
Sinta memejamkan matanya ketika Andre mengucapkan kata talak. Kata kata itu bagaikan pisau yang mengiris hatinya. Sangat sakit walau tidak berdarah. Sinta membuka matanya ketika Andre sudah selesai mengucapkan kata talak. Di saat itu juga air matanya berhamburan keluar. Hatinya berdenyut nyeri. Sinta menunduk dan menangis sesenggukan. Malam pertama dan perlakuan Andre semua terlintas di pikirannya.
Kini gadis yang belum genap berumur 20 tahun itu sudah menjadi janda. Di usia masih sangat muda, status itu sudah melekat di dirinya tanpa sepengetahuan orangtuanya. Entah di mana pikiran Andre. Di saat suami lain menunda cerai ketika mengetahui istrinya hamil. Andre malah menceraikan Sinta di saat hamil muda. Dengan bahu yang bergetar Sinta masih menangis. Seakan memberi perlindungan kepada calon anaknya Sinta mengelus perutnya yang masih rata. Entah karena kontak batin dengan janinnya, perutnya tiba tiba kram. Hal itu tidak luput dari pandangan Andre.
Andre memandang Sinta yang duduk di hadapannya. Keputusan yang sudah dipikirkannya matang matang kini sudah diucapkan. Dan mereka sudah menjadi mantan. Wajah cantik itu kini berhiaskan mata yang sembab dan hidung yang memerah, tapi tidak sedikit pun ada rasa iba di hati Andre. Hatinya sudah buta, dan hanya memikirkan kebahagian Cindy.
"Sinta, Aku membebaskan mu dari tanggung jawab mu sebagai istriku. Mulailah membuka hati kepada laki laki lain. Ini yang terbaik untuk kita. Dan untuk pernikahan yang sudah pernah terjadi, itu akan tetap rahasia dan selamanya rahasia. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini." Andre berkata dengan tegas dan menatap Sinta. Sinta hanya menjawab dengan anggukan.
"Dan kamu tidak perlu khawatir, seperti janjiku sebelumnya, aku akan tetap membiayai kuliahmu sampai kamu bisa mandiri dan rumah ini akan tetap milikmu," kata Andre lagi
"Terima kasih pak, tentang kuliahku tidak perlu lagi kamu khawatirkan. Ini sudah cukup. Aku juga berjanji akan merahasiakan pernikahan ini dari semua orang termasuk dari anak ini kelak. Dan untuk membuka hati kepada laki laki lain, itu bukan urusan bapak. Dan aku harap bapak juga harus berjanji, tidak akan pernah menarik kembali apa yang sudah bapak berikan kepadaku," jawab Sinta pelan dengan suara khas yang baru menangis. Sinta mengambil kertas bukti transfer yang diletakkan Andre di atas meja. Andre menyuruh Sinta membuka hati untuk laki laki lain, pria bodoh itu tidak menyadari bahwa dia membuat Sinta trauma terhadap laki laki.
Dengan tangan bergetar, Sinta meremas kertas tersebut. Tangannya terkepal menahan semua sesak yang ada di dadanya. Andre mengangguk menyetujui permintaan Sinta. Andre berpikir bahwa Sinta hanya takut kehilangan semua yang sudah di terimanya.
__ADS_1
"Baiklah, itu semua milikmu. Semua yang sudah aku berikan itu semua milikmu." Andre berkata sangat meyakinkan. Sinta mendongak menatap Andre yang duduk di depannya. Tatapan mereka bertemu. Andre langsung memalingkan muka. Sinta tersenyum kecut.
"Tunggu sebentar pak!. Jangan pergi dulu," pinta Sinta dan beranjak dari duduknya. Sinta masuk ke dalam kamar. Beberapa menit kemudian Sinta keluar membawa selembar kertas dan pulpen di tangannya. Andre sedikit heran, ternyata bukan hanya kertas dan pulpen Sinta juga membawa materai. Sinta kembali duduk tempat duduknya semula.
"Kita sudah saling berjanji pak, dan kita perlu bukti untuk perjanjian itu. Ini untuk kebaikan kita bersama di masa depan. Maka sebaiknya kita menuliskan perjanjian itu di selembar kertas," kata Sinta memandang Andre. Andre hanya mengangguk. Baginya itu bagus untuk berjaga jaga dan membuat Sinta tidak bertindak macam macam di masa depan.
