
"Maaf, aku tidak bisa menjaga masa mudaku menjadi manusia yang baik," kata Radit setelah selesai bercerita. Dia mengamati wajah sang istri. Vina terlihat masih menunduk. Radit sudah mulai merasakan gelisah di hatinya. Radit takut, masa lalunya yang kelam. Akan mempengaruhi hubungan mereka untuk selanjutnya.
"Bun, kenapa tidak komen?" tanya Radit lagi. Vina mengangkat kepalanya.
"Yah, aku sesak pipis. Cerita masa lalu kamu terlalu panjang," jawab Vina sambil menahan pipis. Dari tadi dia ingin menghentikan Radit bercerita untuk ke kamar mandi. Tapi melihat mimik suaminya yang sedih. Membuat Vina memilih mendengar cerita itu sampai selesai. Radit ingin sebenarnya tertawa mendengar perkataan Vina. Radit memegang tangan untuk membantu wanita itu berdiri.
"Pipis dulu Bun. Apa aku perlu gendong ke kamar mandi?.
Tanpa mendengar jawaban Vina. Radit langsung berdiri dan menggendong Vina ke kamar mandi. Vina tidak berontak. Vina justru tertawa terbahak bahak merasakan dirinya yang melayang di gendongan sang suami.
"Silahkan bunda," kata Radit. Vina langsung menuntaskan panggilan alam.
"Ya ampun. Kalah suaranya dari menggoreng ikan tongkol," kata Radit sambil tertawa. Vina juga tertawa menyadari suara air itu keluar dari tubuhnya. Vina memasukkan tangan ke dalam air dan memercikkan air itu ke wajah Radit.
"Bun, kalau mau main air, ke bawah yuk. Sepertinya seru," kata Radit lagi. Ajakan itu membuat Radit mendapat cubitan di perutnya. Radit pun sebenarnya bercanda. Tidak mungkin dia bermain air sementara kedua mertua dan kedua orangtuanya masih berada di rumah itu.
Vina keluar dari kamar mandi dan menarik tangan Radit.
"Main air itu tidak perlu yah. Sekarang pikirkan jalan keluar dari masalah ini," kata Vina. Setelah mendengar cerita dari Radit. Tidak mungkin baginya untuk membujuk atau mempengaruhi suaminya untuk tetap memimpin perusahaan dan bekerjasama dengan Handoko.
"Bunda tidak memberi tanggapan tentang masa laluku?" tanya Radit. Dia takut Vina menyembunyikan perasaan yabg sebenarnya setelah mendapat masa lalunya yang menjijikkan.
"Yah, setiap manusia itu mempunyai masa lalu. Yang membedakan adalah baik dan buruknya. Masa lalu itu sudah terlewat. Masa lalu itu tidak bisa diubah bagaimanapun caranya. Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan. Jangan sampai masa lalu itu terulang. Sewaktu kamu belum menikah. Memang tidak ada wanita yang menangis karena kelakuanmu. Tapi jika sudah menikah kamu melakukan itu. Aku pastikan ayah dikebiri seperti yang pernah ayah janjikan. Pisangnya dipotong keluar. Dan yang tinggal hanya biji salak yang dua itu. Dan jangan lupa. Tidak ada kesempatan lagi," ancam Vina serius.
Bukan tanpa sebab dia mengatakan itu. Radit adalah pengusaha muda yang sewaktu waktu bisa bangkit kembali. Laki laki ketika mempunyai uang terkadang lupa akan istri dan anak si rumah. Vina tidak menginginkan itu terjadi di rumah tangga. Cukup cobaan berat itu di awal pernikahan. Dia berharap untuk kedepannya. Cobaannya tidak karena pelakor. Banyak wanita yang sanggup dan bertahan dengan suami yang hidup sederhana. Atau menghadapi keras kepala si suami dan bahkan bertahan walau terhalang restu. Tapi jika menyangkut dengan pelakor. Sebagian wanita menyerah dan tidak menghadapinya walau bergelimang harta.
Vina tidak ingin seperti itu. Itulah sebabnya sebelum terjadi Vina langsung mengingatkan Radit.
"Baik bunda. Tidak mungkin aku lakukan itu lagi." jawab Radit pasti. Tidak ada keraguan di hatinya untuk menjawab. Dia bahkan bisa hapal semua tentang apa yang diucapkan oleh Vina tadi. Kata kata itu adalah penyejuk dan motivasi baginya. Dia merasa bahagia mempunyai istri seperti Vina. Bisa menerima masa lalu pasangan yang menjijikkan. Tidak semua wanita bisa seperti Vina. Radit berencana akan. menulis kata kata itu selembar kertas dan akan meletakkan kertas tersebut di bawah kaca meja kerjanya.
