Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Menunjukkan Diri


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Andre tidak langsung membawa Sinta pulang ke rumah. Melihat istrinya bersedih karena kepergian Vina yang tanpa pamit. Andre ingin menghibur Sinta. Andre berencana membawa Sinta ke suatu tempat. Andre berharap pikiran Sinta bisa teralihkan dari masalah Vina.


"Kita mau kemana mas?" tanya Sinta pelan. Pikirannya masih bertanya tanya tentang keberadaan Vina. Ketika melihat jalanan. Dia tersadar bahwa itu bukan jalan pulang ke rumah.


"Mau kamu kita kemana?. Aku bersedia menemani kemana pun yang kamu mau." Bukan menjawab pertanyaan Sinta. Andre justru bertanya kepadanya. Sinta menatap jalanan, dia tidak ingin kemana mana.


"Kita pulang saja mas,"


"Sayang, Kamu lelah?" tanya Andre khawatir.


"Tidak begitu lelah mas, hanya saja aku masih memikirkan Vina."


"Yakinkan hatimu, bahwa Vina baik baik saja. Ronal pasti menjaga Vina dengan baik,"


"Ronal. Apakah Ronal yang menjemput Vina pulang. Kalau iya. Darimana kamu tahu mas bahwa dia yang menjemput Vina," kata Sinta terkejut ketika Andre menyebut nama Ronal.


"Kan bapak tadi itu yang bilang. Yang satu ruangan rawat sama Vina," jawab Andre tenang.


"Dia tidak menyebut nama Ronal. Dia hanya mengatakan seumuran dengan Vina. Jangan jangan dari awal kamu tahu mas, bahwa Ronal yang menjemput Vina." jawab Vina curiga. Matanya terus menatap wajah Andre dari samping.


"Aku tahu Radit semalam mengikuti kamu. Melihat penderitaan Vina. Aku tidak tega untuk mempertemukan mereka. Aku meminta Ronal untuk membantu Vina. Aku juga tidak menyangka bahwa Ronal menyanggupinya. Jika Ronal tidak menjemput Vina. Sudah dipastikan tadi mereka bertemu " jawab Andre sambil sesekali menoleh ke Sinta. Melihat Sinta sangat mengkhawatirkan Vina. Andre tidak kuasa untuk menyimpan rapat rahasia itu. Sinta menarik nafas lega. Vina bersama Ronal. Itu akan lebih baik daripada Vina harus sendirian.


"Bagaimana kalau kita jumpai mereka sekarang juga mas. Aku ingin memastikan Vina baik baik saja," kata Sinta masih merasa khawatir. Ronal dan Vina bukan lagi sepasang kekasih. Sudah pasti ada kecanggungan diantara mereka. Sinta ingin mengembalikan seperti rencana semula. Vina berada di rumah Cici untuk sementara waktu. Lagipula menurut Sinta, Vina sebagai wanita yang sudah menikah tidak bagus jika bersama dengan mantan kekasihnya. Apalagi rumah tangga Vina tidaklah dalam keadaan baik. Bisa dikatakan rumah tangga Vina diambang kehancuran.


"Jangan. Aku punya rencana untuk kita berdua," jawab Andre cepat. Dia ingin membuat suasana hati Sinta senang hari ini.


"Rencana apa mas?"


"Aku ingin memberitahukan sesuatu kepada kamu. Sesuatu yang membuat aku terlambat pulang sebelum mengetahui kamu hamil,"


"Apa kamu mempunyai simpanan lagi mas?" tanya Sinta pelan. Dia merasa takut kalau harus mengetahui sesuatu tentang suaminya yang menyangkut wanita. Biasanya para suami pulang terlambat atau bahkan tidak pulang selain alasan pekerjaan pasti karena alasan wanita. Sinta tidak akan sanggup jika hal itu terjadi.


"Pertanyaan macam apa itu sayang?.Aku hanya mempunyai istri dan tidak ada wanita lain selain kamu di hati aku. Jangan berpikiran macam-macam. Aku sudah bilang aku memang pernah brengsek. Tapi seperti julukan yang diberikan Tini. Sekarang aku sudah mantan brenggsek. Sekarang tinggal tergantung kamu. Bisakah menerima aku yang mantan brengsek ini?" tanya Andre serius. Sinta hanya diam saja. Dalam hati Sinta merasa lega. Apa yang ditakutkannya tadi tidak beralasan.


"Kita mau kemana ini mas?"


"Nanti juga kamu akan tahu," jawab Andre pelan. Tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya membuat Andre yakin bahwa Sinta belum mempercayainya. Tapi itu tidak apa apa bagi Andre. Seiring dengan berlalunya waktu Andre yakin Sinta akan dapat merasakan cinta tulusnya.