Sinta menuliskan janjinya di kertas itu, bahwa dia akan tetap merahasiakan pernikahan mereka dan tidak menuntut pertanggungjawaban Andre atas anaknya. Sinta kemudian menyerahkan kertas dan pulpen itu ke Andre.
Andre membaca janji yang dituliskan Sinta. Andre setuju dan Andre kini menuliskan janjinya, bahwa dia tidak akan menarik kembali apapun yang sudah diberikannya ke Sinta.
"Tuliskan disini tambahannya pak, dalam kurung aja buat, termasuk air ludah dan ******," kata Sinta menunjukkan di bagian mana Andre harus menambahkan tambahan perjanjiannya. Pria bodoh itu memandang Sinta sekilas, kemudian menuliskan apa yang diminta Sinta. Andre betul betul bodoh dan tidak berpikir panjang.
Sinta kembali menerima kertas itu. Menempelkan materai dan menandatangi, kemudian Sinta menggeser kertas itu ke hadapan Andre. Tanpa beban Andre menandatangi surat perjanjian itu. Kini tanda tangan sepasang mantan itu saling menimpa di atas materai.
__ADS_1
Andre beranjak dari duduknya dan akan pulang. Urusannya bersama Sinta sudah selesai.
"Pak...." Andre menoleh
"Iya, masih ada lagi," tanya Andre ketika Sinta memanggilnya. Sinta berdiri dari duduknya dan sedikit gugup.
"Bolehkah aku memelukmu pak, ini yang terakhir kali. Anggap saja ini permintaan dari calon anakku," kata Sinta pelan dan menunduk. Tangannya meremas ujung bajunya karena gugup. Sinta sadar permintaannya tidak baik untuk mereka yang sudah menjadi mantan. Andre mendekat dan memeluk Sinta. Entah dorongan darimana Andre mendekap Sinta sangat erat, tangan kanannya terulur membelai rambut Sinta.
"Terima kasih pak sudah memberikan aku kemudahan beberapa bulan ini. Dan terima kasih juga sudah memberikan kesulitan yang entah kapan berakhir." Sinta terisak di pelukan Andre. Pelukan dari Andre yang sangat dirindukannya kini sudah dirasakan Sinta. Pelukan terakhir. Andre dapat merasakan bahu Sinta yang bergetar.
Setelah menumpahkan air matanya di kemeja Andre. Sinta melepaskan pelukannya, mengambil surat perjanjian dari atas meja Sinta masuk ke dalam kamar. Kamar yang menjadi saksi bisu kebersamaannya bersama Andre, kini juga menjadi saksi bisu atas kesedihan dan luka yang ditorehkan Andre. Berusaha tegar di hadapan Andre, nyatanya Sinta hanyalah wanita muda yang rapuh. Sinta terduduk di tepi ranjang. Air matanya masih terjun bebas di pipinya dan ikut membasahi kertas perjanjian yang berada di pangkuan Sinta.
Perutnya kembali kram. Sinta membaringkan tubuhnya di ranjang berharap kram di perutnya berhenti. Sinta keluar dari kamar ketika mendengar suara mobil menjauh dari rumahnya. Air matanya kembali turun. Laki laki itu sudah pergi dan mungkin tidak kembali lagi. Sinta memandangi segala penjuru rumah. Kenangan ketika bekerjasama membersihkan rumah terlintas di pikirannya. Banyak canda dan tawa kala itu. Kini di rumah ini, tinggallah hanya Sinta dengan kesendirian dan semua kepedihannya.
__ADS_1
Sinta menghapus kasar air matanya. Sinta sadar, air matanya tidak akan menghapus luka di hatinya. Sinta beranjak ke dapur. Dia harus mengisi perut demi janin yang di kandungnya. Melihat kondisi dapur yang sedikit berantakan, Sinta yakin bahwa Andre tadi memasak. Tangannya terulur membuka tudung saji yang terbuat dari rotan. Sinta melihat tempe dan ayam goreng. Mengambil tempe dan memasukkannya ke dalam mulut, air matanya kembali menetes. Pelukan dan masakan Andre, hal yang sangat dirindukan beberapa Minggu ini, kini dapat dirasakan Sinta kembali. Sayangnya, ini terakhir kali.