
Sinta masih tidak percaya bahwa kini dia telah mengandung. Masih bersama Bella, Sinta membeli resep obat yang dituliskan dokter tadi dan juga beberapa test pack. Kini mereka sudah di ruangan Bella. Melihat raut wajah Sinta, Bella paham bahwa kehamilannya bukan yang diinginkan.
Sinta masih bingung dan linglung, rasa sakit di kepalanya sudah berangsur reda berganti dengan rasa sedih. Semua orang yang menikah menginginkan anak, tapi bagi Sinta kehamilannya ini datang di waktu yang tidak tepat. Mengandung dalam usia muda, keadaan kuliah, suaminya tidak menginginkan dia hamil bahkan Sinta semakin bingung untuk bagaimana menghadapi kedua orangtuanya.
Bella menyodorkan test pack ke Sinta. Sinta masuk ke kamar mandi. Setelah menampung urinenya di wadah, Sinta memasukkan test pack. Walau dokter sudah memberi tahu kehamilannya tetap saja Sinta berdebar. Berharap hasilnya negatif, dengan tangan bergetar Sinta mengambil test pack dari wadah.
Deg
Sinta menangis melihat garis dua di test pack, masih ragu kembali Sinta memasukkan tiga test pack sekaligus ke dalam wadah. Hasilnya semua bergaris dua. Sinta semakin menangis sambil memukuli kepalanya. Dia tidak pernah berharap hamil. Sinta merasa dunianya semakin hancur walau benih itu dari suami yang dicintainya. Beberapa bulan menikah dengan Andre, tidak sekalipun Sinta memakai kontrasepsi karena Andre yang selalu pake pengaman.
Bella yang mendengar suara Sinta yang menangis, membuka kamar mandi. Bella paham hasilnya pasti positif. Bella menuntun Sinta keluar dari kamar dan mendudukkannya di sofa.
"Sinta, jangan buat aku salah paham. Kalau kamu mau cerita, aku siap jadi teman curhatmu," kata Bella sambil menggenggam tangan Sinta. Sinta masih menangis. Bella membuatkan Sinta teh manis.
"Minumlah Sinta!" kata Bella lagi.
"Mbak, sebenarnya aku sudah menikah," cicit Sinta pelan. Terpaksa dia harus memberitahu statusnya dan Bella yang pertama mengetahuinya. Bella mengernyitkan keningnya, memang pertama masuk Bella tidak menanyakan status Sinta, selain di KTP Sinta masih berstatus pelajar, Sinta juga masih sangat muda. Bella mengira Sinta sama seperti Agnes dan Vina anak kuliahan tulen. Bella tidak tahu mau bertanya apa. Bella jadi bingung, kalau Sinta sudah menikah, harusnya dia senang hamil bukan menangis seperti itu.
"Kamu sudah menikah, jadi kenapa harus menangis mengetahui dirimu hamil?" tanya Bella lembut dan hati hati. Takut Sinta tersinggung.
__ADS_1
"Aku hanya istri siri mbak kasarnya simpanan suamiku. Suamiku pasti tidak menginginkan kehamilan ini. Pernikahan kami juga tidak boleh ada orang yang tahu termasuk kedua orang tua kami masing masing." Masih dengan berurai air mata Sinta bercerita. Bella tidak menduga Sinta menjalani kehidupan yang rumit seperti itu.
"Ya ampun Sinta, kenapa jadi seperti itu?"
"Beberapa bulan yang lalu saya terdesak mbak, butuh uang membayar kuliah."
"Ya sudah, apapun motif kamu melakukan itu sekarang kamu fokus untuk masa depanmu. Ada janin dan studi yang harus kamu perjuangkan."
"Tapi mbak, bagaimana aku menjalani ini sendiri sedangkan suamiku sudah hampir satu bulan tidak pulang karena istri pertamanya juga hamil muda."
"Apapun yang terjadi kamu harus memberitahu suamimu, terima tidak terima dia harus tahu. Dia harus bertanggung jawab atas janin mu. Jangan berkecil hati atau merasa rendah diri, janin mu ada bukan karena perbuatan haram. Dia ada karena ikatan pernikahan suci terlepas dari apa motif kalian menikah. Jadi semangat ya!. Sinta mengangguk walau di hatinya masih ragu.
