Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Menurut Itu Lebih Baik


__ADS_3

Vina kini telah berbaring. Selimut yang terkena ceceran susu tadi ditarik Radit dengan kasar. Rasa marah itu Radit lampiaskan dengan membuang kasar selimut itu ke dalam keranjang. Vina sengaja memiringkan tubuhnya supaya tidak melihat wajah Radit lagi.


"Vina, aku minta tolong. Tolong jangan membantah apapun yang aku ucapkan," kata Radit marah. Pria itu masih saja merasa apa yang diperbuatnya benar. Vina membantah, karena apa yang sudah keluar dari mulut Radit adalah sangat menyakitkan bagi Vina.


"Baik Radit. Supaya aku tidak membantah. Aku juga minta tolong. Tolonglah berpikir sebelum berbicara. Aku sudah berusaha mengalah dalam segala hal. Tetapi kamu seperti membenarkan apa yang semua kamu perbuat terhadap aku. Pemerkosaan, membawa wanita ke rumah ini. Tidak memberi nafkah. Itu semua adalah hal yang benar menurut kamu," jawab Vina pelan. Hatinya merasa sesak menyebut kan setiap perlakuan Radit kepadanya.


"Terserah aku mau berbuat apapun. Ini adalah rumah aku dan kamu masih sah istri aku," kata Radit angkuh. Baginya, dia tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk Vina. Tidak perduli bagaimana keadaan Vina sekarang, Radit hanya tidak bisa dibantah.


"Kamu benar Radit, sangat benar. Entah apa dibalik ini semua. Kamu sudah memperkosa aku dengan brutal sampai janin ini hampir keguguran. Tapi aku sangat bodoh dan masih saja mau kembali ke neraka ini. Aku juga berusaha untuk menyadarkan kamu. Tapi apalah artinya seorang Vina bagi kamu. Aku hanyalah manusia yang paling terbodoh di dunia."


"Kamu yang selalu membantah dan ikut campur urusan aku. Andaikan kamu bisa lebih menurut. Kejadian Minggu lalu tidak terulang," kata Radit masih menyalahkan Vina. Tapi nada suaranya tidak sekencang tadi. Begitulah Radit, jika berhadapan dengan orang yang sedang marah dia akan tersulut marah juga. Tetapi bila orang sudah mulai lembut. Dia pun akan lembut.


"Aku tidak membantah dan ikut campur urusan kamu lagi. Karena sudah jelas pernikahan ini akan berakhir enam bulan lagi. Tidak ada yang perlu diperjuangkan lagi. Aku mau istirahat Radit. Tolong biarkan aku istirahat, itu pun jika kamu menginginkan janin ini lahir pada waktunya. Kalau tidak, silahkan masih di kamar ini dan marah marah. Aku rasa itu akan mempercepat janin ini keluar. Kepala aku sudah mulai berdenyut mendengar amarahmu," jawab Vina lembut. Vina mengeluarkan segala unek-unek di kepalanya. Vina tidak berharap Radit untuk berubah lagi. Dia hanya mengharapkan hidup bersama di rumah ini dengan tenang. Dan Vina ingin Radit segera keluar dari kamarnya.


Tidak ada gunanya berkata kasar kepada pria keras kepala itu. Radit suka berkata kasar tetapi tidak terima jika orang lain berkata kasar kepadanya. Benar benar tipikal manusia yang keras kepala dan ingin menang sendiri.


Vina memijit kepalanya yang benar benar berdenyut. Kesehatannya memang belum pulih benar tetapi Radit sudah memancingnya untuk marah. Pria keras kepala itu akhirnya keluar setelah mengambil selimut kotor dan mengambil kunci kamar terlebih dahulu. Kemudian menutup kamar itu. Radit tidak ingin Vina mengunci kamar dari dalam. Radit ingin bebas masuk ke kamar Vina kapanpun dia mau.


Vina mengelus perutnya sendiri. Kata kata yang sempat terlontar bahwa dia juga tidak menginginkan kehamilannya berbanding terbalik dengan tindakan sekarang. Vina sangat menyesali perkataannya. Vina meminta maaf kepada janinnya. Sebagai wanita, nalurinya muncul untuk melindungi dan berbuat yang terbaik bagi janinnya.


