Menanti Cinta Suami

Menanti Cinta Suami
Barang Bukti


__ADS_3

"Pegang dia. Jangan sampai lepas," perintah Tini kepada kedua bodyguard tersebut. Kedua bodyguard itu melaksanakan perintah dari putri tuan besarnya. Intan meronta.


"Jangan menyakiti fisiknya. Cukup kalian membuat dia tidak lepas selama penggeledahan kamar itu selesai," kata Tini lagi. Salah satu dari bodyguard tersebut melepas ikat pinggangnya dan mengikat kedua tangan Intan.


"Maaf mbak, ini aku lakukan untuk menjaga harga diri keluargaku," kata Tini sambil menatap tajam kepada Intan yang sudah terduduk di sofa dengan kedua tangannya di belakang dan terikat. Walau papa Indra sudah melukai hatinya. Tini juga tidak rela jika papanya harus menanggung malu karena Video panas yang dikatakan Intan tersebar. Jika itu terjadi. Bukan hanya papa Indra yang malu. Seluruh anggota keluarga dan bisa juga berimbas ke perusahaan milik pak Indra.


"Tunggu apalagi?. Kalian bertiga kok pada bingung. Cepat bantu aku menggeledah kamar Meri," kata Tini lagi kepada Sean, Radit dan Vina. Tiga orang itu memang terlihat bingung sekaligus takjub melihat cara kerja Tini untuk mendapatkan file video panas yang dari tadi disebutkan oleh Intan. Tiga orang itu spontan tersentak dengan teguran Tini.


"Kita ikut juga yah?" bisik Vina. Dia takut terlalu jauh ikut campur. Ini adalah permasalahan keluarga Tini.


"Kita bantu sebisa kita Bun. Kita membantu Tini bukan untuk menyakiti hati dan fisik seseorang. Kita membantu Tini untuk menjaga harga diri papanya," bisik Radit. Vina mengangguk. Sementara Sean sudah berdiri dan mendekat ke pintu kamar Intan yang mana Tini sudah berdiri di depan pintu itu.


"Papa masih betah duduk disitu. Tidak berusaha membantu. Atau kasihan lihat selingkuhan seperti itu terikat?" sindir Tini kepada papanya yang masih duduk tertunduk di sofa. Jauh di dalam hatinya. Dia juga mengagumi kelicikan putrinya untuk menyelesaikan masalah ini. Walau sebelumnya. Papa Indra sudah berusaha mencari bukti video panas itu di kamar Intan tapi tidak pernah berhasil menemukannya.


"Iya, iya nak," jawabnya gugup sambil bangkit dari duduknya.


Sean mengambil kunci kamar yang ada di sakunya. Dia membuka pintu itu dan langsung diikuti oleh yang lainnya masuk ke dalam. Sebelum penggeledahan dimulai. Tini memperhatikan keadaan kamar milik Intan. Matanya langsung menangkap ranjang, yang seprei tidak berbentuk lagi. Tini jijik. Di ranjang itu papanya membagi tubuh dengan wanita lain dan mengkhianati mamanya.


Walau papanya mengaku dijebak. Tini sebenarnya masih marah dengan sang papa. Dia tidak bisa membayangkan jika reaksi mama Mia mengetahui perselingkuhan ini. Dan yang paling menyakitkan. Perselingkuhan itu dilakukan dengan wanita yang mereka kenal dan bahkan bisa menginjakkan kaki di kota karena pertolongan mama Mia.


Penggeledahan ini dilakukan bukan karena Tini ingin melindungi papanya. Tapi Tini hanya ingin melindunginya keluarga besarnya. Andaikan video panas itu hanya merugikan papa Indra seorang. Tini akan mengijinkan Intan menyebarluaskan video itu sebagai hukuman untuk papanya. Tapi Tini tidak ingin keluarga terutama mamanya ikut dirugikan jika video panas itu tersebar.


Empat orang yakni Sean, papa Indra, Radit dan Vina sudah membongkar lemari Intan. Segala baju dan bahkan celana atau pakaian apapun yang mempunyai saku sudah diperiksa. Mereka tidak menemukan apapun tentang video panas itu. Sementara dua ponsel milik Intan sudah berada di genggaman Tini. Dia sudah memeriksa satu ponsel itu setelah memaksa Intan menempelkan jarinya di belakang ponsel itu. Tetapi apa yang dikatakan Intan tentang Video panas itu tidak ada di dalam ponsel. Hingga ponsel yang satunya lagi di periksa. Tidak ada bukti video panas itu.


