Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Vitamin


__ADS_3

"Makasih yah," kata Vina hendak turun dari mobil Radit. Radit mengangguk sambil tersenyum. Hari ini Radit mengantarkan Vina ke Swalayan. Setiap berbelanja. Radit selalu menyempatkan waktunya untuk mengantar Vina ke swalayan. Sedangkan untuk pulang, Vina harus menggunakan jasa ojek online.


"Sama sama bunda. Aku langsung jalan ya!" jawab Radit.


"Hati hati berkendara yah."


"Bunda, dompet ketinggalan," kata Radit setelah Vina turun dari mobil. Vina berbalik dan mengambil dompet tersebut. Dia tersenyum sekilas kepada Radit. Vina kemudian menatap wajah Radit. Vina baru sadar, Radit ternyata agak kurusan dan kelopak matanya menghitam. Vina merasa kasihan. Vina kembali naik ke mobil dan duduk menyamping menatap wajah suaminya.


"Kamu terlihat kelelahan yah. Kalau tidak ada kerjaan yang mendesak di kantor. Istirahat saja di rumah. Aku hanya sebentar berbelanja."


"Pekerjaan di kantor banyak yang mendesak Bun, hari ini ayah harus ke kantor. Ayah tidak terlalu lelah kok. Mungkin ini karena faktor umur saja," jawab Radit sambil melihat kelopak matanya di kaca spion. Vina tidak berkata lagi untuk membujuk Radit supaya beristirahat. Dia berencana untuk mengungsikan ketiga bayi kembarnya nanti malam di kamar baby sitter supaya Radit tidak terganggu untuk istirahat. Biarlah dirinya yang bolak balik ke kamar sebelah untuk memantau ketiga bayi kembarnya.


"Baiklah ya. Aku belanja dulu," kata Vina turun dari mobil dan menutup mobil pintu mobil tersebut. Vina masuk ke swalayan setelah mobil milik Radit berlalu dari depan swalayan tersebut.


Vina menyusuri rak rak itu dan memasukkan apa yang perlu ke troli. Susu bayi, diapers dan juga perlengkapan bayi lainnya. Vina juga memasukkan beberapa tablet vitamin untuk Radit. Melihat wajah kelelahan Radit tadi. Entah mengapa Vina selalu kepikiran akan suaminya.


Sambil berbelanja, Vina menyadari dirinya bukan istri yang baik untuk Radit. Vina hanya fokus kepada ketiga bayi kembarnya. Hingga tidak menyadari perubahan fisik Radit. Bulan ini adalah bulan ketiga bagi mereka menjalani komitmen pernikahan. Tapi hubungan mereka hanya ada kemajuan di komunikasi saja. Vina bahkan mengingat. Selama satu Minggu terakhir ini. Setiap pulang bekerja, Radit langsung makan padahal masih sore hari dan kemudian tidur sebentar. Setelah tidur. Radit kemudian menyempatkan dirinya untuk bermain dengan ketiga bayi kembarnya yang sudah berumur lima bulan.


Vina masih berpikir. Hal apa yang membuat Radit bisa mengalami perubahan fisik tersebut. Jika karena penyakit. Radit tidak pernah mengeluh sakit. Jika beban pikiran, Radit juga terlihat santai jika di rumah. Vina menduga Radit seperti itu hanya karena kurang istirahat.


"Ibu Vina. Bu Vina kan?."


Vina berbalik ke arah suara itu. Vina menatap pria itu dan mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak mengenali pria itu.


"Maaf."


"Aku yang harus minta maaf Bu. Ibu mungkin tidak mengenal aku. Tapi aku mengenal ibu. Aku adalah salah satu karyawan dari pak Radit Bu," kata pria itu memperkenalkan diri tanpa menyebut namanya. Dia mengenal Vina karena sudah beberapa kali ke rumah Vina untuk mengantar berkas di awal kelahiran si kembar dulu.


"Ooo begitu. Maaf ya mas. Aku tidak mengingatnya," kata Vina ketika pria itu bercerita tentang dirinya yang pernah mengantar berkas ke rumah Vina.


"Panggil Budi saja Bu."


"Maaf Budi. Apa kamu tidak bekerja sekarang?" tanya Vina. Sekarang sudah jam sepuluh seharusnya sebagai karyawan dia berada di kantor sekarang.