Vina berusaha memejamkan mata. Menganggap perdebatan tadi hanya sebagai angin lalu. Vina tidak mau memikirkan kata kata Radit tadi. Melupakannya adalah hal yang terbaik. Daripada harus menangis Bombay yang akan berakibat fatal kepada janinnya. Selama enam bulan ke depan. Vina berjanji dalam hati tidak akan membantah dan tidak mengurusi urusan pribadi Radit.


Vina kembali terjaga. Matanya hampir terlelap. Tetapi suara pintu yang berderit membuat kantuknya hilang. Vina pura pura tidur. Dan tidak ingin berdebat lagi. Vina membuka matanya ketika mendengar pintu kamar kembali ditutup.


Vina terkejut, Radit berdiri menjulang tinggi di samping ranjangnya sambil memegang gelas. Sedangkan selimut yang baru terletak di ujung kakinya.


"Minum," kata Radit dingin. Seperti janjinya dalam hati tidak akan membantah lagi. Akhirnya Vina duduk. Dia mengulurkan tangannya meminta gelas itu dari tangan Radit. Radit memperhatikan Vina meminum susu tersebut. Karena masih terasa hangat. Susu itu tidak bisa habis sekali teguk.


Seperti guru yang mengawasi siswanya ujian, begitulah sikap Radit menatap Vina. Dia menggerakkan tangannya untuk menyuruh Vina kembali meminum susu tersebut. Vina juga tidak ada ubahnya seperti siswa yang mendapat pengawasan. Dia menurut patuh dan kembali meneguk susu itu sedikit demi sedikit.


Vina meletakkan gelas itu di meja dekat ranjangnya. Radit mengambil gelas itu dan memperhatikan isinya. Dia menatap Vina sekilas dan meletakkan selimut itu lebih dekat ke Vina.


Pria keras kepala itu, akhirnya keluar dari kamar Vina tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Vina menarik nafas lega. Dia kembali memejamkan mata.


Radit meletakkan gelas kotor itu di wastafel. Dia berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya. Setelah melihat Vina meminum susu hamil itu, dia merasa lega. Dia tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan kepada calon penerusnya itu. Radit Masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh karena hari sudah sore. Radit kembali ke lantai bawah dan duduk di sofa menghadap kamar Vina.


Radit beranjak dari duduknya. Menghampiri bibi Ina menenteng dua kantong belanjaan besar. Radit mengambil dua kantong tersebut dari tangan bibi Ina, bibi Ina menolak tetapi Radit yang tidak bisa dibantah menatap bibi Ina tajam. Bibi Ina akhirnya membiarkan Radit membawa dua kantong besar itu ke dapur.


"Semua yang aku pesan ada bibi?" tanya Radit sambil mengeluarkan beberapa isi belanjaan dari kantong besar.

__ADS_1


"Ada Tuan. Tapi ini semua aku beli di pasar tradisional. Kecuali apel. Di supermarket tadi kosong tuan"


"Tidak apa apa bibi, yang penting buahnya masih segar,"


"Ya Tuan. Tapi untuk apa tuan memesan berbagai macam buah seperti ini tuan," tanya bibi Ina penasaran. Bertahun tahun bekerja dengan keluarga Radit. Baru kali ini pria itu menyuruh bibi Ina memesan buah. Bibi Ina tahu bahwa Radit tidak begitu menyukai buah. Kalaupun memakan jenis buah. Itu harus diolah terlebih dahulu. Misalnya dibuat jus atau SOP buah.


"Vina sudah kembali bibi. Vina juga sedang mengandung tiga bulan. Buah ini semua untuknya. Kandungannya lemah jadi butuh nutrisi, Buah ini penting untuk perkembangan janin," jawab Radit sambil terus mengeluarkan buah dari kantong itu. Alpukat, mangga, jeruk, pisang dan juga apel sudah keluar dari kantong tersebut. Radit memperhatikan buah itu dengan seksama. Buah yang terlihat tidak segar, di buangnya ke keranjang sampah di dapur itu.


