Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Salah Paham


__ADS_3

Libur telah usai. Hampir lebih dua bulan mahasiswa kini saatnya kembali ke kampus. Hari pertama masuk kampus, mahasiswa tidak langsung belajar. Mahasiswa terlebih dahulu menyesuaikan rencana semester berjalan mulai dari mata kuliah, jadwal kuliah dan dosen pengajar.


Pada hari pertama kampus dibuka, biasanya tidak mengharuskan mahasiswa datang ke kampus. Begitu juga dengan Sinta entah kenapa, dia begitu malas untuk ke kampus hari ini. Penolakan Andre atas kehamilannya sedikit mempengaruhi rasa percaya dirinya. Bagi Sinta, tidak masalah kalau dia tetap disembunyikan oleh Andre, asal mau menerima janinnya, itu sudah cukup baginya.


Sinta masih bersedih, terkadang masih sering menangis kalau mengingat perlakuan Andre. Rumah yang selalu dibersihkan tiap hari, kini rumah itu juga kurang terurus. Berkali kali dia menguatkan diri sendiri, tapi Sinta tidak sekuat itu, dia akan kembali menangis membayangkan kehamilannya. Membayangkan melahirkan tanpa suami dan juga ketakutan jika orangtuanya mengetahui kehamilan Sinta.


Banyak rencana yang tersusun di otaknya. Hal pertama yang harus dilakukan Sinta adalah memberitahu para sahabatnya. Bagaimanapun Sinta merasa. Dia pasti tidak bisa menyembunyikan hal besar ini dari para sahabatnya. Sinta juga sudah menguatkan dirinya, jika para sahabatnya tidak bisa menerima dirinya yang sudah menyembunyikan banyak hal.


Hari kedua masuk kampus. Dengan sedikit ragu Sinta pergi ke kampus. Setelah memarkirkan motor. Sinta mencari keberadaan para sahabatnya. Tidak sulit mencari Vina dan yang lainnya. Hanya mengedarkan pandangan Sinta dapat melihat para sahabatnya di dekat kolam. Tempat favorit para mahasiswa. Sinta tidak menyadari para sahabatnya memperhatikannya dari kepala sampai kaki.


Sinta mendekat dan langsung duduk di samping Vina. Tapi Vina hanya diam saja dan juga yang lainnya. Jadinya Sinta merasa canggung. Biasanya setelah beberapa hari tidak bertemu mereka akan heboh. Sinta menyadari seperti ada sesuatu yang tidak beres. Sinta memperhatikan satu persatu sahabatnya. Semua sibuk memainkan ponsel. Lebih tepatnya pura pura sibuk.


"Vin, semuanya apa kabar?" tanya Sinta pelan kemudian memegang tangan Vina, dengan pelan Vina melepaskan tangan Sinta dari tangannya. Cici yang melihat itu merasa kasihan dengan Sinta.


Sementara yang lain masih dengan ponsel masing masing.


"Kabar baik Sinta, kamu kog agak kurusan? Kamu baru sakit ya!" jawab Cici dan semua menoleh ke Sinta. Benar saja Sinta memang agak sedikit kurus. Vina masih enggan menoleh ke Sinta.


"Itu Ronal sama Edwin!" teriak Elsa sambil menunjuk ke arah parkiran motor. Ronal dan Edwin hampir bersamaan turun dari motor. Elsa memanggil Ronal, setelah Ronal menoleh Elsa melambaikan tangan menyuruh Ronal menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hai semua," sapa Ronal. Vina tetap seperti tadi pura pura sibuk memainkan ponselnya. Ronal yang melihat Vina tidak seperti biasanya dan mengisyaratkan Tini yang duduk di sebelah kanan Vina bergeser, kemudian Ronal duduk.


"Vin, sibuk amat. Lagi liatin apa sih?" tanya Ronal heran dengan perubahan Vina. Kemarin mereka bertemu, Vina masih ceria dan hangat. Vina menoleh sebentar ke Ronal kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Ronal tahu, bahwa Vina hanya pura pura sibuk dengan ponselnya.


"Jadi begini guys, karena perkuliahan belum aktif, bagaimana kalau kita ke rumahku?" tanya Indah. Indah sengaja mengajak para sahabatnya ke rumah. Indah berpikir lebih bagus membicarakan masalah yang dihadapi Vina di rumahnya daripada di sekitar kampus. Yang lain mengangguk setuju sedangkan Sinta yang tidak tahu apa apa hanya bingung.


"Gimana Sinta, kamu ikut kan?" tanya Cici. Sinta mengangguk karena rencananya juga dia akan memberitahukan kehamilannya kepada mereka.


"Oke, kalau begitu aku sama Vina juga cabut ya!. Yuk Vin, kita bersenang-senang." Ronal berkata kemudian berdiri dan menarik tangan Vina.


"Kita ikut mereka aja dulu," jawab Vina pelan.


"Vin, kamu sama Ronal naik motor, Sinta sama Cici, Aku sama Tini dan Elsa tarik tiga. Yuk berangkat sekarang!" perintah Indah, yang lain langsung ke parkiran sedangkan Ronal menarik tangan Vina untuk duduk kembali.


