Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pendamai


__ADS_3

Wisuda adalah momen yang paling ditunggu tunggu oleh seorang mahasiswa. Wisuda bukan hanya mensahkan seorang mahasiswa menjadi sarjana. Tapi wisuda juga membuat orang tua merasa berhasil menyekolahkan anaknya. Hal itu juga dirasakan oleh Tini. Tini merasa bahagia dengan acara ini. Tini merasa ini adalah awal keberhasilan dan kebahagiaan yang dipersembahkan untuk kedua orangtuanya.


Begitu juga dengan mama Mia. Melihat putri bungsu sudah menyelesaikan pendidikan di strata satu tentu saja dirinya bangga. Mama Mia bersyukur melihat putra putrinya yang masih mendengar nasehat nasehat mereka sebagai orang tua. Mereka memang orang kaya dan terpandang. Tapi status mereka tidak membuat ketiga putra putrinya yang langsung berpangku tangan dan hanya ingin menikmati kekayaan yang ada. Tini dan kedua kakaknya masih berpikir jika pendidikan itu sangat penting untuk mereka yang akan menjadi pemimpin perusahaan.


Mama Mia sebenarnya ingin membuat acara besar perayaan wisuda Tini dengan makan siang di restoran terkenal di kota itu. Sebagaimana dulu kedua kakaknya Tini ketika wisuda. Tapi Tini menolak acara itu. Tini memilih acara itu dilangsungkan di rumah. Selain tidak ingin membawa Ayu Dewi putrinya ke tempat umum. Tini juga tidak dapat membayangkan jika mereka makan bersama di restoran mewah sementara papanya Indra Handoko tidak ikut serta. Mama Mia memang masih menghukum papa Indra.


Setelah turun dari mobil. Tini menatap papanya yang sedikit kebingungan. Handoko memang ikut menjadi tamu undangan Tini di acara wisuda tadi. Tapi Tini mengetahui jika mama Mia masih bersikap dingin kepada Papanya.


"Pa, kita masuk ke dalam rumah ya," kata Tini. Handoko tidak menjawab. Tapi dia langsung menoleh ke arah istrinya. Mama Mia mendengar permintaan Tini. Mama Mia tidak berniat sama sekali untuk memperjelas permintaan Tini dengan mengajak Handoko ke dalam rumah. Yang ada mama Mia masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Tidak perlu nak. Berbahagialah. Melihat kamu diwisuda. Itu sudah menjadi kebahagiaan buat papa," jawab Handoko pelan. Bukan tidak ingin masuk ke rumah dan makan bersama bersama istri dan anak anaknya. Tapi melihat sikap dingin mama Mia. Handoko tidak ingin menambah kebencian di hati istrinya. Tini hanya menatap papanya sedih. Kebahagiaannya hari ini tidak sempurna karena kesalahan sang papa.


Tini memasuki rumah paling terakhir. Kedua kakaknya, Sean dan mama Mia dengan Ayu Dewi di pangkuan sang mama sudah menunggu di meja makan. Kedua orang tua Sean memang tidak ikut dalam acara itu. Mereka terpaksa tidak ikut karena ada kerabat dekat yang melangsungkan pernikahan hari ini.


Tini melihat berbagai jenis makanan yang menjadi makanan kesukaannya terhidang sempurna di meja makan. Selera makannya hilang karena keberadaan sang papa tidak ada bersama mereka.


"Mama, boleh kita berbicara sebelum makan siang bersama?" tanya Tini hati hati sambil menunduk. Mama Mia terlihat bingung tapi tangannya bergerak memberikan Ayu Dewi kepada Sean.


"Di kamarku ma," kata Tini lagi sambil berjalan menjauh dari meja makan. Mama Mia tidak bisa membantah dan mengikuti langkah Tini.


"Ma, aku mohon sekali ini saja. Biarkan papa makan siang bersama dengan kita," kata Tini memohon. Tini bahkan menggenggam tangan mamanya. Mama Mia masih terdiam.


"Mama, beberapa bulan ini. Papa menerima hukumannya dengan ikhlas tanpa mengeluh. Apa mama tidak merasa kasihan sedikitpun kepada papa dengan keadaan yang seperti itu. Papa bahkan semakin kurus," kata Tini lagi berharap perkataannya bisa meluluhkan hati sang mama. Handoko menang semakin kurus dan tidak terurus.


