
Radit dan Vina mendengar perkataan Tini dengan jelas walau diucapkan sangat pelan. Dari perkataan itu, mereka menilai bahwa Intan tidak tahu membalas kebaikan yang diberikan keluarga Tini. Mereka tidak mengomentari perkataan itu. Karena situasi mereka tidak memungkinkan untuk bercerita tentang Intan. Sedangkan Sean, pria itu sibuk mengelus lengan istrinya yang sudah terlihat sangat marah.
Tini merapatkan giginya. Wajahnya sudah seperti tomat masak. Tangannya berkali kali terangkat untuk melampiaskan kemarahannya dengan memukul meja. Tapi Sean selalu menangkap tangan itu. Sedangkan suara menjijikkan milik Intan dari arah kamar masih terus terdengar sayup sayup di telinga dua pasang suami istri itu. Vina sebenarnya malu mendengar suara itu. Vina ingin menutup telinganya. Tapi sayang, Vina tidak membawa headset.
Hingga beberapa menit kemudian, suara aneh itu berhenti setelah terdengar suara lenguhan panjang. Tini semakin menundukkan kepalanya. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman di ranjang. Tini mengetahui jika suara itu adalah suara papanya yang baru saja melepaskan oli panasnya. Tini merasa sangat malu mendengar lenguhan itu apalagi ada suaminya juga Vina dan Radit yang juga ikut mendengarkan.
"Tini meraba ponselnya dari dalam tas. Dia mencari kontak seseorang di sana. Tapi percakapan dari kamar itu menghentikan tangannya untuk melakukan panggilan.
Sementara di kamar, Intan dan Handoko masih berpelukan setelah mereka merasakan kenikmatannya bersama. Mereka tidur terlentang tanpa penutup di bagian tubuh mereka masing masing. Intan tersenyum puas. Intan berusaha membangkitkan kembali burung perkutut yang masih terlihat besar tapi sudah agak lembek. Intan berencana memberikan pelayanan ekstra kepada Handoko.
"Om, aku mau dinikahi resmi. Aku tidak mau kita seperti ini terus. Aku semakin tua, dan aku juga ingin mempunyai keturunan," kata Intan sambil memainkan tangannya di burung perkutut itu.
"Jangan meminta berlebihan Meri, Aku sudah memberikan semua yang kamu mau. Kalau tentang pernikahan. Sampai kapanpun aku tidak bisa menikahi kamu. Kamu boleh meminta yang lain selain pernikahan," jawab Handoko sambil memejamkan matanya. Remasan tangan Intan di bagian itu terasa nikmat.
"Aku hanya ingin pernikahan om. Aku sudah memiliki semuanya. Rumah mewah, mobil. Aku hanya ingin memiliki anak dan keluarga. Apa itu salah?" kata Intan lagi. Dia sudah duduk untuk memainkan burung perkutut dan biji salak yang saling berdekatan itu. Intan tersenyum. Dia mengetahui kelemahan Handoko. Sebentar lagi, Handoko pasti akan menyerangnya kembali. Handoko mempunyai stamina yang bagus untuk hal hal seperti ini. Apalagi mereka melakukan tidak sering.
"Salah. Kalau kamu meminta dinikahi oleh pria beristri. Jadi berhenti merengek meminta dinikahi," jawab Handoko.
"Tega kamu om. Lebih sepuluh tahun aku menjadi simpanan kamu. Aku sudah berubah menjadi wanita setia. Tapi om masih saja tidak bersedia menikahi aku," kata Intan kesal. Dia sudah melepaskan tangannya dari burung perkutut itu. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk menjadi simpanan. Hampir setiap malam, Intan menghitung lamanya seorang Intan menjadi simpanan Handoko. Andaikan usia pernikahan sepuluh tahun sudah dipastikan jika anak mereka sudah duduk di bangku sekolah dasar saat ini. Tapi sampai saat ini. Intan masih saja berstatus simpanan.
"Kalau kamu ingin mempunyai anak. Kamu boleh menikah dengan pria lain."
"Tapi aku hanya mau bersama kamu om. Aku hanya ingin mengandung anakmu."
"Sudah berkali kali aku katakan. Aku tidak bisa Meri," kata Handoko sudah mulai marah. Handoko duduk dan menatap tajam Intan. Dari awal hubungan dia tidak menginginkan seorang anak dari hubungan ini.
"Kalau om tidak bersedia menikahi aku. Aku akan menceritakan ini semua ke Tante Mia," ancam Intan membuat Handoko semakin menatap tajam sang wanita simpanan.