"Kita turun di sini sayang," kata Andre setelah menghentikan mobilnya di sebuah toko kue. Sinta turun. Dia memandang bangunan toko roti tersebut. Andre sering membawa kue dari toko ini.


"Kita mau beli oleh oleh?" tanya Sinta. Andre menarik tangan Sinta lembut untuk memasuki toko kue itu. Setelah masuk, pasangan suami istri itu disambut hormat oleh karyawan toko.


"Tolong antar kan beberapa macam kue ke ruangan aku," kata Andre kepada salah satu karyawan toko. Andre kembali menarik tangan Sinta ke sebuah ruangan. Ruangan yang di batasi dinding dari rak rak kue.


"Mas, selain dosen kamu juga bekerja di toko kue ini?" tanya Sinta heran. Dia terus melangkah mengikuti Andre. Andre membukakan pintu itu untuk Sinta. Sinta masuk. Sinta disuguhkan dengan sebuah foto berukuran besar. Foto dirinya dan Airia.


"Kenapa ada foto aku disini mas?" tanya Sinta heran.


"Karena ini ruangan aku. Dan kamu istriku. Airia putriku. Duduk sayang," kata Andre sedangkan dia menuju kursi kerjanya.


"Ya ampun mas. Aku tidak menyangka kamu punya dua kerajaan sekaligus," kata Sinta kagum. Matanya mengitari dinding ruangan itu. Walau kecil tapi karena penataannya rapi. Membuat Sinta langsung merasa nyaman ketika baru pertama tadi masuk ke ruangan tersebut.


"Mas, kue yang selalu kamu bawa dari sini juga?"

__ADS_1


""Iya donk untuk apa beli kalau kita punya sendiri. Toko kue ini milik kita sayang tapi masih kredit. Pemilik sebelumya Karena mau ikut suaminya akhirnya menjual toko kue ini dan pindah ke luar negeri. Aku masih membayar sekitar 75 persen dari harga jualnya. 25 persen lagi sesuai perjanjian akan aku transfer dua bulan lagi," kata Andre menjelaskan tentang kepemilikan kue ini. Dia tidak ingin ada lagi rahasia antara dirinya dan Sinta.


"Sudah berapa lama toko ini milik kamu mas?"


"Milik kita sayang. Sejak kita bercocok tanam untuk pertama kalinya sejak rujuk. Besoknya seorang teman langsung menawari. Kurang lebih satu bulan. Aku merasa beruntung sejak bercocok tanam itu. Bayangkan harga seharusnya lahan dan gedung ini seharga 1 Milyar bahkan lebih. Aku hanya membayarnya hanya 800 juta. Untung kan?"


Sinta merasa malu karena Andre mengingatkan kenangan akan bercocok tanam mereka. Sinta mengalihkan pandangannya ke foto dirinya dan Airia. Dia tidak menyadari bahwa Andre yang tadinya duduk di kursi kerjanya kini sudah duduk di dekatnya.


"Untung mas," jawabnya singkat. Andre membantu Sinta berdiri dan setelah Sinta berdiri. Andre mendudukkan Sinta di pahanya.


"Aku menuliskan nama kamu di sertifikatnya tanah ini. Ini milik kamu," kata Andre sambil menunjukkan sertifikat tanah itu. Sinta baru ingat bahwa tiga Minggu yang lalu. Andre menyuruhnya untuk menandatangani berkas itu. Tetapi karena Airia saat itu di pangkuannya. Sinta tidak sempat membacanya.


"Mas, jangan seperti ini. Jangan manjakan aku dengan materi. Aku hanya butuh cinta dan ketulusan." jawab Sinta sambil menutup sertifikat itu dan memberikan ke tangan Andre.


"Apa aku terlihat seperti tidak mencintai kamu dan tidak tulus?" tanya Andre sambil menatap wajah Sinta. Sinta gugup dan tidak tahu untuk saat ini mau menjawab apa.


.


"Bukan seperti itu mas, hanya saja,,,,'


"Hanya saja kamu belum sepenuhnya percaya kepada aku. Begitu kan. Baiklah Sinta. Aku terima hukuman ini. Tapi jangan terus terus menilai aku masih seperti dulu," jawab Andre memotong ucapan Sinta. Ternyata lumayan sulit juga untuk menumbuhkan kepercayaan di hati Sinta.


"Mbak, kuenya di bungkus saja ya. Kami masih kenyang," kata Sinta kepada karyawan ketika masuk ke ruangan Andre membawa beberapa jenis kue andalan di toko itu. Karyawan tersebut mengangguk dan membawa kembali kue yang dibawanya.


Sinta dan Andre kini kembali di mobil. Andre masih diam dan fokus menyetir. Melihat diamnya Andre, Sinta merasa tidak enak hati.