'Apa ibu tidak mengetahui keadaan perusahaan pak Radit sekarang?" tanya Budi heran. Vina kembali mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.


"Apa yang terjadi dengan perusahaan suamiku Budi?.


"Maaf Bu. Aku tidak berani untuk memberi tahukannya. Ibu saja yang bertanya ke pak Radit," jawab Budi. Budi berpikir itu bukan urusannya untuk memberitahukan istri dari bosnya. Jika bosnya saja tidak memberitahukan. Itu artinya sang bos tidak menginginkan istrinya mengetahui situasi perusahaan.


"Tolong Budi. Beritahu aku. Apa yang sebenarnya terjadi dengan perusahaan suamiku," tanya Vina sudah mulai gusar. Budi juga terlihat salah tingkah.


"Aku akan merahasiakan namamu. Percaya sama aku." kata Vina lagi.


"Keadaan perusahaan pak Radit dalam keadaan yang tidak baik Bu. Beberapa karyawan sudah dirumahkan sejak dua minggu yang lalu."


Vina menghubungkan jawaban Budi dengan keadaan Radit saat ini. Pertanyaan Vina akan perubahan fisik Radit sudah terjawab. Vina mengucapkan terimakasih dan berjanji merahasiakan nama Budi atas informasi tersebut. Vina dengan tergesa berbelanja kebutuhan yang lain.


Vina merasakan waktunya lambat ketika mengantri di depan kasir. Bahkan sebelum belanjaannya dihitung, Vina sudah memesan taksi online. Vina menarik nafas lega ketika sudah duduk di dalam taksi. Vina mengirim pesan ke Radit, menanyakan posisi sang suami saat ini.

__ADS_1


Vina menitipkan kantong kantong belanjaan yang cukup banyak itu di pos satpam. Satpam, awalnya keberatan. Tetapi karena Vina mengatakan dirinya adalah istri Radit. Tanpa banyak bertanya, satpam tersebut mengangkat kantong belanjaan itu ke dalam pos. Satpam tersebut memanggil karyawan lain untuk mengantarkan Vina ke ruangan Radit.


Berjalan menuju ruangan Radit, Vina mengamati keadaan kantor itu. Dari jumlah orang yang ada di kantor itu. Vina dapat menyimpulkan jika Radit memberhentikan karyawan dengan jumlah yang cukup banyak. Vina bahkan melihat meja yang diduga Vina meja sekretaris yang ada di depan ruangan Radit juga kosong tanpa penghuni.


"Silahkan Bu," kata karyawan yang mengantar Vina. Vina mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Vina menarik nafas panjang sebelum mendorong pintu kaca itu. Tanpa mengetuk, Vina mendorong pintu tersebut. Vina melihat Radit tidak menyadari kehadirannya karena fokus melihat laptop.


"Selamat siang pak," kata Vina untuk menyadarkan Radit akan keberadaannya. Radit bahkan membalas sapaan dan menyuruh masuk tanpa melihat siapa yang berdiri di pintu itu.


Vina mendekat ke meja Radit dan berdiri di samping Radit. Radit yang merasa akrab dengan aroma Vina langsung mendongak dan terkejut.


"Bunda?" kata Radit dengan suara yang terkejut.


"Ayah tidak senang, aku berkunjung ke kantor kamu," tanya Vina pura pura cemberut. Radit berdiri dan menarik tangan Vina untuk duduk di sofa.


"Bukan seperti itu Bun, ayah benar benar terkejut. Ayah justru senang. Jika perlu setiap hari juga datang tidak apa apa."


"Kalau begitu. Biarkan aku membantu kamu ayah. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Vina membuat Radit heran.


"Kamu cukup membantu hatiku untuk senang Bun. Kalau di kantor. Aku bisa mengatasi pekerjaan ini."


"Aku sudah mengetahuinya Yah. Kenapa harus menyembunyikan hal besar seperti ini yah."


"Bunda mengetahui tentang perusahaan." Vina mengangguk.


"Tapi setidaknya kamu bisa membagi beban hatimu kepada aku yah."


"Maaf Bun. Aku kira bisa mengatasinya secepat mungkin. Tapi ternyata sudah hampir dua bulan masalah ini juga belum teratasi. Bahkan rumah yang di jalan kenangan akan terjual Bun," jawab Radit frustasi.