Vina menatap wajah suaminya. Dia percaya akan apa yang diucapkan Radit. Melihat Radit menyayangi ketiga bayi kembarnya sudah cukup bagi Vina untuk memberi pria itu kepercayaan. Apalagi selama ini Vina juga merasakan ketulusan Radit terhadap dirinya.
"Bunda. Keputusan aku tetap keluar dari perusahaan jika papa tetap ingin menjalin kerjasama dengan Handoko," kata Radit ke inti permasalahan. Vina menarik nafas panjang Masalah ini juga sangat serius. Menyangkut nasib perusahaan beserta karyawan yang bekerja di sana. Juga menyangkut kesejahteraan rumah tangga mereka.
"Aku rasa lebih bagus jika ayah jujur ke papa tentang Handoko. Dengan begitu kamu tidak terkesan melawan orang tua," saran Vina. Radit terlihat berpikir. Kemudian mengangguk setuju atas saran istrinya. Lagipula Vina sudah mengetahui tentang masa lalunya. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Selama ini masa lalu itu tertutup rapat. Bahkan Andre dan Sean tidak mengetahui itu. Hanya kepada Tini dan Vina. Radit pernah bercerita. Itupun hanya sekilas tidak sedetail yang diceritakannya ke Vina. Itu sebabnya Radit tidak memberi alasan ketika papa Jack menanyakan alasan Radit menolak kerja sama itu.
Radit dan Vina akhirnya turun ke lantai satu. Orang tua mereka masing-masing masih berada di ruang tamu. Mereka berbicara dan bercanda sehingga suara mereka yang tertawa hingga terdengar ke lantai dua. Mereka seperti tidak terbebani dengan masalah perusahaan.
"Pa, aku ingin bicara. Bisa ke ruang kerja sekarang?" tanya Radit. Papa Jack mengangguk. Radit dan Vina mengikuti langkah papa Jack masuk ke ruang kerja itu. Setelah mereka duduk bertiga. Radit menceritakan yang menjadi alasannya menolak kerja sama dengan Handoko. Papa Jack pun terlihat tidak terlalu mempermasalahkan masa lalu itu. Papa Jack hanya menasehati Radit untuk lebih bijak untuk menghadapi kehidupan.
"Tapi tentang kerja sama itu. Sepertinya tidak bisa dibatalkan nak. Tapi jika kamu memilih mundur untuk sementara waktu. Papa akan mengambil alih perusahaan. Dari situasi keuangan yang papa pelajari. Perusahaan kita harus membutuhkan investasi secepatnya. Jika tidak bangkrut adalah akhirnya. Papa tidak ingin seperti itu. Demi para cucuku. Papa akan berjuang supaya ada kelak yang papa wariskan ke mereka. Hanya saja untuk sementara karena keuangan perusahaan kritis. Papa tidak bisa mengeluarkan uang untuk kebutuhan kalian," kata papa Jack sedih.
__ADS_1
Papa Jack terpaksa melakukan itu. Dari cerita Radit tadi. Handoko tidak mengetahui jika Radit adalah putranya. Dia juga menyadari jika rumah tangga putranya butuh uang yang banyak untuk membeli susu, membayar baby sitter, dan juga kebutuhan dasar lainnya.
"Aku akan mencari pekerjaan papa," jawab Radit sambil menunduk. Pikirannya bertambah kacau. Papa Jack hanya menatap kasihan putranya itu. Dia sudah memerintahkan orang kepercayaannya untuk menyelidiki beberapa orang yang dianggap bisa dipercaya di kantor itu. Papa Jack menemukan banyak kejanggalan setelah mendapat informasi dari orang kepercayaannya
Beberapa hari kemudian
Sudah tiga hari Radit tidak ke kantor. Dia berdiam di rumah sambil mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan lewat online. Tapi selama tiga hari satupun lamarannya tidak mendapat respon. Radit juga sudah menghubungi Andre bertanya lowongan kerja. Jawaban sahabatnya itu juga kurang memuaskan. Di universitas itu memang membutuhkan seorang dosen ekonomi. Tapi kualifikasi Radit tidak memenuhi. Dia hanya sarjana. Sedangkan untuk dosen dibutuhkan seorang magister.
Hingga teman teman yang lain bahkan sesama pengusaha muda yang sudah dihubungi Radit. Tidak seorang pun yang bisa membantu dirinya.
Hatinya semakin kacau. Uang pribadinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan ini. Radit berpikir keras. Jika dia tidak mendapat pekerjaan secepatnya maka kebutuhan keluarga kecilnya terancam. Bukan hanya itu ada beberapa pekerja di rumah yang harus dipikirkan. Radit frustasi sendiri. Dia sungguh tidak dapat membayangkan ketiga bayi menangis kelaparan.
