Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Cinta butuh Pengorbanan


__ADS_3

Tidak semua wanita bisa memaafkan perbuatan suaminya yang sudah menyakiti bahkan hampir menghancurkan dirinya. Sinta, wanita desa yang kini sudah berbahagia dengan sang suaminya Andre. Sepasang suami istri itu sangat saling mencintai. Sinta memilih memaafkan suaminya dari membalas dendam. Sikapnya itu berbuah manis. Kini Sinta sudah mempunyai dua buah hati yang sangat cantik dan tampan. Airia dan Andra. Putera putrinya yang sangat sehat dan sedang aktif aktifnya. Airia kini berumur dua tahun lebih dan Andra masih berumur lima bulan.


Di rumah besar dan mewah ini. Sinta dilimpahi cinta dan kasih sayang oleh Andre. Sinta menjadi nyonya besar yang rendah hati. Walau sudah dilimpahi banyak materi. Sinta tetap fokus untuk melanjutkan pendidikannya. Sinta juga selalu membalas perlakuan Andre kepadanya. Dicintai dan disayangi tidak langsung membuat Sinta berbuat sesuka hatinya. Yang ada Sinta selalu berusaha menyenangkan hati suaminya. Membalas semua kebaikan dan cinta yang diterima dari Andre.


Seperti hari ini. Sepasang suami istri itu sedang bersantai di balkon kamar mereka. Andre duduk di lantai dan dibelakangnya Sinta duduk di bangku sambil memegang kepala Andre. Di tangannya kanannya terdapat pinset untuk mencabut rambut putih yang sudah mulai tumbuh di kepala Andre. Andre memang masih berumur hampir 34 tahun. Tapi rambut putih sudah mulai tumbuh di kepalanya. Rasanya sangat gatal dan Sinta sangat tidak tega melihat Andre yang sering menggaruk kepalanya.


"Pi, kepalanya jangan digerakkan begitu. Payah mencabutnya kalau seperti ini," kata Sinta sambil menegakkan kepala suaminya. Andre yang sudah terlihat mengantuk. Kepala hampir oleng ketika Sinta memposisikan pinset itu ke salah satu rambut putih yang hendak dicabutnya.


"Kalau begitu, begini saja," kata Andre sambil memutar duduknya. Dia kini menghadap ke Sinta dan meletakkan kepalanya di paha Sinta.


"Nasib, nasib punya suami sudah tua," kata Sinta sambil menyibak rambut Andre. Andre hanya mengelus paha Sinta menanggapi perkataan istrinya. Kantuknya semakin menjadi jadi karena jari jari Sinta menyibak rambutnya. Di tambah angin sepoi-sepoi sore itu. Andre sudah tertidur dengan menelungkupkan kepalanya di paha Sinta. Sinta terus mencari rambut putih itu hingga habis tidak bersisa.


Sinta tidak langsung membangunkan Andre. Dia masih terus menyibak rambut itu walau tidak ada lagi rambut putih. Itu dilakukannya supaya Andre tidur lebih lama lagi. Sinta mengetahui jika suaminya itu sangat lelah dan hampir tidak ada istirahat selama dua minggu ini. Selain mengajar. Andre juga harus mengawali dua bisnisnya. Bisnis roti dan juga bengkel besar. Ditambah lagi dengan ke kantor Radit untuk membantu sang sahabat.


"Jam berapa sekarang," tanya Andre yang sudah terbangun. Suara Airia yang baru saja muncul di balkon itu mampu mengalahkan angin sepoi-sepoi membuat kantuknya hilang.


"Jam lima lewat," kata Sinta sambil menjauhkan kepala Andre dari pahanya.


"Cari lagi Mi."


"Sudah tidak ada lagi. Lihat ini sudah sangat banyak," kata Sinta sambil menunjuk tangan Andre. Sinta mengumpulkan rambut putih itu di tangan suaminya.


"Wanginya putri papi," kata Andre. Airia sudah duduk di pangkuannya. Andre kemudian memeluk Airia. Bayi itu justru merogoh sakunya papinya untuk mengambil ponsel.


"Buta pa," kata Airia sambil menyodorkan ponsel itu. Andre tertawa mendengar kata kata putrinya. Mau mengatakan buka tapi yang terdengar kata buta. Andre mengetikkan angka angka di latar ponsel tersebut. Airia dengan cepat merampas ponsel itu dan mencari apa yang diinginkannya.


"Jangan dibiasakan Pi. Radiasinya sangat tidak bagus untuk mata bayi," kata Sinta sambil mengurangi kecerahan layar ponsel.


"Hanya sebentar mi," jawab Andre. Airia sudah terlihat berjoged meniru apa yang dilihatnya di dalam video tersebut. Andre akhirnya ikut ikutan seperti Airia.