Kamar Intan sudah bagaikan kapal pecah. Pakaian berserakan di lantai. Ranjang juga sudah dibalikkan Sean dan Radit. Sarung bantal dan guling tidak luput dari pencarian Vina. Sedangkan Papa Indra membongkar semua bingkai foto setelah diturunkan ke lantai. Hingga apa yang mereka cari tak kunjung ditemukan.


Pencarian diperluas. Sean dan Radit sudah memasuki kamar kosong di rumah itu. Mereka melakukan hal yang sama seperti di kamar Intan. Membalikkan setiap ranjang dan memeriksa setiap lemari yang ada di setiap kamar. Segala sudut kamar tidak luput dari pencarian mereka. Sedangkan Vina sudah di lemari hias memeriksa setiap benda yang ada ruang di lemari itu. Lagi lagi mereka tidak menemukan apa yang mereka cari.


"Papa sudah pernah melakukan hal ini nak. Tanya mereka," kata papa Indra kepada Tini yang sudah duduk di sofa. Sean dan Vina memang tidak membiarkan Tini ikut dalam pencarian itu. Mereka takut Tini kelelahan fisik dan pikiran yang bisa berpengaruh ke kandungannya.


Tini menoleh ke dua bodyguard itu. Mereka berdua mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh papa Indra. Sedangkan Intan tersenyum tapi senyuman itu hanya bermaksud mengejek Tini.


"Sampai pingsan pun. Kalian tidak akan menemukan itu," kata Intan. Dia merasa lebih pintar dari Tini. Tini hanya memandangnya datar.

__ADS_1


"Jangan tatap aku seperti itu kurang ajar?" teriak Intan yang tidak suka melihat Tini menatap penuh selidik.


"Intan. Jangan membentak putriku," kata papa Indra marah. Hari ini dia memang menjadi papa yang buruk bagi Tini. Tapi selama ini dia tidak pernah membentak putra putrinya.


"Intan, aku mohon. Lepaskan aku. Tolong buang video panas itu. Kamu sudah mendapat banyak hal dari aku. Tapi kalau pernikahan. Aku tidak akan mengkhianati istriku lebih dalam lagi," kata papa Indra dengan wajah yang memelas. Intan memalingkan wajahnya.


"Aku akui om Handoko. Aku memang menjebak kamu. Tapi selama sepuluh tahun ini kamu menikmati tubuh dan pelayanan aku kan. Aku juga menjebak om Handoko karena aku melihat sinyal ketertarikan om kepadaku saat itu. Jangan munafik om. Sepuluh tahun om. Salah aku jika sudah mencintai om setelah sepuluh tahun kebersamaan ini?" tanya Intan yang sudah mulai menunjukkan wajah sedihnya.


"Sinyal ketertarikan apa maksud kamu. Aku memberi perhatian kepada seluruh karyawan di perusahaan. Tapi satupun dari mereka tidak pernah berniat untuk menjebak aku. Yang ada mereka semakin hormat dan berlomba-lomba untuk berprestasi memajukan perusahaan. Aku juga memberi perhatian kepada kamu. Karena aku dan Mia. Kasihan melihat hidupmu Intan. Kami mengetahui kehidupan kamu di kampung. Jangan membenarkan tindakan kamu itu. Tapi apa yang kamu lakukan. Kamu menjebak aku dan merekamnya," kata Handoko marah.


"Sudah papa. Intinya papa juga salah. Andaikan papa langsung jujur kepada mama. Perselingkuhan ini tidak terjadi sampai sepuluh tahun. Papa juga bersedia menyimpan perselingkuhan ini . Karena papa juga menikmati," kata Tini tenang. Dia sudah malas mendengar pembicaraan dua manusia yang saling menyalahkan setelah terciduk berselingkuh.


"Tolong bantu aku nak. Hari ini, kita harus dapat bukti video itu. Aku pernah melihatnya. Karena bahan perangsang itu dosis tinggi. Papa seperti memperkosa dia waktu itu," kata Handoko. Setelah mendengar perkataan Intan tadi. Dia bertambah muak kepada wanita itu.