Di depan Vina. Radit bersikap biasa. Tidak jarang jika sendiri. Radit menengadahkan tangannya untuk meminta pertolongan kepada yang Kuasa. Satu tahun ini benar benar tahun ujian kehidupan bagi dirinya. Setelah melewati ujian tentang cinta dan rumah tangga kini dia dihadapkan dengan ujian untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tapi Radit optimis. Radit percaya mereka bisa melewati ujian ini.
"Bun, tadi pagi aku bermimpi. Tapi aku tidak tahu arti mimpi itu," kata Radit ketika mereka selesai makan siang.
"Mimpi apa yah?"
"Aku mimpi menangkap ikan di sungai yang deras arusnya. Aku dapat banyak terus aku bawa ke rumah. Aku pindahkan di kolam ikan belakang. Semuanya hidup," kata Radit.
"Mimpi kamu bagus yah. Itu artinya ayah akan mendapat rejeki yang banyak di tengah tengah cobaan yang kita hadapi sekarang."
"Semoga bunda. Aku yakini arti dari mimpi yang bunda katakan itu," kata Radit. Entah mengapa dia juga sangat yakin itu arti dari mimpinya.
"Berusaha dan berdoa yah. Aku juga berencana untuk berjualan online yah."
"Jualan apa?"
"Rencana kue kue kering buatan sendiri," jawab Vina. Setelah mengetahui mendengar perkataan papa Jack tentang situasi perusahaan. Vina juga berpikir untuk mempunyai usaha kecil-kecilan. Vina terinspirasi dari Sinta yang pernah berjualan online dulu. Hanya saja saat ini dia tidak punya modal berjualan pakaian. Dan berjualan adalah cara cepat mendapatkan uang.
"Nanti kamu lelah Bun," kata Radit. Bukannya bertambah senang Vina membantunya mencari uang justru Radit merasa sedih mendengar Vina akan berjualan online. Radit merasa menjadi suami dan ayah yang buruk. Radit semakin termotivasi untuk mencari pekerjaan. Dia ingin Vina hanya fokus untuk menjadi ibu bagi ke tiga bayi kembar mereka dan menyelesaikan kuliahnya. Radit juga sadar, Vina ingin berjualan online hanya untuk membantu keuangan rumah tangga mereka.
"Tidak yah. Tenang saja," jawab Vina. Di beranjak dari duduknya dan membuka kulkas. Vina mengeluarkan buah nanas dan juga mengambil pisau. Vina menyodorkan sepotong nanas kepada Radit.
"Untuk apa itu bunda?" tanya Radit setelah melihat Vina memasukkan buah nanas itu ke dalam blender.
"Aku mau buat selai yah. Besok Tini dan kak Sean akan berkunjung kemari. Tini meminta aku untuk membuat nastar. Mungkin dia mengidam. Dan dia ingin makan nastar buatan aku."
Radit seketika bersorak gembira setelah mendengar nama Tini. Dia bahkan bertepuk tangan. Vina memicingkan matanya melihat kelakuan Radit.
"Semua masalah bisa teratasi yah. Jangan gila gitulah," kata Vina yang melihat Radit terlalu mengekpresikan suasana hatinya yang sangat senang.
__ADS_1
"Tidak akan gila bun. Hanya saja aku merasakan jika arti mimpiku itu akan segera menjadi kenyataan."
"Semoga saja."
"Dan aku rasa, Kedatangan Tini besok membawa kabar bahagia untuk itu," kata Radit semakin senang.
"Kak ayah bisa berpikiran ke arah situ?".
"Kamu lupa Bun?. Papanya Tini adalah pengusaha besar. Aku akan mencoba mengajukan proposal ke papanya Tini. Dengan bantuan Tini aku yakin. Kita bisa bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Tini," kata Radit semangat. Dalam keadaan masa sulit seperti ini. Sulit untuk mencari orang yang masih percaya untuk berinvestasi di perusahaannya. Mungkin lewat Tini, pak Indra bisa diyakinkan untuk berinvestasi di perusahaan Radit.
"Apa papa setuju jika hal itu terjadi yah?" tanya Vina. Radit mengangguk. Karena kabar terbaru yang didengarnya dari papa Jack. Handoko masih mempelajari tentang kerja sama mereka. Belum ada kesepakatan. Papa Jack juga menyarankan Radit untuk mencari relasi atau siapapun yang bisa bekerja sama.
