Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Gagal Lagi


__ADS_3

Andi dan Sinta melihat Andre yang menatap lurus ke depan. Merasa ditatap, pria itu menatap balik Andi dan Sinta. Andi sangat merasa kesal dengan ucapan Andre. Pria itu masih bisa merasa kasihan kepada wanita licik yang jelas sudah mengkhianatinya. Sedangkan Sinta, dia merasa benar benar tidak dianggap oleh Andre. Di depannya sendiri Andre mengatakan kasihan kepada orang yang memfitnah bahkan sudah mempermalukannya.


"Aku akan bertahan sampai semampu aku mas, tapi jika aku tidak mampu lagi. Aku akan menyerah," batin Sinta dalam hati. Sinta tersenyum ketika Andre menyenggol tangannya. Sinta masih saja menyembunyikan kekecewaannya. Di mata Andre, Sinta terlihat baik baik saja.


"Apa sudah kamu pikirkan matang matang rencana kamu itu Andre, wanita itu licik tapi bodoh. Perlu dikasih pembelajaran biar pintar sedikit," kata Andi penuh harap. Andi takut Andre terjatuh lagi akan pesona Cindy yang tidak seberapa itu.


"Kak, aku kira lebih baik memaafkan dan mengikhlaskan daripada harus balas dendam. Lagi pula kita harus mengingat kebaikan om Dion dan Tante Ratih. Aku sangat menghargai mereka kak. Mereka juga tidak menginginkan anak seperti kelakuan Cindy. Melihat Cindy waktu itu saja. Mereka sudah sangat terpukul. Apalagi kalau harus melihat Cindy di penjara. Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi kepada mereka,"


"Terserah kamu lah Andre, aku akan membatalkan pengacara itu. Tetapi jika ada masalah kamu dengan Cindy. Kakak tidak mau lagi mencampuri. Kakak juga banyak kerjaan. Datang kesini pun sebenarnya sudah membuang waktu aku," kata Andi kecewa. Andi kembali menghubungi pengacara dan membatalkannya. Andi masuk ke dalam rumah untuk melihat Airia. Begitu juga dengan Sinta, dengan kecewa dia melangkah kaki masuk ke dalam rumah. Andre masih di teras, dia termenung entah apa yang dipikirkannya.


Andi bermain sebentar dengan Airia. Bayi itu berjingkrak kegirangan ketika melihat Andi. Andi menerima uluran tangan Airia dan menggendongnya.


"Lucunya kamu nak, nanti ikut ke rumah kakek ya!. Kita bermain sepuasnya di sana. Sekarang paman harus balik dulu mau bekerja," kata Andi kepada Airia. Bayi itu hanya terkekeh dan menggapai wajah Andi.


"Sinta, kamu harus sabar ya!. Kakak tahu kamu kecewa. Tapi percayalah!. Kesabaran kamu pasti akan berbuah kebahagian. Kamu hanya perlu menunggu. Biar waktu yang akan menjawabnya," kata Andi kepada Sinta yang berdiri di pintu kamar Airia.


"Makasih kak," jawab Sinta singkat. Andi pamit ke Sinta. Ketika melewati Andre yang masih di teras, Andi hanya menyenggol bahu Andre dan segera masuk ke dalam mobil. Andi sengaja menunjukkan kekecewaannya kepada Andre.


"Mas, kita ke rumah papa kan sekarang?" tanya Sinta yang sudah di pintu rumah. Sinta sengaja mengajak Andre sekarang ke rumah mertuanya. Sinta berharap Andre lupa akan ajakannya ketika di meja makan. Sinta tidak ingin melayani Andre di saat suasana hati sedang kecewa.


"Nanti siang saja sayang,"


"Sekarang saja," jawab Sinta cepat. Tanpa mendengar ucapan Andre berikutnya. Sinta masuk ke dalam rumah dan berkemas.


"Oni ikut saja ke sana. Supaya kamu tidak terlalu repot menjaga Airia," kata Andi ketika mereka sudah di kamar. Andre duduk di tepi ranjang sedangkan Sinta merias wajahnya.


