
Tini tertidur setelah lama menangis. Selama hidup ini, Masalah perselingkuhan papa Indra adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Vina masih setia duduk di tepi ranjang di kamar tamu itu. Melihat Tini sedih seperti ini. Vina juga ikut merasa sedih. Ini pertama kalinya Vina melihat Tini menangis. Biasanya wanita itu akan terlihat ceria, sedikit bar bar dan suka bercanda. Setelah mengetahui tentang papanya, Tini lebih banyak diam hingga akhirnya tertidur. Vina benar benar kasihan melihat Tini.
Vina juga mengkhawatirkan kandungan Tini yang masih muda dan tergolong rawan keguguran jika mempunyai beban pikiran. Tidak ada yang bisa dilakukan Vina selain berdoa untuk janin Tini supaya tetap kuat di dalam kandungan. Vina percaya, Tini tidak akan membiarkan papanya semakin lama bersama istri simpanannya. Vina tahu, Tini sangat menjunjung tinggi dan menghargai pernikahan. Dia tidak akan membiarkan mamanya bercerai dari Handoko. Vina percaya, Tini akan melakukan hal supaya papanya sadar. Sama seperti yabg dilakukan Tini kepada Andre dan Radit.
Sementara itu, Sean dan Andre juga terlihat cemas akan keadaan Tini. Sean juga sangat menyayangkan kenyataan ini diketahui ketika istrinya sedang hamil. Jujur, Sean tidak ingin Tini memikirkan perselingkuhan papa mertuanya dulu. Tapi melihat sorot mata Tini yang penuh kebencian. Sean juga tidak yakin jika Tini akan tinggal diam. Sean menarik nafas panjang berkali kali.
"Kalau mengetahui Handoko adalah papanya Tini adalah suami dari Intan. Aku pasti tidak memberitahukan tentang perusahaan aku yang mengajukan kerjasama dengan Handoko," kata Radit sedih.
"Santai saja bro. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengetahui perselingkuhan papa mertuaku. Aku hanya berharap Tini bisa mengatasi pikirannya sendiri untuk masalah ini. Aku tidak ingin kandungannya kenapa kenapa," jawab Sean. Kata katanya bernada menghibur tapi tidak dengan hatinya yang juga sedih memikirkan istri tercinta beserta buah hatinya.
"Seingat kamu, tadi aku tidak ada mengatakan papanya Tini dengan ucapan kasar atau kata kata kotor kan?" tanya Radit. Dia takut keceplosan memaki atau mengumpat Handoko. Sean menggelengkan kepalanya. Karena seingat dia memang Radit tidak ada memaki papa mertuanya. Dan lagipula, Radit tidak pernah menyalahkan Handoko di masa lalunya. Dia hanya membenci wanita ular itu yang jelas jelas sudah simpanan Handoko tapi masih berani berhubungan dengan dirinya.
"Tidak ada. Hanya saja kamu mengatakan secara tidak langsung. Jika burung kamu dan burung papa mertuaku sudah menikmati lubang yang sama."
Plak.
Radit memukul bahu Sean dengan majalah yang ada di atas meja sofa itu. Sean terkekeh.
"Sialan kamu bro. Lama lama kamu ketularan Tini. Kamu tidak sopan kepada mertua kamu dan sahabat sendiri," kata Radit kesal karena perkataan Sean kembali mengingat masa lalunya yang menjijikkan. Apa yang dikatakan Sean memang benar. Tapi jika diperjelas seperti ini, tentu saja Radit tidak terima.
"Sori, sori. Aku hanya bercanda bro. Kita berdua dari tadi sudah seperti patung diam tak berkata kata." jawab Sean. Radit dan Sean mengalihkan penglihatan mereka ke salah satu pintu kamar di lantai satu yang terbuka.
"Sayang, kamu sudah bangun," kata Sean. Dia berdiri dan menghampirinya Tini. Sean menggandeng tangan istrinya menuju sofa.
"Kak Radit, tentang investasi di perusahaan kamu tidak perlu takut. Aku sudah merekomendasikan perusahaan ke kakak pertamaku. Aku sudah menghubunginya tadi," kata Tini. Kakak pertamanya Tini yang bernama Rio memang sudah menjadi pimpinan di salah satu perusahaan milik Handoko selama dua bulan ini.