Tidak ingin menganggu suami dan putrinya. Sinta berlalu dari balkon setelah terlebih dahulu mengatakan jika Airia tidak boleh bermain ponsel lebih dari setengah jam. Andre hanya mengangguk.


Sinta menuju dapur, sebelum mandi. Dia terlebih dahulu menyiapkan makanan khusus Airia dan makan malam mereka. Dia dibantu oleh seorang pekerja untuk menyiapkan makan malam tersebut. Sinta tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai istri. Mulai dari mengurus Andre, anak anak hingga yang masuk ke dalam mulut mereka setiap hari. Sinta tidak melewatkan momen berharga itu. Walau ada beberapa pekerja di rumahnya. Sinta tidak langsung mengandalkan mereka. Mereka hanya berperan untuk membantu Sinta.


"Sayang, aku lupa menceritakan sesuatu kepadamu," kata Andre setelah mereka selesai memadu kasih. Mereka sama-sama keluar dari kamar mandi.


"Kalau lupa. Kan bisa sekarang diceritakan," jawab Sinta sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Tapi kamu jangan terkejut ya mi," kata Andre lagi. Sinta menganggukkan kepalanya.


"Aku harus melanjutkan pendidikan lagi," kata Andre. Andre memang masih strata dua. Dia harus bergelar doktor supaya bisa menjadi rektor di universitas milik orangtuanya. Menurut papa Rahmat, Hal yang tidak mungkin jika Andre langsung mencalonkan sebagai rektor. Selain masih muda, masih banyak kandidat lain yang sudah bergelar doktor yang mempunyai ilmu dan pengalaman untuk memajukan universitas milik orangtuanya. Papa Rahmat tidak menginginkan Andre langsung menjadi rektor dengan cara instan. Itu bisa menurunkan kualitas mahasiswa yang akan dilepas menjadi sarjana. Karena bagaimanapun. Kebijakan dan keputusan rektor sangat berperan penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di universitas tersebut.


"Bagus donk Pi. Aku mendukungmu," kata Sinta serius.

__ADS_1


"Tapi papa meminta aku untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri sayang," kata Andre sendu. Keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri bukan keputusan yang mudah baginya. Dia sudah mempunyai keluarga. Andaikan Sinta sudah lulus kuliah. Andre tidak perlu repot repot memikirkan melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dia bisa langsung membawa keluarga kecilnya ke sana.


Sinta memikirkan kata kata suaminya. Jika Andre berangkat ke luar negeri itu artinya mereka harus berjauhan untuk sementara. Ada rasa takut yang menyelinap ke dalam hatinya.


"Sebenarnya bagus Pi. Tapi bagaimana kamu sendirian di sana?. Siapa nanti yang mengurus kamu?" tanya Sinta. Pertanyaan itu sebenarnya hanya ingin memastikan bagaimana rencana Andre selanjutnya.


"Aku berencana membawa kalian ke luar negeri. Kita menetap di sana tiga sampai lima tahun. Itu masih rencana aku sendiri. Aku juga butuh pendapat kamu tentang ini," kata Andre. Mereka kini sama sama berbaring di ranjang.


"Aku belum bisa memberi pendapat apa apa Pi. Aku pikirkan dulu. Besok aku berikan pendapatku," kata Sinta sambil memeluk tubuh suaminya. Membayangkan hidup berjauhan membuat hati Sinta merasa sedih. Apalagi ada sisi kelam suaminya. Sejujurnya ada rasa takut melepas Andre sendirian di luar negeri. Tapi kalau harus ikut dalam waktu dekat ini, Sinta harus rela mengorbankan kuliahnya yang tinggal semester ini dan semester depan.


"Paling juga mau minta pendapat Vina dan Tini," kata Andre sambil terkekeh. Sinta semakin mengeratkan pelukannya. Sama seperti Sinta, Andre juga sebenarnya merasa sangat berat hati untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Bukan karena takut tidak ada yang mengurus. Andre bisa mengurus diri sendiri. Dia sudah berpengalaman hidup sendiri di negeri orang sewaktu mengambil strata duanya. Yang dikhawatirkan Andre adalah tidak bisa menahan rindu kepada tiga orang yang sangat dicintainya. Andre berharap, Sinta bersedia ikut dengannya menetap di luar negeri selama dia menempuh pendidikan di sana.


Ternyata apa yang diungkapkan Andre malam ini membuat Sinta sulit memejamkan mata. Sedangkan Andre sudah mengeluarkan suara suara kecil dari mulutnya pertanda Andre sudah terlelap. Sinta merasa waktu berjalan lambat. Dia ingin malam ini cepat berlalu.


