
Tidak ada yang bisa dilakukan Radit saat ini selain bersyukur mempunyai istri seperti Vina. Bertahan di sisinya di saat terpuruk dan memberikan dukungan dan juga kebahagiaan. Dalam hati, Radit mengakui. Jika kedua orangtuanya tidak salah memilih menantu yang tak lain istri untuk dirinya. Radit menciumi seluruh wajah Vina menyalurkan rasa cintanya semakin dalam. Dia tidak dapat membayangkan jika istrinya bukan Vina.
Vina tersenyum. Rasa bahagia yang dirasakan oleh Vina saat ini karena Vina berhasil membuang semua sakit hati yang pernah dirasakannya. Vina bahagia karena merasa dirinya bisa berguna untuk ketiga bayi kembar dengan berdamai dengan ayah mereka. Berdamai dengan takdir yang harus dijalani sampai batas waktu yang ditentukan oleh yang Kuasa.
Vina juga bahagia karena selalu mendengarkan nasehat orangtuanya dan para sahabatnya. Jika seandainya Vina hanya menuruti amarah di hatinya dia tidak akan ada di situasi saat ini. Radit yang membuat luka di hatinya dan Radit juga yang menyembuhkannya. Vina hanya berharap rumah tangganya bisa seperti rumah tangga sahabatnya Sinta. Saling mencintai dan saling menghargai. Vina tidak perduli dengan keadaan perusahaan Radit untuk membalas cinta suaminya. Vina justru ingin menjalani rumah tangga mereka dari nol. Dan inilah saatnya. Radit ada titik nol saat ini. Vina berharap dalam hati. Setelah ini Radit bisa perlahan lahan semakin menjadi manusia yang lebih baik lagi. Baik sebagai suami dan ayah bagi dirinya dan ketiga bayi kembar mereka. Dan juga sebagai pemimpin perusahaan yang dikelola oleh Radit.
Vina tertawa kegelian. Brewok dan kumis Radit yang mulai tumbuh membuat sensasi geli di wajahnya. Mereka tertawa bersama dengan Vina yang berusaha mendorong tubuh Radit menjauh dari tubuhnya. Radit terus menggesekkan wajahnya ke wajah Vina. Hari ini mereka sudah seperti suami istri pada umumnya. Wajah Radit kini terlihat lebih cerah.
"Yah. Geli," kata Vina sambil menjauhkan wajah Radit dari wajahnya. Radit juga menurut. Dia kini memandangi wajah Vina yang juga memandang wajahnya. Mereka tidur miring saling berhadapan.
"Bunda, Terima kasih," kata Radit tulus.
"Terima kasih untuk apa?. Untuk tubuh ini?" tanya Vina sambil menunjuk tubuhnya sendiri.
"Untuk semuanya. Munafik jika aku juga tidak berterima kasih atas kewajiban kamu hari ini Bun. Tapi itu adalah urutan entah ke berapa. Aku mengucapkan terimakasih atas cinta, pengorbanan dan dukungan kamu," jawab Radit jujur. Vina tertawa.
"Kenapa tertawa Bun?"
"Aku tertawa karena ada sesuatu," jawab Vina sambil menutup wajahnya. Radit berusaha melepaskan tangan Vina dari wajahnya sendiri.
"Ayo jujur, karena apa?" tanya Radit. Vina menggelengkan kepalanya. Radit semakin penasaran. Vina malu untuk mengatakan yang sesungguhnya. Bibir bawah Radit yang lebih tebal sedikit dibandingkan bibir atasnya membuat Vina tertawa. Bibir milik Radit memang terlalu cantik untuk dimiliki oleh pria.
"Aku mandi dulu yah. Kita harus segera pulang."
Vina melangkah ke kamar mandi, Radit masih tidur terlentang di ranjang itu menikmati kebahagiaannya. Melihat Vina selama ini berusaha memperbaiki hubungan mereka, Radit tidak menyangka Vina secepat ini bisa menerima cinta Radit. Radit lagi lagi tersenyum. Pernyataan cinta dan Vitamin yang diberikan oleh Vina sanggup membuat Radit melupakan masalah rumit perusahaan yang dikelolanya.
__ADS_1
Hanya beberapa saat. Kini Radit kembali berpikir keras untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya. Suntikan dana yang besar membuat Radit memutar otak untuk mencari dana dari perorangan karena pinjaman dari pihak perbankan sudah tidak bisa diharapkan.
Seketika hatinya berdenyut nyeri. Radit takut jika dirinya tidak berhasil mengatasi masalah perusahaannya. Dia tidak ingin keluarga kecilnya kekurangan. Apalagi Vina yang selama menjadi istrinya belum juga menikmati jerih payahnya.
Radit frustasi, dia mengacak rambutnya. Sebagai pria matang yang dibesarkan dari keluarga harmonis dan selalu hidup berkecukupan. Membuat Radit merasa menjadi pria bodoh dan tidak berguna. Radit memukul kepalanya sendiri, berharap dengan pukulan itu, Ide ide brilian muncul di kepalanya. Tetapi sampai Vina keluar dari kamar mandi. Radit juga belum menemukan ide untuk mengatasi masalah perusahaannya. Tidak ingin Vina mengetahui kekhawatiran dan ketakutannya. Radit masuk ke kamar mandi setelah terlebih dahulu tersenyum manis ke Vina.
Vina tentu saja, bisa menangkap apa yang dipikirkan oleh suaminya. Dia juga berusaha berpikir keras untuk bisa membantu Radit. Hingga mereka tiba di rumah Hendrik. Vina dan Radit saling berpikir keras untuk mencari ide akan masalah yang dihadapi oleh perusahaan Radit. Cinta membuat mereka untuk saling perduli. Radit tidak ingin Vina hidup dengannya keadaan berkekurangan dan Vina juga tidak ingin Radit terus dalam masalah tersebut.