Mata Radit seketika berbinar. Radit semakin bersemangat ketika Tini mengatakan Rio langsung meminta proposal dan hari Senin proposal itu harus di tangannya. Itu artinya mulai hari Senin dia harus mempersiapkan semuanya untuk menyakinkan Rio menerima kerja sama yang dia tawarkan. Radit bertekad tidak akan membuang kesempatan ini. Radit akan berusaha keras supaya kerja sama itu terjalin.
"Terimakasih Tini," kata Radit tulus. Di tengah masalah perselingkuhan papanya. Tini masih memikirkan jalan lain untuk membantu Radit.
"Jumpai langsung ke kantor kakakku kak. Kakakku tidak akan menolak," kata Tini. Radit mengangguk senang. Dia semakin yakin akan arti mimpinya. Tapi kemudian, Radit menatap Tini sedih. Wanita itu walau bersikap biasa masih terlihat rasa marah dan kecewa di wajahnya.
Sean memeluk istrinya dengan erat. Dia tahu bahwa Tini mempunyai rasa perduli yang tinggi. Selama menikah beberapa bulan dia tahu bagaimana sikap Tini memperlakukan setiap orang yang dikenalnya dengan baik. Walau Tini adalah putri seorang pengusaha nan kaya raya. Tini tidak menyombongkan itu ke setiap orang. Hanya saja. Jika Tini tidak menyukai sikap orang kepada dirinya atau yang berhubungan dengan dirinya. Tini akan mengeluarkan sifat bar barnya.
"Tapi itu tidak gratis kak," kata Tini kemudian. Tiga pasang mata langsung menoleh kepadanya.
"Apa maksud kamu tidak gratis sayang?" tanya Sean heran. Tini bukan tipe manusia yang suka hitung hitungan. Tapi kata tidak gratis jelas jika Tini ada menginginkan imbalan dari bantuannya. Radit juga sudah menatap Tini penuh tanda tanya. Radit bisa melihat jika Tini tidak bercanda. Wajahnya sangat serius ketika mengucapkan itu.
__ADS_1
Tini terlihat mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Dia Berkali kali melakukan panggilan video call kepada sang papa. Tapi panggilan video call itu tidak terjawab. Berdering tapi tidak diangkat. Bukan Tini namanya kalau langsung menyerah. Tini kembali melakukan panggilan itu. Hingg satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Papa Indra membalas panggilan itu dengan sebuah pesan yang mengatakan jika dirinya sedang sibuk bertemu dengan klien.
Tini tersenyum kecut membaca pesan itu. Dia yakin jika klien yang dimaksudkan sang papa adalah istri simpanannya. Papa Indra selalu ada di rumah setiap malam. Tini yakin jika papanya mencuri waktu di siang hari untuk bertemu dengan selingkuhannya. Apalagi hari ini adalah hari Sabtu. Kantor papanya libur.
"Imbalannya kak Radit harus mengantar aku ke rumah selingkuhan papaku. Sekarang juga," kata Tini tegas. Nadanya terdengar tidak biasa sehingga Sean dan Radit tidak berusaha untuk membantah. Dua pria itu hanya menatap Tini seperti terhipnotis.
"Yuk, jalan sekarang. Pakai mobil kak Radit supaya bodyguard papaku tidak mengenali. Aku rasa para bodyguard itu sudah mengkhianati mamaku. Kita mengintai terlebih dahulu," ajak Tini lagi. Lagi lagi nadanya yang memerintah membuat Sean dan Radit hanya mengangguk.
"Aku ikut yah," kata Vina. Radit mengangguk.
"Tini, apa ini tidak salah. Kamu sedang hamil. Aku takut kamu tidak bisa mengendalikan dirimu jika melihat om Indra nanti sedang di rumah istri simpanannya," kata Vina setelah mereka sudah duduk di mobil.
"Tenang saja Vina, aku tahu harus berbuat apa supaya papaku sadar. Aku sungguh tidak menyangka jika papaku bisa berbuat seperti itu," jawab Tini. Sean hanya bisa memeluk istrinya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jika melarang tentu saja Tini pasti tidak mau. Jika mendukung, Sean juga takut dan segan melihat papa mertuanya nanti.
