Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Pria pria Budak Cinta


__ADS_3

Radit memarkirkan mobilnya di halaman rumah Andre dan Sinta yang baru. Entah karena bersemangat atau karena rasa sakit yang masih terasa itu membuat Radit mengendarai mobilnya agak pelan. Waktu tempuh yang mereka perkirakan ke tempat ini hanya satu jam menjadi lebih dari satu jam. Mereka sudah melewat acara gunting pita dan rumah Andre dan Sinta itu sudah terbuka lebar dengan manusia yang banyak mondar mandir. Masuk ke rumah. Keluar dari rumah. Begitu aktivitas orang orang yang bisa Vina dan Radit lihat dari dalam mobil.


Radit memperhatikan mobil yang terparkir beberapa menit dari mobilnya. Dia mengenali mobil itu adalah mobil milik Sean. Mobil itu tepat di samping kanan mobilnya. Radit membuka kaca mobil bersamaan dengan Tini juga membuka kaca mobil. Radit menyentuh tangan Vina dan menggerakkan kepalanya ke arah mobil sebelah. Vina tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihat Tini juga melambaikan tangan ke arahnya.


Dua pasang sahabat itu hampir bersamaan turun dari mobil. Ketika mereka dengan sempurna menginjakkan kaki di tanah. Dua pasang sahabat itu sama sama terkejut. Radit dan Vina terkejut melihat Tini yang memakai dress sedangkan Sean dan Tini terkejut melihat Radit dan Vina memakai baju couple.


Vina terlihat mengacungkan jempolnya ke Tini memuji penampilan baru sahabatnya itu. Sedangkan Tini menatap Radit dan Vina sambil tersenyum. Melihat Radit dan Vina bisa kompak memakai baju couple. Tini sangat senang. Tini sangat yakin bahwa hubungan kedua sahabatnya itu ada kemajuan. Tetapi ketika Radit menautkan tangannya di tangan Vina Tini menatap Radit sinis.


"Tini mana Sean. Kok bawa gandengan yang baru?" tanya Radit sambil tersenyum menggoda Tini yang sudah cemberut. Dia terlihat menurunkan ujung dress-nya yang pas selutut. Sangat jelas bahwa Tini belum percaya diri untuk memakai dress itu. Sedangkan Vina berkali kali memuji Tini yang terlihat sangat anggun dengan dress itu.


"Kenalkan bro, Vina. Pacar baru aku. Namanya Anggun," jawab Sean bangga sambil menunjuk Tini. Tini semakin cemberut dan memukul tangan Sean.


"Kak Radit dan kak Sean sama saja. Sama sama menyebalkan. Ayo masuk," ajak Tini kesal. Dia berjalan duluan dan langkahnya terhenti karena mendengar tawa Radit yang kencang. Baik Radit, Vina dan Sean sama sama tertawa melihat cara jalan Tini yang tidak sesuai dengan gaun dan tas yang ditentengnya. Cara berjalannya masih terlihat sangat tomboi dengan gerakan cepat tidak ada sisi feminimnya. Tidak sesuai dengan dress motif bunga yang melekat di tubuhnya dan juga tas yang tergantung di tangannya. Tini membalikkan badan masih dengan cemberut dan kembali mendekat ke Sean yang masih berdiri di depan mobil.


"Ayo kak. Kakak di depan," kata Tini sambil menarik tangan Sean dan dia memposisikan dirinya di belakang Sean. Tini sadar, bahwa cara berjalannya masih seperti biasanya.


"Iya. Sebaiknya kita masuk saja. Kita sudah terlambat," ajak Radit sambil menarik tangan Vina. Dia berjalan mendahului Sean dan Tini. Seketika juga Tini tertawa lebih kencang dari Radit yang menertawakan dirinya tadi.


"Kenapa kak?. Pecah telur atau baru disunat?" tanya Tini sambil tertawa terbahak-bahak. Vina memalingkan wajahnya karena malu Sedangkan Sean juga ikut tertawa. Orang orang yang mondar mandir di halaman itu terlihat menoleh ke arah Tini yang masih tertawa.


"Kenapa bro?" tanya Radit. Vina semakin malu. Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal menghilangkan rasa malunya.


"Bengkak bro," jawab Radit pelan dan malu. Tini semakin tertawa. Tetapi kemudian Tini terdiam dan mengerutkan keningnya.


"Kenapa bengkak?" tanya Tini tajam penuh selidik dan sudah mendekat ke Radit. Tini menatap Radit dan Vina bergantian. Radit akhirnya menceritakan kejadian tadi malam itu. Tini mundur dan percaya yang dikatakan Radit karena Tini bisa melihat Vina mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Radit.


