Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Keras Kepala


__ADS_3

"Sudah lama menunggu yah," tanya Vina setelah mendaratkan dirinya di mobil sang suami. Radit menyambut Vina mengelus rambut Vina dengan lembut. Vina memasang sabuk pengaman.


"Baru beberapa menit Bun," jawab Radit sambil membelokkan mobilnya menuju gerbang kampus.


"Aku dapat nilai 70 yah," kata Vina bangga. Radit terkekeh. Cara Vina memberitahukan nilai seperti seorang anak yang memberitahu ke papanya.


"Bagus. Minta hadiah apa dari ayah?" tanya Radit. Perkataan Radit memperlakukan Vina seperti putrinya.


"Aku bukan anak kecil yah. Yang dapat nilai seperti ini minta atau harus dikasih hadiah," jawab Vina cemberut. Radit kembali terkekeh.


"Caramu itu loh Bun. Aku membayangkan jika Kalina atau Karina yang mengucapkan seperti itu."


"Emang cara aku bagaimana?"


"Menggemaskan bunda."


"Ada ada saja. Tapi makasih juga untuk ayah yang bersedia mengajari aku di rumah mata kuliah ini. Ternyata memang benar benar susah," kata Vina. Dia menceritakan hasil ujian tadi. Termasuk nilai rendah milik Sinta. Radit juga tertawa mendengar Sinta mendapat nilai jelek. Tapi dalam hati Radit memuji sikap profesional Andre.


"Kita singgah di apotik sebentar," kata Radit sambil menghentikan mobilnya di parkiran sebuah apotik.


"Beli apa yah."


"Sesuatu. Aku hanya sebentar. Bunda tunggu disini saja," jawab Radit. Dia sudah membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Simpan di tasmu bunda. Jangan sampai dilihat orang terutama papa dan mama," kata Radit setelah kembali duduk dibelakang kemudi. Dia meletakkan kantong plastik putih di pangkuan Vina. Vina membuka kantong plastik itu dan mengeluarkan isinya.


"Itu alat tempur pendukung Bun," kata Radit sambil terkekeh. Vina masih mengamati kotak itu dengan seksama.


"Untuk apa ini yah?" tanya Vina polos. Ini pertama kalinya dia memegang benda seperti itu.


"Simpan saja bunda. Nanti malam aku tunjukkan bagaimana benda itu berfungsi," jawab Radit sambil tersenyum simpul. Radit semakin melebarkan senyumnya ketika Vina menurut memasukkan kotak itu ke dalam tasnya.


Begitu sampai di depan rumah. Vina dan Radit langsung masuk ke rumah dan melihat si kembar.


"Elvano dan Karina mana ma?" tanya Vina. Yang ada di rumah hanya mama Rita dan Kalina. Sedangkan dua baby sitter dan kedua putra putrinya tidak ada di kamar dan juga di ruang tamu.


"Sudah duluan berangkat dengan papamu. Kita berangkat sekarang. Pakaian dan perlengkapan si kembar sudah beres diurus papamu," kata mama Rita.


"Papa sudah berangkat ke sana?" tanya Radit terkejut. Dia tidak menyangka sebelumnya jika kedua mertuanya akan ikut mengantar kepindahan mereka.


"Ya. Jack dan Anisa yang minta supaya papa Hendrik secepatnya mengantar anak anak ke sana," jawab mama Rita. Radit mengusap wajahnya kasar. Dia tidak ingin papa Hendrik bertemu dengan papa kandungnya sendiri. Radit takut, papa Hendrik akan menceritakan masalah perusahaan.


"Sudah lama papa berangkat ma?"


"Satu jam yang lalu," jawab mama Rita.


"Ayo. Kita berangkat sekarang," ajak Radit sambil berlari ke luar rumah. Mama Rita yang sebelumnya sudah bersiap akhirnya mengikuti langkah Radit dengan membawa perlengkapan bayi Sedangkan Vina menggendong Kalina.


"Kenapa terburu buru yah," tanya Vina sebelum masuk ke dalam mobil.


"Aku takut, papa Hendrik bercerita tentang perusahaan bun."


"Bukankah itu lebih bagus. Mana tahu ada solusi dari papa Jack."