"Kalau untuk urusan anak, tidak ada kata repot mas. Tapi entahlah kamu, kalau kamu merasa direpotkan Airia," kata Sinta sambil melukis alisnya. Andre terkejut mendengar perkataan Sinta. Dia tidak merasa direpotkan oleh Airia. Dia hanya memikirkan Sinta supaya tidak terlalu repot.


"Bukan begitu sayang, hanya saja..."


"Hanya saja apa mas, justru di saat seperti inilah kita memberi libur kepada Oni dan Lidia. Mempekerjakan orang itu bukan hanya memberi gaji mas, tapi kita juga harus memberi mereka waktu luang. Kalau kita keluar rumah hari ini, mereka juga bisa refreshing hari ini," jawab Sinta memotong perkataan suaminya. Sinta memang baik kepada dua orang itu. Hampir satu bulan bekerja di rumahnya. Kedua orang itu belum pernah keluar untuk refresing.


Selain memikirkan Oni dan Lidia. Sinta juga memikirkan dirinya sendiri. Jika dia membawa Oni, itu artinya dia mempunyai banyak waktu untuk Andre dan Sinta merasa malas kalau Andre menyeretnya ke kamar di rumah mertuanya. Untuk menolak juga pasti malu. Sinta tahu bagaimana gairah suaminya yang bisa dibilang over jika sudah dipancing.


"Terserah kamu lah sayang," kata Andre akhirnya. Seperti dugaan Sinta, dia juga membayangkan bercocok tanam di rumah orang tuanya. Sinta tersenyum mendengar perkataan suaminya. Lagi lagi Andre menurut.


"Kamu tidak ganti baju mas?" tanya Sinta ketika melihat Andre hanya duduk saja.


"Ambilkan sayang!"


"Aku tidak tahu mas mau pakai apa,"


"Yang pasti pakai celana dan baju lah. Ambilkan cepat. Apapun kamu ambil akan aku pakai," jawab Andre. Kini pria itu sudah memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Kalau ini, gimana mas?" tanya Sinta sambil menunjukkan kemeja dan celana panjang denim.


"Kemeja diganti saja dengan kaos berkerah," jawab Andre setelah melihat pakaian yang ditunjukkan Sinta. Sinta memilih kaos yang dimaksudkan Andre. Kaos berkerah senada dengan celana denim yang warna navi.


"Sayang?"


"Iya mas?"


"Kamu keberatan tidak kalau aku meminta sesuatu?" tanya Andre hati hati. Sinta merasa heran dengan permintaan suaminya. Dalam hati Sinta berharap jangan sampai Andre meminta bercocok tanam sekarang.


"Meminta apa mas?"


"Bisakah kamu melakukan tugas suami istri sebagaimana mestinya. Jujur selain di ranjang. Aku juga kamu melayani aku di meja makan dan juga dalam hal berpakaian seperti ini," kata Andre pelan. Dia takut perkataannya menyinggung perasaan Sinta. Apalagi selama berumah tangga dengan Sinta, Andre hanya dilayani di ranjang termasuk setelah rujuk.


Sinta tidak tersinggung dengan perkataan Andre tetapi lebih parah dari situ. Sinta bagaikan tertampar. Selama ini, Sinta melayani Andre di ranjang. Bukan Sinta tidak mau. Tetapi kala itu Andre yang memintanya untuk melayani hanya di ranjang. Bahkan Andre sering memasak untuk mereka berdua. Sinta jadi bertanya tanya dalam hatinya.


"Apa karena aku tidak becus melayani dia dulu?, makanya mas Andre menikah lagi. Harusnya aku lebih memperhatikan dulu."


"Sayang," panggil Andre ketika melihat Sinta termenung. Sinta terhenyak dan menoleh ke Andre.


"Apa kamu bersedia?"


