pun mengantar Indah terlebih dahulu.


"Salam untuk Tante dan si bibi ci," kata Sean ketika Cici mau turun dari mobilnya. Setelah mengantar Indah. Sean kemudian mengantar Cici. Sedangkan Tini, entah karena kekenyangan, dia sudah tertidur dengan memeluk ranselnya.

__ADS_1


"Iya kak, Kakak dan Tini tidak singgah dulu," tanya Cici lembut. Tangannya sudah memegang handle pintu.


"Lain kali ya ci," jawab Sean dengan tersenyum. Badannya berbalik dan mengacak rambut Cici. Cici tersenyum dan membuka pintu. Sean masih bisa melihat lambaian tangan Cici sebelum berlalu dari tempat itu.


"Tin, Tini," panggil Sean pelan. Tangan kirinya mengguncang pelan bahu Tini. Tini terbangun dengan mengucek matanya.


"Lap liur kamu," kata Sean sambil menyodorkan tissue. Tini memukul tangan Sean. Karena dia merasa tidak mengeluarkan liur sedikit pun.


"Cici dan Indah mana?" tanya Tini terkejut ketika melihat bangku belakang kosong.


"Mereka sudah di rumahnya masing masing. Kita sudah mengantarnya. Kamu tidak sadar karena terlelap,"


"Ah, apa aku lama tertidur?"


"Kurang lebih satu jam. Kamu tidur seperti kerbau.


"Kak Sean supirnya kerbau,"


"Lah, kok jadi supir kerbau,"


"Yang ngatain aku kerbau tadi siapa. Kalau aku kerbaunya ya kak Sean supir kerbau donk," jawab Tini cemberut. Sean kembali terkekeh.


"Iyakan sajalah. Daripada dikatain banci kaleng," kata Sean pasrah. Tini kini tertawa terbahak-bahak.


"Si banci kaleng itu. Bisa tidak menemukan Vina ya. Semoga lah dia tidak bisa," kata Tini yang teringat Vina ketika Sean mengingatkan si banci kaleng.


"Menurut aku Tini, masalah mereka harus cepat diselesaikan apalagi Vina mengandung. Menurut kamu siapa yang menjemput Vina?"


"Kalau bukan Ronal siapa lagi. Tadi kata bapak yang satu ruangan sama Vina, yang menjemput Vina kan seumuran. Aku langsung kepikiran ke Ronal. Tapi aku diam saja. Biarkan si banci kaleng kebingungan mencari istrinya. Dan kak Sean juga jangan coba coba memberitahu Radit. Awas," ancam Tini sengit.


"Mana berani aku kalau kamu sudah mengancam begini Tini. Lagipula yang jemput Vina kan belum tentu si Ronal. Itu masih dugaan kamu saja,"


"Tapi aku berharap Ronal yang menjemputnya kak," kata Tini pelan. Dia takut dugaannya salah.


"Tini teringat nya kamu berani juga sama Radit ya. Dia sampai mati kutu karena ucapan kamu tadi. Aku sama Andre sampai tersenyum melihat wajah Radit yang kalah telak karenan ucapan kamu,"


"Begitulah aku kak, apa yang di hati itu yang keluar dari mulut. Aku tidak bisa bermulut manis padahal di hati berbeda," kata Tini.


"Oya?" tanya Sean sambil menoleh ke Tini. Tini mengangguk. Kemudian Sean menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Kok berhenti kak. Apa ban mobil bocor," tanya Tini heran. Dia melihat keluar. Mereka berhenti di bawah pohon yang rindang di tepi jalan itu. Tidak ada gerobak jajanan atau apapun yang membuat alasan berhenti di tempat itu kecuali mobil rusak atau bocor ban


"Tidak bicor. Boleh aku bertanya Tini. Tapi kamu harus menjawab dengan jujur," tanya Sean.


"Tanya apa kak?"


"Janji dulu menjawab dengan jujur,"

__ADS_1


"Oke. Baiklah apa pertanyaan kakak," jawab Tini. Di pikirannya paling Sean bertanya tentang Cici di kampus.


"Dulu pertama kali bertemu dengan seseorang. Dia berkata, Dia menginginkan aku memberinya cincin kawin. Dia juga berkata akan mengisi hati aku jika Sinta rujuk dengan Andre. Dia juga menyuruh aku tenang jika Airia tidak bisa memanggil aku daddy, maka anaknya yang akan memanggil aku dengan Daddy. Dan tadi wanita itu mengatakan aku boleh memperhatikan bibirnya yang **** di saat malam pertama jika aku tidak menikah dengan Cici. Dan wanita itu adalah kamu Tini. Tadi kamu berkata apa keluar dari mulut kamu itu lah yang ada di hati kamu yang sebenarnya. Jadi bagaimana dengan kata kata yang pernah kamu ucapkan itu kepada aku. Apakah itu memang yang sesungguhnya dari hati kamu?" tanya Sean sambil menatap bola mata Tini.


__ADS_2