"Tuan, memang benar. Kalau buah ini bagus untuk ibu hamil. Tapi menjaga perasaannya jauh lebih penting. Perasaan ibu hamil itu sangat sensitif. Kadang gampang marah, senang dan bahkan bisa menangis tanpa sebab dan itu sangat berpengaruh ke perkembangan janin juga tuan" kata bibi Ina pelan dan takut. Mendengar Vina kembali, Bibi Ina senang bercampur kasihan. Istri yang tidak dianggap tuannya itu sedang hamil. Sedang bibi Ina tahu bagaimana Radit memperlakukannya. Bibi Ina ingin Radit menyadari semua kesalahannya dan menganggap Vina ada di rumah itu.


Radit terus memeriksa buah itu satu persatu. Dia tidak menjawab perkataan bibi Ina, Radit jelas mendengarnya.


"Jeruk dan Pisang harus ada selalu tersedia bibi,"


"Baik tuan,"


Radit kembali duduk di sofa, perkataan pembantunya mengusik hatinya. Tapi hanya sebentar. Radit menggelengkan kepala. Apa yang dilakukannya saat ini hanya semata mata demi janin di kandungan Vina. Sejak Vina berusaha kabur darinya. Radit merasa tertolak dan merasa tidak dihargai.


Apalagi Vina menolak melayaninya di ranjang yang merupakan kebutuhan pokok baginya. dan Vina juga ikut campur dalam hubungannya bersama Donna. Membuat hatinya tidak berminat untuk melanjutkan pernikahan ini. Vina hanya istri dalam status tetapi mendengar Vina mengandung, Radit tidak bisa melepas wanita itu begitu saja. Itu darah dagingnya, calon penerusnya. Radit tidak akan membiarkan anaknya kekurangan apapun walaupun masih di kandungan. "Tinggal enam bulan lagi" gumam Radit dalam hati.


Menjelang jam delapan malam, Vina terbangun. Kepalanya tidak lagi berdenyut tapi perutnya terasa lapar. Vina beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi, segalanya peralatan mandi sudah tersedia. Hanya beberapa menit, Vina sudah keluar dari kamar mandi. Hanya mandi bebek. Vina takut masuk angin jika berlama lama di kamar mandi itu.


Vina berjalan gontai menuju meja makan, selain karena lapar. Vina juga malas untuk bertemu Radit di rumah itu. Tapi sial bagi Vina. Radit duduk di depan meja makan dengan memainkan ponselnya. Piringnya sudah terlihat kosong. Radit menoleh ketika melihat Vina menarik kursi dan mendudukinya.


Vina mengisi piringnya dengan sedikit nasi. Kemudian menambahkan sayur dan juga ikan. Olahan ikan tawar sedikit menggugah seleranya. Tetapi masih satu sendok masuk ke dalam mulutnya, Vina sudah tidak berselera lagi. Vina meletakkannya sendok.


"Habiskan!" perintah Radit tegas. Dia menatap piring Vina yang masih penuh.


"Gak selera lagi Radit," jawab Vina lemah. Dia langsung menutup mulutnya. Dia sadar kata katanya barusan adalah membantah. Vina mendongak. Radit menatapnya tajam. Akhirnya walau tidak selera Vina memaksa nasi itu masuk ke dalam mulutnya.


Radit tersenyum puas. Piring itu telah kosong. Dia menatap Vina yang sedang meminum air putih. Matanya terus bergerak menatap Vina yang sudah berdiri dan berjalan ke arah wastafel.


"Huek, huek, huek,"


Vina memuntahkannya semua apa yang telah masuk ke dalam mulutnya. Radit tidak sedikitpun berniat untuk bangkit dari duduknya hanya sekedar memijit tengkuk Vina. Vina mengelap bibirnya. Dan matanya nampak berair karena muntah tersebut.


"Di kulkas banyak buah. Itu bisa mengganti nasi yang sudah kamu muntah kan," kata Radit tanpa menoleh. Vina menyiram muntahannya.


"Ya," jawabnya singkat.

__ADS_1


Sebenarnya, Vina malas untuk menjawab. Tetapi mengingat pria itu menakutkan, Vina menjawabnya. Buah atau apapun tidak ada yang membuat dirinya berselera.