Pembicaraan dari kamar itu berhenti. Dua pasang suami istri yang duduk di ruang tamu itu mendengar dengan jelas pembicaraan itu. Tini menyuruh yang lainnya untuk tetap diam. Dia ingin mendengar pembicaraan selanjutnya. Sementara Radit, dia merasa bingung. Jelas, dia masih mengingat jika Handoko menyebut Intan sebagai istrinya. Tapi hari ini, Radit mendengar Intan meminta untuk dinikahi oleh Handoko.
"Dasar wanita murahan kamu Meri. Berani kamu mengancam aku?. Aku tidak pernah menginginkan tubuhmu. Tapi kamu yang menjebak aku. Jika boleh berkata jujur. Hari ini juga. Aku ingin melupakan kamu," kata Handoko marah.
"Itu tidak akan terjadi pak tua. Jika ingin reputasimu hancur. Silahkan. Video panas kita akan secepatnya tersebar. Ingat, kamu punya anak gadis. Jangan sampai dia frustasi karena melihat video panas papanya. Dia pasti akan hancur. Pikirkan anak gadismu. Aku sangat yakin. Dibalik sifat tomboinya itu. Tini adalah gadis lemah dan cengeng."
Tini menarik nafas panjang setelah mendengar lanjutan pembicaraan papanya dan Intan. Dia sudah mengetahui informasi sedikit tentang perselisihan papanya yang dijebak oleh wanita ular seperti Intan. Tini kembali mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Keluar dari kamar pa. Aku ada di ruang tamu di rumah Intan sekarang. Berpakaian lah yang rapi sebab aku tidak sendiri. Jika boleh mandilah terlebih dahulu," kata Tini tenang setelah panggilan tersambung. Tini tidak ingin melihat papanya keluar dengan hanya menggunakan boxxer atau masih bermandikan keringat karena kegiatan panas itu. Tini masih ingin melihat papanya seperti papa yang selalu terlihat rapi seperti di rumah.
Di kamar, Handoko sudah panik. Handoko bingung. Dia menutup mulutnya tidak percaya jika putrinya ada di rumah selingkuhan. Seperti kata putrinya. Handoko masuk ke kamar mandi setelah memunguti pakaiannya. Sedangkan Intan tersenyum puas. Dia jelas mendengar suara yang menelepon dari ruang tamu. Intan membayangkan. Jika perselingkuhan ini akan sampai ke telinga mamanya Tini dan pasti akan menuntut cerai.
Sudah berkali kali Intan ingin menunjukkan secara sengaja hubungannya dengan Handoko kepada mama Mia. Berkunjung ke rumah Handoko bahkan menginap di sana. Tapi mama Mia selalu bersikap tidak mau tahu dan Handoko selalu menempel kepada istrinya. Dan hari ini, ada Tini di rumahnya. Intan merasa jika ini adalah keberuntungan dan awal yang baik untuk hubungan dengan Handoko. Dia merasa sangat yakin jika Handoko tidak akan berkutik. Video video panas mereka ketika pertama kali bercinta masih tersimpan dengan baik. Dengan rekaman itu. Intan akan memenangkan Handoko dari mama Mia seperti yang dia lakukan selama ini untuk mengikat Handoko sebagai pria yang menyimpannya.
Tidak seperti Handoko yang membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Intan mengenakan pakaiannya kembali. Dia sengaja memakai pakaian yang kurang bahan. Tujuannya untuk memamerkan hasil karya Handoko yang ada di tubuhnya. Tanpa menunggu Handoko keluar dari kamar mandi. Intan membuka pintu kamarnya.
Dua pasang suami istri itu kompak menoleh ke arah pintu kamar yang berderit. Tini tidak menampakkan wajah marah lagi. Dia terlihat lebih tenang. Bahkan ketika melihat Intan yang sudah berdiri di depan pintu. Tini memamerkan senyum manisnya.
"Meri Intan. Silahkan duduk," kata Tini. Intan terlihat terkejut melihat dua pasang suami istri itu. Apalagi ada Radit juga. Sang mantan yang pernah diludahinya. Sang mantan yang membuat dirinya berkali kali mendapat tamparan dari Handoko karena langsung memberitahukan hubungan mereka. Intan menatap Radit penuh kebencian. Tidak ingin terlihat lemah di hadapan putri dari selingkuhannya dan juga mantan pacar. Intan dengan percaya diri melangkah mendekat dan duduk di sofa itu.