"Aku bersedia mas, Cindy dulu pasti melayani kamu dengan baik ya!. Tapi mas, masakan aku kurang enak lah,"


"Melayani di meja makan bukan hanya sekedar memasak Sinta. Menemani makan juga termasuk sudah melayani. Seorang suami itu akan merasa bahagia jika istri melayani dengan baik di ranjang dan di meja makan,"


"Makasih Sinta. Aku akan menunggu pelayanan terbaik kami," kata Andre sambil tersenyum. Dia meletakkan pakaiannya tadi dan menarik Sinta duduk di sampingnya.


"Mas, bolehkah aku bertanya?" tanya Sinta dan mendorong wajah Andre yang hendak menciumnya.


"Bertanya apa?"


"Mas aku ingin tahu alasan kamu menikahi Cindy. Apa karena pelayanan aku dulu kurang memuaskan?" tanya Sinta hati hati. Dia ingin tahu dan ingin memperbaiki diri dari kesalahan dulu. Tekadnya untuk menikah hanya sekali dengan orang yang sama, membuat Sinta ingin memberi pelayanan terbaik untuk Andre tanda kutip jika Andre tidak menduakannya lagi. Andre menarik nafas panjang. Andre menatap Sinta.


"Aku takut, kejujuran aku akan merubah hubungan kita kedepannya sayang. Apalagi itu hanya masa lalu. Tapi jika kamu berjanji, kejujuran aku tidak berpengaruh sama sekali. Aku akan jujur,"


"Aku berjanji mas, katakanlah!. Aku hanya ingin tahu,"


"Aku sudah lama mencintai Cindy. Aku bahkan meminta papa untuk menjodohkan kami.Tapi Cindy menolak dengan alasan dia sudah mempunyai kekasih dan saling mencintai. Cinta itu tidak langsung pudar, apalagi setelah tiga hari kita menikah siri, Cindy datang ke ruangan aku di kampus dan menyatakan cinta kepadaku. Aku senang dan menerima. Hingga kamu pulang kampung, setelah mengantar kamu ke stasiun aku singgah di rumahnya dan terjadilah hubungan terlarang diantara kami. Aku bahkan menerima semua kekurangannya. Setelah menikah dia melayani aku dengan baik hingga aku merasakan suasana yang berbeda jika bersamanya dibandingkan bersamamu. Hingga aku tega menelantarkan kamu dan Airia. Maafkan aku Sinta."


Andre terdiam setelah mengucapkan maaf ke Sinta. Sinta menunggu Andre kembali berbicara. Tetapi pria itu hanya menunduk. Andre merasa tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya.


"Apa kamu masih mencintainya mas?" tanya Sinta dengan detak jantung yang berdebar. Selain merasa takut karena menanyakan itu. Sinta juga takut akan jawaban Andre.

__ADS_1


"Sejak aku mencurigai dia berselingkuh. Cintaku perlahan terkikis. Apalagi tidak ada yang tersisa dari hubungan itu. Tidak ada alasan aku untuk mencintainya lagi,"


"Kalau dia datang dan memohon?" tanya Sinta lagi untuk mengorek informasi tentang perasaan Andre ke Cindy. Andre hanya diam dan menggeleng kepala. Padahal Sinta menginginkan jawaban yang pasti dari mulut Andre. Sinta beranjak dari duduknya. Dia merasa tidak perlu lagi bertanya tentang Cindy. Hanya satu tekad Sinta. Memperbaiki diri untuk melayani suaminya dengan baik. Hingga cinta Andre ada untuk dirinya.


"Mas, buruan!. Sudah jam sebelas," kata Sinta setelah keluar dari kamar mandi. Andre yang melihat Sinta sudah berganti pakaian langsung berdiri. Andre merasa tidak senang ketika Sinta berganti pakaian di kamar mandi. Andre merasa Sinta masih menjaga jarak dan menganggapnya orang lain.


"Mas, ih."


Sinta berusaha melepaskan pelukan suaminya. Andre membisikkan sesuatu ke telinga Sinta membuat Sinta bergidik ngeri.


"Siang siang begini?" tanyanya heran.