"Nanti kalau aku ikut, kalian gak bebas ngobrolnya," kata Ronal lagi yang melihat Vina hanya diam.


"Kamu harus ikut, lagian ini berhubungan dengan kamu," kata Vina setelah menarik napas panjang. Ronal menunjuk dirinya sendiri dan Vina mengangguk. Ronal bingung dan penasaran akhirnya dia juga menarik tangan Vina dan menggandengnya ke parkiran.


Kini tiga motor yang berboncengan itu beriringan keluar dari gerbang kampus. Hanya butuh beberapa menit, mereka sudah tiba di halaman rumah Indah. Indah mempersilahkan para sahabatnya masuk.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Sinta ke rumah Indah. Wanita hamil muda itu mengalami mual sedikit. Setelah bertanya letak kamar mandi, Indah membawa Sinta masuk ke kamar. Sinta masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Mendengar suara yang muntah muntah, para sahabatnya yang di ruang tamu saling berpandangan kemudian pandangan mereka beralih ke Ronal yang biasa saja mendengar suara Sinta yang muntah.


Sinta keluar dari kamar indah setelah membasuh muka. Sinta duduk kembali di sofa ruang tamu itu. Sontak pandangan yang lainnya bergantian memandang Sinta dan Ronal. Vina mengeluarkan ponselnya.


"Jelaskan ini!" kata Vina dengan datar.Vina memutar video di ponsel dan memperlihatkannya ke Ronal dan Sinta secara bergantian. Sinta terkejut melihat video itu. Video ketika Sinta belanja susu di supermarket dekat rumah sakit. Di video terlihat Ronal yang memasukkan susu hamil ke keranjang dan Ronal yang mengambil motor Sinta dari parkiran. Video itu tanpa suara dan sepertinya di rekam dari jarah yang agak jauh.


Melihat video itu, Ronal paham bahwa ada kesalahpahaman.


"Sinta memang hamil, kalau kalian mengira itu adalah anakku kalian salah besar. Waktu itu, aku menjenguk saudaraku di rumah sakit Kasih Bunda. Tidak sengaja, aku melihat Sinta di bagian pendaftaran rumah sakit. Aku mengikutinya dan aku juga terkejut ketika dia masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan. Aku penasaran dan aku mengikutinya sampai ke supermarket. Aku memasukkan susu hamil itu ke keranjang karena aku melihat Sinta membeli susu hamil yang murah dan kandungan vitaminnya sedikit. Aku juga membayarnya. Tidak mau berburuk sangka, aku mengajak dia minum es Boba di depan supermarket dan bertanya ke Sinta tentang kehamilannya. Untuk selanjut biarkan Sinta yang menjelaskan," kata Ronal panjang lebar. Sinta tertunduk di tempatnya sedangkan yang lainnya ada yang percaya dan ada yang tidak percaya.


"Jelaskan Sinta, kami sengaja membawa kalian ke sini karena awalnya kami semua curiga kamu ada main sama Ronal di belakang Vina setelah melihat video itu. Kami tidak mau membahasnya di kampus takut teman teman yang lain mendengar dan menimbulkan persepsi yang merugikan kamu," kata Indah, sementara Sinta sudah mulai gugup dan matanya berkaca-kaca. Mau berbicara tetapi tidak tahu memulai dari mana. Semua mata memandang ke Sinta. Menunggu gadis itu berbicara bagaikan terdakwa di pengadilan. Membuat Sinta semakin gugup.


"Maaf. Aku memang tidak jujur kepada kalian. Benar aku hamil sekarang dan aku sudah menikah," kata Sinta pelan.


"Dan kamu Vina, jangan berburuk sangka ke Ronal. Apa yang dikatakan Ronal itu benar. Dan aku berani bersumpah akan hal itu," kata Sinta lagi kemudian terdiam. Air matanya kini sudah turun melihat para sahabatnya tidak bereaksi. Sinta sudah pasrah jika dia dibenci oleh mereka. Cici yang duduk di samping Sinta merasa kasihan. Cici mengusap bahu Sinta yang bergetar akibat menahan tangis.


"Sinta, sejujurnya kami terkejut melihat video itu, dan lebih terkejut lagi mendengar kamu sudah menikah. Kita adalah sahabat. Kenapa kamu tidak mau berbagi hal indah itu kepada kami?" tanya Indah pelan. Sinta semakin menangis dan membuat yang lainnya merasa curiga dengan pernikahan Sinta.

__ADS_1


"Sinta, cerita sama kami. Maaf, kalau karena kesalahpahaman ini membuatmu sedih," kata Vina dan pindah duduk di samping Sinta. Vina memeluk Sinta membuat Sinta semakin menangis.


"Suamiku tidak mau menerima janin ini Vin," kata Sinta pelan tapi semua orang yang ada di ruang tamu itu bisa mendengarnya. Semua terdiam tidak tahu mau berkata apa. Mereka juga merasa sedih. Yang lain mendekat dan memeluk Sinta bergantian. Mereka memberi semangat ke Sinta. Ronal melongo di tempatnya. Tidak menyangka bahwa Sinta mengalami kehidupan rumit seperti itu.


__ADS_2