"Pantas saja pakai baju couple sekarang. Ternyata ular sudah masuk gua," sindir Tini sambil terkekeh. Dia menduga hubungan Radit dan Vina sudah seperti hubungan suami istri pada umumnya. Vina hanya menunduk Sedangkan Radit menoleh ke Vina.


"Bagaimana, kita masih disini atau masuk," kata Sean. Dia tidak ingin mendengar kekasihnya lagi menyindir Radit.


"Aku di belakang kamu saja Bun," bisik Radit. Sean dan Tini mendengar bisikan itu. Radit mengedipkan matanya ke Tini dan Tini tersenyum dan mengangguk. Tini juga sudah berdiri di belakang Sean. Tini mengerti jika Sean hendak mengerjai Radit.


"Vin, karena mereka berdua ingin berjalan di belakang kita. Anggap saja kita berdua yang pasangan hari ini. Dan mereka berdua yang pasangan," kata Sean sambil memegang tangan Vina. Vina terlihat sangat canggung. Bagaimanapun dia adalah seorang istri. Tidak sepantasnya dia berpegangan tangan dengan Sean apalagi di depan suaminya. Vina berusaha melepaskan tangan itu dengan halus. Vina menoleh ke Tini untuk meminta pertolongan. Tapi Tini terlihat tidak perduli.


Radit merasakan darahnya mendidih ketika melihat tangan Sean memegang Vina. Wajahnya kini memerah. Dia lupa bahwa Sean hanya bermaksud bercanda. Radit meraih tangan Sean dan menghempaskan tangan itu dengan sangat kasar.


"Jangan lancang kamu Sean. Memegang tangan istriku," bentak Radit marah. Senyum Tini merekah begitu juga dengan Sean. Vina bisa melihat kemarahan Radit. Vina menyentuh tangan Radit untuk menenangkan pria itu.


"Sori, sori bro. Aku hanya bercanda," jawab Sean sambil tertawa. Radit sudah menggeser Sean dengan kasar. Sean akhirnya berjalan di belakang Radit dan Tini di belakang Vina. Radit rela berusaha berjalan normal dan menahan rasa sakit itu ketika melangkah masuk ke rumah Andre. Dia tidak akan membiarkan Sean memegang tangan istrinya. Walaupun Sean adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


Andre dan Sinta tersenyum melihat kedatangan Radit dan Vina. Senyum itu semakin merekah ketika melihat di belakang Radit dan Vina ada Sean dan Tini. Radit yang tidak tahan menahan rasa sakit itu akhirnya memilih langsung duduk di bangku tanpa bersalaman terlebih dahulu dengan Andre dan Sinta. Vina memaklumi hal itu. Dia mengikuti langkah Sean dan Tini yang sudah berjalan terlebih dahulu karena Vina sempat berbicara dengan Sean ketika pria itu duduk.


Andre dan Sinta sama sama menutup mulutnya tidak percaya melihat penampilan Tini. Karena ditertawakan tadi. Tini akhirnya menuruti perkataan Sean untuk berjalan dengan sedikit merapatkan kakinya. Tini sangat serasi dengan dress itu ditambah dengan tas tangan membuat Tini terlihat sangat anggun. Bahkan Ronal dan sahabat Tini yang lain terlihat mengucek mata untuk memastikan penglihatan mereka.


Bukan hanya Andre dan Sinta juga para sahabatnya. Dosen satu profesi dengan Andre yang turut diundang ke acara itu juga terlihat takjub dengan penampilan Tini. Tini yang sudah terkenal dengan wanita tomboi di kampusnya sangat terkenal juga di kalangan dosen dan pegawai tata usaha.


"Ini Tini kan?. Sahabat aku yang tomboi itu," kata Sinta senang dan memeluk Tini. Sinta sangat senang melihat perubahan sahabatnya itu.


"Iya Tini donk. Gimana cantik tidak?. Apa kau terlihat seperti waria?" tanya Tini yang suara semakin pelan di kata terakhir. Andre yang bisa mendengar perkataan itu spontan tertawa.


"Cantik, sangat cantik dan anggun," jawab Sinta.


"Kalua begini baru cocok. Pisang dan jeruk. Kamu jeruknya dan Sean pisangnya. Bukan seperti sebelumnya. Jeruk makan jeruk," kata Andre sambil tertawa dan menunjuk Sean dan Tini bergantian. Tini mencubit tangan Andre karena mengumpamakan dirinya dengan buah. Sean pun akhirnya bersalaman dengan Sinta dan Andre mengucapkan selamat berbahagia atas rumah baru yang mewah itu. Andre dan Sinta mempersilahkan Sean dan Tini untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan.


Sinta kemudian memeluk Vina yang sudah berdiri di belakang Sean. Vina meminta maaf atas keterlambatan mereka.


