Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Sean Tini


__ADS_3

Sean terdiam mendengar perkataan Tini. Tante girang. Dua kata itu membuat Sean paham atas tingkah Tini hari ini. Sean menggelengkan kepala mendengar Tini menilai dirinya serendah itu. Untung Tini wanita yang sangat dicintainya berprasangka seperti itu. Jika yang lain sudah dipastikan Sean akan marah besar. Sean sebenarnya kecewa. Siapapun mendapat penilaian seperti itu tanpa bukti akan kecewa dan merasa direndahkan. Sean masih bisa memaklumi tingkah Tini hari ini. Rasa cinta yang besar membuat Sean hanya diam saja tanpa marah ketika menyebut Tante girang.


Sean berusaha tenang dan tidak marah. Dia juga menyadari kesalahannya. Seperti kata Tini tadi. Harusnya dia bisa membahagiakan Tini dengan berkencan. Tidak bisa empat kali dalam sebulan setidaknya dua kali sebulan atau sekali sebulan. Bukan hanya memberi perhatian lewat wa atau panggilan video. Selama tiga bulan, Sean juga sadar. Mereka hanya bertemu hanya beberapa kali.


"Turunkan aku kak, aku tidak mau bertemu dengan Tante girang itu. Membayangkan saja aku sudah muak," kata Tini masih marah. Tini menggerakkan tangannya untuk membuka seat belt. Sean menahan tangan Tini dengan tangan kirinya.


"Kalau begitu, Tidak perlu dibayangkan. Gampang kan?" tanya Sean tenang. Tini sudah berprasangka buruk. Jadi, biarkan otak terus berpikir seperti itu sampai tiba di tempat tujuan.


Tini semakin kesal. Tangannya memegangi sabuk pengaman yang tidak jadi dibukanya. Dia menoleh ke Sean dengan melotot. Dia tidak menyangka jika Sean ternyata mempunyai sifat yang menyebalkan seperti ini. Tapi anehnya Tini bisa melihat tidak ada kemarahan di wajah Sean. Hanya ada raut kecewa itu pun tersamarkan dengan wajah datarnya. Tini akhirnya memilih diam. Dia menyusun kata kata di otaknya untuk memaki Sean. Jika Sean masih ngotot untuk mempertemukan dirinya dengan Tante girang.


Sean juga akhirnya diam. Sean berpikir tidak ada gunanya mengajak Tini berbicara jika wanita itu masih menyimpan prasangka buruk itu di otaknya. Sean juga tidak melarang Tini untuk kembali memasang headset di telinganya. Itu lebih bagus dibandingkan mendengar tuduhan yang keluar dari mulut kekasihnya.


Sambil mendengarkan musik, Tini mengamati jalanan yang mereka lalui. Sedangkan Sean fokus menyetir. Mereka sudah jauh dari pusat kota. Mereka kini melewati jalanan sepi dengan pohon pohon yang menjulang tinggi. Hingga mereka tiba di depan bangunan berlantai dua di pinggir kota. Bangunan yang dicat warna warni dan area parkir yang sangat luas. Bangunan yang sangat bagus menurut Tini. Dari luar saja. Tini menyimpulkan jika bangunan itu dijadikan sebuah kafe.


Tini turun dari mobil tanpa ada perintah. Sean juga melakukan hal yang sama. Tini mendongak melihat bangunan itu. "ST CAFE" tertulis di atas ujung bangunan itu. Lantai dua hanya berdindingkan kaca. Sepertinya duduk di sana akan betah dengan waktu yang lama.


Tini mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di kiri kanan bangunan itu terbentang lahan yang diolah masyarakat setempat. Berbagai sayuran dan pohon pohon yang bisa memanjakan mata. Hamparan hijau yang menunjukkan bahwa suasana di daerah itu masih asri. Dan tentunya saja oksigennya lebih bersih dibandingkan oksigen di perkotaan yang sudah tercemar dengan berbagai polusi.


"Ayo, kita masuk!" ajak Sean sambil menautkan jemarinya di jemari Tini. Tini menghempaskan tangan Sean pelan. Penolakan halus yang membuat Sean akhirnya berjalan duluan melangkah mendahului Tini. Tini memegang dadanya terasa sesak. Membayangkan Sean sering berkunjung ke tempat ini dengan Tante girang atau selingkuhan selain dirinya. Sementara dirinya yang berstatus kekasih baru kali ini diajak ke kafe ini. Itupun karena ada drama sindir menyindir dan diam diaman.