"Tini putriku. Jika kamu menanyakan itu. Tentu saja mama kasihan dengan kondisi papamu. Tapi perlu kamu tahu. Keadaannya saat ini tidak sebanding dengan air mata yang selalu menemani malam malam mama setelah mengetahui perselingkuhan papamu," jawab mama Mia dengan tatapan menerawang. Tini menatap wajah mamanya dengan lekat. Tini bisa melihat jika luka itu masih jelas terpancar dari wajah sang mama.


"Aku tahu mama. Tapi sampai kapan menghukum papa seperti itu. Aku mohon berdamai lah ma. Apa mama tidak ingat ketika membuat aku. Membuatnya sama sama kan dan pasti papa yang lebih bekerja keras untuk itu. Dan seharusnya juga berbahagia sama sama merayakan hari bersejarah ini."


Perkataan Tini membuat dirinya mendapat pukulan di lengannyanya. Tini pura pura meringis. Pukulan itu sebenarnya tidak berarti apa apa baginya karena mama Mia memukul Tini dengan pelan. Tini hanya ingin kepura-puraannya membuat mama Mia luluh.


"Kamu hanya kasihan kepada papamu tanpa memikirkan sakit hati mama."


"Mama, andaikan mama melakukan kesalahan fatal. Aku juga akan meminta papa memaafkan mama. Aku hanya ingin menjadi pendamai bagi kedua orang tua aku ma. Melihat kalian berdamai itu juga merupakan kebahagiaan bagiku. Tapi melihat kalian seperti ini. Aku sangat sedih ma. Aku tahu papa melakukan kesalahan besar dan sulit dimaafkan. Tapi apa mama tidak mengingat perjuangan papa untuk membuat kita hidup layak dan berkecukupan seperti ini. Apa papa bukan manusia sehingga tidak berhak mendapat kesempatan kedua. Dan satu lagi ma. Tidak ada manusia yang sempurna."


"Benar, Tini tidak ada manusia yang sempurna. Tapi ketidaksempurnaan papamu sudah sangat terlalu."

__ADS_1


"Suami Sinta dan suami Vina lebih parah dari papa mama. Tapi mereka juga bersedia memberi kesempatan kedua kepada suami mereka."


Tini merasa putus asa mendengar perkataan mamanya. Mendengar perkataan sang mama. Tini merasa sangat yakin jika papanya masih akan tetap menjalani hukuman.


"Baiklah nak. Jika hanya makan bersama siang. Ajaklah papamu ke rumah," kata mama Mia pelan. Tini menghentikan langkahnya yang sudah hampir mencapai pintu.


"Benarkah ma?" tanya Tini senang. Mama Mia mengangguk. Semua perkataan Tini membuat mama Mia mengingat bagaimana dulu perjuangan Handoko merintis perusahaannya dari nol. Tidur larut malam dengan rasa lelah yang tidak bisa digambarkan. Mama Mia juga mengingat bagaimana Handoko selalu memanjakan dirinya dan selalu mengalah.


"Kembali tidur juga boleh kan ma?" tanya Tini lagi sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ah kamu tin. Dikasih hati minta jantung. Kalau itu belum bisa," jawab mama cepat.


"Ayolah mama. Biarkan papa tidur di kamar tamu. Boleh kan ma?. Boleh donk ma masa tidak boleh," kata Tini lagi.


"Tin, biarkan papa dihukum dulu. Supaya itu menjadi contoh untuk suami dan kakak kamu."


"Mama, ada contoh atau tidak. Kalau takdirku harus diselingkuhi oleh suami. Sekeras apapun aku mencegah pasti itu akan tetap terjadi. Lagipula suamiku dan kakak kakakku sudah dewasa."


"Ya sudah terserah kamu saja. Kamu mana bisa kalah jika diajak berdebat," kata mama Mia pasrah. Mama Mia juga menyadari sikap Tini itu adalah bentuk kasih sayangnya terhadap kedua orangtuanya.


"Papa, hentikan makannya," kata Tini.


"Ada apa nak?.


"Kita makan bersama di rumah pa."


"Apa mama mengijinkan?.


Tini hanya mengangguk mendengar pertanyaan papanya yang terdengar polos seperti anak anak yang mendapat hukuman. Rasa sakit hati menyelinap di hatinya mengingat perselingkuhan sang papa. Tapi Tini bertekad di dalam hati akan menjadi pendamai bagi kedua orangtuanya sampai benar-benar akur kembali.