"Radit, kenapa langsung duduk di sana?" tanya Andre kepada Vina. Sedangkan Sinta langsung menoleh ke Radit dan kemudian memperhatikan Vina. Seulas senyum tersungging di bibir Sinta ketika melihat baju couple itu.


"Dia kurang sehat kak," jawab Vina pelan.


"Telornya bengkak kak," bisik Tini yang masih berdiri dekat Vina untuk menunggu wanita itu. Vina terlihat kesal dengan mulut Tini yang tidak pernah bisa menyaring kata kata yang keluar dari mulutnya. Andre dan Sinta sama sama bingung mendengar bisikan itu. Vina yang tidak ingin memperpanjang pembicaraan itu langsung menarik Tini untuk menghampiri Radit dan Sean yang duduk di bangku tamu.


Tamu tamu yang diundang Andre sudah banyak yang pulang. Papa Rahmat dan mama Ningsih juga sudah pulang karena alasan kesehatan dan harus beristirahat. Sedangkan kedua kakak kandung Andre dan para ipar juga keponakannya sudah pulang dengan alasan anak anak yang sudah rewel. Andi dan Bella bahkan membawa Airia ke rumahnya karena bayi itu minta ikut ke Rey sang kakak sepupu. Andre dan Sinta tidak keberatan. Airia sudah terbiasa di rumah Rey dan juga rumah Kenzo.


Radit terlihat mengepalkan tangan ketika melihat Ronal yang sudah bergabung dengan Sinta dan Vina. Radit sudah mengetahui jika Ronal adalah mantan kekasih sang istri. Melihat Ronal yang bahkan menyentuh punggung Vina membuat Radit hendak beranjak dari duduknya. Sean dan Andre sama sama menahan Radit untuk duduk kembali. Radit terlihat sangat cemburu. Apalagi Radit bisa melihat Vina yang tersenyum ke Ronal. Radit ingin membuka sepatunya dan melemparkannya ke Ronal.


"Terbakar cemburu kak?" tanya Tini yang tiba tiba sudah berdiri di samping Radit. Radit mendengus dan kembali melayangkan tatapan tajam ke arah Ronal yang masih berbincang dengan Vina dan Sinta.


"Tidak bisa membakar Ronal, setidaknya bakar rokok dulu kak," kata Tini santai menyodorkan sebatang rokok ke Radit. Radit terpancing dan Radit menarik rokok itu kasar dan mengambil pemantik yang disodorkan oleh Tini.


Radit membuang asap rokok itu dari hidungnya sambil menatap Vina dan Ronal juga Sinta yang masih berbicara dan sesekali terlihat tertawa. Tiga manusia itu tidak menyadari bahwa ada yang terbakar cemburu karena mereka bertiga. Sedangkan Tini, Andre dan Sean saling berpandangan. Mereka mengerti jika Radit sudah mencintai Vina.


"Ronal itu orangnya romantis kak, dulu waktu mereka berpacaran mesra banget dan Ronal sangat mencintai Vina. Mungkin Ronal ingin mengenang kebersamaan mereka dulu."


Tini kembali menyulut api cemburu di hati Radit. Pria itu menggigit rokok yang ada di mulutnya membayangkan jika rokok itu adalah Ronal. Tapi sesaat kemudian. Radit meludah dan membersihkan mulutnya dari tembaga rokok. Karena cemburu dia tidak menyadari jika rokok yang dihisapnya adalah rokok tanpa filter. Tini yang berhasil mengerjai Radit akhirnya tertawa terbahak-bahak. Sean hanya tersenyum melihat ulah sang kekasih. Sedangkan Andre hanya bisa menggelengkan kepala melihat kecemburuan di mata Radit. Vina menoleh ke arah Radit. Vina pamit ke Ronal dan Sinta dan mendekat ke Radit. Sinta juga akhirnya memanggil sahabat sahabat yang lain untuk berganti dengan dirinya dan Ronal. Dia tidak ingin suaminya cemburu jika berduaan dengan Ronal.


"Ayah merokok?" tanya Vina tidak senang setelah duduk di samping Radit.


"Dia yang kasih bunda?" jawab Radit sambil menunjuk Vina. Radit lega karena Vina akhirnya memisahkan diri dari Ronal. Tini, Sean dan Andre tentu saja terkejut dengan kemajuan rumah tangga Radit dan Vina. Apalagi dengan sebutan ayah dan bunda itu. Mereka sangat yakin jika hubungan Radit dan Vina tidak ada masalah lagi.

__ADS_1


"Cie,.cie yang panggil bunda dan ayah. Mesra banget. Adem aku dengarnya kak," kata Tini tulus dan tersenyum. Radit tersenyum bangga Sedangkan Vina sedikit malu.


"Kenapa sih harus panggil ayah bunda. Kuno. Sekarang jamannya panggil sayang, baby, honey atau yang lain yang lebih keren," kata Sean.