Kegelapan malam berganti terang. Sinta masih saja memikirkan rencana suaminya. Pikiran itu terus mengikuti Sinta hingga belajar di kelas. Dia tidak fokus sama sekali. Vina yang duduk di sampingnya juga tidak sabaran ingin perkuliahan lagi ini selesai. Vina ingin mengetahui penyebab sahabatnya gelisah.


"Kita ke rumahku saja sekarang. Tidak enak kalau disini cerita," kata Sinta ketika Vina bertanya tentang penyebab kegelisahan Sinta. Mereka bertiga kini sedang berkumpul di depan kolam. Tini juga sudah selesai urusan dengan Andre bimbingan skripsi.


"Ke kafe suamiku saja. Kita juga perlu cerita sambil refreshing," kata Tini. Sinta dan Vina mengangguk. Dua wanita itu langsung mengetik di ponsel masing masing meminta ke suami mereka. Vina sudah mendapat balasan diijinkan dari Radit sedangkan Sinta masih belum mendapat balasan apa apa.


"Sinta, kamu menyuruh dia kemari?" tanya Tini sambil menggerakkan dagunya. Vina dan Sinta mengarahkan pandangannya ke arah pergerakan dagu Tini. Andre sedang berjalan ke arah mereka.


"Kurang kerjaan. Yang dibutuhkan hanya kata iya tapi harus berkeringat datang kemari," kata Tini ketika Andre sudah dekat mereka. Andre memang berkeringat karena setengah berlari menghampiri mereka bertiga di kolam itu.


"Kalian naik apa ke sana?" tanya Andre lagi. Ternyata itu yang ingin ditanyakan oleh Andre. Sehingga harus menghampiri tiga sahabat itu.


"Naik taksi," kata Tini.


"Pulangnya bagaimana?" tanya Andre lagi.


"Pulangnya dijemput suami masing masing donk," kata Tini lagi.


"Kamu enak tin. Suamimu pulang kerja pasti ke sana. Sinta dan Vina bagaimana. Aku masih ada kelas sore dan Radit juga pasti tidak bisa. Dia lagi sedang sibuk sibuknya mengurus perusahaan."


"Kita cari tempat lain saja Tini. Kita ke rumahku saja. Sinta belum pernah berkunjung ke sana sejak si kembar pindah ke sana," kata Vina. Andre mengangguk setuju. Saran Vina jauh lebih baik daripada harus ke kafe Sean yang memakan waktu sampai dua jam pulang pergi.


"Ayo. Aku antar kalian ke sana," kata Andre sambil berjalan tanpa mendengar persetujuan Sinta dan Tini. Dua wanita itu menurut tanpa membantah. Tini menghentakkan kakinya dan cemberut. Andre yang melihat itu hanya terkekeh penuh kemenangan.


"Lain kali, kalau ada waktu kalian pasti berkumpul di sana. Jadi jangan cemberut Tini yang cantik. Pujaan hati Sean," kata Andre sambil tersenyum. Perkataan itu mampu membuat Tini kembali senang. Dia masuk ke dalam mobil setelah terlebih dahulu memukul lengan Andre yang membukakan pintu untuk Sinta.


Kini tiga sahabat kental itu sudah duduk di sofa ruang tamu Vina setelah terlebih dahulu bermain sebentar dengan si kembar.


"Menurutku kamu harus ikut ke luar negeri Sinta. Bagaimanapun suami itu harus dijaga. Jangan berikan kesempatan untuk berselingkuh," kata Tini setelah mendengar cerita Sinta. Tini pun akhirnya menceritakan masalah rumah tangga orang tuanya kepada Sinta. Vina yang sudah mengetahui tentang permasalahan itu hanya diam mendengar.

__ADS_1


"Aku turut prihatin Tini atas permasalahan om Indra dan Tante Mia," kata Sinta ikut merasakan kesedihan sahabatnya.


"Ikuti saran aku Sinta. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada keluarga kecilmu," kata Tini lagi.


"Aku masih bingung. Kalau aku ikut mas Andre. Itu artinya aku harus rela cuti kuliah beberapa tahun."


"Kalau begitu. Suruh saja kak Andre melanjutkan pendidikannya setelah kamu lulus Sinta. Dengan begitu. Kamu bisa ikut ke luar negeri tanpa ada beban pikiran," kata Vina. Saran yang masuk akal. Tapi tidak mungkin langsung terwujud karena Andre melanjutkan kuliah ke luar negeri atas permintaan papa Rahmat. Saran itu juga sudah terlintas di pikirannya. Tapi Sinta merasa ragu untuk mengungkapkannya. Andre mungkin saja setuju. Tapi Sinta takut mendapat penilaian jelek dari keluarga besar suaminya.