"Mas, maaf. Kalau perkataan aku tadi ada yang menyinggung perasaan kamu," kata Sinta. Dia menoleh ke Andre. Tapi suaminya itu masih fokus melihat jalanan.


"Tidak apa apa sayang. Tidak ada yang salah atas perkataan kamu. Aku saja yang terlalu cepat menuntut kamu percaya. Setelah ini kita masih ke suatu tempat lagi,"


"Lihat saja nanti," jawab Andre santai. Dia membelokkan setirnya kearah kanan dan memasuki daerah yang tidak terlalu padat rumah. Hingga Andre menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang masih proses dibangun.


Dari dalam mobil, Sinta bisa melihat bangunan itu sudah proses pembangunan ke lantai dua. Para pekerjanya juga masih bekerja. Andre mengajak Sinta turun.


"Aku sering terlambat pulang karena suka ke tempat ini. Ini rumah kita. Setelah pembangunannya rampung. Kita akan pindah ke sini," kata Andre membuat Sinta tidak percaya. Dilihat dari depan ukuran bangunan itu ada sampai 15meter. Belum lagi ke belakangnya.


"Mas, besar banget," kata Sinta masih tidak percaya. Bagi dia ukuran rumah sebesar ini sudah sangat besar baginya.


"Sengaja sayang. Lebarnya 25 meter dan panjangnya 30 meter. Masih tersisa lahan di belakang dan di kiri lima meter sedangkan sebelah kanan sekitar delapan meter. Kamu boleh memberi saran untuk lahan kosong tersebut itu. Itulah sebabnya aku membawa kamu sekarang kemari. Yuk kita ke sana," kata Andre sambil menggandeng tangan Sinta menuju bangunan itu.


"Uangmu ternyata banyak juga ya mas,"


"Uang kita sayang. Ini memang tidak seberapa dibandingkan punya orang kaya di luaran sana. Tapi aku berusaha keras untuk menghidupi kamu dan anak anak kita dengan layak," jawab Andre semakin mengeratkan genggaman tangannya. Sinta tersenyum. Dia tidak menyangka jika Andre bisa memberikan dan menunjukkan banyak hal hari ini.


"Makasih mas," kata Sinta tulus. Andre menyuruh para pekerja untuk beristirahat sebentar dan memberikan bungkusan kue yang dibawanya dari toko ke pekerja. Para pekerja itupun duduk berkumpul dan menikmati kue pemberian Andre. Andre membawa Sinta masuk ke dalam bangunan itu.


Andre menunjukkan detail bangunan itu ke Sinta. Sinta setuju saja dengan apa yang sudah terbentuk di sana. Hanya saja dia meminta untuk lahan di samping kanan. Sinta meminta untuk dibuat kolam renang dan lahan belakang di buat jadi taman.


Andre tersenyum mendengar permintaan Sinta. Sebelum Sinta meminta hal itu, sebelumnya juga Andre berpikir akan membuatkan kolam renang mini dan taman untuk dibelakang rumah.


"Ternyata kita satu ide sayang. Aku juga berpikiran seperti itu," jawab Andre senang. Dia tidak membawa Sinta ke lantai dua karena pembangunan lantainya masih beberapa hari ini selesai dikerjakan.


"Dua lantai mas?" tanya Sinta sambil menatap ke atas.

__ADS_1


"Iya. Lantai atas khusus untuk zona kita berdua nanti. Kamu mendesah sekuat apapun. Para pekerja tidak akan mendengarnya dari bawah," jawab Andre dengan senyum mesumnya. Sinta mencubit pinggang suaminya. Andre terkekeh.


"Mas, kamu menunjukkan sesuatu yang baik bagi aku hari ini. Kamu belum mempunyai rencana mas,"


"Rencana apa sayang,"


"Rencana menunjukan diri kamu sendiri ke orang tua aku."


Andre seperti menelan duri mendengar pertanyaan Sinta. Pertanyaan itu seakan menampar wajahnya. Dia menatap wajah Sinta seakan tidak percaya. Sinta pernah berkata bahwa dia akan bersedia memberi tahu pernikahan mereka pas dirinya nanti wisuda. Tapi hari ini Sinta menanyakan hal itu.


"Bukankah kamu yang menginginkan bahwa kita akan memberitahu orang tua kamu pas kamu wisuda nanti," tanya Andre berusaha tenang.


"Apakah menurut kamu itu baik mas. Delapan bulan lagi aku melahirkan anak keduamu. Sedangkan wisuda belum bisa dipastikan kapan waktunya. Jika aku tak wisuda selamanya. Apa kamu juga akan berdiam diri tidak memberitahu orang tua aku?" tanya Sinta dengan pertanyaan beruntun. Andre terdiam. Lagi lagi dia merasa terbodoh di hadapan Sinta.