"Kamu belum menikah jadi kamu tidak tahu artinya. Aku memanggil istriku bunda supaya semua orang tahu bahwa dia istriku begitu juga dengan sebaliknya. Dengan begitu jika ada pria yang suka atau tertarik dengan istriku. Pria itu langsung mundur karena sudah mengetahui dia seorang istri. Jika memanggil dengan yang kamu sebutkan tadi itu untuk pasangan yang belum halal seperti kalian," jawab Radit menjelaskan. Vina terkejut akan tujuan panggilan itu. Sebelumnya dia hanya berterima saja ketika Radit mengatakan panggilan bunda dan ayah untuk mengajari dan membiasakan ketiga bayi kembar mereka.


Andre mengangguk mengerti dari penjelasan Radit itu. Dan memanggil Sinta ke arah mereka.


"Ada apa mas?" tanya Sinta yang sudah duduk di sampingnya.


"Sinta. Mulai hari ini jangan panggil mas lagi kepada aku ya. Kita ganti panggilan saja,"


"Loh kenapa Mas?. Aku harus panggil apa?" tanya Sinta heran.


"Aku panggil kamu mami. Dan kamu panggil aku papi. Bagaimana. Keren kan?" tanya Andre sambil tersenyum. Penjelasan Radit sangat masuk akal. Dia juga ingin bahwa setiap orang yang mengenal atau tidak mengenal mereka mengetahui jika mereka adalah pasangan suami istri.


"Gak mau ah. Sudah nyaman manggil mas masa diubah lagi," kata Sinta manja dan menolak panggilan itu.


"Tidak ada bantahan untuk ini mami. Kamu memanggil aku dengan mas. Di luar sana juga tukang bakso kamu panggil mas," kata Andre tegas. Jika Andre berkata tegas seperti ini. Sinta tidak berani membantah lagi. Sinta walaupun dilimpahi cinta dan kasih sayang oleh Andre. Sinta juga istri yang penurut suami. Sejauh itu masih bersifat positif.


"Baiklah papi," jawab Sinta dengan canggung. Andre tersenyum dan membalas ucapan Sinta itu dengan kecupan di kepala Sinta.


"Pria budak cinta," desis Tini sinis tapi hatinya senang melihat kebahagiaan Andre dan Sinta.


"Kalian berdua mau menikah sebentar lagi. Harusnya juga memikirkan panggilan setelah resmi menjadi suami istri," kata Radit kepada Sean dan Tini.


"Karena Sean tadi mengatakan panggilan ayah dan bunda kuno. Aku rasa panggilan yang cocok untuk mereka adalah Tini dan Tono. Tini ya tetap dipanggil Tini dan Sean akan dipanggil dengan Tono," kata Andre sambil menunjuk Tini dan Tono. Sean hanya tersenyum saja Sedangkan Tini sudah cemberut.


"Ini Tini. Ini Tono. Tono memasuki Tini setelah menikah," kata Radit sambil menunjuk Tini dan Sean. Radit berkata seperti anak kelas satu SD yang belajar membaca. Vina tidak tahan untuk tertawa mendengar lelucon dari suaminya. Vina tertawa lepas juga Sinta dan Andre.


Sean memijit hidungnya. Dia tidak menyangka perkataan tentang panggilan ayah dan bunda yang kuno membuat dia dan Tini mendapatkan panggilan yang tidak didengar. Setelah mendengar penjelasan Radit. Sean juga seperti Andre.


"Jangan cemberut sayang. Masih ada panggilan yang paling keren jika kita sudah menikah nanti. Aku panggil kamu mommy dan kamu panggil aku Daddy. Gimana keren kan?" tanya Sean sambil mengedipkan sebelah matanya ke Tini. Wajah Tini berubah menjadi ceria.


"Aku setuju Daddy," jawab Tini cepat dan senang.


"Jangan senang dulu Tini. Panggilan itu tidak cocok untuk kalian. Orang bisa berpikiran kamu sugar baby untuk Sean. Kamu tidak lihat Sean seperti om om dan kamu gadis belia. Ganti saja. Mama dan Papa. Itu jauh lebih keren."


Tini, Vina dan Sinta spontan melihat tiga pria bersahabat itu secara bergantian. Para pria matang yang mempunyai pasangan yang bersahabat pula dan usia yang masih muda.

__ADS_1


"Sok ngatain kak Sean om om. Terus kakak merasa muda dari kak Sean?" tanya Tini kesal. Para pria budak cinta itu spontan melihat tiga wanita bersahabat itu secara bergantian. Kemudian mereka tertawa bersama. Menyadari bahwa mereka pria berusia matang yang mempunyai pasangan yang masih muda.


Yang belum vote. Author masih minta vote nya ya!" Terima kasih dan salam sehat.


__ADS_2