"Jika di rumah. Kamu seolah-olah tidak terjadi apa-apa yah. Ternyata kamu mempunyai beban pikiran yang sangat dalam. Maaf, aku tidak menyadarinya selama ini," kata Vina tulus. Dia merasa bersalah karena tidak pernah bertanya akan kebiasaan Radit yang pulang kerja langsung tidur. Selama ini Vina menduga itu hanya karena kelelahan. Ternyata hanya itu cara Radit untuk menenangkan diri dari masalah yang menimpanya.


"Jangan minta maaf. Kamu memberi kesempatan kepadaku saja itu sudah membuat aku senang bunda. Aku tidak bisa membayangkan di saat terpuruk seperti ini tidak ada tempat untuk pulang. Melihat kalian, itu yang menjadi semangat bagi aku untuk segera bangkit. Terkadang aku merasa menjadi ayah yang paling buruk untuk bayi kita. Harusnya aku membawa banyak uang untuk kalian. Tapi sekarang aku justru menjual aset untuk mempertahankan perusahaan ini."


"Ayah. Semangat. Kamu pasti bisa bangkit kembali," kata Vina sambil tersenyum. Vina menggenggam telapak tangan Radit memberi pria itu semangat. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Radit mengangkat tangan itu menuju bibir dan menciumnya. Radit senang mendapat dukungan dari istrinya. Di saat terpuruk seperti ini. Itu yang diharapkan Radit dari Vina. Dukungan istri.


"Tidak jadi belanja tadi?"


"Jadi yah. Belanjaan aku titip di pos satpam."


"Kita pulang sekarang. Kasihan si kembar terlalu lama ditinggal. Tapi kita singgah sebentar di rumah jalan kenangan. Ada yang harus aku ambil. Kamu tidak apa apa singgah ke sana kan Bun?"


Vina mengangguk setuju. Radit menggandeng tangan Vina keluar dari ruangan itu hingga ke lantai dasar. Radit menghentikan mobilnya sebentar di pos satpam kemudahan menyuruhnya satpam memasukkan belanjaan Vina ke dalam mobil.


"Hanya mengambil ini yah?" tanya Vina ketika Radit menurunkan foto pernikahan mereka. Radit mengangguk setelah berhasil menurunkan foto tersebut.


"Ayo," ajak Radit. Vina tidak langsung melangkah. Dia mengamati rumah itu. Rumah itu sudah kosong tanpa penghuni. Satu Minggu lagi akan ada penghuni yang baru. Itu artinya ini terakhir mereka menginjak kaki di rumah itu.


"Yah. Aku mau ke atas sebentar boleh?" tanya Vina. Radit terlihat ragu untuk mengiyakan. Dia takut Vina mengingat kejadian tempo dulu yang hampir membuat Vina keguguran. Radit meletakkan foto itu di sofa ketika Vina sudah melangkahkan dan menaiki tangga. Radit akhirnya mengikuti langkah Vina dari belakang.

__ADS_1


Vina membuka kamar yang dulu mereka tempati. Kamar itu masih bersih dan rapi. Vina berusaha mengalihkan pikirannya untuk membuang kenangan buruk itu dari hatinya. Vina sudah bertekad untuk membuang semua kenangan itu. Perhatian dan kasih sayang dari Radit merupakan perubahan besar yang membuat Vina memutuskan untuk menjalani rumah tangga mereka selayaknya suami istri.


Vina menuju jendela yang ada di kamar itu. Dari situ Vina bisa melihat halaman rumah yang sangat luas dan ditumbuhi bunga bunga hias. Rumah berlantai dua ini sebenarnya cocok untuk mereka yang mempunyai bayi kembar tiga. Selain karena banyak kamar, ruang tamu yang luas, kolam renang mini dan juga halaman yang sangat luas. Vina sudah pernah berencana akan pindah ke rumah ini dibandingkan dengan ke rumah yang dibeli oleh Radit dekat rumah orangtuanya. Vina sudah membayangkan anak anaknya akan bisa bermain bebas di ruang tamu atau di halaman rumah.


"Apa menjual rumah ini tidak bisa dibatalkan yah?" tanya Vina pelan. Radit heran dengan pertanyaan Vina. Dia memilih menjual rumah ini karena Radit takut Vina tidak ingin kembali ke rumah ini.