"Aku tidak melarang kamu untuk ke rumah istri simpanan papa. Tapi kamu harus ingat. Bayi yang di kandungan kamu jauh lebih berharga daripada membalas perbuatan papa," kata Sean sambil tersenyum. Melarang Tini juga percuma. Hanya kata kata ini yang diharapkan Sean untuk membuat Tini tidak terlalu memikirkan perbuatan papanya.
"Tenang saja kak. Aku hanya ingin memastikan kebenaran itu. Aku juga memikirkan kandungan ini kok. Untuk tindakan selanjutnya tergantung apa yang kita lihat nanti," jawab Tini. Sean senang mendengarnya dan merasa lega. Sementara Radit yang menyetir sudah merasa tidak nyaman karena harus kembali melihat rumah maksiat masa lalunya. Tapi demi Tini dan perusahaannya. Radit rela untuk kembali melihat rumah itu.
"Ini rumahnya," kata Radit setelah berhenti di depan gerbang rumah besar dan mewah. Gerbang yang tinggi melebihi tinggi manusia. Hanya ada celah kecil untuk mengintip ke dalam.
"Rupanya papa juga memberi rumah yang mewah untuk istri simpanannya," kata Tini kesal. Dia menyuruh Sean untuk mengintip dari celah itu memastikannya jika mobil papanya ada di rumah. Sean menurut. Sean turun dan mengintip dari celah itu.
"Kita harus masuk ke dalam," kata Tini. Sean terkejut. Jika mereka masuk ke dalam itu artinya mereka akan bertemu papa mertuanya bersama istri simpanannya. Sean dan Radit juga Vina berusaha untuk melarang. Tapi Tini tidak akan perduli dengan larangan itu. Keinginannya harus tercapai untuk memberi pelajaran kepada papa dan selingkuhannya.
"Kita tidak bisa masuk. Rumah ini dijaga ketat sayang," kata Sean. Dia juga melihat ada pos satpam dan petugas yang berjaga di sana. Sedangkan di depan pintu ada dua bodyguard berjaga. Bodyguard yang selalu mengawal papa Indra. Radit ikut ikutan mengintip dari celah itu. Dulu, tidak ada pos satpam dan penjaga. Mungkin setelah mengetahui Intan yang bermain dengannya, Handoko memperkerjakan satpam itu.
Tini turun dari mobil. Dia mengintip celah itu. Apa yang dikatakan suaminya semua benar.
"Pak, pak," panggil Tini ke satpam. Radit dan Sean sudah saling berpandangan.
"Buka pintunya," perintah Tini tegas. Satpam itu membuka pintu gerbang itu sedikit dan menahan pintu tersebut.
"Maaf mencari siapa non?" tanya satpam itu sopan.
"Aku mencari Intan. Apa dia di dalam?" tanya Tini juga sopan.
"Non Intan adalah di dalam. Tapi tuan besar juga ada di dalam. Non Intan tidak bisa di ganggu jika tuan besar ada. Maaf ya non," kata satpam itu sopan dan hendak menutup pintu tapi secepat kilat Tini menahan gerbang itu.
__ADS_1
"Jangan ditutup. Apa kamu tidak dengar jika aku mengatakan masuk ke dalam?" tanya Tini sudah mulai marah.
"Saya hanya menjalankan tugas non. Jika tidak pasti saya dipecat."
"Siapa yang membayar kamu bekerja di sini," tanya Tini.
"Pak Handoko non."
"Perhatikan wajahku. Apa kamu tidak melihat aku mirip dengan tuan kamu itu. Aku putrinya. Buka pintunya atau kamu akan kehilangan pekerjaan kami sekarang juga," kata Tini tegas. Satpam itu terlihat gelagapan. Hal itu dimanfaatkan Tini untuk membuka gerbang dan menerobos masuk ke dalam.
"Jangan coba coba menyentuh istriku," kata Sean sambil memegang tangan satpam itu yang sempat hendak mengejar Tini.
"Yah, gimana nih. Kita masuk tidak?" tanya Vina yang masih berdiri di luar gerbang. Radit juga bingung. Dia merasa malu jika kembali menginjakkan kaki di rumah ini.
"Kita tunggu di sini saja Bun," kata Radit.