"Aku tidak jamin itu bisa terjadi Vina. Papa Rahmat ingin secepatnya mas Andre cepat mendapat gelar doktor," jawab Sinta.


"Kalau tidak bagaimana kalau kak Andre duluan ke keluar negeri. Setelah kamu lulus kuliah. Kamu dan anak anak bisa menyusul nantinya," kata Vina lagi. Lagi lagi saran Vina masuk akal. Tapi Tini yang masih merasa sakit hati karena perselingkuhan papanya tetap menyarankan Sinta harus ikut dengan Andre ke luar negeri tanpa Andre yang duluan berangkat.


"Dengar saran aku Sinta. Suamimu sudah pernah dimangsa pelakor satu kali jangan sampai terulang diembat pelakor lagi. Asal kamu tahu. Di dalam atau di luar negeri. Yang namanya pelakor itu tersebar dimana-mana," saran Tini.


"Nanti aku pikirkan lagi saran kalian friends," jawab Sinta. Dibandingkan saran Tini, Sinta lebih setuju dengan saran Vina yang kedua.


"Intinya. Jangan sampai diambil pelakor untuk yang kedua kalinya. Laki laki itu semua buaya jika berjauhan dengan istrinya Sinta. Mereka lebih menuruti kehendak kepala yang di bawah daripada menuruti kepala yang di atas. Paham kan maksud aku," kata Tini lagi. Sinta dan Vina mengangguk bersamaan.


Ketiga sahabat itu kini sudah bubar. Sinta dan Tini sudah dijemput oleh suami masing-masing.


"Pi, aku sudah mengambil keputusan," kata Sinta ketika mereka sudah duduk di dalam mobil. Sinta tersenyum manis kepada suaminya.


"Mami bersedia ikut dengan aku ke luar negeri kan?" tanya Andre senang.


"Aku bersedia Pi. Tapi untuk sementara papi harus sendirian dulu di sana ya. Setelah aku lulus kuliah. Aku akan menyusul kamu ke luar negeri."


Sinta memang akhirnya memilih saran Vina yang kedua. Saran yang paling cocok untuk situasinya saat ini. Sinta tidak ragu untuk mengambil keputusan itu. Baginya, jika Andre tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Itu artinya mereka tidak berjodoh.


"Sayang. Kok tega sih membiarkan aku sendiri di sana. Walau hanya beberapa bulan. Aku tetap saja tidak mau berpisah dengan kalian mi."


"Hanya itu jalan keluar Pi. Kecuali jika kamu bersedia menunda melanjutkan pendidikan itu sampai aku lulus kuliah. Dan aku rasa itu tidak mungkin."


"Kamu takut membiarkan aku sendiri di sana?" tanya Andre lagi.


"Apa yang perlu ditakutkan Pi. Kamu ke sana untuk menuntut ilmu. Dan sebagai calon doktor. Kamu pasti bisa menjaga diri. Dan satu hal yang perlu kamu ingat. Tidak ada kesempatan ketiga. Aku memberi kamu kepercayaan. Jika kamu tidak menjaganya berarti kamu sudah siap kehilangan kami bertiga" jawab Sinta tegas. Andre menelan ludahnya kasar. Dia sudah bersusah payah meluluhkan hati istrinya. Tidak akan dibiarkan lagi untuk lepas untuk kedua kalinya.


"Baiklah kalau itu keputusan kamu sayang. Sayangnya aku tidak setuju dengan keputusan kamu itu," kata Andre. Sinta mengerutkan keningnya. Jika Andre memaksanya harus berangkat bersama sama ke luar negeri. Itu artinya dia akan butuh waktu lama menjadi sarjana.


"Apa maksud kamu Pi?" tanya Sinta bingung.


"Cinta butuh pengorbanan sayang. Satu hari saja aku tidak rela berpisah dengan kamu. Aku akan berkorban untuk keluarga kecilku. Aku akan mengambil gelar doktor di kota ini saja. Jika papa keberatan. Maka aku juga rela jika universitas itu jatuh ke tangan kak Bayu dan kak Andi. Aku akan memulai bisnis yang lain untuk menambah pundi pundi kamu," jawab Andre. Sinta menatap suaminya dengan penuh cinta. Dia tidak menyangka Andre bisa melakukannya itu untuk keluarga kecil mereka.


"Terserah kamu sayang. Kasih alasan yang masuk akal ke papa. Jangan sampai alasan kamu memojokkan aku. Aku tidak mau papa dan yang lain menilai aku seorang istri yang memaksakan kehendaknya kepada suami," kata Sinta sambil bergelayut manja di lengan suaminya.

__ADS_1


"Itu pasti mi. Tenang saja."


__ADS_2