"Mbak, aku masih bisa kerja di sini?"
Bella menasehati Sinta panjang lebar, ada juga rasa takut di hati Bella, takut Sinta menggugurkan kandungannya mengingat Sinta hanya seorang simpanan. Sinta merasa lega setidaknya ada orang yang bisa menerima kehamilannya dan memberinya semangat. Sinta juga tidak mau memberitahukan identitas Andre ketika Bella bertanya tentang suaminya. Ancaman Andre masih terekam di otaknya.
Setelah beristirahat beberapa jam di ruangan Bella, Sinta pamit pulang. Sesuai saran Bella, Sinta harus fokus ke kesehatan karena lebih kurang dua Minggu lagi Sinta juga sudah mulai masuk kuliah semester tiga.
Sinta duduk di ruang tamu di rumahnya. Berkali kali mencoba menghubungi Andre tapi panggilannya tidak di jawab. Sinta ingin segera memberi tahu Andre tentang kehamilannya. Terima tidak terima Sinta sudah bertekad untuk menjaga kandungannya. Sinta menyadari bahwa calon anaknya tidak berdosa.
__ADS_1
Sinta mengelus perutnya yang masih rata, nasehat Bella sungguh bisa menumbuhkan naluri keibuan dalam dirinya. Sinta kembali menangis membayangkan anaknya tidak diterima oleh suaminya dan dia harus berjuang sendiri. Di ruang tamu itu Sinta semakin menangis kala ingat kedua orangtuanya. Ingat akan nasehat orangtuanya jangan sampai seperti Wulan yang hamil di luar nikah. Sinta semakin menangis, dia membantah tidak akan seperti Wulan, nyatanya dia sekarang hamil walau ada suami. Suami yang belum tentu terima akan kehamilannya.
Sinta kembali mencoba menghubungi Andre.
"Halo..."
Panggilan terjawab tetapi bukan suara Andre, bisa dipastikan bahwa itu adalah suara Cindy. Cepat cepat Sinta mematikan panggilannya. Sinta takut istri Andre curiga dan ketahuan Andre punya simpanan. Sinta langsung menonaktifkan ponselnya. Sinta tersenyum kecut menyadari dirinya yang pengecut. Andaikan dia berani membantah Andre dan mencari tahu tentang keluarga Andre mungkin hidupnya tidak serumit ini. Sinta memang lemah.
Beberapa menit kemudian Sinta kembali mengaktifkan ponselnya. Jauh di lubuk hatinya Sinta berharap Andre menghubunginya.
Harapannya terkabul ponsel berdering. Agak ragu Sinta mengabaikannya takut istri Andre yang meneleponnya. Hingga panggilan pertama terlewat. Ponsel itu kembali berdering.
"Halo...." Sinta menjawab telepon tanpa embel embel mas. Sinta waspada mana tahu istri Andre yang menelepon balik.
"Ada apa menghubungiku?. Sinta lega rupanya yang menghubunginya adalah Andre.
"Mas saya ingin berbicara sesuatu. Bisa kah mas datang kemari?"
"Hari ini tidak bisa, nanti kalau ada waktu aku ke sana. Jangan pernah menghubungi ku terlebih dahulu takut istriku salah paham."
__ADS_1
"Iya mas, aku tunggu. Tolonglah datang secepatnya!. Tanpa menjawab lagi Andre memutuskan panggilan. Andre selalu menjaga perasaan Cindy dan mengabaikan perasaan Sinta. Andre tidak sadar kata katanya barusan menyakiti Sinta. Sinta kembali menangis.
Sadar menangis juga butuh tenaga, Sinta keluar rumah dengan membawa keranjang buah. Benar warna warni bunga yang dirawatnya selama beberapa bulan ini mampu membuat moodnya membaik. Sinta melihat halaman rumahnya. Hanya jambu merah yang berbuah. Semangka yang beberapa bulan lalu yang dia tanam masih sebesar bola kecil. Sinta memetik jambu yang bisa dijangkau nya. Tanpa mencuci Sinta menikmati jambu merah.