"Kita masuk saja. Tidak seru kalau tidak melihat wanita itu malu. Aku penasaran lihat wajahnya yah. Dan juga papanya Tini," kata Vina lagi. Dia menarik tangan Radit untuk masuk ke dalam. Satpam itu tidak berdaya untuk melarang. Bahkan Radit memerintahkan sang satpam untuk menjaga mobilnya yang terparkir di luar gerbang.
Kembali melihat masa lalu bukan hal mudah bagi Radit apalagi ada Vina di sampingnya. Bukan karena masih ada rasa. Tapi karena Radit merasa jijik akan dirinya dulu. Tapi siapa sangka, keadaan perusahaan yang tidak stabil membongkar siapa Handoko yang sebenarnya secara tidak langsung. Jika perusahaan milik Radit masih keadaan baik. Radit tidak akan meminta bantuan Tini. Dan mungkin untuk selamanya, Tini juga tidak mengetahui tentang sepak terjang sang papa di luar.
"Bagus," kata Tini ketika dia sudah berada di depan dua bodyguard sang papa. Dua bodyguard tersebut hanya menunduk dan tidak berani menatap wajah putri dari tuan besarnya. Mereka tahu jika kata itu bukan kata untuk memuji hasil dari pekerjaan mereka. Tapi kata itu terucap dari bibir Tini karena kecewa akan kinerja mereka. Tini juga tidak memarahi dua bodyguard tersebut. Tini juga maklum jika mereka hanya menjalankan tugas dan harus patuh kepada tuan besarnya.
"Maaf non," kata dua bodyguard itu bersamaan.
"Aku mau masuk," kata Tini. Dua bodyguard itu tidak berani membantah. Mereka berdua memberi jalan masuk untuk Tini. Tini diikuti Sean melangkah masuk ke dalam rumah.
Tini tidak ingin gegabah untuk menangkap basah papanya. Dia juga akan malu jika melihat papanya sedang melakukan hal yang enak enak dengan wanita simpanannya. Tini memilih duduk di sofa di ruang tamu itu daripada harus memanggil nama papanya atau membuka pintu kamar yang dari dalamnya terdengar suara suara aneh karena merasakan kenikmatan.
Sean juga ikut duduk bersamanya. Jujur, Tini merasa malu kepada suaminya karena kelakuan sang papa. Apalagi suara suara aneh itu jelas terdengar di telinga mereka berdua. Suara manja sang wanita yang sangat menjijikkan di telinganya. Tini berusaha melawan rasa marah dan rasa jijik itu demi menangkap basah papanya. Sean yang mengerti gejolak hati istrinya hanya bisa memeluk erat tubuh wanita yang merasa hancur itu.
Tini mengedarkan pandangan untuk mengalihkan suara suara aneh itu dari telinganya. Ada foto papanya yang terpajang di dinding. Tini berdiri dan berjalan ke arah lemari lemari kaca hias. Dia memperhatikan keramik keramik unik yang berjejer di lemari tersebut. Kemudian matanya berkeliling melihat semua perabot yang ada di rumah itu. Tini menempelkan telunjuk tangan ke bibir ketika melihat Radit dan Vina sudah mendekat ke sofa. Dari gerakan bibirnya. Tini menyuruh tiga orang itu untuk diam terlebih dahulu.
Tini kembali melihat lemari hias yang satunya lagi. Mengamati lemari itu yang berisi banyak boneka boneka unik dan tentu saja mahal. Dengan pelan dia membuka lemari. Dia mengambil sebuah pigura foto kecil dari lemari tersebut. Tini terkejut. Wanita yang di foto itu jelas wanita yang sangat dikenalnya. Dia mendekat ke sofa dan menunjukkan foto itu ke Radit.
"Ini simpanan papaku?" tanya Tini dengan suara yang sangat pelan. Radit mengangguk. Tini kembali mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Kamu mengenalnya," bisik Sean. Tini mengangguk lemas. Air mata kembali turun di pipinya.
__ADS_1
"Wanita itu yang kami tolong dari kampung nenekku untuk kuliah di kota. Tapi setelah satu semester di rumah. Dia minta pindah," kata Tini sedih. Vina menutup mulutnya tidak percaya. Tini terlihat semakin hancur. Wanita yang menghancurkan rumah tangga mamanya adalah wanita yang mereka bantu selama ini.