"Satu tahun yang lalu. Aku pulang ke kampung nenekku. Rumah kayu yang hampir roboh di samping rumah nenekku. Aku lihat sudah menjadi rumah beton. Aku tidak menyangka. Jika rumah itu berubah menjadi rumah beton hasil dari menjual tubuhmu ke papaku," kata Tini masih tentang. Intan hanya tersenyum manis. Bahkan Intan duduk bersandar dengan kaki kiri menimpa kaki kanannya. Dari cara duduknya, Intan seakan memberi tahu jika dirinya adalah Nyonya rumah.
"Wanita yang ditolong mamaku. Dibawa ke rumah. Dan didaftarkan untuk kuliah. Ternyata justru menjadi selingkuhan papaku. Dan hari ini. Dia mengancam papaku. Minta dinikahi setelah sepuluh tahun menjadi simpanan. Sampai kapanpun kamu tidak akan merasakan yang namanya pernikahan. Karena kamu itu tidak tahu membalas kebaikan. Kamu seorang wanita, tapi kamu berusaha menghancurkan hati seorang wanita," kata Tini. Nada bicaranya yang awalnya tenang kini berubah menjadi menjadi marah. Dia menunjuk nunjuk wajah Intan yang terlihat tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Jangan terbawa emosi. Ini yang diinginkannya. Harusnya dia takut atau malu. Tapi lihat. Dia seakan bangga dengan perbuatannya. Kita selesaikan dengan kepala dingin. Dan ingat ada janin kandungan kamu," bisik Sean. Tini memikirkan kata kata suaminya. Tini akhirnya mengangguk.
Intan benar benar wanita yang tidak tahu malu. Dia bahkan mengikat rambutnya di depan dua pasang suami istri itu. Radit sampai ingin muntah melihat kelakuan sang mantan. Apalagi banyak kissmark di leher itu.
"Tini, adik yang manis. Kenapa harus marah. Kita harus akur. Cepat atau lambat. Aku akan menjadi ibu tiri kamu," kata Intan tenang. Tini memandangnya tajam. Dia mengambil vas bunga yang ada di atas meja itu dan hendak melemparkan ke wajah Intan. Tapi Sean kembali menahan tangan Tini.
Radit dan Vina juga merasa geram mendengar perkataan Intan yang sama sekali tidak malu akan perbuatan kotornya. Tapi Radit merasa ini bukan urusannya. Sehingga Radit memilih diam. Lagipula, Radit tidak ingin berurusan lagi dengan Intan. Jika bukan karena Tini, dia juga tidak sudi melihat wajah mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang membuat dirinya terperosok ke dalam jurang yang dalam. Hampir dia tidak bisa keluar dari jurang itu. Kalau karena tidak dijodohkan dengan Vina. Entah apa jadinya hidup Radit saat ini. Bahkan Vina juga ikut merasakan dendam seorang Radit yang salah sasaran.
"Kamu tidak layak jadi ibu tiri siapapun. Apalagi ibu tiri dari seorang Anggun. Jangan dipanggil aku Tini, jika kamu berhasil jadi ibu tiri aku. Kamu layaknya menjadi sampah. Tempat para wanita terhormat membuangnya ludahnya. Ingat itu," kata Tini tenang. Sang pawang, Sean suaminya berhasil mengendalikan amarahnya. Sean tersenyum dan memeluk istrinya. Sean merasa dihargai karena Tini mendengarkan nasehatnya.
"Apa jadinya keluarga Handoko jika adegan panas itu tersebar di media sosial," ancam Intan tenang. Tini hanya tersenyum. Yang menjadi titik lemah dari Handoko untuk bertahan menjadi laki laki yang menyimpan Intan sudah diketahui. Segala rencana dan trik sudah tersusun di otak Tini untuk membungkam Intan. Dia hanya perlu penjelasan sekarang dari papanya yang tidak kunjung keluar dari kamar.
"Silahkan kalau kamu bisa. Kalaupun itu tersebar. Paling menjadi hot news hanya beberapa minggu," jawab Tini masih tenang. Tini beranjak dari duduknya.
"Rumah pemberian papaku lumayan juga," kata Tini sambil berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Intan dan Handoko tadi.
"Tenang saja. Aku hanya memanggil papa supaya cepat keluar dari kamar," kata Tini lagi ketika mata Intan mengikuti pergerakannya.
"Papa, keluarlah," panggil Tini sambil menjulurkan kepalanya ke dalam kamar. Handoko yang terduduk di ranjang terlihat menunduk. Handoko dengan lesu keluar dari kamar. Handoko menatap wajah putrinya dengan rasa takut dan malu. Handoko melewati tubuh putrinya yang masih berdiri di depan
__ADS_1
pintu itu. Setelah Handoko keluar, Tini menutup pintu itu kembali.