"Yang mau memberikan pelayanan sepenuh hati, siapa tadi ya. Diminta malah banyak pertanyaan," kata Andre tersenyum mesum. Sinta dengan manja memukul dada bidang Andre.


"Aku lelah mas, tadi malam entah berapa ronde. Tetapi seperti tidak ada lelahnya," gerutu Sinta kesal. Suaminya masih saja meminta bercocok tanam. Andre yang sudah turn on hanya tersenyum mesum sambil membelai wajah Sinta.


"Ya sudah, aku ganti pakaian dulu," jawab Andre akhirnya. Mendengar Sinta yang merasa kelelahan membuat Andre tidak mau memaksa. Andre meremas batangnya sendiri berharap cepat melemas. Andre juga menyadari setiap berdekatan dengan Sinta, batangnya tidak bisa diajak kompromi. Beda dengan bersama Cindy dulu. Andre harus melakukan pemanasan yang lama supaya batangnya siap bertempur.


Sinta melirik ke Andre yang masih belum berganti pakaian. Tangan Andre yang meremas batangnya juga tidak luput dari penglihatan Sinta. Apalagi wajah Andre yang seperti menahan sesuatu.


"Mas, kenapa?"


"Kepala aku sakit sayang,"


"Loh, kok bisa tiba tiba?"


"Begini kalau tidak tersalur sayang," jawab Andre serak. Demi apapun atau karena demi cintanya ke Andre. Sinta merasa kasihan. Sinta semakin mendekat ke Andre. Memeluk Andre dan mengabulkan permintaan suaminya itu.


"Apa hanya dengan itu obatnya mas?" tanya Sinta lagi. Andre menunduk melihat wajah Sinta yang menengah. Pertanyaan Sinta merupakan lampu hijau baginya. Tanpa meminta persetujuan, Andre mendekatkan bibirnya ke bibir Sinta.


"Kamu terima beres saja," kata Andre sambil mendorong tubuh Sinta ke dinding. Tetapi Sinta tidak mau seperti gaya yang dimaksudkan Andre. Sinta melepaskan tangan Andre dan berjalan ke ranjang. Andre sudah melepaskan pakaiannya. Sinta juga melepaskan pakaiannya sendiri. Sinta ingin cepat cepat ke rumah mertuanya.


Andre naik ke atas ranjang dan membuat posisi yang nyaman untuk permainannya. Andre memukul ranjang ketika mendengar pintu kamar yang digedor. Gedoran itu semakin kencang membuat Andre turun dari ranjang. Begitu juga dengan Sinta, dia memungut pakaiannya dan setengah berlari masuk ke kamar mandi. Andre membuka pintu kamar setelah memakai bajunya asal.


Andre menatap Andi kesal yang berdiri di depan pintu kamar. Apalagi kepala Andi yang sengaja dimiringkan untuk melihat ke dalam kamar.


"Mau apa lagi sih kak, ganggu aja deh," gerutu Andre. Andi tertawa terbahak-bahak sambil menyentil kepala Andi.


"Kerja keras ya, siang siang begini juga menggarap. Ban aku kempes, bengkelnya antri daripada bosan menunggu aku kemari. Kita ke rumah papa sekarang. Semua sudah kumpul di sana. Aku nebeng mobil kamu saja," kata Andi santai. Dia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa. Andre sangat kesal.


"Lain kali jangan gedor gedor donk. Sakit kuping dengarnya," kata Andre kesal. Andi cuek saja.


Sinta yang sudah keluar dari kamar mandi hanya tersenyum melihat Andre yang menggerutu. Sinta masuk ke kamar Airia dan membawa bayi itu keluar lengkap dengan perlengkapan Airia.

__ADS_1


"Ayo berangkat sekarang. Kamu yang bawa mobilnya," kata Andre sambil melemparkan kunci mobil ke Andi. Andi menangkapnya.


"Oni dan Lidia juga ikut," kata Andre lagi. Sinta akhirnya pasrah. Sinta menyuruh Lidia untuk memeriksa kompor dan yang lainnya sebelum berangkat.


__ADS_2