Sean sengaja menunggu Tini di depan pintu bangunan itu. Tini masih berdiri di tempatnya. Tidak ada niat untuk mengikuti langkah Sean masuk ke dalam. Baginya lebih baik menikmati pemandangan di luar daripada harus bertemu dengan Tante girang.


"Kakak, masuk saja. Aku akan menunggu di sini. Seberapa lama kalian bermain dan saling memuaskan aku akan sabar menunggu," kata Tini masih kesal dan masih menyinggung kata puas. Pemikirannya sudah terlalu jauh menduga Sean melakukan yang tidak tidak di belakangnya.


Sean tidak sanggup lagi untuk menahan amarahnya. Tanpa alasan dan tanpa bukti Tini menuduhnya serendah itu. Tangannya terkepal dengan rahang yang mengeras. Tapi Sean masih bisa berpikir waras untuk tidak membentak atau bermain kasar. Sean masih memperhitungkan rasa malu jika dia melampiaskan kemarahannya akibat tuduhan Tini yang tidak berdasar itu.


"Tini, aku bilang masuk!" kata Sean tajam dan tegas. Nada bicaranya tidak seperti biasa lagi. Bagai terhipnotis Tini mematung mendengar suara itu. Suara keras yang pertama kalinya didengarnya dari mulut Sean. Melihat Sean menggerakkan kepalanya ke arah bangunan. Tini menurut dan mendekat. Sean meraih tangan Tini dan menggandeng masuk kedalam ruangan itu.


"Selamat siang pak Sean," sapa sang kasir. Sean hanya mengangguk dan terus berjalan. Sedangkan Tini semakin membenarkan dugaannya. Mendengar kasir menyebutkan nama Sean, Tini berpikir jika Sean adalah pelanggan tetap cafe ini. Tini semakin kesal.

__ADS_1


Sean masih menggandeng tangan Tini untuk melangkah lebih masuk ke dalam lagi. Melewati para pengunjung yang sangat ramai dan menikmati berbagai hidangan yang ada di kafe itu. Televisi besar yang tertempel di dinding tidak menarik perhatian para pengunjung. Mereka lebih tertarik menikmati pemandangan alam yang bisa dilihat dari kafe itu dari dinding kaca. Seorang petugas kebersihan terlihat mendekat dan berkata.


"Pak Sean, selamat siang. Apa bapak ingin beristirahat terlebih dahulu. Saya akan membersihkan kamar pribadi bapak terlebih dahulu."


Benarkan. Bahkan Sean mempunyai kamar pribadi. Tini semakin yakin dan marah. Tangan sebelah kanan terkepal. Tapi Tini tidak akan bertindak bodoh. Dia bahkan meminta Sean untuk membawanya dirinya ke kamar pribadi Sean. Tentunya supaya Tini bisa memaki Sean dengan puas tanpa dilihat pengunjung lain. Dan Sean menarik tangan Tini untuk menaiki tangga belakang untuk memenuhi permintaan Tini. Sean juga berencana untuk menjelaskan kecurigaan Tini di kamar pribadinya.


"Brengsek kamu kak, putuskan aku sekarang juga," kata Tini marah setelah mereka sudah di ke kamar pribadi Sean. Tini mendorong tubuh Sean hingga pria itu nyaris terbentur ke dinding. Sean yang mendapat serangan tiba tiba, langsung menahan tubuh dengan tangannya kanannya.


"Ada buktinya kamu mengatakan aku brengsek?" tanya Sean setelah bisa berdiri tegak sempurna. Dia menatap Tini yang menunjukkan wajah marah.


"Ini buktinya. Kamar ini buktinya jika kamu memang brengsek. Di kamar ini, kamu melayani atau memuaskan selingkuhan kamu. Aku tidak menyangka kak, ternyata kamu lebih bejad dari kak Andre dan kak Radit. Kita putus," kata Tini dengan kemarahan yang berapi api. Merasa diselingkuhi membuat Tini hingga hilang kendali membentak dan menuduh Sean tanpa bukti. Wajah tomboi yang selalu terlihat ceria itu kini memerah karena marah. Rasa kecewa yang dalam membuat Tini ingin menangis. Tapi dia tidak membiarkan air mata itu turun di hadapan Sean. Dia tidak akan sudi terlihat lemah di hadapan laki laki.