"Maafkan papa Anggun, Sean," kata Handoko dengan kepala tertunduk. Handoko sangat malu apalagi ada menantunya di ruangan itu. Sebagai orang tua. Handoko takut jika perbuatan menjadi contoh kepada menantunya.
"Minta maaf memang gampang pa. Jika minta maaf itu sulit. Pasti semua manusia berpikir ulang untuk berbuat kesalahan. Dan asal papa tahu. Memaafkan itu sangat sulit. Tidak ada alasan bagiku untuk memaafkan papa semudah ini," jawab Tini. Tini menatap papanya dengan penuh rasa kekecewaan.
"Papa terpaksa melakukan ini semua nak. Kamu tahu. Bahwa papa sangat mencintai mama kamu."
"Jika terpaksa, kenapa bisa sampai sepuluh tahun lebih pa. Itu artinya papa menikmati perselingkuhan ini. Bahkan dia sudah dipakai oleh laki laki lain tapi papa masih mau dengan dia. Sebutan apa yang pantas bagi papa. Pria tua bodoh atau Pria tua brengsek?" tanya Tini masih berusaha tenang. Handoko semakin menunduk. Di depan putrinya dia bagaikan terdakwa yang sedang diadili.
"Aku mohon anggun, jangan sampai ini terdengar oleh mama kamu."
"Aku bisa menjamin jika mama tidak mengetahui hal ini. Tapi ada syaratnya pa."
"Syarat apa nak?"
"Putuskan dia sekarang juga. Dan papa harus berubah menjadi suami yang baik bagi mama."
"Ya nak. Papa pasti berubah. Lagi pula. Jika dia tidak menjebak papa. Perselingkuhan ini tidak pernah terjadi."
"Menjebak bagaimana pa?" tanya Tini penasaran.
"Tidak bisa. Jika om memutuskan aku. Aku tidak main main dengan ancaman ku. Aku akan menyebarkan video panas itu ke media sosial," kata Intan cepat.
"Ceritakan pa," kata Tini tenang. Handoko mengambilnya nafas panjang dan memperhatikan wajah wajah yang ada di ruang tamu.
"Kamu, sepertinya aku mengenal kamu," kata Handoko sambil menunjuk Radit. Radit membungkuk hormat. Bagaimanapun Handoko adalah papa dari Tini. Radit berusaha menghormati pria tua itu. Menurut Radit, masalah dengan Intan dahulu tidak ada hubungan dengan Handoko. Dirinya dan Handoko adalah sama sama korban keserakahan Intan.
"Kenalkan om. Radit dan ini Istriku. Aku adalah orang yang pernah datang ke rumah ini," kata Radit.
"Jangan mengalihkan pembicaraan pa. Ceritakan dengan cepat. Siapa yang dirayu dan merayu di dalam perselingkuhan kalian ini," perintah Tini tegas.
"Meri menjebak papa ketika mama menemani kamu studi tour waktu itu nak. Jika kamu masih ingat. Waktu itu kalian menginap satu malam di luar kota. Meri memberikan air putih dicampur obat perangsang dosis tinggi kepada papa. Mau tidak mau. Malam itu terjadi pengkhianatan papa terhadap mama. Papa sudah menawarkan banyak hal kepada Intan supaya melupakan kejadian itu. Tapi dia mengancam papa dengan menunjukkan video malam itu. Papa sudah memberikan banyak hal kepada dia supaya menutup mulut dari mama. Tapi dia tidak pernah puas Dia bahkan minta dinikahi," kata Handoko menceritakan awal perselisihan itu. Tini semakin marah dan menatap Intan tajam.
"Sekarang juga. Karena kamu sudah mengetahui ini. Papa putuskan tidak mengenalnya mulai saat ini," kata Handoko lagi. Intan berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
"Jika ini keputusan kamu om. Maka hari ini juga aku akan menyebarkan video itu. Aku bisa menyamarkan wajahku supaya hanya kamu dan keluargamu yang menanggung malu," ancam Intan sengit. Dai berjalan menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamar itu tetapi tidak bisa.
"Mau mencari ini?" tanya Tini sambil menggoyang kunci di tangannya. Intan berjalan cepat untuk mengambil kunci itu tetapi secepat kilat, Tini memasuk kunci itu kedalam saku celana Sean. Tini memanggil nama dua bodyguard yang berjaga di depan pintu.