"Yah, duduk sini dulu. Papa sudah di rumah. Aku panggilkan sebentar," kata Vina. Sepanjang perjalanan tadi, Vina ingin papanya memberikan masukan atas permasalahan yang dihadapi oleh Radit. Papa Hendrik memang seorang karyawan biasa yang sudah lama berpengalaman di perusahaan tempatnya bekerja.
"Ada apa?" tanya Hendrik setelah duduk di ruang tamu. Radit masih menunduk. Radit malu untuk menceritakan masalahnya. Mengingat dirinya pernah menyombongkan diri di hadapan papa mertuanya. Membuat Radit enggan mengangkat kepalanya.
"Cerita saja ayah. Mana tahu papa bisa bantu," kata Vina. Vina memegang tangan Radit untuk menyakinkan pria itu untuk bercerita.
Radit akhirnya membuka mulut untuk bercerita. Mulai dari usaha pertambangan yang harus berhenti beroperasi karena kelicikan Lia. Dan berimbas ke perusahaan inti yang sedang bermasalah saat ini. Hendrik mendengar cerita Radit dengan serius dan memberikan beberapa masukan yang dianggapnya bisa menjadi solusi atas masalah tersebut.
"Ambillah. Jika kamu sudah berhasil kamu harus mengembalikan uang itu beserta bunganya 10 persen," kata Radit sambil meletakkan ATM itu ke telapak tangan Radit.
"Sejak kapan papa jadi rentenir?" tanya Vina tidak terima dengan apa yang dikatakan papanya.
"Radit tidak akan menerima uang itu jika diberikan cuma cuma. Tapi kalau dikasih mengutang disertai bunga. Aku yakin dia pasti menerima. Aku kasih waktu kamu dua tahun untuk mengembalikan uang tersebut," kata Hendrik. Radit akhirnya menggenggam ATM tersebut. Karena sedari tadi juga dia berpikir tidak tahu entah ke siapa mau meminjam uang. Radit berjanji akan mengembalikan uang itu tepat waktu bagaimanapun caranya.
"Terima kasih pa," kata Radit tulus. Entah bagaimana dia bisa membalas semua kebaikan Hendrik. Orang orang yang pernah disakiti olehnya. Justru mereka yang memberi dukungan kepada Radit. Hendrik hanya tersenyum. Hendrik berpikir. Untuk apa dia menyimpan uang sebanyak itu jika Radit bisa mempergunakan uang itu untuk menyelamatkan perusahaannya. Hendrik bisa melihat selama beberapa bulan ini. Bagaimana Radit menyayangi Vina dan ketiga cucunya. Itulah yang membuat Hendrik tidak ragu untuk memberikan uang itu ke Radit.
Radit tidak bisa lagi berkata apa apa atas kebahagiaan yang diterimanya satu hari ini.
__ADS_1
"Tetap jaga kesehatan Radit," kata Hendrik.
"Ya pa. Terimakasih,"
"Papa sudah makan?" tanya Vina. Dirinya dan Radit belum makan siang. Vina sudah merasa sangat lapar.
"Sudah donk. Sudah jam dua. Ya pasti sudah makan siang,"
"Yah. Kita makan siang dulu," ajak Vina sambil menarik tangan Radit. Hendrik tersenyum melihat interaksi putri dan menantunya. Radit dan Vina menuju meja makan. Vina tidak hanya melayani Radit hari ini di ranjang, di meja makan juga Vina melayani suaminya itu. Radit merasakan hatinya menghangat mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Masih mau ke kantor hari ini?" tanya Hendrik yang baru saja muncul di meja makan tersebut.
"Tidak pa. Mau makan vitamin dulu," jawab Radit. Vina yang baru memasukkan makanan ke mulutnya tiba tiba tersedak. Mendengar vitamin, pikirannya tertuju ke adegan ranjang dan dia sendiri yang menyebutkan istilah itu.
"Pelan pelan makannya Vin," kata Hendrik yang sudah berdiri di belakang Vina dan menepuk punggung putrinya. Setelah Vina agak tenang, Hendrik masuk ke kamarnya.
Radit tersenyum melihat Vina yang melotot kepadanya. Radit tahu bahwa Hendrik tidak tahu apa maksud dari vitamin yang dikatakan oleh Radit.
"Aku lihat bayi bayi kita masih tidur. Kita manfaatkan waktu semaksimal mungkin. Karena nanti malam tidak mungkin," bisik Radit mesum.
"Tapi di rumah ramai ayah,"
"Semua sibuk, mereka tidak mengetahui kita enak enak di kamar," bisik Radit lagi.
"Baiklah. Cepat habiskan makanan kamu," aku duluan ke kamar menyiapkan vitamin untuk kamu," jawab Vina tersenyum manis dan tak lupa membelai pipi Radit. Radit makin senang dan bersemangat. Dia membayangkan Vina memakai pakaian kurang bahan untuk menyambutnya.
__ADS_1
Makanan itu sudah habis. Dengan tersenyum dan memastikan penghuni rumah yang lain berada di kamar masing masing dan memperingatkan baby sitter untuk tidak membawa si kembar ke kamar Vina. Radit akhirnya masuk ke kamar.
Radit berdiri di depan pintu kamar dan menutupnya pelan. Radit seketika tertawa terbahak-bahak. Vina menyiapkan vitamin yang sesungguhnya kepada Radit. Segelas air putih dan suplemen vitamin. Suplemen vitamin yang dibeli Vina sebelum mengetahui permasalahan perusahaan Radit. Melihat Radit yang tertawa, Vina juga tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Suami istri itu sama sama tertawa bahagia hingga akhirnya Radit menerima air putih dan suplemen vitamin itu.