Sean menatap Tini kecewa tanpa berkata apapun. Tini sudah memutuskan dirinya tanpa ingin mengetahui apa sebenarnya maksud dari perkataan di telepon ketika di rumah Sinta. Jujur, Sean sangat kecewa dengan semua tuduhan Tini yang sangat merendahkan harga dirinya. Jika Tini membentak dan marah, Sean masih bisa terima. Tetapi ketika dituduh tidak bermoral, Sean merasa malas untuk menjelaskan perkataannya tadi.


"Baiklah Tini. Jika itu keinginan kamu. Kita jauh jauh kemari hanya untuk putus. Ini kunci mobilku. Kamu boleh membawanya pulang. Dari sini sangat jarang transfortasi umum menuju kota. Kamu bisa menitipkan mobil itu nanti di rumah Sinta," kata Sean pelan. Sean menyodorkan kunci mobilnya ke tangan Tini. Tidak ada gunanya lagi menjelaskan semuanya kepada Tini. Dia akan tinggal di kafe ini untuk menenangkan pikirannya.


"Tidak perlu. Aku sudah meminta papaku untuk mengirimkan supir menjemput aku," tolak Tini ketus. Dia melangkah keluar kamar dan sedikit menyenggol bahu Sean. Sehingga pria itu hilang keseimbangan. Tapi lagi lagi tangan Sean cepat bertumpu ke dinding.


"Kafe ini adalah milikku. Aku sibuk karena setiap Jumat sampai Minggu berada di kafe ini. Aku hanya berusaha untuk layak menjadi pendamping kamu kelak. Aku tidak ingin dipandang oleh kedua orang tua kamu hanya sebagai karyawan biasa. Tapi kamu menilai aku dengan versi mu sendiri. Tentang melayani dan memuaskan yang kamu anggap untuk memuaskan Tante girang atau selingkuhan itu sama sekali tidak benar. Orang istimewa yang aku maksud adalah pemilik tanah ini sebelumnya. Dia berencana akan mengadakan ulang tahun putrinya di kafe ini hari Sabtu depan. Aku ingin menjelaskan dengan bukti kepadamu. Tapi tuduhan mu. Membuat aku seperti pria yang tidak ada harganya. Bahkan aku sangat rendah di mata kamu. Aku memang mengabaikan kamu demi kafe ini. Aku minta maaf akan hal itu," kata Sean panjang lebar.


"Kak, aku minta maaf," kata Tini pelan penuh sesal. Penjelasan Sean seperti pukulan yang menghantam dadanya. Dia sudah terlanjur menilai dan merendahkan Sean. Bahkan memutuskan hubungan mereka dengan kecurigaan yang tidak berdasar itu. Mendengar penjelasan Sean, Tini benar benar menyesal dan merasa bersalah. Sungguh dia sangat menyesali semua perkataan perkataannya yang jelas memfitnah dan menuduh Sean sembarangan.


"Minta maaf tidak akan mengubah apa yang sudah kamu putuskan Tini. Aku akan mengantar kamu," kata Sean sambil menutup pintu kamar itu. Sean berjalan mendahului Tini. Tini mengikuti langkah Sean dari belakang dengan air mata yang sudah mulai turun. Kesalahannya sangat fatal hari ini. Sean hanya ingin memberi yang terbaik tetapi Tini justru mencurigainya. Tini berjalan sambil menatap punggung Sean. Tatapannya turun ke tangan Sean yang menggandengnya tadi ke lantai atas. Tangan itu kini melenggang tanpa gandengan.


Sepanjang perjalanan menuju kota, Tini tidak berani untuk berbicara sepatah kata pun. Sean berubah menjadi sosok yang sangat dingin. Tidak ada lagi panggilan sayang atau genggaman tangan. Tini menyesal tidak bisa memakai otaknya untuk berpikir jernih. Sebagai putri pebisnis dan calon sarjana ekonomi, harusnya mendengar kata pelayanan dan memuaskan harusnya dia juga harus mengartikan kata itu ke arah bisnis. Bukan ke arah kegiatan ranjang.


Tini menundukkan dan memikirkan hubungan dengan Sean. Diawali dengan tersiksa memendam perasaan dan akhirnya menjalin hubungan. Tapi Tini menghancurkan hubungan itu karena tidak berpikir jernih. Tini menyembunyikan air matanya.


"Terima kasih Anggun, turunlah," kata Sean dingin tanpa menoleh ke Tini. Tini sangat sedih dan menyesal. Kini mobil Sean sudah berhenti di depan gerbang rumah Tini.