__ADS_1


Radit tidak menanggapi apa yang dikatakan Vina. Dia fokus menatap jalan dan memegang setir. Keinginannya hanya satu saat ini. Cepat tiba di rumah jalan kenangan sebelum papa Hendrik bercerita.


"Maaf Bun, aku duluan masuk," kata Radit setelah membantu Vina turun dari dalam mobil. Dia mengambil perlengkapan bayi dari tangan mama Rita. Radit berlari masuk ke dalam rumah.


Radit melihat papanya sedang memangku Elvano dan mamanya memangku Karina. Radit menghampiri kedua orangtuanya dan bersalaman. Dari kedua wajah orang tua itu terlihat bahagia. Kedua orang tua Radit memang jarang berkunjung untuk melihat cucu kembar mereka. Kondisi mama Anisa yang sering sakit tidak memungkinkan kedua orang tua Radit untuk sering berkunjung. Enam bulan umur si kembar hanya sekitar tiga kali Jack dan Anisa mengunjungi kediaman Hendrik.


"Vina, duduk sini sayang," panggil Anisa. Vina dan mama Rita semakin dekat ke sofa. Mama Anisa menggeser duduknya supaya Vina bisa duduk di sampingnya. Mama Anisa meminta Kalina untuk bergantian dipangku sedangkan Karina sudah berpindah tangan ke Radit.


"Terimakasih ma," jawab Vina. Radit yang sudah duduk di ruang tamu itu merasa sangat bangga memiliki istri seperti Vina. Apalagi setelah beberapa kali melihat mama Anisa dan Vina setiap bertemu pasti duduk bersama dan pembicaraan mereka nyambung. Mama Anis dan mama Rita terdengar saling bertanya kabar.


"Vin, anak mama jinak kan sama kamu," tanya mama Anisa sambil tersenyum. Radit melotot.


"Jinak ma. Bukan hanya jinak. Radit anak mama juga sudah kembali ke jalan yang benar," jawab Vina sambil menahan senyum. Radit juga sudah menatap Vina gemas. Bibirnya tersenyum mendengar perkataan istrinya. Jack dan Hendrik, juga mama Rita dan mama Anisa tertawa bersamaan.


"Syukurlah kalau begitu nak. Kalau dia macam macam. Mama pecat dia jadi anak mama."


"Tidak akan ma. Seperti kata Vina. Aku sudah kembali ke jalan yang benar," jawab Radit.


"Kembali ke jalan yang benar itu termasuk menyangkut tanggung jawab Radit. Aku dengar perusahaan lagi goyah. Kenapa?" tanya Jack tiba tiba. Radit yang awalnya terlihat santai kini sudah mulai gugup.


"Kemarin memang goyah pa. Tapi akhir akhir sudah mulai stabil."


"Stabil bagaimana. Kalau laporan laba ruginya seperti ini," kata Jack sambil mengangkat map yang ada di depannya dan memberikan kepada Radit.


"Darimana papa dapat ini?" tanya Radit heran dan terkejut. Dia sudah memperingatkan para staf kantor untuk tidak membocorkan masalah ini kepada papanya. Selain Radit tidak ingin papanya kecewa. Radit juga tidak ingin membebani pikiran Jack yang sudah pensiun dari perusahaan. Bagi Radit. Di masa tua papanya seperti saat sekarang ini. Papanya seharusnya mendengar keberhasilannya bukan kebangkrutan. Tapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Perusahaan tergoncang di saat dirinya berjuang mendapatkan cinta sang istri. Beruntung dia memiliki istri seperti Vina yang tulus dan tidak matre. Jika dirinya memperistri Donna atau wanita lainnya. Mungkin saja. Radit sudah ditinggalkan dalam keadaan terpuruk.


Radit membuka map itu. Dia memeriksa angka angka yang ada di kertas tersebut. Angka angka itu memang yang terjadi di perusahaan milik Radit. Jika Jack bisa mengetahui laporan itu. Berarti bukan Hendrik yang melaporkan masalah perusahaan kepada sang papa.


"Kami ke ruang kerja dulu," pamit Radit. Vina dan yang lainnya hanya mengangguk.