Tini kembali berpikir tentang keberadaan bukti video panas itu. Sean dan Radit sudah selesai menggeledah semua kamar. Sedangkan Vina sedang memeriksa lemari hias tempat koleksi boneka milik Intan.


"Ketemu Bun?" tanya Radit. Vina menggelengkan kepalanya. Radit dan Sean sudah membantu Vina memeriksa satu persatu boneka itu. Tapi sampai selesai. Hasil tetap nihil.


"Istirahat dulu Bun," kata Radit sambil menuntun Vina duduk di sofa. Intan terlihat menatap sinis kepada pasangan suami istri itu.


"Beli yang banyak kak. Aku juga butuh bahan bakar untuk berpikir tentang video yang dimaksudkan wanita ular ini," kata Tini. Radit mengangguk.


Radit memutuskan membeli nasi bungkus. Tidak jauh dari rumah itu ada rumah makan Padang. Radit membeli nasi bungkus sebanyak sembilan nasi bungkus. Satpam juga kebagian. Setelah di dalam rumah. Radit membagi nasi bungkus itu.


"Aku membeli dua bungkus untuk kamu," kata Radit kepada Tini. Semua sudah mendapat masing masing nasi bungkus kecuali Intan. Wanita itu masih terikat seperti tadi. Radit memang sengaja membeli Tini dua bungkus nasi. Dia mengingat Tini yang makan banyak di rumah Andre. Sementara untuk Intan, Radit sama sekali tidak berniat untuk membelikan nasi bungkus.


"Makan pa, papa pasti lapar setelah mendaki dua gunung, melewati satu lembah dan mengarungi gurun pasir," kata Tini kepadanya papanya. Radit dan Sean hampir tersedak karena menahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan Tini. Mereka paham akan perumpamaan itu.


"Aku tahu kamu menyindir papa nak," jawab Handoko pelan tapi tangannya juga tidak berhenti memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya. Seperti kata Tini. Dia memang sudah lapar.


"Pelakor harap belajar menahan lapar ya!. Supaya di hari selanjutnya. Kamu bisa menahan diri untuk tidak merebut yang menjadi milik orang lain," kata Tini kepada Intan. Sama seperti yang lainnya. Intan juga sangat lapar. Apalagi di kegiatan panas mereka tadi dia yang paling banyak bergerak dan mendominasi permainan. Apalagi melihat Tini dan yang lainnya terlihat makan sangat lahap. Intan semakin merasakan perutnya semakin lapar dan segera untuk diisi.


Mendengar itu tentu saja, Intan kesal. Intan merapatkan giginya karena menahan marah. Dengan gerak yang terbatas, Intan hanya jadi penonton bagi tujuh manusia itu yang sedang makan.

__ADS_1


Tini menghabiskan dua nasi bungkus itu tidak bersisa. Setelah memasukkan kertas bungkus nasi ke dalam plastik. Tini beranjak dari duduknya menuju kamar Intan. Sementara yang lainnya masih betah duduk di tempat masing masing karena kekenyangan.


"Huh, kalian payah. Kalian menyuruh aku untuk diam. Tetapi kerja kalian berempat tidak memuaskan. Masa hanya mencari ini tidak bisa," kata Tini setelah keluar dari kamar Intan. Dia memperlihatkan plastik bening kecil berisi flashdisk dan card memory.


"Dapat darimana ini sayang?" tanya Sean heran. Mereka sudah mencakar dan memeriksa semua yang ada di kamar Intan tapi tidak dapat menemukan apa yang mereka cari. Sementara Tini hanya hitungan menit di dalam kamar Intan sudah menemukan barang yang menyimpan video panas Handoko dan Intan. Sedangkan Intan, sudah bergerak gerak berusaha untuk melepaskan ikatan di tangannya untuk merampas plastik bening itu.


"Terselip di belakang meja rias kak," jawab Tini tenang. Dari awal dia sudah sangat yakin jika intan menyimpan bukti itu di dalam kamar pribadinya. Ketika dia masuk ke dalam kamar itu barusan. Tini sangat yakin jika Intan menyelipkan bukti itu di belakang perabot di kamar itu. Tini memulai pencarian dengan menggeser meja rias karena meja rias itu perabot yang paling kecil di kamar. Plastik bening itu langsung terjatuh setelah meja rias bergeser sedikit.