Radit masih duduk santai di situ. Vina juga sengaja berlama lama di dekat wastafel. Berpura pura mencuci tangan dan membersihkannya mulut, berharap Radit cepat berlalu dari ruang makan itu. Vina akan masuk ke kamar tanpa memakan buah. Tapi harapan itu tinggal harapan. Radit bahkan sudah menyandarkan ponselnya ke gelas kaca yang ada di meja itu. Dan mendengar lagu barat dari aplikasi YouTube.


"Makan buahnya Vina," kata Radit ketika menyadari Vina melewati dirinya hendak masuk ke kamar. Vina berbelok dan berjalan menuju kulkas.


"Makan alpukat saja. Perut kamu masih kosong. Alpukat bagus juga dimakan ketika perut kosong," kata Radit sambil menatap Vina. Vina membuka kulkas dan mengangguk. Vina mengambil alpukat dan mengambil pisau dan sendok.


"Di jus saja," kata Radit lagi. Lagi lagi Vina menurut. Dia mengambil blender. Memasukkan potongan alpukat itu. Vina menambahkan sedikit gula dan air kemudian memblender alpukat tersebut. Vina menuang jus itu ke dalam gelas kaca. Karena alpukat nya besar dan sudah dicampur air. Jus Alpukat itu bisa untuk dua orang.


"Aku juga mau," kata Radit ketika melihat jus itu masih ada tersisa di tabung blender. Vina mengambil gelas dan mengisinya. Vina mengulurkan tangannya memberi jus alpukat itu untuk Radit.


"Minum disini," kata Radit lagi. Vina kembali menurut dan duduk agak menjauh dari Radit. Pria itu masih asyik menonton di ponselnya. Dan sekali teguk. Jus alpukat itu sudah ludes dari gelasnya.


Sedangkan Vina, butuh beberapa menit untuk menghabiskan jus tersebut. Kadang pakai sendok dan kadang pakai sedotan. Tapi jus itu masih saja belum berpindah tempat ke perutnya.


"Habiskan," kata Radit lagi. Matanya tajam melihat Vina yang seolah enggan memasukkan jus itu ke mulutnya. Vina menatap Radit. Tatapan menakutkan itu membuat Vina bergidik.


"Kenapa tidak bisa habis?" tanya Radit lagi


"Ya," jawab Vina gugup dan takut.


"Dari tadi jawaban kamu hanya iya saja. Iya bukan jawaban dari pertanyaan ku,"


"Aku mual Radit. Tidak sanggup untuk meminum ini lagi," jawab Vina sambil menunduk.


"Kalau tidak sanggup bilang, jangan memaksakan diri," kata Radit sinis. Dia benar benar tidak menyadari. Bahwa dirinyalah yang memaksa Vina untuk makan dan minum jus itu.


"Aku hanya berusaha menuruti kata kata kamu Radit. Aku pikir dengan menurutinya akan lebih bagus ternyata yang ada aku menjadi muntah dan tersiksa," jawab Vina pelan.


Radit mematikan ponselnya. Dia masih menatap Vina.


"Maksud kamu apa?" tanya Radit. Dia sudah mulai tersulut emosi. Radit tidak mengartikan jawaban Vina ke hal jus alpukat itu. Tetapi lebih mengartikan kepulangannya kembali ke rumah ini.


"Tadi kamu yang menyuruh aku menghabiskan nasinya, aku menurut tapi nyatanya aku muntah jadinya. Ini juga. Kalau aku memaksa jus ini masuk ke perut aku. Yang ada pasti muntah lagi," jawab Vina takut. Dia kembali menunduk. Dia tidak ingin melihat Radit marah lagi.


"Tapi kalau tidak ada yang masuk ke perut kamu. Kan kasihan janinnya. Tolonglah Vina. Tolong jaga janin itu baik baik."


Ingin rasanya Vina melemparkan gelas itu ke Radit. Dia meminta tolong untuk menjaga janin itu seolah olah Vina tidak menjaganya. Pria itu masih saja belum menyadari sikapnya yang tidak bisa dibantah sangat menyakiti Vina.

__ADS_1


"Iya. Aku akan menjaganya baik baik," jawab Vina sambil mengangguk. Walau hatinya bertentangan dengan sikap Radit saat ini. Bagi Vina menurut itu lebih baik daripada harus terus membantah. Vina kembali meneguk jus itu sedikit demi sedikit.


__ADS_2