"Jelaskan, bagaimana perusahaan kita bisa hampir bangkrut seperti ini," kata papa Jack tajam. Para karyawan yang bekerja di perusahaan adalah para tenaga terpilih, terampil dan berpengalaman. Papa Jack benar benar selektif untuk memperkerjakan para karyawan di perusahaannya. Dan sebelum Jack memutuskan untuk pensiun dari perusahaan. Papa Jack sudah mengangkat para karyawan tersebut menjadi karyawan tetap dengan kesejahteraan yang terjamin. Jack melakukan itu untuk mencegah para karyawan tersebut mengundurkan diri.


"Panjang ceritanya papa."


"Ceritakan," suruh papa Jack tegas.


"Ini berawal dari perusahaan pertambangan yang di luar kota itu pa. Mereka bermain curang. Pertama dengan harga ganti rugi yang berubah ubah. Kemudian kepala suku menginginkan aku menikah dengan putrinya. Itu berawal dari sana pa. Dan berimbas ke perusahaan inti pa."


"Aku akan menghubungi rekan papa untuk berinvestasi di perusahaan kita Radit. Aku harap kamu bisa bekerja sungguh sungguh jika beliau bersedia berinvestasi di perusahaan kita."


"Siapa rekan papa itu."


"Handoko. Dia pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Perusahaan kita tidak ada apa apanya dibandingkan perusahaan beliau."


Radit terkejut mendengar nama Handoko yang disebutkan oleh papanya. Sebagai pengusaha, dia mengenal sosok itu. Handoko adalah pengusaha sukses yang sangat disegani di negeri ini. Sumbangsih terhadap perekonomian negara membuat Handoko sangat disegani di kalangan pengusaha bahkan di jajaran pejabat di negeri ini.


"Aku tidak ingin bekerjasama dengannya perusahaan milik Handoko pa. Tentang investasi, aku juga sekarang sedang mencari. Lagi pula. Perusahaan sudah berangsur angsur membaik. Hanya butuh waktu untuk mengembalikan seperti sediakala," jawab Radit.


"Apa maksudmu Radit. Butuh waktu kamu bilang?. Sampai kapan?" Anak anak kamu butuh makan. Para karyawan yang dirumahkan juga butuh makan. Kalau hanya menunggu waktu, kamu tidak akan mendapat apa apa. Kamu harus gerak cepat Radit. Harus bisa memanfaatkan peluang dengan baik," kata papa Jack sudah mulai terpancing emosi.


"Aku tahu itu pa. Tapi percaya kepadaku. Aku pasti bisa mengatasi ini tanpa kerja sama dengan Handoko."


"Aku sudah mulai tidak percaya kepada kamu. Ini buktinya. Aku meninggalkannya perusahaan dengan keadaan yang sangat baik kepada kamu. Hanya beberapa tahun, kamu hampir membuat perusahaan bangkrut."

__ADS_1


Radit menunduk. Apa yang dikatakan papanya memang benar. Tapi dia juga sudah berusaha sungguh-sungguh untuk memimpin perusahaan yang diwariskan papanya. Radit menunduk. Dia tidak sanggup untuk melihat sorot mata milik papanya yang terlihat sangat kecewa.


"Maaf papa. Aku janji akan lebih sungguh-sungguh lagi untuk mengatasi masalah ini." kata Radit penuh penyesalan.


"Aku berikan kamu waktu dua bulan. Jika tidak. Perusahaan akan tinggal nama. Dan kamu tidak bisa menolak untuk bekerjasama dengan Handoko. Aku akan menghubungi sekarang juga."


"Jangan pa. Aku sudah katakan jika aku tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan Handoko. Titik," kata Radit dengan tegas. Jack yang semula ingin mengambil ponsel dari saku celananya kini menatap Radit penuh tanda tanya.


"Kenapa Radit. Berikan alasan yang tepat."


"Tidak ada alasan papa. Hanya saja aku tidak ingin bekerja sama dengannya," jawab Radit penuh penekanan.


"Bodoh. Jika kamu tidak ada alasan. Itu artinya kamu tidak ingin perusahaan bangkit kembali. Kamu kira jika perusahaan bangkrut. Kamu mau makan apa. Kamu tidak lihat ada tiga bayi yang harus kamu kasih makan."