Sama seperti Radit, Vina ikut ikutan berharap banyak kepada pak Indra papanya Tini. Tini memang selama ini menyembunyikan identitas keluarga mereka. Jika saja Sean tidak berjodoh dengan Tini. Mungkin saja sampai tamat kuliah. Vina dan yang lain tidak mengetahui bahwa Tini putri dari seorang pengusaha.
"Aku butuh doamu Istriku," bisik Radit tepat di telinga Vina. Tangannya memeluk Vina dari belakang. Vina yang menghadap ke kompor yang memasak selai nanas itu menggeliat. Bisikan Radit membuat tubuhnya merinding karena geli.
"Segalanya yang terbaik untuk kamu yah dan rumah tangga kita," jawab Vina sambil membalikkan balikan selai nanas itu. Radit semakin menciumi tengkuk Vina dari belakang.
"Yah, jangan seperti ini. Kalau ada orang yang melihat bagaimana?" kata Vina sambil menahan kepala Radit yang masih bergerak untuk mencium leher belakangnya.
"Selesaikan masak selainya Bun," kata Radit dan masih melakukan hal yang sama. Vina menurut. Dia akhirnya membiarkan Radit melakukan apa saja di tubuhnya. Radit bahkan menempelkan tubuhnya ke tubuh Vina. Dia tidak takut ada yang melihat. Vina saja yang lupa. Lupa jika ketiga bayinya dan kedua baby sitter berkunjung ke rumah papa Jack atas permintaan mama Anisa. Bahkan mama Anisa menjemput ketiga bayi itu karena Vina tidak bisa ikut ke sana. Sedangkan si bibi sudah pulang sebelum Vina pulang dari kuliah. Satpam yang bertugas di pos depan tidak akan berani masuk ke rumah kalau tidak dipanggil.
"Sudah matang?" tanya Radit setelah Vina mematikan kompor. Vina mengangguk. Secepat kilat Radit membawa Vina kedalam gendongannya.
"Yah. Turunin. Aku bisa jalan sendiri," kata Vina. Setelah beberapa hari tinggal di rumah ini. Kebiasaan Radit bertambah menggendong Vina. Radit tidak risih jika para pekerja melihat ulahnya itu. Tidak jarang jika Vina hendak menaiki tangga. Radit akan menggendong istrinya itu menuju lantai dua.
"Kita kemana nih?" tanya Vina ketika Radit membelok bukan ke arah tangga. Radit tidak menjawab. Tapi setelah membuka pintu ke arah belakang. Vina mengetahui tujuan Radit.
"Kita pacaran sekarang bunda. Mumpung anak anak di rumah kakek neneknya," kata Radit setelah menurunkan Vina di tepi kolam renang. Vina seketika ingat jika anak anaknya tidak di rumah. Vina tersenyum. Dia suka hal seperti ini. Radit membuatnya seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Radit membulatkan matanya. Vina sudah membuka pakaiannya hendak berenang. Dia hanya menyisakan onderdil bagian dalam di tubuhnya. Radit semakin gemas ketika Vina menggerakkan rambutnya seperti yang sering dilakukan oleh model shampoo di televisi.
"Bunda. Kalau seperti ini yang ada pacarannya belakangan," kata Radit sambil melakukan hal yang sama yaitu membuka pakaiannya dan menyisakan onderdil bagian dalamnya. Radit terkejut. Belum selesai dia melepaskan celana itu dari kaki. Vina sudah melompat ke dalam air. Cipratan air itu hampir membasahi seluruh tubuhnya. Tidak ingin menunggu lama. Radit juga melompat ke dalam air dan mengejar Vina yang berusaha menjauh darinya.
"Aku akan mengejar kamu Bun," kata Radit sambil terkekeh. Dia naik ke atas dan berlarian dia tepi kolam renang itu. Radit melompat ke air dan menangkap Vina. Vina tertawa terbahak-bahak. Tidak ingin menunggu lama. Radit langsung membungkam mulut itu. Vina menyambutnya dengan senang hati. Mereka berciuman panas di dalam air itu.
"Aku ingin lebih dari ini Bun," kata Radit lagi. Vina mengangguk. Vina menyelam tepat di depan Radit. Di dalam air itu Vina melepaskan segitiga pengaman milik Radit dan memegang batang itu.
"Wow. Ada lumba lumba," kata Radit bercanda. Vina sudah menyembul dari dalam air. Radit sangat senang dengan aksinya istrinya itu. Vina tertawa lagi. Radit melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Vina. Dia juga membuka penutup terakhir milik Vina dan membelai area terlarang itu.
"Wow. Ada Ikan paus," kata Vina membalas perkataan Radit. Sepasang suami istri itu tertawa terbahak-bahak. Radit menarik tangan Mita dan kembali berciuman panas. Tangan mereka saling membelai bagian inti tubuh lawan.
__ADS_1