"Papa bawa laptop kan?" tanya Tini lagi. Handoko mengangguk senang. Dia menyuruh salah satu bodyguard untuk mengambil laptop di mobil. Sementara Intan sudah memucat. Entah karena takut atau lapar, wajahnya sudah seperti tidak dialiri darah.


"Buka sendiri pa, tidak mungkin salah satu dari kami melihat video kalian itu," kata Tini sambil menyodorkan kantong plastik bening itu ke Handoko. Handoko dengan semangat mengulurkan tangannya untuk mengambil kantong plastik itu. Dalam hati, dia terus memuji kepintaran putrinya. Handoko agak menjauh dari sofa itu untuk melihat isi dari flashdisk tersebut.


"Radit. Kemari," panggil Handoko setelah beberapa menit melihat isi flashdisk tersebut. Handoko sudah hafal dengan nama Radit tapi tidak mengingat jelas wajahnya.


"Ada apa om?" kata Radit setelah duduk di samping Handoko. Mereka duduk di lantai dekat dapur.


"Ini kamu tidak?. Kok mirip sama kamu?" tanya Handoko pelan dan bingung sambil mengamati wajah Radit dan mengamati wajah yang ada di video itu. Radit terkejut dan seketika juga wajahnya memucat. Di video itu dengan jelas adegan panas antara dirinya dan Intan. Hanya saja di video itu, Radit masih terlihat sangat muda dibandingkan dengan yang sekarang.


"Iya om, itu aku. Aku yang pernah datang ke rumah ini dan melihat om bersama dia bermain di meja makan itu," jawab Radit jujur. Radit juga memelankan suaranya supaya tidak terdengar sampai ke ruang tamu. Dia spontan menjauhkan dirinya dari Handoko. Radit takut jika Handoko marah dan melampiaskan ke dirinya mengingat mereka sudah menikmati lubang yang sama.


"Ya ampun Radit. Ternyata aku bodoh. Seharusnya aku percaya dengan perkataan kamu waktu itu. Tapi mendengar dia memohon dan membantah semua yang kamu ucapkan aku percaya dan semakin terjebak dengan dirinya," kata Handoko pelan penuh penyesalan. Melihat itu, Radit kembali mendekat dan menggeser layar laptop itu ke arahnya. Dia menghapus video itu.


"Punya om mana?. Sudah dihapus?" tanya Radit setelah memeriksa isi flashdisk itu. Hanya ada file berisi video Radit yang bisa dibuka. Selainnya sudah tidak bisa lagi dibuka.


"Sudah, sudah lama aku mencarinya. Ketika ketemu ya langsung hapus saja," kata Handoko. Dia merasa lebih tenang setelah menghapus foto itu.


"Masih ada card itu om," tunjuk Radit. Handoko mengambil card itu dan mematahkannya. Dia tidak ingin melihat video panas miliknya jika ada di dalam card itu. Handoko juga melepaskan flashdisk itu dari laptop dan juga menghancurkan flashdisk tersebut.


"Bagaimana pa. Sudah dihapus?" tanya Tini setelah Handoko dan Radit kembali masuk ke dalam ruang tamu. Handoko mengangguk.


"Jangan bilang, jika kak Radit juga mempunyai video panas di dalam flashdisk tersebut," kata Tini tajam sambil menatap dua pria itu. Radit menggaruk pelipisnya karena tebakan Tini tepat.


"Iya ada. Aku juga tidak menyangka wanita ular ini merekam," jawab Radit jujur. Dia tidak ingin menutupi apapun dari Vina. Di satu sisi, Radit merasa kedatangan ke rumah ini adalah suatu keputusan yang tepat. Dia tidak menyangka jika dia tidak datang, bisa saja video panas miliknya dijadikan Handoko untuk membalas dendam kepada Intan.

__ADS_1


"Dasar manusia tidak punya harga diri kamu intan," maki Tini. Tini akhirnya menarik nafas lega. Intan tidak bisa lagi mengancam papanya.


"Papa, aku hanya bisa membantu papa sampai sejauh ini. Papa tahu kan. Setiap orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman. Dan untuk hukuman papa. Hanya mama yang berhak melakukan itu. Maaf pa. Aku tidak bisa menyembunyikan perselingkuhan ini dari mama. Mama harus mengetahui ini."


__ADS_2