Jack menatap tajam wajah putranya yang keras kepala menolak kerja sama itu. Dia merasa sangat yakin jika perusahaan ini akan bangkit kembali jika Kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan milik Handoko terjalin.


"Pembahasan sampai disini pa. Jangan ragu. Hanya menunggu waktu," kata Radit untuk meyakinkan papanya. Bukannya percaya kepada Radit. Papa Jack justru mengambil ponselnya dan menghubungi Handoko. Melihat itu Radit berdecak kesal. Papa Jack terlihat sangat senang mendengar lawan bicaranya.


"Handoko setuju. Besok mereka akan datang ke kantor kita. Aku harap kamu bersikap sopan dan menunjukkan wibawa kamu sebagai pemimpin. Walaupun itu pemimpin perusahaan yang hampir bangkrut," kata papa Jack semakin membuat Radit kesal.


"Kalau begitu. Papa saja yang menjalin kerjasama dengan perusahaan itu. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan besok," kata Radit. Jika papa Jack masih saja ngotot untuk memaksa dirinya untuk bekerjasama dengan Handoko. Maka lebih baik baginya keluar dari perusahaan.


"Kalau kamu mengundurkan diri dan pengangguran. Kamu kasih apa mereka makan. Mau cari kerja?. Kamu kira gampang mencari pekerjaan sekarang ini?" tanya papa Jack tajam.


"Belajar bertanggung jawab kamu Radit. Jangan karena keras kepala kamu ini. Istri dan anak anak kami tidak makan dan menderita."


Radit kembali terdiam. Dia tidak lagi membantah perkataan papanya. Radit keluar dari ruangan kerja itu. Di ruang tamu hanya ada mama Rita dan mama Anisa yang sedang berbicara santai. Radit melangkah ke kamar bayi kembarnya. Di kamar itu Vina dan bayi kembarnya sedang duduk di lantai beralaskan karpet. Melihat Vina dan ketiga bayi kembar yang berceloteh. Sungguh Radit ingin memberikan materi yang cukup untuk mereka.


"Bunda, aku mau bicara. Boleh?" tanya Radit.


"Kita ke kamar saja," kata Radit lagi yang melihat Vina hanya mengangguk tanpa berniat beranjak dari duduknya.


"Kamu beneran mau bicara kan. Bukan mau minta yang lain," tanya Vina. Radit mengangguk kepalanya lemah. Melihat wajah Radit yang lesu. Vina dipenuhi tanda tanya di otaknya. Vina keluar dari kamar setelah memanggil kedua baby sitter untuk menemani bayi bayi kembarnya.


"Bicara apa yah?" tanya Vina. Mereka kini sudah duduk di tepi ranjang di kamar mereka di lantai atas.


"Bun. Kalau aku keluar dari perusahaan dan mencari kerja. Menurut bunda bagaimana?.


Vina terkejut. Dia bergerak sebentar untuk menetralisir keterkejutannya.


"Kenapa yah. Ada masalah dengan papa?" tanya Vina lembut. Radit menarik nafas dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Jika itu yang terbaik menurut kamu. Aku ngikut saja yah. Hanya saja perlu kamu ingat. Biaya untuk kebutuhan kita sangat tinggi. Tiga bayi kembar dan juga uang kuliah aku. Jika ayah mencari pekerjaan. Kira kira ayah mau cari kerja dimana?" tanya Vina lagi. Mendengar suaminya ingin keluar dari perusahaan dan mencari kerja, Vina berkesimpulan jika ada perdebatan tadi di ruang kerja.


"Aku akan bertanya ke Andre lagi. Mana tahu ada lowongan di kampus kalian. Entah apapun itu. Cleaning service. Aku juga mau yang penting si kembar bisa minum susu."


"Yah. Cerita kepadaku. Apa yang membuat kamu mengambil keputusan ini," tanya Vina. Dia sebenarnya terjadi dengan perkataan Radit. Tapi dia juga curiga apa yang menyebabkan Radit bersikap seperti ini.


"Papa memaksa aku untuk bekerjasama dengan Handoko bun."


"Kenapa tidak mau yah?. Radit hanya terdiam.


"Apa karena masa lalu. Jika karena itu. Bolehkah aku tahu yah."

__ADS_1


__ADS_2