"Sebenarnya harga sudah deal. Tapi belum ada pembayaran. Jika dibatalkan masih bisa. Kenapa Bun?"


"Rumah yang baru kamu beli dekat rumah papa. Dijual juga?" tanya Vina lagi. Radit menggelengkan kepalanya.


"Bolehkah rumah itu saja yang dijual yah?"


"Apakah bunda bersedia balik ke rumah ini?" tanya Radit senang. Vina mengangguk dan menceritakan semua apa yang sudah pernah dia rencanakan untuk kembali ke rumah ini.


"Baiklah Bun, akan ayah batalkan."


"Tapi bagaimana dengan masalah perusahaan?"


"Ayah akan meminjam dari perorangan jika hasil penjualan rumah itu kurang. Aku percaya akan ada jalan keluar. Yang penting kamu senang dan bahagia."


"Makasih yah," kata Vina terharu. Karena senang Vina menghamburkan ke pelukan Radit.


Radit membalas pelukan itu sangat erat. Pelukan pertama yang sukarela yang diberikan oleh Vina untuknya.


"Bun, kita pulang sekarang," kata Radit. Dia tidak ingin karena pelukan ini membuat dirinya tidak terkontrol dan Vina kecewa kepadanya.


"Yah. Apa dengan seperti ini. Tadi kamu bilang. Aku hanya membantu kamu untuk senang. Apa dengan seperti ini kamu sudah senang?"


"Ya bunda. Aku sangat senang. Aku semakin bersemangat,"


"Hanya dengan begini?" tanya Vina sambil mendongak menatap wajah Radit. Radit tersenyum kikuk.


"Ya sudah kalau dengan begini sudah senang. Kita pulang sekarang," ajak Vina sambil menarik tangan Radit. Radit semakin tidak mengerti dengan maksud Vina.


"Apa masih ada yang kamu lakukan untuk membuat aku senang Bun?" tanya Radit ragu ragu. Radit takut pertanyaannya disalahkan artikan oleh Vina.


"Tadinya aku ingin memberi kamu vitamin. Tapi karena dengan begini saja kamu sudah senang. Kita pulang sekarang."


"Ya bunda. Aku mau," kata Radit senang dan bersemangat. Dia menarik tangan Vina lembut dan memeluknya kembali. Radit memegang dagu Vina supaya menengadah. Radit mencium bibir itu dengan lembut. Vina yang sudah memang ingin melaksanakan kewajibannya sebagai istri membalas ciuman itu dengan lembut juga. Radit mendorong tubuh Vina hingga ke tepi ranjang.


Radit berusaha memberikan rasa nyaman dengan sentuhannya di tubuh Vina. Radit ingin menghilangkan kenangan buruk itu dengan sentuhan lembutnya. Hingga Vina benar benar siap. Radit memasuki tubuh sang istri untuk ketiga kalinya. Dan ini yang pertama kali dengan sentuhan dengan rasa cinta.


"Keluarkan suaramu sayang. Hanya kita berdua di rumah ini," bisik Radit sambil bergoyang di tubuh Vina. Vina yang tadinya takut mengeluarkan suaranya kini suaranya bergema di ruangan itu. Hingga mereka merasakan kenikmatan bersama. Radit turun dari tubuh sang istri berbaring di sebelah Vina.


"Radit memeluk tubuh Vina dan menyembunyikan wajahnya di dada sang istri. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia yang dimilikinya saat ini. Selain itu Radit terharu dan semakin merasakan cintanya semakin besar untuk Vina. Radit terharu. Jika wanita lain memberikan tubuh untuk dirinya karena ingin harta. Vina justru menjalankan kewajibannya di saat dia terpuruk.


"Terima kasih bunda. Atas vitaminnya. Aku pastikan vitamin ini akan berguna untuk bangkit dari keterpurukan ini. Aku tidak menyangka kamu akan menjalankan kewajiban kamu secepat ini bunda. Aku mencintaimu bunda. Sangat," kata Radit serak. Karena terharu, Radit tidak bisa menahan air matanya.


"Cinta kamu juga ayah," jawab Vina. Radit langsung menatap wajah Vina. Dia memeluk tubuh itu kembali karena mendapat balasan cinta dari sang istri.

__ADS_1


__ADS_2