Tini membantu Handoko berdiri. Dengan menggandeng papanya manja, mereka berdua memasuki rumah dan langsung menuju meja makan. Tini bahkan membantu Handoko untuk duduk di bangku yang selalu digunakan sang papa selama ini. Tini memanggil salah satu art di rumah itu.


"Bibi, tolong pindahkan semua barang barang papaku ke kamar mama ya," kata Tini tenang. Mama Mia terkejut dan menatap Tini.


"Tini."

__ADS_1


"Tenang mama. Berdamai itu indah. Aku akan memberikan guling jumbo sebagai pembatas tidur kalian," kata Tini lagi santai.


"Tapi tadi hanya mengijinkan papa kamu makan siang bersama dan tidur di kamar tamu."


"Aku tahu ma. Tapi mama juga perlu suami siaga."


"Kamu kira aku hamil?.


"Ya bisa jadi kan ma. Bulan depan mama langsung hamil setelah papa kembali ke rumah ini. Kedua kakakku pasti senang kalau mendapat adik baru. Benar kan kak?.


"Iya kami senang," jawab keduanya serentak. Mereka juga menginginkan kedua orang tua mereka bersatu setelah menyadari Handoko benar benar menyesal.


"Dasar anak anak pelupa. Kalian lupa kalau papa kalian sudah vasektomi."


Tini tertawa. Perkataan sang mama jelas jika mamanya masih mencintai papanya.


"Sebaiknya kita makan sekarang. Diijinkan atau tidak diijinkan papa kembali ke rumah ini. Papa sudah pasrah akan keputusan mama kalian. Papa juga sudah mengambil keputusan. Besok, papa akan berangkat ke kampung kelahiran papa dan memulai hidup baru di sana sebagai petani," kata Handoko pelan. Perkataan itu membuat mama Mia seketika mengangkat kepalanya dan menoleh ke Handoko.


"Baiklah papa. Jika itu keputusan papa. Semoga papa berhasil di sana menjadi petani berdasi. Aku yakin papa pasti bisa berhasil," kata Tini sedih. Yang lain tidak berani berkomentar apa-apa tentang keputusan Handoko itu.


"Tidak ada yang bisa pergi dari rumah ini tanpa seijin mama," kata mama Mia lantang. Tini langsung bersorak dan bertepuk tangan diikuti oleh kedua kakaknya dan Sean. Perkataan itu jelas memberikan kesempatan kedua kepada papanya. Tini tersenyum. Idenya berhasil untuk membuat sang mama memberikan kesempatan kedua papanya


"Terima kasih mama. Karena memberikan kesempatan kedua kepada papa. Papa berjalan tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi," kata Handoko sambil bersujud di hadapan mama Mia. Handoko meraih kedua tangan istrinya dan menciumi punggung tangan tersebut.


"Bangunlah pa. Kita makan sekarang. Kamu perlu makan makanan bernutrisi baik supaya kamu tidak kurus kering seperti ini," kata mama masih dingin. Handoko berdiri kemudian duduk di bangkunya kembali.


"Terimakasih ma. Kebahagian aku mendekati sempurna hari ini karena mama bersedia menerima papa kembali. Mama tenang saja. Jika papa kembali melakukan kesalahan yang sama. Maka aku akan menjadi orang yang pertama menghajar papa," kata Tini. Kemudian Tini tersenyum. Hatinya diliputi kebahagiaan yang tidak terkira.


"Papa tidak akan kembali ke kesalahan yang sama putriku. Papa berjanji. Hukuman yang diberikan mama kamu jauh lebih menyiksa daripada dihajar atau dipermalukan di depan umum," kata Handoko penuh penyesalan.


"Aku sangat bahagia pa, ma. Karena mama sudah berdamai dengan papa dan papa berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama. Maka aku akan memberikan kalian hadiah yang sangat berharga," kata Tini bersemangat. Sean tersenyum sambil memainkan tangannya putrinya yang sudah berumur enam bulan.


"Hadiah apa nak?" tanya mama Mia antusias. Wajah Handoko dan kedua putranya terlihat penasaran.


"Selamat cucu kalian akan bertambah," kata Tini senang. Mama Mia terkejut tapi kemudian tertawa senang begitu juga dengan Handoko. Kedua kakak dari Tini juga terlihat senang.

__ADS_1


__ADS_2