"Tapi kalau itu mau kamu mas. Aku akan menunggu waktu itu dengan sabar," kata Sinta lagi. Nada bicaranya seakan pasrah. Kalau boleh jujur, detik ini juga Sinta sudah siap kalau harus memberitahu orang tuanya tentang pernikahan ini.


"Baiklah. Secepatnya kita akan ke sana. Asal kesehatan kamu mendukung. Hari Jumat siang kita bisa berangkat. Minggu sore kita balik dari sana," kata Andre tanpa berpikir panjang. Lebih cepat lebih bagus. Begitulah pemikiran Andre saat ini. Andre juga tidak ingin melihat istrinya kecewa jika masih terus menunda untuk memberitahukan pernikahan mereka ke orangtuanya Sinta.


"Bagaimana kalau orang tuaku tidak merestui kita mas. Kita sudah membohongi mereka dengan banyak hal dan sudah lama," kata Sinta khawatir. Andre memeluk Sinta.


"Kamu tidak perlu khawatir. Mereka pasti merestui kita," jawab Andre sangat yakin.


"Kami kok nampaknya sangat yakin mas." Sinta memicingkan matanya mendengar jawaban Andre. Andre memasang senyum yang sangat manis.


"Yakin donk. Melihat menantu yang cakep seperti ini. Pasti mereka cepat luluh," jawab Andre sambil terkekeh. Sinta mendongak menatap wajah Andre.


"Kalau mereka tahu masa lalu kamu mas?"


"Aku yakin juga mereka akan merestui. Karena itu hanya masa lalu bukan masa sekarang atau masa depan. Yang terpenting itu kan masa sekarang dan masa depan bukan masa lalu," jawab Andre yakin. Dia mencubit hidung istrinya dengan pelan. Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tapi hatinya diliputi rasa takut dan khawatir.


"Pintar kamu ya mas berkata kata,"


"Bukan hanya pintar berkata kata sayang. Pintar membuat kamu juga mendesah nikmat. Iya kan?" tanya Andre sambil mengedipkan sebelah matanya. Sinta yang masih mendongak dan dipeluk Andre akhirnya mendapat ciuman dari Andre tepat di bibirnya.


"Ih mesum. Tidak lihat tempat asal nyosor saja," kata Sinta sambil melepaskan diri dari pelukan Andre. Andre hanya terkekeh.


"Kita pulang," kata Andre cepat. Sinta yang sudah berjalan di depan Andre akhirnya menoleh.


"Mau melanjutkan ciuman tadi," tanya Sinta sambil menatap tajam suaminya. Dia tahu suaminya kalau sudah dimulai ciuman bibir pasti meminta lebih. Andre kembali terkekeh dan mengangguk.


"Sepertinya di belakang bisa kita coba sayang. Aku akan menyuruh para pekerja untuk lebih lama beristirahat. Jika perlu mereka tidur siang dulu. Kasihan mereka sudah lelah bekerja mulai dari tadi pagi," kata Andre sambil tersenyum. Dia hanya berniat menjahili istrinya.


"Kasihan mereka atau kasihan dirimu mas,"


"Dua duanya," jawab Andre sambil tertawa terbahak-bahak. Para pekerja sampai memiringkan kepala hanya untuk melihat Sinta dan Andre di dalam bangunan itu.


"Dasar mantan brengsek," maki Sinta sambil menghentakkan kakinya. Andre masih tertawa mengikuti langkah Sinta keluar dari bangunan itu.


"Ada satu tempat lagi yang harus aku tunjukkan sayang," kata Andre setelah mereka sudah duduk di mobil.


"Apa lagi mas. Ternyata selama ini banyak hal yang tidak aku tahu tentang dirimu,"


"Itulah sebabnya aku membawa kamu ke sana. Aku tidak akan merahasiakan apapun darimu. Ini sebagai bukti keseriusan dan cintaku kepadamu," kata Andre serius. Sinta lagi lagi tidak menanggapi perkataan Andre. Dia hanya duduk santai di mobil itu menunggu mereka tiba di tempat yang akan ditunjukkan Andre kepadanya.

__ADS_1


"Bengkel ini milikmu mas?" tanya Sinta takjub. Andre mengangguk. Mereka tidak turun dari mobil tapi bagaimana para karyawan bengkel itu menyapa Andre. Sinta percaya bahwa bengkel besar itu adalah milik suaminya.


"Sudah hampir lima tahun beroperasi. Agnes tahu hal ini. Hanya dia yang tahu. Bahkan papa dan mama tidak mengetahui ini," kata Andre menjelaskan tentang bengkel miliknya. Sinta mengangguk kagum akan kepintaran suaminya dalam berbisnis. Ilmu ekonomi yang dimiliki suaminya tidak hanya ditransfer ke mahasiswa tetapi juga dibuktikan dengan adanya bisnis nyata seperti toko kue dan dan bengkel besar ini.


__ADS_2