__ADS_1


"Kak, aku minta maaf. Apa tidak ada maaf untuk aku kak?" tanya Tini sedih dan terlihat putus asa. Wajahnya yang memelas meminta maaf jelas terlihat. Sean menatap wajah itu tanpa ekspresi.


"Jika aku menuduh kamu seperti tuduhan kamu itu. Apa kamu bersedia memaafkan aku?" tanya Sean. Tini terdiam. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga dan dilihat oleh Sean.


"Baiklah kak, jika aku tidak pantas untuk di maafkan. Terimakasih atas semua kebaikan dan perhatian kakak selama ini," kata Tini pelan. Harapannya untuk kembali dengan Sean tidak ada lagi. Dia tidak akan menjatuhkan dirinya untuk terus memohon maaf. Dia akan menyimpan cintanya rapat rapat. Toh ini semua akibat kebodohannya. Dan harus berlapang dada menerimanya.


"Apa kamu menyerah untuk mendapatkan maaf ku?" tanya Sean ketika Tini hendak membuka pintu mobil. Sean bisa melihat penyesalan di wajah Tini. Melihat gadis tomboi itu bersedih dan menangis. Hatinya juga ikut bersedih.


"Bahkan kamu menuduhku sangat keji dan tidak bermoral. Apa menurut kamu hanya minta maaf dua kali itu cukup?" tanya Sean lagi. Dia kecewa Tini langsung menyerah setelah menuduhnya. Sean berharap Tini menunjukkan penyesalan dengan tidak mudah menyerah mendapatkan maaf darinya. Merayu atau membujuk untuk kembali.


"Jadi aku harus bagaimana kak?" tanya Tini sedih. Dia menunduk dan tidak berani menatap Sean yang sudah duduk menyamping. Malu, sedih, putus asa dan merasa bersalah bercampur jadi satu di hatinya.


"Kamu harus mencium aku di sini," kata Sean sambil menunjuk bibirnya. Tanpa senyum dan kedipan mata seperti biasa yang dilakukan Sean jika menggodanya. Membuat Tini ragu untuk memenuhi perintah Sean.


"Tapi kita kan sudah putus," cicit Tini pelan. Dia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya mencium Sean tepat di bibirnya sementara mereka sudah putus.


"Batal putus jika kamu menciumnya," jawab Sean sambil mengedipkan sebelah matanya. Tini mengusap air matanya setelah mengambil tissue dari dashboard mobil.


Tini akhirnya menuruti permintaan Sean. Memajukan tubuhnya untuk mencium bibir Sean. Sean menyambutnya. Cintanya yang teramat besar membuat dirinya lupa akan semua yang diucapkan Tini tadi. Sean akan memaafkan Tini. Sean menyadari, tidak ada yang sempurna di dunia ini termasuk Tini dan dirinya.


"Di mobil lagi. Ini keempat kali kita berciuman di dalam mobil. Seperti tidak ada tempat lain saja," kata Sean setelah Tini melepaskan bibirnya. Tini tertawa dan menyandarkan tubuhnya di lengan Sean. Ketulusan Sean memaafkan dirinya, membuat Tini kembali merasa bahagia. Tini semakin mengagumi dan mencintai pujaan hatinya. Dia tidak ragu lagi untuk melangkah ke hubungan yang serius jika Sean menginginkannya.


"Itu karena kita tidak pernah berkencan," jawab Tini sewot. Tini kembali duduk tegak.


"Setiap weekend kita akan berkencan ST Cafe, kita bisa berciuman di kamar tadi. Aku akan memberikan pelayanan terbaikku untuk memuaskan mu," kata Sean sambil tersenyum mesum. Tini memukul dada Sean manja.


"Kak, ST Itu kepanjangan apa?" tanya Tini untuk memastikan apa yang ada di pikirannya.


"Bisa Sarjana tehnik, bisa Sean Tini. Terserah kamu pilih yang mana,"

__ADS_1


"Sean Tini," teriak Tini kencang. Suara Tini bergema di dalam mobil itu. Kebahagiannya bertambah setelah mengetahui kepanjangan dari ST.


"Mau mencoba ciuman selain di mobil kan. Masukkan mobil kakak," kata Tini menggoda kekasihnya. Dia membuka kaca mobil dan berteriak memanggil Satpam untuk membuka gerbang.


__ADS_2